Ringkasan Khotbah Jumat

Intisari Shalawat atas Baginda Nabi Muhammad saw

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

16 Januari 2015 di Masjid Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi ini. Hai orang-orang mukmin, mohonkanlah shalawat (keberkahan) untuknya dan berilah selalu salam baginya.” (33:57)

Ayat ini menguraikan bahwa Allah Ta’ala serta para malaikat-Nya senantiasa mengirimkan shalawat dan salam atas Baginda Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, mereka yang mengupayakan segala cara untuk mencegah atau mengurangi kemajuan Nabi saw ini tidak akan pernah berhasil. Mereka yang melancarkan fitnah serta menghina beliau saw tidak akan pernah berhasil. Konspirasi mereka sama sekali tidak dapat merugikan wujud yang dicintai Allah Ta’ala ini. Dengan karunia Allah Ta’ala, pemenuhan dari tujuan diutusnya Baginda Nabi saw akan terus berlanjut. Sungguh, pada saat ini Allah Ta’ala telah mengutus seorang pecinta sejati Hadhrat Baginda Nabi saw demi memenuhi tujuan ini serta membuka segala sarana demi tersebarnya ajaran Islam yang indah.

Baginda Nabi saw diutus oleh Allah Ta’ala untuk seluruh masa dan segala bangsa. Dan demi hal ini, Dia senantiasa mempersiapkan segala cara dan sarana melalui karunia-Nya. Dulunya para penentang Baginda Nabi saw tidak berhasil, sekarang pun juga demikian. Ini merupakan takdir ilahi dan seorang Muslim sejati hendaknya sama sekali tidak merasa khawatir mengenai hal ini. Bagaimanapun juga, para Muslim sejati hendaknya sadar akan tugas yang dibebankan kepada mereka yakni senantiasa membacakan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya atas Baginda Nabi saw untuk memuliakan beliau sebagaimana yang Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya lakukan. Bergabunglah ke dalam golongan yang meninggikan Baginda Nabi saw dan yang senantiasa membaca shalawat atas beliau saw bersama dengan Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya.

Orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Muslim akhir-akhir ini menyerang sebuah kantor penerbitan di Prancis serta membunuh 12 orang. Hal ini secara singkat telah diceritakan pada khotbah Jumat yang lalu dan para Ahmadi diminta agar membaca shalawat. Kemenangan Islam tidak akan dicapai melalui pembunuhan dan penganiayaan. Tetapi, kita akan meraih tujuan kita dengan senantiasa bershalawat atas Nabi saw. Juga disebutkan bahwa publikasi tersebut dapat menimbulkan reaksi yang salah berupa penyerangan dan memang inilah yang mereka inginkan. Lagi-lagi mereka telah mencetak banyak karikatur yang menyakitkan hati kita dan sungguh hati umat Islam sejati tersakiti olehnya.

Apapun yang dilakukan beberapa tahun yang lalu oleh publikasi majalah ini, yang dikenal dengan nama ‘Charlie Hebdo’, telah dilupakan. Namun orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Muslim kembali menyalakan sebuah aksi penyerangan. Dulu [sebelum penyerangan mematikan tersebut), para pemimpin Barat mengkritik publikasi tersebut dan banyak pemerintahan tidak mengizinkan penerbitan kembali apapun yang dicetak. Namun setelah kejadian penyerangan beberapa minggu yang lalu, banyak pemimpin telah mendukungnya serta berbagai macam sumber telah menolongnya dengan jutaan dolar. Sebelumnya, yang diedarkan sekitar 60.000 kopi dan itu sudah maksimal. Tetapi, akibat dari aksi orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Muslim itu, sekarang 5 juta kopi majalah tersebut diterbitkan. Para analis (pengamat) memperkirakan publikasi tersebut akan hidup lebih lama sekitar 10-12 tahun kedepan padahal (tadinya) publikasi tersebut mungkin takkan berjalan hingga 6 bulan.

Mereka yang menyerang kantor-kantor majalah ini tidak hanya semakin memperburuk citra ajaran Islam namun juga menghidupkan kembali musuh yang telah mati. Andai saja organisasi Islam yang melakukan kejahatan atas nama Islam ini memahami bahwa kecintaan terhadap ajaran Islamlah yang akan semakin cepat membawa orang-orang ke dalam pelukan Islam. Orang-orang duniawi buta mengenai masalah keimanan. Jangankan Baginda Nabi saw, Allah Ta’ala pun mereka perolok-olokan. Jika kita membalas keburukan dengan keburukan sama saja artinya kita sedang melakukan keburukan yang lebih besar. Allah Ta’ala memerintahkan kita agar menghindari situasi seperti ini. Bergaul atau mengadakan kesepakatan dengan orang-orang seperti itu akan membuat dosa. Namun jika kita membalas perbuatan buruk mereka dengan perbuatan buruk pula dan akhirnya mereka menghinakan Baginda Nabi saw, maka hal ini justru membuat kita masuk kedalam lingkaran dosa mereka.

Muslim sejati hendaknya menghindari perilaku demikian dan hendaklah menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Ta’ala yang telah berfirman bahwa ketika setiap orang kembali kepada-Nya, maka mereka akan menerima akibat dari perilakunya. Saat ini musuh-musuh Islam senantiasa merugikan Islam dan Baginda Nabi saw, tidak dengan kekerasan tetapi dengan cara yang seperti ini. [Ayat suci yang tadi telah ditilawatkan], dengan menyatakan bahwa Allah Ta’ala serta para malaikat-Nya senantiasa mengirimkan shalawat atas Baginda Nabi saw, itu artinya bahwa cara-cara [penghinaan yang] demikian itu sedikit pun tidak dapat mencederai derajat keagungan Baginda Nabi saw. Daripada membalas dengan keburukan yang sama, umat Islam seyogyanya harus menyampaikan shalawat dan salam atas Baginda Nabi saw.

Mereka yang sebelumnya tidak peduli terhadap publikasi kotor ini, sekarang malah sedang memberikan dukungannya atas nama kebebasan berpendapat. Namun, ada beberapa orang bijak yang tidak menyukai gambaran kotor ini serta telah meminta agar manajemen majalah tersebut bertanggung jawab. Seorang co-founder (salah satu dari beberapa pendiri) majalah Charlie Hebdo bernama Henri Roussel berkata bahwa gambar yang dipublikasikan oleh majalah tersebut bersifat provokatif dan sang editor telah membawa timnya pada kematian. Dia berkata bahwa hal ini bertentangan dengan kebijakan dasar mereka.

Paus juga telah memberikan pernyataan yang sangat bagus. Dia berkata kebebasan berpendapat juga memiliki batasan. Agama-agama hendaknya diperlakukan dengan hormat sehingga keimanan setiap orang tidak dihina atau diperolokan. Untuk mengilustrasikan maksudnya, Paus berkata bahwa dia sendiri akan memukul seseorang yang memaki ibunya meskipun orang itu adalah teman dekatnya sendiri yang mengatur segala perjalanannya. Sungguh, sang Paus telah memberikan pernyataan yang sangat realistis. Umat Islam hendaknya memahami hal ini dan tidak bereaksi dengan tidak pantas.

Media adalah sarana yang paling berpengaruh di seluruh dunia dan memainkan peran yang dapat memanaskan suasana yang ada serta juga dapat meredakannya. Setelah peristiwa ini, untuk pertama kalinya media mendekati kita dan menanyakan pandangan Jemaat Ahmadiyya di UK dan juga di beberapa tempat lainnya.

Kita mengatakan pada mereka bahwa hal ini merupakan tindakan yang tidak Islami dan mengungkapkan rasa simpati. Dan kita tetap menjaga bahwa kebebasan berpendapat hendaknya memiliki batasan sedangkan mereka yang menyalakan api sentimen terhadap yang lain harus bertanggung jawab. Di UK, anggota Jemaat Ahmadiyah hadir di SKY news, News 5, BBC Radio, LBC, BBC Leeds dan London Live. Sedangkan di Amerika anggota Jemaat tampil di Fox TV dan CNN. Surat kabar Kanada juga meliput pandangan kita sebagaimana media-media lainnya di Yunani, Irlandia, Prancis dan berbagai tulisan di USA. Banyak wawancara disiarkan di studio TV untuk menyampaikan ajaran Islam sejati.

Di sini, Tn. Amir beserta Tn. Imam Ata ul Mujeeb Rashed diwawancara di TV. Di USA, Kanada dan Prancis, perwakilan kita hadir di TV dan berbagai tulisan disusun oleh para Ahmadi. Di setiap tempat, tim kita menjalankan tugas mereka dengan sangat baik. Seorang wartawan Kanada menulis alasan mengapa Ahmadiyah telah dijadikan perwakilan di berbagai media serta menyampaikan ajaran Islam sejati meskipun Ahmadiyah sendiri merupakan sebuah sekte kecil dalam Islam.

Sungguh ini merupakan takdir Ilahi bahwa Jemaat dari seorang pecinta sejati Baginda Nabi saw ini adalah untuk menyampaikan ajaran Islam sejati ke seluruh dunia. Hal ini merupakan tanggung jawab kita dan hendaknya setiap Ahmadi menyampaikan pesan di dalam lingkungan mereka bahwa suatu reaksi yang salah hanya akan menghasilkan kekacauan dan membuat situasi global menjadi memanas. Hendaknya reaksi yang salah tersebut tidak membuat orang-orang terprovokasi dan juga tidak sampai menarik datangnya siksa Ilahi.

Para Ahmadi harus menapaki jalan: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi ini. Hai orang-orang mukmin, mohonkanlah shalawat (keberkahan) untuknya dan berilah selalu salam baginya. (Al-Ahzab: 57)

Orang-orang mukmin sejati hendaknya berusaha dengan sebaik-baiknya mematuhi hal ini. Ketika pengetahuan yang mendalam senantiasa meningkat, maka pemahaman mengenai hikmah di balik hal ini pun dapat diperoleh. Juga merupakan ajaran Islam yang memerintahkan agar memperoleh pengetahuan. Ketika pengetahuan yang mendalam diperoleh untuk mematuhi segala perintah ilahi, maka amalan juga akan menjadi lebih baik.

Dalam hadis-hadis juga disebutkan dalam berbagai macam riwayat berkenaan dengan faedah menyampaikan shalawat: Riwayat dari sahabat Abdullah ibn Masud, bahwa Baginda Nabi saw bersabda: أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً ‘Aulan naasi bii yaumal qiyaamati aktsarahum ‘alayya shalaatan.’ – “Pada hari pembalasan, orang yang paling dekat denganku adalah mereka yang paling banyak membaca shalawat untukku.”[1]

Beliau saw juga bersabda: إِنَّ أَنْجاكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَهْوَالِهَا وَ مَوَاطِنِهَا أَكْثَرَكُمْ عَلَيَّ صَلاَةً في دار الدنيا  ‘inna anjaakum yaumal qiyaamati min ahwaalihaa wa mawaathinihaa aktsarakum ‘alayya shalaatan fii daarid dunya.’ – “Pada setiap tahap yang menakutkan di hari pembalasan, orang yang paling dekat denganku adalah mereka yang paling banyak bershalawat atasku di dunia.”

Baginda Nabi saw juga bersabda: إنه قد كان في الله وملائكته كفاية إذ يقول: {إن الله وملائكته يصلون على النبي} الآية فأمر بذلك المؤمنين ليثيبهم عليه. ‘innahu qad kaana fiLlaahi wa malaa-ikatihi kifaayatun idz yaquulu: “innaLlaha wa malaa-ikatahu yushalluuna ‘alan Nabiyyi” al-ayah fa-amara bidzalikal mu-miniina li-yutsiibuhum ‘alaihi.’ “Shalawat yang disampaikan Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya sudah cukup bagiku. Amalan untuk bershalawat itu hanya sebuah kesempatan yang diberikan Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman agar memperoleh pahala bagi diri mereka sendiri.” [2]

Riwayat lain dari Fudhalah ibn Ubaid menyebutkan, بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَد اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ قَالَ ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ. Suatu kali ketika Baginda Nabi saw sedang duduk, datang seseorang lalu di depan beliau melaksanakan shalat kemudian berdoa: “Ya Allah ampunilah aku dan kasihanilah aku.” Rasulullah saw bersabda kepadanya, “Anda sangat terburu-buru. Hendaknya Anda terlebih dahulu memuji dan mengagungkan Allah kemudian bershalawat atasku dan barulah memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala…”[3]

Sebuah riwayat lain menyebutkan,عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ Sahabat Abdullah ibn Amr ibn al-Ash mendengar Baginda Nabi saw bersabda, “Ketika kalian mendengar suara Muazzin memanggil untuk shalat, hendaklah kalian mengulangi kata-katanya kemudian bershalawat atasku. Orang yang bershalawat memperoleh rahmat 10 kali lipat dari Allah Ta’ala. Ada suatu derajat diantara tingkatan-tingkatan di surga yang hanya akan diberikan kepada seorang hamba Allah Ta’ala dan aku berharap bahwa itu adalah aku. Maka carilah sarana bagiku untuk itu. Permohonan seperti ini adalah diperbolehkan bagi siapa saja yang ingin mencari sarana tersebut bagiku.”[4]

Hadhrat Umar ra bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “Suatu doa akan ditangguhkan di antara Bumi dan Langit [tidak ada bagian dari doa yang akan sampai ke atas (Allah Ta’ala)], jika Shalawat tidak dipanjatkan atas Nabi kalian shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.”[5]

Hadhrat Masih Mau’ud as  sangat menekankan untuk bershalawat. Seraya memberikan nasehat kepada para pengikutnya, beliau as bersabda bahwa teruslah menaruh perhatian untuk bershalawat dan mintakanlah keberkatan bagi Baginda Nabi saw dengan ketulusan dan penuh perhatian seperti seseorang sedang memintakan keberkatan bagi seseorang yang dicintainya. Carilah dengan penuh kerendah-hatian dan jangan ada kepura-puraan di dalamnya. Lebih baik, berdoalah bagi Baginda Nabi saw dengan semangat kesetiaan dan kecintaan yang sejati. Carilah keberkatan-keberkatan yang telah melekat di dalam Shalawat tersebut dengan hati dan jiwa yang tulus atas Baginda Nabi saw. Inilah tanda kecintaan seseorang bahwa dia tidak pernah merasa letih dan kecewa serta senantiasa bershalawat tanpa disertai dengan keinginan-keinginan pribadi dan hanya menyampaikannya demi keberkatan Ilahi atas Baginda Nabi saw.

Hadhrat Masih Mau’ud as  juga bersabda bahwa meskipun Baginda Nabi saw tidak membutuhkan doa siapapun namun ada alasan yang tersembunyi di balik shalawat yang disampaikan atas beliau saw. Seseorang yang memohon keberkatan bagi orang lain atas dasar kecintaan pribadinya juga akan menjadi penerima keberkatan tersebut. Kemurahan hati yang diberikan kepada orang yang dimintakan keberkatan juga akan diberikan kepada yang meminta keberkatan tersebut. Dan karena kemurahan Allah Ta’ala terhadap Baginda Nabi saw tidak terbatas, maka seseorang yang bershalawat atas beliau saw dengan dasar kecintaan pribadi juga senantiasa memperoleh keberkatan yang tak terbatas. Namun, sangat sedikit contoh semangat kerohanian dan kecintaan pribadi demikian itu yang dapat terlihat.

Hadhrat Masih Mau’ud as  menulis: “Lihatlah ketulusan dan kesetiaan Sayyidina wa Maulana, Muhammad Rasul Allah dalam cara beliau menghadapi setiap kejahatan. Beliau saw menanggung segala musibah dan penderitaan namun beliau tetap optimis. Inilah ketulusan dan kesetiaan yang karenanya Allah Ta’ala telah memberkati beliau dan Dia menyatakan: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: 57) “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi ini. Hai orang-orang mukmin, mohonkanlah shalawat (keberkahan) untuknya dan berilah selalu salam baginya.” (Al-Ahzab: 57)

Jelas dari ayat ini bahwa amal-amal perbuatan Baginda Nabi saw ialah sampai sedemikian rupa hal mana Allah Ta’ala tidak menggunakan suatu kata tertentu untuk memuji amal-amal perbuatan tersebut ataupun menyingkatkan kualitas Baginda Nabi saw. Kata-kata tersebut dapat saja ada dan Dia pergunakan untuk itu namun secara sengaja Dia tidak menggunakannya. Hal itu artinya, amal-amal shaleh beliau sedemikian rupa luhurnya sehingga lebih tinggi dari definisi sempurna atasnya dan atas definisi penjelasan mana pun. Tidak pernah ada ayat seperti ini Allah Ta’ala gunakan untuk mengagungkan seorang Nabi manapun. Di dalam ruh beliau saw terdapat derajat tertinggi ketulusan dan kemurnian, dan segala amal perbuatan beliau sedemikian rupa dihargai dalam pandangan Allah Ta’ala sedemikian rupa sehingga Dia telah memerintahkan umat manusia agar di masa mendatang mereka senantiasa bershalawat sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat ini.[6]

Hadhrat Masih Mau’ud as  bersabda mengenai shalawat sebagai sarana untuk keteguhan hati dan pengabulan doa: “Bershalawat kepada Nabi saw telah diwajibkan dalam setiap kali shalat agar menambah kecintaan kepada Baginda Nabi saw dan juga memperbaharui kecintaan tersebut.”

Beliau saw bersabda: “Shalawat merupakan wasilah (sarana) yang sangat luar biasa untuk meraih istiqamah (keteguhan hati, kesabaran). Bacalah shalawat sebanyak-banyaknya, bukan sebagai taqlid (karena ikut-ikan seperti sebuah ritual) atau karena adat kebiasaan belaka, namun bershalawatlah dengan memperhatikan baik-baik akan husn (keindahan), ihsaan (kebaikan), ketinggian martabat dan derajat beliau, serta kejayaan beliau saw. Bershalawatlah untuk meninggikan lagi derajat beliau saw dan demi kesuksesan beliau saw. Walhasil, kalian akan memperoleh manis dan lezatnya buah pengabulan doa.”

Hadhrat Masih Mau’ud as  juga bersabda: “Betapa penuh berkatnya masa ini bahwa pada hari terjadinya kekacauan tersebut, hanya dengan karunia-Nya, untuk memanifestasikan kebesaran Baginda Nabi saw, Dia telah berkehendak untuk memberikan pertolongan bagi Islam serta mendirikan suatu Jemaat (Jamaah). Saya hendak bertanya kepada orang-orang yang menyintai Islam dan yang memiliki rasa hormat dan perhatian terhadapnya di dalam hati mereka, katakanlah apakah pernah ada suatu zaman sebelum ini dimana sedemikian rupa wujud Baginda Nabi saw telah begitu dicaci dan direndahkan dan Al-Quran telah begitu dihujat?

Saya sangat sedih dan terpukul melihat kondisi umat Islam. Seringkali saya gelisah karena sedih bahwa tidak ada sedikitpun perasaan yang tersisa di dalam diri mereka untuk merasakan aib ini. Apakah mungkin Allah Ta’ala tidak memperhatikan sedikit pun kehormatan Baginda Nabi saw sehingga Dia tidak akan mendirikan suatu Jemaat Ilahi di atas segala cacian ini untuk menutup mulut para penentang Islam serta untuk menyebarkan kemuliaan serta kesucian beliau saw di seluruh dunia? Dalam hal bahwa Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya senantiasa bershalawat dan memohon keselamatan bagi Baginda Nabi saw, maka betapa pentingnya untuk mengirimkan shalawat dan salam pada saat sekarang ini dan Allah Ta’ala telah memanifestasikan hal ini dalam bentuk Jemaat ini.”[7]

Hadhrat Masih Mau’ud menulis kepada salah seorang pengikut beliau seraya menasehatkan agar sungguh-sungguh menyadari bahwa setiap perbuatan hendaklah terbebas dari ritual dan kebiasaan belaka akan tetapi lakukanlah dengan kecintaan yang membara di dalam hati. Contohnya, hendaknya shalawat tidak dibaca seperti burung beo sebagaimana yang orang-orang lain lakukan. Mereka tidak mempunyai ketulusan sejati bagi Baginda Nabi saw serta tidak pula mereka memintakan keberkatan atas beliau saw dari Allah Ta’ala. Namun, suatu keharusan bagi seseorang untuk terpatri dalam pikirannya ketika bershalawat kepada Nabi saw, bahwa kecintaannya kepada Baginda Nabi saw senantiasa mencapai suatu tingkatan yang lebih besar yang mustahil dicapai oleh hati siapa pun dari masa sebelumnya dalam hal mencintai seseorang yang lain, begitu juga hingga masa mendatang tidak akan ada yang dapat melampaui kecintaan tersebut.

Keyakinan seperti ini dapat dibentuk dengan cara dipersiapkan untuk menanggung semua kesulitan yang ada dengan ketulusan hati karena kecintaannya, sebagaimana dulunya mereka yang mencintai Baginda Nabi saw juga menanggung segala kesulitan juga karena kecintaannya. Hatinya tidak merasa ragu untuk menanggung kesulitan yang ada yang telah merisaukan pikiran dan khayalnya. Tidak ada perintah apapun yang telah diterima akalnya yang bisa membuat hatinya ragu atau menolak. Tidak akan pernah di dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap makhluk lain mana pun yang sama jenisnya dengan kecintaannya yang ini. Tatkala keyakinan ini tumbuh, maka shalawat harus senantiasa dibaca dengan tujuan untuk memohon keberkatan yang sempurna dari Allah Ta’ala bagi Baginda Nabi saw, menjadikan beliau saw sumber bagi keberkatan seluruh dunia, membuat kesucian serta ketinggian martabat dan keagungan beliau saw terlihat jelas bagi orang-orang di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as  bersabda hendaknya hal ini dilakukan dengan perhatian dan konsentrasi penuh persis seperti ketika seseorang berdoa dengan penuh konsentrasi tatkala dia dihadapkan pada berbagai kesulitan. Pada kenyataannya, seseorang hendaknya membaca shalawat dengan penuh kerendahan hati dan kelembutan. Hendaknya tidak ada niat-niat untuk memenuhi keinginan pribadi serta murni untuk memohon keselamatan dan keberkatan bagi Baginda Nabi saw dan bagi kemuliaan beliau saw sebagai penerang di dunia ini dan di akhirat kelak. Penjelasan mengenai bagaimana cara mengetahui seseorang telah memberikan perhatian dan konsentrasi penuh selama bershalawat, salah satu tandanya adalah seseorang sering menangis selama bershalawat serta merasakan pengaruhnya di dalam nadinya dan mengalami masa antara penuh kesadaran dan tertidur.[8]

Hadhrat Masih Mau’ud as  menulis kepada seorang pengikut beliau bahwa: “Kalian harus terus mendirikan shalat tahajud dan bacalah secara berulang-ulang wirid-wirid (doa-doa) dan tasbih-tasbih yang al-ma-tsurat (yang ada disebutkan oleh Al-Qur’an dan dan diriwayatkan dari Nabi saw) berkali-kali dan biasakanlah dengan itu. Ada banyak berkat di dalam tahajjud. Rasa malas untuk mendirikannya sungguh tidak bernilai apa-apa. Seseorang yang malas dan suka bersantai-santai tidak akan memperoleh apapun. Allah Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (العنْكبوت: 70) ‘Walladziina jaahaduu fiina lanahdiyannahum subulana.’ – “Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah swt. beserta orang- orang yang berbuat kebaikan.” (29:70).

Shalawat yang lebih disukai ialah yang diucapkan oleh lidah penuh berkat Baginda Nabi saw, yaitu sebagai berikut: “اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. ”  Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Terpuji dan Maha Agung.

“اللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعلى آل محمد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ” Ya Allah, limpahkanlah keberkatan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan keberkatan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Terpuji dan Maha Agung.

Kata-kata yang keluar dari mulut seorang pribadi suci pasti memiliki banyak keberkatan di dalamnya. Hendaknya dipahami betapa penuh berkatnya kata-kata yang keluar dari seorang pribadi yang merupakan pemimpin orang-orang suci dan penghulu para Nabi. Pendek kata, inilah shalawat yang paling penuh berkat dari semua versi shalawat lainnya. Kalimat shalawat ini juga diwiridkan oleh hamba yang lemah ini. Tidak perlu membatasi untuk bershalawat hingga berapa kali. Hendaknya shalawat dibacakan dengan penuh keikhlasan, kecintaan, kehadiran hati dan kerendahan hati. Dan bacalah shalawat hingga tercipta keadaan dalam hati berupa rintihan tangisan, ecstacy (perasaan penuh sukacita), berkesan, dan dada dipenuhi dengan kelapangan dan kelezatan. Kemudian timbul keyakinan dan pemahaman yang mendalam di dalam dada.”[9]

Kita berdoa kepada Allah supaya membuat semangat ini dalam diri kita semua, dan bangkit dari hati kita shalawat kepada Nabi saw yang memiliki pranala hingga ke arsy Ilahi, kemudian shalawat ini menampakkan diri kepada kita dalam bentuk karunia-karunianya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (Hadhrat Khalifatul Masih II, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad) radhiyAllahu ‘anhu memberikan pandangan berikut ini mengenai membaca shalawat yang sangat saya (Hadhrat Khalifah V) sukai.

“Ketika kita berdoa bagi orang lain maka doa-doa kita menjadi sumber diangkatnya derajat kita. Sementara membaca shalawat mengangkat derajat Baginda Nabi saw yang pada akhirnya juga akan mengangkat derajat kita. Shalawat akan sampai pada beliau saw dan kemudian melalui beliaulah shalawat tersebut sampai pada diri kita. Seperti halnya ketika sesuatu ditempatkan pada penyaringan, maka dia akan melewati penyaringan tersebut dan mengalir ke bawah. Demikian pula Allah Ta’ala telah menjadikan Baginda Nabi saw sebagai penyaring bagi umat beliau saw. Pertama-tama Allah Ta’ala menurunkan berkat kepada beliau saw dan kemudian berkat-berkat tersebut juga sampai pada kita melalui beliau saw. Sebagai hasil dari kita membaca shalawat, Allah Ta’ala mengangkat derajat Baginda Nabi saw dan tentunya Allah Ta’ala juga berfirman kepada Baginda Nabi saw bahwa hadiah ini adalah dari orang-orang mukmin yang ini dan yang itu. Hal ini mendorong Baginda Nabi saw untuk mendoakan kita. Dan karena doa beliau saw, Allah Ta’ala menganugerahkan kita berkat-berkat-Nya.

Secara pribadi, ketika saya pergi ke pekuburan Hadhrat Masih Mau’ud as  untuk berdoa, maka cara saya berdoa adalah pertama-tama saya mendoakan Baginda Nabi saw dan kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as . Barulah saya berdoa, ‘Wahai Allah Ta’ala, saya tidak mempunyai apapun yang dapat saya persembahkan sebagai hadiah bagi kedua wujud suci tersebut. Apapun yang saya miliki tidaklah bermanfaat bagi mereka. Sedangkan Engkau memiliki segalanya. Oleh karena itu, saya berdoa seraya memohon agar Engkau membantu saya dan memberi mereka hadiah yang sebelumnya tidak pernah mereka dapati di surga.’

Mereka pasti akan bertanya mengenai hadiah tersebut, ‘Wahai Allah! Dari siapakah datangnya hadiah ini?’ Ketika Allah Ta’ala memberi tahu mereka siapa yang telah mengirimkan hadiah tersebut, kemudian mereka akan mendoakan orang tersebut dan barulah derajat orang tersebut akan diangkat. Hal ini terbukti ada dijelaskan di dalam Al-Quran dan dalam banyak Hadits Nabi, dan itu adalah hal mendasar Islami yang diakui, bahwa tidak ada yang dapat menyangkal perihal manfaat doa-doa bagi mereka yang telah meninggal.

Al-Quran menyatakan: فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا (النساء: 87) ‘fa hayyuu bi ahsani minhaa’ – “…ucapkanlah salam yang lebih baik dari yang diucapkan kepadamu…” (An-Nisa, 4:87) dan hendaklah perhatian kita ditarik bahwa ketika seseorang memberikan hadiah kepada kalian, maka kalian membalasnya dengan hadiah yang lebih baik atau paling tidak sama dengan hadiah yang diterima. Menurut ayat ini, ketika kita berdoa bagi Baginda Nabi saw atau Masih Mau’ud as  serta membaca shalawat dan salam bagi mereka berdua, maka hasil dari doa kita dan demi kepentingan kita, Allah Ta’ala akan memberikan mereka hadiah. Kita tidak tahu betapa banyaknya karunia di surga tetapi Allah Ta’ala mengetahuinya.

Ketika kita berdoa, ‘Wahai Allah Ta’ala! Anugerahkanlah kepada Baginda Nabi saw suatu hadiah yang belum pernah diberikan kepada beliau saw sebelumnya.’ Ketika hadiah tersebut diberikan, beliau saw juga diberitahu dari siapa hadiah tersebut berasal. Lalu mana mungkin setelah beliau saw mengetahui darimana hadiah itu berasal namun beliau saw sama sekali tidak melakukan apapun dan tidak mendoakan orang yang telah memberinya hadiah! Jiwa beliau saw tunduk dihadapan Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Wahai Allah Ta’ala, anugerahkanlah mereka sesuatu balasan yang lebih baik demi kami.’ Kemudian sesuai ayat فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا (النساء: 87) maka doa tersebut akan dikembalikan kepada orang yang bershalawat tadi serta akan menjadi sumber diangkatnya derajatnya. Ini merupakan sarana yang melaluinya kita dapat meraih manfaat bagi diri sendiri dan bagi suatu Jemaat tanpa berbuat syirik.

Penjelasan perbedaan kedua bagian dari shalawat tersebut. Pada bagian awalnya, kalimat “اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.” dibacakan. Secara bahasa, salah satu makna kata صَلِّ menandakan rasa takzim dan itu berarti: ‘Wahai Allah, angkatlah keagungan Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam di dunia ini dengan meninggikan namanya, dan dengan menjadikan risalahnya (misi tugasnya) sukses dan menang di dunia, dan dengan menganugerahkan kemuliaan kepada beliau melalui kekekalan serta keabadian syariahnya, dan di akhirat dengan menerima doa syafaat beliau bagi umat ini dan dengan meningkatkan pahala mereka dan membalasnya berlipat ganda.’

Pada bagian kedua, kalimat “اللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعلى آل محمد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ” disebutkan.[10] Kalimat itu berarti: ‘Wahai Allah, jadikanlah apa-apa yang telah Engkau tetapkan bagi Baginda Nabi saw berupa segala kehormatan, kebesaran, keagungan serta kemuliaan dan anugerahkanlah hal demikian itu bagi beliau untuk selama-lamanya.’ Singkatnya, dalam اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ‘Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin…’ adalah doa bagi kemenangan dan keabadian syariat beliau saw dan bagi umat ini untuk menerima kemurahan hati dari doa syafaat beliau saw. Dalam kalimat اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى ‘Allahumma baarik ‘alaa Muhammadin…’ merupakan doa bagi keabadian dari kehormatan, kebesaran, kemuliaan, keagungan dan kemuliaan beliau saw.”

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk bershalawat dengan cara yang benar. Semoga karenanya kita dapat memperoleh kedekatan dengan Allah Ta’ala serta senantiasa meningkatkan kecintaan kita terhadap Baginda Nabi saw. Semoga kita selalu meningkatkan kemampuan kita dalam menyebarluaskan syariat beliau saw. Semoga kita selalu memainkan peran positif dalam menghilangkan kekacauan dari dunia ini sesuai dengan ajaran beliau saw! Semoga Allah senantiasa memberi taufik (kesempatan) kepada kita untuk melakukannya!

Saya hendak mengimami shalat jenazah ghaib bagi 2 orang Ahmadi. Mereka adalah Maulwi Abdul Qadir Dehlvi Sahib, darwaisy Qadian dan Mubaraka Begum Sahiba, istri dari seorang darwaisy Qadian bernama Bashir Ahmad Sahib Hafizabadi.

[1] Abu Bakr Muhammad ibn Ali ibn Tsabit Al-Khatib al-Baghdadi dalam Kitabnya Al-Fashl Lil Washl Al-Mudraj

[2] Kanzul ‘Ummal dari ad-Dailami, dari Sahabat Anas. Thabaqat al-Syafi’iyah al-Kubra oleh Tajuddin ‘Abdul Wahhab Ibn ‘Ali al-Subki; Al-Qaul al-Badi’ fi Fadhi ash-Shalati ‘ala al-Habib asy-Syafi’ h. 178. karya Syamsuddin Abu al-Khair Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar bin Utsman bin Muhammad as-Sakhawi asy-Syafi’i; (lahir di Kairo pada 831 H/1428, meninggal di Madinah pada 902 H/1497) يا أيها الناس أنجاكم يوم القيامة من أهوالها ومواطنها أكثركم علي صلاة في دار الدنيا إنه قد كان في الله وملائكته كفاية إذ يقول: {إن الله وملائكته يصلون على النبي } الآية فأمر بذلك المؤمنين ليثيبهم عليه. (كنز العمال عن الديلمي عن أنس)

[3] Sunan at-Tirmidzi

[4] Shahih Muslim, Kitab tentang Shalat, bab tentang ucapan seperti ucapan seorang yang adzan bagi siapa yang mendengar adzan lalu bershalawat kepada Nabi saw, hadits 849.

[5] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang Shalat, bab-bab tentang Witr, hadits 486

[6] Laporan Jalsah Salanah hal 50-51- Tafsir Masih Mau’ud as  Vol. 3 hal. 730

[7] Malfuzhat Vol. 3 hal. 8-9, edisi terbaru – Teladan Beberkat Baginda Nabi saw dan Karikatur, hal. 85-86

[8] Surat kepada Mir Abbas Ali, surat nomor 9, Maktubat-e-Ahmadiyah

[9] Maktubat-e-Ahmadiyya vol. I, hal, 17-18 – Teladan Beberkat Baginda Nabi saw dan Karikatur, hal. 79-80

[10] Shahih al-Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur’an, bab ayat tentang shalawat, hadits 4797

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا السَّلَامُ عَلَيْكَ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَكَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

(Visited 400 times, 1 visits today)