Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 29 Mei 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ( تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ الله ُأَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيّاً ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ُثمَّ سَكَتَ ). “Kenabian akan tetap ada pada kalian selama waktu yang dikehendaki Allah Ta’ala. Setelah itu akan berdiri Khilafat ‘Ala Minhaajin Nubuwwah. Khilafat itu akan berjalan diatas jalan Nabi. Khilafat tersebut tidak akan mencari kepentingan dan keuntungan pribadi. Mereka akan melanjutkan dan memajukan pekerjaan Nabi itu. Tetapi setelah beberapa lama kemudian Khilafat itu yakni Khilafat Rasyidah akan berakhir. Ni’mat itu akan diambil kembali dari tangan kalian.

Setelah itu akan berdiri kerajaan yang tidak menyenangkan rakyat sehingga rakyat akan merasa susah sekali. Kemudian akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih buruk dan lebih kejam dari itu. Selanjutnya, rahmat Allah pun turun kemudian akan berdiri Khilafat ‘Ala Minhaajin Nubuwwah.”[1]

Kita telah menyaksikan dalam sejarah Islam bahwa sekalipun selama masa-masa yang berbeda timbul para pemimpin bangsa di kalangan Islam yang menamakan diri mereka Khalifah, dan menyatakan kedudukan mereka sebagai Khalifah, tetapi sebagian besar umat Islam hanya mengakui empat orang Khalifah yang terpilih setelah Hadhrat Rasulullah saw wafat saja yang disebut Khulafa Ar-Rasyidin. Masa itulah yang disebut masa Khilafat Rasyidah, yakni khilafat yang diberkati hidayah (petunjuk, bimbingan oleh Allah Ta’ala) dan penyebarannya. Para Khalifah tersebut menjalankan syariat Islam sesuai yang mereka saksikan Hadhrat Rasulullah saw menjalankannya. Mereka menjalankan Nizham Khilafat sesuai dengan ajaran-ajaran Alqur’anul Karim. Mereka tidak menjalankan Khilafat seperti sebuah Khandaani Badsyaahat (kerajaan keluarga yang turun-temurun), melainkan Allah Ta’ala menyelimutkan jubah Khilafat kepada mereka melalui Jemaat orang-orang mu’miniin (beriman). Sedangkan para Khalifah yang berkuasa selain dari mereka merupakan Khalifah keluarga secara turun-temurun.

Kalimat demi kalimat nubuwatan Hadhrat Rasulullah saw telah sempurna. Ketika kedua jenis [bagian awal] nubuwatan beliau saw itu telah sempurna, maka pada bagian ujung/akhir nubuatan yang beliau sabdakan itu pun telah sempurna pula. Setelah menyaksikan keadaan orang-orang Muslim yang sangat berubah dan kemunduran umat Islam yang sangat cepat itu maka Tuhan Yang telah mengutus Hadhrat Rasulullah saw dengan syari’at yang berlaku sampai Hari Kiamat, Rahmat dan karunia-Nya menggelora dan Khilafat ‘Ala Minhaajin Nubuwwah Dia tegakkan kembali diatas dunia.

Kita orang-orang Ahmadi yakin bahwa rahmat Tuhan itu telah bergelora untuk menyempurnakan janji-Nya terhadap Hadhrat Rasulullah saw. Dan dengan menyempurnakan nubuatan beliau itu Khilafat ‘Ala Minhaajin Nubuwwah telah ditegakkan-Nya kembali melalui Hadhrat Masih dan Mahdi Mau’ud as. Beliau as telah dianugerahi kedudukan Nabi Ummati, begitu pun kedudukan Khatamul Khulafa telah dianugerahkan kepada beliau as. Itu artinya, sekarang mata rantai Khilafat Baginda Nabi Muhammad saw hanya akan berlangsung melalui Ghulam Sadiq (pelayan sejati) beliau saw, dan ia merupakan Khatamul Khulafa.

Maka dari itu, kita sangat bernasib baik dan beruntung telah menjadi bagian dari sempurnanya khabar suka Hadhrat Rasulullah saw itu yakni kita telah mendapat anugerah kembali Khilafat ‘ala minhajjin nubuwat yang akan berlangsung sampai Hari Kiamat. Dan kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang dinubuatkan di dalam Surat Jumu’ah ayat 4 dengan firman-Nya, {وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} yang artinya: “Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka.” Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud as. adalah orang yang telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw yang akan membawa kembali iman kebumi yang sudah terbang ke bintang Tsurayya. Dan kita telah termasuk kedalam golongan orang-orang yang telah beriman kepada beliau as. Allah Ta’ala telah memberi taufiq kepada kita untuk menyampaikan pesan salam Hadhrat Rasulullah saw kepada Masih dan Mahdi as. dan Dia-pun telah memberi taufiq kepada kita untuk baiat kepada Khilafat yang berlangsung setelah Hadhrat Masih dan Mahdi as.

Semua berkat dan karunia ini menuntut setiap Ahmadi untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala dan mengadakan perubahan suci pada diri mereka dan itu merupakan kewajiban semua orang yang telah beriman kepada utusan-Nya. Jika itu dilakukan barulah hak dan kewajiban Baiat itu akan dapat kita penuhi. Tugas dan kewajiban Hadhrat Masih dan Mahdi Ma’hud adalah untuk membawa kembali iman dari atas bintang Tsurayya ke bumi dan menuangkannya kedalam kalbu orang-orang yang telah beriman kepada beliau as. Dan, setiap Ahmadi menjadi saksi bahwa beliau as. telah menyempurnakan tugas dan kewajiban beliau as itu.

Namun demikian, menanamkan semangat iman itu tidak terbatas hanya sampai pada waktu beliau masih hidup atau tidak terbatas hanya untuk beberapa kurun waktu tertentu saja, sebab setelah menyampaikan nubuatan tentang Khilafat ‘Ala Minhaajin Nubuwwat itu Hadhrat Rasulullah saw berhenti tidak bersabda lagi. Ini mengisyaratkan Khilafat itu akan berlangsung sampai Hari Kiamat dan iman pun akan tetap berdiri dengan megahnya sampai Hari Kiamat. Setiap orang yang menyebut dirinya telah tergabung kedalam Baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as berkewajiban untuk menanamkan iman itu kedalam lubuk hatinya dan harus tetap berpegang teguh kepada Nizham Khilafat yang telah berdiri setelah Hadhrat Masih Mau’ud as dan harus berusaha untuk menjadi mazhhar (penampakan) Iman dan menegakkan tauhid Ilahi di seluruh pelosok dunia.

Allah Ta’ala telah mengirimkan Aqa-o-Mutha (Junjungan yang Ditaati) Hadhrat Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam untuk tugas itu dan untuk tugas ini jugalah, Dia telah mengutus seorang pecinta beliau saw, Hadhrat Masih Mau’ud as serta untuk tugas ini jugalah Hadhrat Rasulullah saw telah menubuatkan tentang Khilafat yang akan berlangsung hingga hari kiamat. Sungguh, ketika Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan kabar yang menyedihkan kepada Jemaatnya tentang kewafatannya, beliau as juga memberikan kabar suka akan berdirinya Khilafat.

Beliau as menulis: “Karena sejak dahulu begitulah sunnatullah, bahwa Allah Ta’ala menunjukan dua kudrat-Nya supaya diperlihatkan-Nya bagaimana cara menghapuskan dua kegirangan yang bukan-bukan dari musuh, maka sekarang tidak mungkin Allah Ta’ala akan meninggalkan sunah-Nya yang tidak berubah-ubah itu. Maka janganlah kalian bersedih hati karena uraian yang aku terangkan di depan kalian ini. Janganlah hati kalian menjadi kusut karena bagi kalian perlu pula melihat Kudrat yang kedua. Kedatangannya kepada kalian membawa kebaikan karena Dia selamanya akan tinggal bersama kalian dan sampai hari kiamat, silsilah ini tidak akan terputus.”[2]

Demikianlah, untuk menegakkan iman di atas bumi Allah Ta’ala telah melanjutkan Kudrat kedua ini setelah Hadhrat Masih Mau’ud as. Allah Ta’ala tidak menghendaki para penentang agama bergirang hati bahwa iman telah hancur kembali. Allah Ta’ala tidak menghendaki setan bebas berkeliaran kesana-kemari. Allah Ta’ala bermaksud untuk menumpas kegembiraan palsu para penentang. Karena itu Khilafat telah didirikan kembali oleh Allah Ta’ala setelah Hadhrat Masih Mau’ud as. agar iman manusia tumbuh kembali di atas dunia dengan kokoh kuat. Tetapi, Allah Ta’ala pun telah mewajibkan terhadap orang-orang yang telah menyatakan diri bergabung dengan Nizham ini, bahwa mereka harus menjadi para penolong untuk tetap berdirinya Nizham Khilafat ini. Bersamaan dengan berpegang kepada janji Baiat, mereka harus bertekad dengan teguh untuk menjaga iman mereka sendiri dan meningkatkan iman yang lain juga.

Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda, “Sejak dahulu sunnatullah itu kekal, bahwa Allah Ta’ala menunjukkan dua Kudrat-Nya”, dan kita semua paham betul bahwa Kudrat kedua itu adalah Nizham Khilafat. Nizham Khilafat itu sangat erat hubungannya dengan kemajuan Agama dan ia adalah bagian dari Syariat Islam. Kemajuan Agama tidak mungkin dapat dicapai tanpa Nizham Khilafat. Persatuan dan kesatuan Jemaat tidak mungkin dapat ditegakkan tanpa Khilafat.

Dengan karunia Allah Ta’ala setiap Ahmadi yang mempunyai hubungan erat dengan Khilafat paham betul bahwa tegaknya Khilafat adalah bagian dari iman. Orang-orang Jemaat juga tahu siapa orangnya yang membantah para pembuat fitnah pada waktu Hadhrat Khalifatul Masih I ra wafat dan ingin berpegang teguh dengan Khilafat. Hal demikian karena mereka tahu iman kita tidak bisa bertahan jika Nizham Khilafat terlepas dari tangan kita. Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala bahwa berkat pengorbanan dan keimanan mereka yang kuat sekarang keturunan mereka semua memperoleh banyak berkat dari Nizham Khilafat ini.

Dalam hal itu usaha dan perjuangan dan pengorbanan yang paling tangguh adalah Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Beliau telah bersabar menerima tuduhan-tuduhan busuk yang bertubi-tubi dilakukan para penuduh kepada beliau. Tetapi keadaan hati beliau sangat sabar dan tabah di waktu itu demi menyelamatkan Nizham Khilafat. Di sini saya ingin menyampaikan apa yang Hadhrat Khaliaftul Masih II ra sendiri sampaikan dengan jelas, sebab hal itu sebagian dari Tarikh (Sejarah) Jemaat juga. Kita harus memperhatikan Tarikh untuk mencegah fitnah, begitu juga untuk memperkuat iman kita perlu sekali kita memperhatikan Tarikh.

Hadhrat Khalifatul Masih II ra bersabda, “Saya mengundang Tn. Maulwi Muhammad Ali ke dalam kamar di rumah tempat wafat Hadhrat Khalifatul Masih I ra dan mengatakan, ‘Hendaknya Tuan tidak menimbulkan kontroversi (perdebatan) sehugungan dengan perlu ada atau tidaknya Khilafat. Hendaknya Tuan membatasi pemikiran Tuan perihal terpilihnya seorang khalifah yang akan menjaga Jemaat ini pada tangannya dan dia mampu bekerja demi kemajuan Islam. Sebab ishlah (perbaikan, perdamaian) hanya dapat tegak tatkala ada kemungkinan untuk suatu pengorbanan.’”

Hadhrat Khalifatul Masih II ra bersabda “Sejauh mana tentang hal-hal pribadi, saya katakan bahwa demi Tn. Maulwi saya bersedia mengorbankan perasaan pribadi saya, tetapi jika timbul masalah ushuul (hal-hal prinsipil) maka terpaksa saya harus bertahan. Sebab meninggalkan ushuul dalam situasi bagaimanapun tidak dapat dibenarkan.”

Beliau ra mengatakan padanya, “Satu-satunya perbedaan antara saya dan Anda sekalian ialah saya menganggap Khilafat sebagai masalah agama dan keberadaan Khilafat adalah satu keharusan. Anda sendiri juga tidak bisa beranggapan adanya Khilafat tidak perlu karena Anda baru saja lepas dari baiat selama 6 tahun terhadap seorang Khalifah.” (Artinya, “Anda telah baiat kepada Khalifah Awwal ra yang sekarang telah wafat yang Anda telah selesai dari baiatnya setelah wafatnya sementara sekarang Anda berkata, ‘Khilafat tidak perlu ada dan sekarang kita telah lepas terbebas darinya.’”)

Beliau ra mengatakan kepadanya, “Tuan Maulwi telah melewati masa baiat selama 6 tahun. Bagaimana mungkin hal yang jaiz/boleh pada masa tersebut dapat menjadi haram pada masa berikutnya, apalagi secara khusus Allah Ta’ala telah perintahkan untuk menegakkannya. Satu-satunya perbedaan antara saya dan Anda sekalian ialah jika Anda melepaskan apapun yang menjadi pendapat Anda yang sekarang maka Anda tak pelak lagi akan memilih apa-apa yang tetap pada diri Anda hingga hari itu, yaitu tetap dalam baiat kepada Khalifah Awwal. Sementara jika kami melepaskan pendapat kami (tentang keharusan Khilafat) maka tentu itu berarti kami dipaksa meninggalkan sesuatu ke arah sesuatu yang bertentangan dengan pendapat kami dan keimanan/agama kami yang mana itu tidak pernah kami lakukan mengingkarinya.

Maka, yang sesuai dengan tuntutan sikap adil adalah sekarang hendaknya Tuan menempuh jalan yang telah Tuan tempuh hingga hari itu (wafat Khalifah Awwal) dan janganlah memaksa kami untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dan keyakinan kami. Selain dari itu, bahasan yang akan bermanfaat bagi kemajuan Jemaat dan membuat solid bangunan Islam ialah kami (Hudhur II ra, keluarga dan siapapun yang mendukung beliau) menerima siapapun Khalifah yang Anda (Maulwi Muhammad Ali) setujui orangnya menjadi Khalifah.”

Dengan karunia Allah Ta’ala kebanyakan anggota Jemaat menghendaki agar Nizham Khilafat tetap berdiri. Jemaat selalu ingat dengan jelas dan penuh perhatian terhadap petunjuk Hadhrat Masih Mau’ud as. Tatkala pertemuan itu tidak selesai hingga waktu yang lama dan Maulwi Muhammad Ali bersikeras pada pandangannya [yaitu tidak perlu ada Khilafat dan Khalifah melainkan sebuah organisasi saja] maka orang-orang yang menunggu di luar pun mulai riuh sembari ada yang mengetuk-ngetuk pintu dan meminta keputusan cepat agar dapat segera mengambil baiat [kepada Khalifah terpilih].

Hadhrat Khalifatul Masih II ra meriwayatkan bahwa waktu itu beliau mengatakan kepada Maulwi Muhammad Ali, “Persoalan yang ada hendaklah siapa yang akan menjadi Khalifah selanjutnya dan bukan apakah harus ada Khalifah atau tidak!” Maulwi Muhammad Ali menjawab, “Saya paham sekali Anda hanya menekankan hal ini karena Anda sudah tahu siapa yang akan menjadi Khalifah selanjutnya [siapa yang akan orang-orang Jemaat pilih untuk jadi Khalifah].”

Tetapi, beliau ra menjawab, “Saya tidak tahu siapa yang akan menjadi Khalifah dan akan mengambil baiat kepada siapapun yang Tn. Maulwi pilih.” Itu artinya, Hudhur ra (Hadhrat Khalifatul Masih II ra) bersabda, “Karena saya bersedia berbaiat kepada orang yang Anda (Maulwi Muhammad Ali) pilih sebagai Khalifah, itu artinya para penyokong Khilafat akan menaati saya dalam hal ini, jangan mencemaskan bahwa Anda akan menghadapi keberatan/protes dalam hal ini/dalam hal orang yang Anda pilih jadi Khalifah.” Walau bagaimanapun juga, Maulwi Muhammad Ali tidak setuju dengan hal itu dan tetap dalam pandangannya.

Hadhrat Khalifatul Masih II ra berkata, “Saya katakan kepada Tn. Maulwi Muhammad Ali, ‘Tuan sangat berprasangka buruk kepada saya. Andaikan saya mampu membelah dada saya, membuka hati saya kepada Anda untuk saya tunjukan apa yang ada di dalamnya itu. Saya bersedia mempersembahkan setiap pengorbanan yang dapat saya lakukan sesuai kemampuan saya.’”

Akhirnya, pintu ruangan pun dibuka. dan beliau keluar meninggalkan sidang pertemuan, maka Maulwi Muhammad Ahsan Amrohi (salah seorang Sahabat lainnya) menyebut nama Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad agar menjadi Khalifah kedua bagi Hadhrat Masih Mau’ud as. Jemaat pun setuju dan mendesak agar beliau mengambil baiat mereka. Beliau ra merasa bingung dan berkata, “Saya bahkan tidak hapal 10 janji baiat.” Namun, seseorang yang mungkin Maulwi Sarwar Syah mengatakan pada beliau, “Saya menghapalnya. Saya akan menolong Anda menyebutkan (mendiktekan) janji baiat tersebut.”

Demikianlah peristiwa bersejarah berdirinya Kudrat Tsaniah (Kudrat Kedua/Khilafat), para penghasut fitnah berusaha untuk menimbulkan kerusuhan dan kekacauan, namun Allah Ta’ala telah menggagalkan usaha busuk mereka itu demi menyempurnakan sabda Rasul-Nya tercinta, Muhammad saw. Dan, Khilafat ‘Ala minhajin Nubuwwah telah berdiri kembali untuk kedua kali setelah wafat Hadhrat Masih Mau’ud as. Orang-orang yang menjauhkan diri dari Khilafat itu terdiri dari orang-orang ’Alim, memiliki banyak ilmu pengetahuan Agama juga bahkan orang-orang yang memiliki banyak ilmu pengetahuan duniawi juga. Mereka orang-orang terpelajar, berpengalaman, pakar dan berpengaruh juga memiliki status dalam masyarakat. Semua kekayaan Anjuman juga dikuasai oleh mereka tetapi mereka tidak berhasil dalam mencapai tujuan akhir mereka.

Maulwi Muhammad Ali Sahib tidak hanya merasa cukup dengan meninggalkan Qadian, tetapi dia bersama kalangan ghair Mubayi’in (yang tidak baiat) melanjutkan usaha untuk menimbulkan fitnah guna mengakhiri Khilafat namun selalu gagal sebab Allah Ta’ala telah menjanjikan untuk berdirinya Nizham Khilafat. Setelah menghadapi kegagalan, mereka mengosongkan khazanah (harta kas) Jemaat dan ketika berjalan meninggalkan Qadian sambil mengacungkan jari mereka kearah gedung Ta’limul Islam High School (Sekolah Menengan Ta’limul Islam) meramalkan: ”Tidak akan lewat 10 tahun, gedung-gedung ini akan dikuasai oleh Kristen dan Hindu Arya.”[3]

Tetapi perhatikanlah! Bagaimana Allah Ta’ala telah memenuhi janji-janji-Nya. Bagaimana Dia telah menyempurnakan sabda Rasul-Nya, Muhammad saw. Kabar-kabar suka yang diberikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as juga bukan hanya telah dipenuhi oleh Allah Ta’ala, bahkan sampai sekarang setiap hari kita menyaksikan kesempurnaannya dengan sangat gemilang.

Mereka berkata, “Sebelum sepuluh tahun Kristen dan Hindu Ariya akan memiliki gedung-gedung Ta’limul Islam High School.” Tetapi kinerja Allah Ta’ala sangat luar biasa cemerlang. Sepuluh tahun sudah berlalu dan puluhan tahun pun telah lewat, bahkan sekarang sudah berlalu 101 tahun, sekalipun dirundung berbagai macam kesulitan termasuk terjadinya ‘partition’ (pemisahan Negara Hindustan menjadi, dua India dan Pakistan pada 1947) yang membuat Qadian untuk sementara ditinggalkan dan dihuni oleh beberapa ratus orang Darweisy Ahmadi. Sekarang Qadian bergerak maju terus dan semakin banyak gedung bertingkat dibangun dengan model baru.

Mereka (penentang Khilafat yang menolak baiat kepada Khalifatul Masih II ra) menyebut-nyebut perihal satu sekolah yang akan diambil alih oleh pihak non Ahmadi, tetapi sekarang jutaan rupees sedang dibelanjakan untuk mendirikan sekolah-sekolah baru. Dengan karunia Allah, pekerjaan Tabligh juga telah diikhtiarkan dengan sangat luas cakupannya dan tidak hanya di Qadian namun juga di seluruh dunia. Banyaknya bangunan Jemaat yang berhubungan dengan Khilafat Ahmadiyah yang menunjukkan bukti dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala menyertai Nizham Khilafat. Keindahan ajaran Islam telah sampai ke berbagai pemeluk Agama dan kepercayaan di dunia. Itulah pemandangan bukti dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala menyertai Khilafat Ahmadiyah yang kita saksikan setiap hari.

Jemaat Jerman pun sedang tidak ketinggalan dalam meraih berkat-berkat Khilafat ini. Beberapa hari yang baru lalu dua buah Badan Jemaat, Ansarullah dan Lajna Imaillah telah berhasil membeli sebuah gedung lima lantai seharga 1.7 juta Euro. Dahulu para penentang Khilafat menyisakan dalam kas keuangan Jemaat di Qadian hanya beberapa sen saja, kurang dari satu Rupee. Ketika pergi [meninggalkan Qadian] sambil tertawa mereka berkata: “Kita akan lihat bagaimana Nizham mereka itu akan berjalan.” Namun dengan karunia Allah Ta’ala, berkat eratnya hubungan dengan Khilafat, sekarang hanya dua Badan Jemaat dari satu Negara saja mampu membelanjakan harta begitu besar untuk membeli sebuah gedung lima lantai seharga lebih dari 190 juta Rupees. Jika ini bukan bukti dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala, harus disebut apa lagi? Mereka yang memisahkan diri dari Nizham Khilafat, markaz mereka pun telah hancur berantakan. Di waktu itu juga diantara mereka yang sudah sadar dan sekarang juga dari anak keturunan mereka banyak yang sudah kembali kepada Khilafat Ahmadiyah.

Pada hari ini, pekerjaan tabligh penyebaran Islam sedang dijalankan di dunia di bawah Nizham Khilafat. Pada zaman sekarang ini ketika di dunia ini nama baik Islam sedang sangat terpuruk, hanya Jemaat Ahmadiyah yang sedang menunjukkan keindahan wajah Islam kepada dunia. Dan, dalam rangka itu Allah Ta’ala menegaskan kebenaran Khilafat Ahmadiyah kepada dunia. Banyak peristiwa yang sangat menakjubkan yang membuat orang-orang yang mendengarnya merenungkan dengan bagaimana Allah Ta’ala mengabarkan kepada orang-orang tentang kebenaran Jemaat dan dukungan-Nya terhadap Khilafat Ahmadiyah. Selanjutnya, hal itu membuka hati mereka yang berfitrat baik dan bersih. Saya sampaikan beberapa peristiwa diantaranya.

Niger adalah sebuah negara di benua Afrika. Muballigh di sana telah menulis kepada kami, “Di sebuah kampung diadakan latihan bagi para Ahmadi baru. Di sana juga diselenggarakan training (pelatihan) bagi sepuluh orang Imam dan diantara mereka hadir seorang Chief (kepala suku) Ougna juga. Ketika Chief itu ditanya, ‘Mengapa ikut hadir bersama Imam-imam ini? Kelas ini hanya untuk training para Imam saja.’

Jawabnya, ‘Saya tahu Kelas ini hanya untuk para Imam. Namun semalam ketika saya kirim pesan kepada seorang Imam untuk ikut dalam Kelas ini ia menolak tidak mau hadir dan berkata bahwa Imam besar kota ini seorang Sunni (Ahlus Sunnah) mengatakan bahwa Ahmadiyah adalah Kafir. Saya heran dan betul-betul sedih mendengarnya. Bagaimana Ahmadi bisa menjadi Kafir? Saya sebagai Chief Kampung ini telah memberi izin kepada Ahmadiyah untuk mengadakan tabligh di kampung ini. Kalau begitu saya telah menjadi double Kafir.

Malam hari saya banyak sekali berdo’a. Di waktu berdo’a meminta hidayah dari Allah Ta’ala saya pun tertidur. Saya bersumpah, semalam saya bermimpi, pertama saya lihat bintang-bintang jatuh di dalam rumah saya, setelah itu bulan pun turun. Saya dekati semua itu namun semua tidak memancarkan cahaya.

Tiba-tiba seorang berpakaian putih bersih turun di rumah saya dan tiba-tiba semua bintang dan bulan itupun bercahaya terang benderang. Keadaan rumah pun menjadi terang benderang. Dan di dalam hati saya timbul perasaan yang sangat kuat sekali bahwa orang ini berperilaku seperti orang Ahmadi. Saya mendekat kepadanya dan bertanya, ‘Apakah tuan seorang Murabbi (Muballigh) atau Khalifah orang-orang Ahmadi?’ Kemudian serentak saya terbangun.”

Murabbi kita menunjukkan sebuah Album foto-foto kepadanya. Ketika melihat foto saya Chief itu berulang kali berkata sambil menunjuk kepada foto saya dan bersumpah demi Allah, “Orang inilah yang turun dari langit dan masuk kerumah saya! Berkat kedatangan orang ini seluruh rumah saya bercahaya menjadi terang benderang.”

Tn. Amir Gambia menulis, “Masyarakat sebuah kampung bernama Samba Mbayen kami kabarkan tentang kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as selama pertablighan kami di sana. Di waktu tabligh itu kami bacakan 10 syarat-syarat Baiat kepada penduduk Kampung itu. Mendengar penjelasan itu orang-orang kampung dan seorang Ketua Dewan Pengembangan Desa berkata: ‘Rasulullah saw telah menubuwatkan kedatangan Imam Mahdi, dan hari ini untuk pertama kali saya mendengar kabar tentang kedatangan Imam Mahdi yang dijanjikan. Saya sangat terkesan semenjak mengetahui Ahmadiyah. Hanya orang-orang Ahmadi yang patut disebut Muslim sejati, sebab mereka mempunyai kekuatan Khilafat dan semua orang Ahmadi terikat dalam satu rantai persatuan dan kesatuan.’”

Ketika ditunjukkan kepadanya berbagai hal tentang saya dan foto-foto saya (Hudhur V atba), beliau berkata, “Setiap hari saya lihat orang ini di Televisi.” Setelah itu beliau beserta penduduk kampung itu kurang lebih 350 orang bersama-sama masuk Jemaat. Sambil melihat-lihat Alqur’an terjemahan di dalam bahasa setempat beliau berkata: ”Hanya Ahmadiyah yang patut disebut Islam sejati. Golongan Islam lain tidak mampu melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Insya Allah kami akan tetap berpegang teguh kepada Ahmadiyah untuk selama-lamanya dan tidak akan mundur. Sebab inilah Islam yang sejati, para mullah telah menipu kami.”

Dalam kesempatan lawatan saya kali ini ke Jerman dan pada kesempatan peresmian Masjid di Aachen dan di Hanau telah hadir penduduk setempat terdiri dari berbagai kedudukan, para politisi, para pengusaha, guru-guru dan para cendekiawan, laki-laki maupun perempuan. Banyak sekali dari mereka yang menyatakan pandangan dan kesan-kesan baik mereka. Seorang ibu (non Ahmadi) berkata orang Ahmadi: “Saya mempunyai banyak sekali kenalan orang Ahmadi dan karena telah mengenali mereka saya pikir saya telah banyak tahu tentang Ahmadiyah. Namun, kesan yang saya dapat dengan mendengar pidato-pidato Khalifah Anda tidak pernah saya alami sebelumnya. Sekarang saya sudah tahu benar hakikat Islam yang sejati yang telah masuk kedalam hati saya.” Demikianlah, banyak sekali turun karunia Allah Ta’ala yang menyertai Khilafat.

Saya seorang manusia sangat lemah. Saya tahu keadaan diri saya sendiri. Saya tidak mempunyai kelebihan apapun. Akan tetapi Allah Ta’ala telah berjanji untuk mendukung dan menolong Khilafat dan saya yakin Allah Ta’ala tidak akan menyalahi janji-janji-Nya. Dia selalu memberi dukungan dan pertolongan-Nya terhadap Khilafat. Dan, إن شاء الله pada masa yang akan datang pun Dia akan terus memberi pertolongan dan dukungan-Nya terhadap Khilafat sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as sabdakan, ”Kudrat kedua ini telah didirikan oleh Allah Ta’ala.” Kita selalu menyaksikan kudrat dan kekuasaan-Nya pada setiap harinya.

Siapa yang keimanannya tetap kokoh akan menyaksikan turunnya dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala kepada Jemaat ini. Kita harus selalu berusaha untuk memperkuat iman kita. Kita harus menjalin hubungan seerat-eratnya dengan Khilafat Ahmadiyah dan kita harus menaruh penuh perhatian untuk menyempurnakan hak dan kewajiban kita semua. Kita harus menaruh perhatian kepada kewajiban kita untuk memenuhi hak-hak antar sesama manusia juga. Umat Islam telah kehilangan nikmat Khilafat pada masa permulaan Islam ketika materialisme dan keduniawian masuk ke dalam diri mereka dan itu lebih mereka unggulkan.

Insya Allah, karunia Khilafat sekarang ada di sini dan Dia terus melanjutkannya namun mereka yang tidak paham atau melupakan janji mereka sendiri, yaitu janji mengutamakan keimanan atau agama diatas hal-hal duniawi, tetapi malah lebih mendahulukan duniawi daripada keimanan mereka sendiri, akan kehilangan karunia ini. Dan jika mereka tidak memenuhi syarat-syarat yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk karunia nikmat Khilafat, maka mereka akan kehilangan karunia tersebut.

Allah Ta’ala telah berjanji untuk mengubah ketakutan menjadi kedamaian melalui Khilafat, namun, janji ini ialah bagi mereka yang memenuhi huququllah (hak-hak Allah), yang pertama dari antara huququllah (hak-hak Allah) adalah (يعبدونني) ‘ya’buduunanii’ – “Mereka senantiasa beribadah kepada-Ku” – “Jika kalian ingin menikmati karunia Khilafat tersebut, maka mau tak mau kalian harus menunaikan hak ibadah, senantiasa jagalah shalat-shalat kalian yang lima dan berihal perhatian penunaiannya dengan cara yang sebaik-baiknya.”

Segi yang kedua dari huququllah (hak-hak Allah) adalah (لا يشركون بي شيئا) ‘laa yusyrikuuna bii syai-a’ “mereka tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun.” Bagi setiap manusia ada hal-hal yang sangat disukai di dunia ini. Di negeri ini khususnya (Jerman), mereka yang mengejar dan berlomba-lomba dalam hal materi sedemikian rupa, dan nampaknya sebagian orang Jemaat mengutamakan hal-hal duniawi daripada perintah-perintah Allah Ta’ala sampai-sampai mereka mengunakan kedustaan dan pernyataan tidak benar untuk memperoleh manfaat-manfaat duniawi. Itu termasuk salah satu corak dari syirk, menyekutukan Allah Ta’ala. Orang-orang semacam itu tidak dapat menikmati keberkahan sejati dari Khilafat.

Di sini ada seorang Ahmadi dari Jerman yang menulis surat kepada saya bahwa temannya yang sedang ditablighi telah mengakui semua kebenaran da’wa Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika ia mengajak temannya itu untuk Baiat masuk Jemaat, ia berkata: ‘Saya sudah kenal dengan banyak sekali orang Ahmadi yang diantara mereka juga ada kerabat saya. Ada yang melakukan penipuan waktu pembayaran pajak. Ada yang suka berkata dusta dan ada juga yang terlibat dalam pekerjaan terlarang. Itu semua bukan cara hidup saya, karena itu saya tidak bisa masuk Jemaat. Saya pembayar pajak yang setia dan sebagai sopir taksi saya membayar pajak juga. Dari segi itu saya lebih baik dari mereka. Sekalipun demikian saya tetap percaya semua akidah Jemaat.’

Sekalipun jawaban orang itu tidak dapat dibenarkan, dia sudah mengakui kebenaran firman Allah Ta’ala dan sabda-sabda Rasul-Nya namun tidak bersedia beriman yang berarti dia telah melakukan pelanggaran dan berbuat dosa. Maka Allah Ta’ala akan berfirman kepadanya, “Kamu telah mengenal kebenaran, karena melihat keadaan beberapa orang saja, mengapa kamu menolak untuk Baiat. Apa yang Aku perintahkan padamu tidak kamu ikuti.”

Tetapi orang Ahmadi yang karena perilakunya yang salah membuatnya menerima hukuman dua kali lipat. Pertama, dia sendiri akan luput dari karunia Allah Ta’ala dan keduanya, dia menjauhkan orang dari mendapat karunia Allah Ta’ala. Sehubungan dengan orang seperti itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Mereka telah mencemarkan nama kami setelah menyebut diri mereka Ahmadi.”

Pendek kata, orang yang mencemarkan nama baik Hadhrat Masih Mau’ud as bagaimana akan meraih berkat dari Khilafat beliau as yang telah didirikan dan tengah berjalan. Orang-orang seperti itu harus mengadakan koreksi terhadap diri mereka sendiri. Demikian pula, saya (Hudhur V atba) hendak katakan guna mengingatkan kepada para pengurus dan karyawan Jemaat, “Berkat-berkat yang terdapat di dalam pekerjaan anda sekalian atau Allah Ta’ala sedang memberi taufiq kepada anda semua untuk berkhidmat kepada Jemaat, semuanya itu hanyalah disebabkan karena ada kaitannya yang erat dengan Khilafat.

Jika berpisah dari Khilafat maka sedikit pun tidak akan dapat bekerja dengan baik. Jika manusia menganggap hasil baik dari suatu pekerjaan karena ilmunya dan karena kepandaian serta kecerdasannya yang khas, maka hal itu semata-mata merupakan anggapan yang sangat keliru. Suatu pekerjaan yang dilakukan atas nama Agama namun terpisah dari Nizham Khilafat maka sebesar zarrah pun tidak akan ada berkatnya.”

Sebagaimana telah saya katakan, akibat dari pekerjaan orang yang melepaskan diri dari Khilafat telah mereka lihat sendiri buktinya. Jumlah pengikut mereka setiap hari semakin berkurang. Kedudukan markaz mereka sudah lenyap. Nizham mereka sudah tanpa pelindung lagi.

Kecintaan dan ketaatan kepada Khilafat-lah yang dapat menarik rahmat dan karunia Allah Ta’ala dan natijahnya timbul dengan sangat baik. Sebab Khilafat adalah sebuah Nizham yang ditegakkan oleh Allah Ta’ala. Karena itu, sekarang untuk kemajuan Agama Islam setiap usaha yang dilakukan dikaitkan dengan Khilafat. Karena itu, jika ada seorang pengurus di dalam Jemaat yang mementingkan dirinya sendiri, atau mengutamakan kedudukannya sendiri, ia harus banyak-banyak membaca istighfar.

Ketahuilah! Kemajuan Jemaat kita tidak bergantung pada keilmuan para ulama [dalam Jemaat], bukan bergantung pada akal kecerdasan orang-orang pintar [dalam Jemaat] dan kemahiran mereka yang menguasai ilmu-ilmu duniawi [di kalangan Jemaat]. Jika mereka yang memiliki wawasan kerohanian, hikmah kebijaksanaan dan yang memiliki kecerdasan dalam persoalan duniawi serta kemampuan yang luar biasa dapat menciptakan hasil yang gemilang, maka hal itu hanya dan hanya dapat terjadi sebagai sebuah karunia Allah dan berkat hubungan mereka dengan Khilafat. Sebab,  Allah Ta’ala telah menjanjikan keberkatan-keberkatan dan capaian-capaian dalam hal ini bagi mereka yang berpegang teguh pada Khilafat. Ilmu pengetahuan, kecerdasan, pengalaman dan kemampuan dapat bermanfaat dalam urusan duniawi atau di kalangan orang duniawi; namun dalam urusan Jemaat guna meraih hasil-hasil terbaik, kita harus menempatkan diri sebagai orang yang taat kepada Khilafat.

Maka dari itulah, para cendikiawan dalam Jemaat bertanggungjawab untuk menjelaskan hal itu kepada mereka yang telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, yaitu yang baru baiat (masuk Jemaat), para muda-mudi Jemaat atau para anak-anak yang tidak paham tentang kedudukan Khilafat serta pentingnya menjalin hubungan sejati dengan Khilafat. Para pengurus Jemaat juga bertanggung jawab atas hal ini.

Banyak anggota pengurus yang setelah terpilih memang menjadi anggota pengurus, tetapi tidak tahu agama sedikit pun. Mereka pun menyangka jabatan mereka adalah jabatan duniawi. Beberapa orang berkata kepada saya, “Saya mempunyai kedudukan ini atau itu dalam Jemaat.” Saya (Hudhur) katakan pada mereka, “Janganlah mengatakan jabatan atau kedudukan ini dan itu.’ Namun katakanlah ‘pengkhidmatan’, ‘Kami berkhidmat di dalam Jemaat di bidang ini dan itu.’ Jika Allah Ta’ala telah memberi mereka kesempatan mengkhidmati agama, hendaklah mereka menambah terus keilmuan mereka dalam hal agama dan begitu pula terus maju dalam hal keikhlasan, kesetiaan, ketakwaan dan hubungan mereka dengan Khilafat.

Beberapa pengurus ada juga yang berusaha keras menyoroti perihal pentingnya kedudukan dirinya sebagai pengurus, namun mengenai Khilafat mereka berpikir telah cukup memenuhi kewajiban dengan memperingati hari Khilafat sekali dalam setahun. Saya (Hudhur V atba) juga telah menyebutkan sebelumnya tentang hal ini dengan sebuah kutipan dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bahwa Jemaat tidak memberikan penekanan yang cukup terhadap pentingnya menjalin ikatan dengan Khilafat sebagaimana mestinya.

Sejak saya mengingatkan terhadap perkara itu, beberapa upaya telah dilakukan seperti ceramah-ceramah di Jalsah kita sekarang namun masih perlu untuk selalu ditegaskan kearah itu, yaitu, “Dengarlah selalu nasihat-nasihat Khalifah-e-Waqt dan berusahalah untuk mengamalkannya. Tingkatkanlah hubungan dengan Khilafat!” Orang-orang yang memahami hal itu dan mengamalkannya, mereka memperoleh banyak sekali perubahan dalam diri mereka.

Beberapa hari yang lalu telah datang lebih dari 100 orang Khuddam dari Kanada dan 200 orang dari Amerika untuk menjumpai saya. Diantara mereka banyak orang-orang yang baru Baiat juga. Setelah tinggal selama tiga hari, mereka memperoleh kesan-pkesan yang sangat berbeda. Mereka menunjukkan perilaku yang mengagumkan, akhlaq yang tinggi, menyatakan kesetiaan sejati dan ketaatan yang sempurna. Kita merasa heran mendengar kesan-kesan yang mereka kemukakan begitu indahnya. Mereka merasakan banyak perubahan. Mereka berjanji menunaikan ibadah salat secara dawam dan berjanji untuk selalu mendekatkan diri dengan Jemaat. Mereka berjanji pula akan selalu berusaha untuk mempererat hubungan dengan Khilafat. Sebelumnya mereka tidak pernah menerima banyak penjelasan tentang Khilafat dan tidak pernah pula mempunyai banyak pengalaman.

Tidak diragukan lagi, mulaqat (perjumpaan) secara pribadi dengan Khalifah-e-Waqt membuat hubungan dan kecintaan mereka semakin meningkat bahkan bagi kedua belah pihak. Namun demikian, jika para cendikiawan Jemaat serta para pengurus dalam berbagai kesempatan terus menyampaikan pentingnya Khilafat di kalangan anggota Jemaat, maka keimanan dan jalinan ikatan mereka akan semakin kuat dan erat. Para pengurus, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan para ketua لجنة إماء الله Lajnah Imaillah berbicara tentang pentingnya jabatan yang mereka pegang seraya menyebutkan “Saya adalah wakil Hudhur atau Khalifah-e-Waqt”, namun mereka tidak menanamkan pentingnya hubungan dengan Khalifah di dalam hati dan pikiran para Ahmadi sebagaimana mestinya. Jika mereka melakukan hal ini, yaitu menanamkan perihal pentingnya Khilafat dan menjalin hubungan dengan Khalifah, maka pentingnya jabatan yang mereka emban juga akan meningkat. Inilah tanggungjawab para ulama Jemaat. Yang saya maksud dengan para ulama Jemaat (Cendekiawan Jemaat) ialah para du’aat (para dai, mubaligh), pengurus atau mereka yang memiliki pengetahuan agama.

Hendaklah mereka menjadi penolong dan penyokong Khilafat; dan hendaklah mereka menjadikan amal perbuatan mereka sesuai dengan petunjuk dan nasehat Khalifah-e-Waqt. Hendaklah mereka memberi nasehat kepada yang lain berdasarkan hal itu (yaitu sabda dan petunjuk Khalifah). Adalah salah dengan menganggap selesai menjalankan kewajiban hanya dengan sekali saja memberikan penekanan tentang pentingnya Khilafat, melainkan, berikanlah satu kali, dua kali dan seterusnya perihal penguatan jalinan dengan Khilafat.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dalam sebuah khotbah memberi nasihat sangat penting kepada para Murabbi dan para ulama Jemaat. Beliau bersabda: “Setiap orang mu’min yang mencintai Agama dan memiliki keikhlasan bagi Jemaat dan menghendaki agar nama baik Silsilah Allah Ta’ala tetap berdiri tegak dan kehormatan Islam dapat diperoleh seperti yang pernah diperoleh di zaman Hadhrat Rasulullah saw dan agar untuk itu usaha keras Hadhrat Masih Mau’ud as tidak sia-sia, maka mereka harus giat berusaha keras siang-malam bekerja sama bahu-membahu dengan Khalifah-e-Waqt, agar keadaan bathin Jemaat memperoleh perbaikan. Nasihat Khalifah-e-Waqt harus disampaikan berulang kali dan berulang kali di depan para anggota Jemaat sehingga orang-orang yang kurang cerdas dan berakal tumpul pun akan betul-betul faham dan akan memperoleh jalan lurus untuk berlaku secara benar di atas ajaran Agama.”[4]

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memungkinkan para anggota Jemaat, para ulamanya dan para pengurusnya untuk tidak hanya sekedar mendengarkan perkataan Khalifah namun juga mengamalkannya; dan mereka tidak menganggap telah memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan hanya menyatakan ketulusan, kesetiaan dan saling memberi ucapan selamat pada Hari Khilafat. Kita harus berdoa kepada Allah supaya Dia memberi kita taufik untuk menjaga nikmat Khilafat. آمين Aamiin.

[1] Musnad Ahmad ibn Hanbal

[2] Al-Wasiyat, hal 7

[3] Khuthubaat-e-Mahmud, jlid 18, h. 72-73

[4] Khuthubaat-eMahmud, jilid 18, h. 214-215.