بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 22 Tabligh 1392 HS/Februari 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Untuk khotbah hari ini saya memikirkan tema mengenai nubuwatan Mushlih Mau’ud. Saya pikir pada umumnya kita menyampaikan nubuwatan Mushlih Mau’ud, kemudian memberikan sedikit penjelasan ringkasnya dan secara singkat mengupas beberapa pekerjaan luar biasa yang telah Hadhrat  Mushlih Mau’ud r.a. lakukan.

        Ilmu, kecerdasan, dan ketajaman daya memahami yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada Hadhrat  Mushlih Mau’ud raadhiyallaahu Ta’ala ‘anhu memiliki banyak sekali segi. Tulisan-tulisan serta pidato-pidato beliau sebelum menjadi khalifah pun sarat dengan ilmu dan makrifat.

Upaya Pelestarian dan Penerbitan Berbagai Karya Tulis dan Pidato-pidato  Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a.

Buku-buku, pidato-pidato, dan artikel-artikel beliau telah dicetak dalam bentuk buku yang terdiri dari berbagai jilid dengan nama Anwarul Ulum. Hingga saat ini telah diterbitkan sampai 23 jilid. Setiap jilid terdiri dari 600 halaman lebih. Insya Allah tambahannya pun akan dicetak. [yang telah dicetak] ini belum secara keseluruhan.

Begitu juga khotbah-khotbah jumat beliau. Ini pun sangatlah banyak. Telah diterbitkan sebanyak 24 jilid. Setiap jilid juga terdiri dari 600 halaman lebih. Baru sampai khotbah-khotbah tahun 1942-1943 yang telah dicetak. Seperti yang telah saya katakan, selebihnya insya Allah akan dicetak juga. Fazl-e-Umar Foundation telah didirikan untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan pekerjaan-pekerjaan, khotbah-khotbah, dan pidato-pidato beliau.

Yayasan ini juga sedang mengerjakan terjemah pidato-pidato dan artikel-artikel itu ke dalam berbagai bahasa. Insya Allah sebagian buku segera akan tersedia dalam bahasa Inggris, beberapa telah tersedia juga. Dalam bahasa-bahasa lain juga akan tersedia. Sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diterbitkan juga.

Menurut saya, pengerjaan yang paling banyak telah dilakukan setelah bahasa Urdu, adalah dalam bahasa Arab. Mahasiswa dari Jamiah-jamiah di berbagai negara juga sedang mengerjakan penerjemahannya. Mereka juga diberi tugas untuk menerjemahkan buku-buku tersebut, [sebagai ganti] dari tesis yang harus ditulis guna meraih gelar Syaahid.

Bagaimanapun juga, apa yang telah beliau persembahkan kepada Jemaat selama hidup beliau dan selama 52 tahun masa kekhalifahan beliau adalah sebuah khazanah. Akan tetapi penyebarluasannya baru dalam jumlah beberapa ribu. Para anggota yang membeli, mereka juga mungkin tidak membaca secara mendetil. Saat ini juga banyak mubayi’in baru dan keturunan-keturunan baru yang tidak bisa membacanya dalam bahasa Urdu, tidak pula tersedia dalam bahasa mereka. Yang sudah tersedia pun, sebagaimana telah saya katakan, jumlahnya sangat sedikit. Oleh karena itu para Ahmadi keturunan baru dan kebanyakan mubayi’in baru tidak mengetahui kadar tulisan dan pidato beliau. Tidak pula dapat mengukur [keluasan] ilmu dan makrifat beliau.

Bahkan, Ahmadi keturunan yang seusia dengan saya pun atau yang beberapa tahun lebih tua dari saya juga tidak dapat memahami sepenuhnya kadar ceramah-ceramah dan pidato-pidato beliau. Jika kita membaca kompilasi-kompilasi (kumpulan-kumpulan) dan khazanah-khazanah ini, maka kita akan dapat memahami sepenuhnya nubuwatan mengenai keluasan ilmu serta akan dipenuhinya diri beliau dengan ilmu-ilmu lahiriah dan batin. Kita juga bisa menambah ilmu pengetahuan kita.

Pada masa itu tidak ada fasilitas audio vidio. Tahun-tahun akhir masa kekhalifahan beliau, recording (perekaman) dilakukan dengan loop recorder. Satu dua pidato yang telah direkam pun, seiring berlalunya waktu suaranya tak lagi bagus, dan rekaman ini tidak memperlihatkan [seutuhnya] keagungan dan kewibawaan cara [berpidato] beliau sebenarnya.

Jasa Para “Penulis Cepat” dan Tata Cara Berdoa dan Keyakinan Kepada Allah Ta’ala

Tetapi kita bersyukur, catatan dari tulisan-tulisan, pidato-pidato, dan khotbah-khotbah beliau sampai batas tertentu masih ada.  Saya mengatakan ‘sampai batas tertentu’ karena pada masa itu para yang biasa mencatat adalah para penulis cepat, dan di beberapa tempat dirasakan bahwa ketika para penulis cepat mencatat, mereka tidak mencatat beberapa khotbah, pidato, dan tulisan secara lengkap/sempurna. Atau kalimat-kalimat lengkapnya tidak dituliskan. Beberapa hal tidak tertulis.

Jadi, dari pada saya menyampaikan mengenai nubuwatan itu, saya berpikir bahwa hari ini saya  akan menyampaikan salah satu khotbah beliau, yang sebanyak mungkin dapat dijelaskan dengan kata-kata beliau sendiri. Saya akan menyampaikannya seiring dengan sempitnya waktu.

Khotbah yang saya pilih ini juga berisi tema mengenai tatacara berdoa dan keyakinan terhadap Allah Ta’ala. Keyakinan bahwa Dia-lah Pemilik segala kekuasaan, dan apa yang Dia kehendaki, itulah yang terjadi. Saya memilih tema ini karena pada masa sekarangpun, jika kita ingin menyaksikan hasil-hasil mukjizat, maka kita perlu memahami dengan benar tema ini dan mengamalkannya. Ini adalah khotbah tanggal 10 April 1942. Beliau bersabda:

“Saya terus menerus menarik perhatian Saudara-saudara ke arah doa-doa. Sekarang ini, berdasarkan surat-surat yang diterima dari para sahabat, diketahuilah bahwa di salah satu bagian Jemaat dijumpai ada gerakan doa guna menghadapi fitnah zaman sekarang ini. Tetapi doa dari salah satu bagian saja tidaklah cukup.”

Di sini, saya juga hendak mengatakan bahwa sekarang ini pun inilah kondisinya. Meskipun berulangkali saya katakan, perhatian ke arah doa, dan perhatian yang hendaknya tercipta adalah untuk mengubah keadaan diri, tidak sedang tercipta/ada. Selanjutnya beliau bersabda:

“Adalah penting agar pemikiran kaum laki-laki, perempuan, dan anak-anak mengenai doa diubah. Yakni, paling pertama sekali hendaklah tercipta keyakinan dan kepercayaan terhadap doa. Orang yang berdoa tanpa keyakinan, doanya tidak dikabulkan di singgasana Allah Ta’ala.

  Terkadang bisa saja doa orang-orang seperti itu dikabulkan hanya sebagai contoh dan untuk menciptakan keyakinan di dalam hati mereka. Tetapi, secara hukum doa orang-orang yang di dalam hatinya terdapat keyakinan bahwa Tuhan akan mendengarnyalah yang dikabulkan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman di dalam Quran Karim,  اَمَنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ     (am may- yujiibul- mudhtharra idzaa da-‘aahu)  yakni,  atau “siapakah yang mengabulkan doa orang yang kesulitan/sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya?” (An-Naml 63) Kemudian berfirman, “Allah lah yang mendengarnya”.

Arti Mudhtharr

Arti kata mudhtharr dalam bahasa Arab adalah mengepung seseorang dari ke empat penjuru arah dengan api dan membawanya ke suatu arah. Orang yang mendapati jalan tertutup dari keempat arah lalu ia pergi menuju satu arah, dia lah yang disebut mudhthar. Yakni, di setiap arah ia melihat api. Melihat ke kanan, nampak kepadanya api. Melihat ke arah kiri, maka nampak kepadanya api. Melihat ke belakang, nampak juga api. Melihat ke bawah, nampak kepadanya api. Melihat ke atas, nampak ada juga api. Hanya ada satu arah yang tersisa di hadapannya, yakni Allah Ta’ala. Lalu ia mengarahkan pandangan ke arah itu. Ia melihat  di setiap arah hanya ada api, tetapi hanya satu arah yang nampak aman kepadanya.

Dari situ Saudara-saudara dapat memahami bahwa dalam makna kata mudhtharr haruslah didapati adanya keyakinan. Arti kata mudhtharr bukan hanya di dalam hatinya terdapat kekhawatiran/ketakutan. Karena dalam ketakutan kadang-kadang seseorang berjalan ke suatu arah tanpa sadar, tanpa ada keyakinan bahwa arah yang sedang ditujunya apakah di sana ia akan mendapatkan keamanan atau tidak.

Dalam keadaaan takut,   bahkan sebagian orang berjalan ke tempat yang di tempat itu sendirilah terdapat bahaya. Kemudian ia tidak dapat menyelamatkan diri dari sana. Jadi, timbulnya kegelisahan di dalam hati tidaklah menjadi bukti atas mudhtharr. Yang membuktikan idhtharar adalah ketika kepada seorang insan tidak nampak tempat perlindungan dari keempat penjuru, dan hanya nampak satu arah saja.

Tanda dari idhtharar bukan hanya nampak api dari keempat penjuru, tetapi juga nampak ada satu arah yang aman dan insan bisa mengatakan bahwa di sana tidak ada api. Maka doa yang dikabulkan di hadapan Allah Ta’ala adalah doa yang pada waktu memanjatkannya, sang hamba hadir di hadapan-Nya dalam corak seperti itu.

Ia berkeyakinan bahwa selain Allah, tidak ada lagi tempat perlindungan baginya. Inilah keadaan mudhtharr yang dijelaskan oleh Rasul Karim shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَأَ مِنْكَ اِلَّا اِلَيْكَ (Laa malja-a wa laa manja-a minka illaa ilayka) yakni, Ya Allah! tidak ada tempat perlindungan dari azab dan bala yang datang dari Engkau, tidak ada tempat keselamatan, kecuali saya berputus asa dan menutup mata dari semua arah lalu datang ke arah Engkau.”[2] Maka kondisi لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَأَ (laa malja-a wa laa manja-a) inilah yang merupakan keadaan mudhtharr. Dan ketika Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Karim اَمَنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ (سورة النمل ايت 63) yakni siapakah yang mendengar mudhtharr (orang yang kesulitan) ketika ia berdoa kepada-Nya, maka makna dari mudhtharr adalah doa orang yang ia tidak menganggap seorangpun sebagai maljaa (tempat berlindung) selain Allah Ta’ala, dan ia tidak menetapkan seseorang sebagai maljaa wa manjaa (tempat berlindung dan tempat keselamatan) selain Allah Ta’ala. Sebenarnya dalam ayat اَمَنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ   (amay- yujiibul- mudhtharra idzaa da-‘aahu – Surah An-Naml 63) diisyaratkan ke arah kondisi idhthirrar itu.

 

Contoh-contoh Sarana Terkabulnya Doa: Orang Kaya, Tabib (Dokter), Pengacara, Tuan Tanah yang  Baik Hati

Setelah menerangkan kata mudhtharr secara keilmuan dan menjelaskan ayat ini, cara dan metode pidato beliau, setelah beliau mengupas mengenai kata mudhtharr sesuai dengan kebutuhan dan situasi, beliau mengemukakan contoh-contoh dan peristiwa-peristiwa. Setiap pidato beliau, mengandung banyak peristiwa dan contoh-contoh. Beliau bersabda,

“….di dunia ini, idhtirar terdiri dari beberapa macam. Karena itu, di sini digunakan kata ‘al-mudhtharra’, yang artinya segala jenis mudhtharr. Di dunia ini ada sebagian hamba yang demikian, yakni meskipun penyembuh mudhtharr (kekhawatiran/ketakutan) yang hakiki adalah Allah Ta’ala, namun ada juga hamba yang karena karunia yang diberikan-Nya, memiliki kemampuan untuk mengubah mudhtharr.

 Sebagai contoh, ada seorang miskin yang menjahit pakaiannya, tidak nampak kepadanya jalan bagaimana dia bisa membuat pakaian yang baru. Kemudian ada seorang kaya — kadang-kadang ia orang Hindu, atau Sikh, Parsi, orang atheis, atau siapapun juga — yang membuatkan baju untuknya….”

Pada bagian ini saya meringkas beberapa hal, karena khotbah ini cukup panjang. [Hadhrat Mushlih Mau’ud] bersabda, “….Jadi, meskipun berdasarkan keyakinan kita Allah Ta’ala-lah yang telah menggerakkan hati orang kaya tersebut untuk membuatkan baju bagi si miskin, tetapi orang yang keimanannya tidak sempurna beranggapan bahwa dalam kondisi idhtirar (kesusahan) nya si fulan telah berjasa.

  Tetapi manakala ia jatuh sakit sehingga makan minum pun dilarang, bahkan airpun tidak bisa tercerna, kesehatan semua bagian tubuh telah rusak, dan berjalan pun tidak bisa, maka dalam kondisi demikian orang kaya yang telah membuatkan pakaian untuknya itupun tidak dapat menolongnya, bahkan jika ada seorang tabib yang layak dan memiliki rasa kasihan, ketika ia melihat kondisi demikian maka ia mengatakan bahwa “Anda tidak mendapatkan taufik untuk membayarkan uang pengobatan, maka saya siap untuk memberikan pengobatan gratis…” dalam kondisi idhthirar (kesusahan) seperti ini orang kaya tidak memberikan manfaat, tetapi sang tabib bermanfaat.

 “…kemudian kadang terjadi juga demikian, yakni ia diperkarakan di persidangan sedangkan ia tidak berdosa dan lawannya cukup kuat. Karena suatu sebab, dengan kemarahan ia dibawa dalam persidangan sampai ke pengadilan. Ia tidak mampu untuk [membayar] pengacara, sedangkan ia sediri tidak memiliki kemahiran untuk membela dirinya di persidangan, ia kebingungan apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ia bertemu dengan seorang pengacara baik hati dan pengacara itu mengatakan bahwa ia bersedia membelanya di pengadilan tanpa bayaran. Dalam kondisi itu tidak ada orang lain yang memberikan manfaat, hanya pengacara itu yang berguna baginya.“

Beliau [Mushlih Mau’ud] juga memberikan contoh mengenai seorang tuan tanah.

Pemenuh Semua Kebutuhan adalah Allah Ta’ala

Selanjutnya beliau bersabda, “…berbagai orang bisa berguna bagi satu orang yang mengalami berbagai kesulitan. Tetapi Allah Ta’ala berfirman, اَمَنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ     (An-Naml 63) apa pun jenis mudhtharnya tanpa syarat apapun, bahwa itu mudhtarr  (kesulitan) jenis tertentu,  baik itu berupa kelaparan, tidak memiliki pakaian, haus, sakit, sedang memikul suatu beban, idztirar (kesulitan) macam apapun, yang memenuhi segala kebutuhan-kebutuhan hanyalah Dzat Allah Ta’ala semata…”

Beberapa bagian saya lewat, beliau kemudian bersabda, “…yang memenui keperluan-keperluan setiap mudhtharrin (orang yang kesusahan) hanyalah Dzat Allah Ta’ala semata. Ada ribuan kondisi idhthirar (kesulitan) manusia. Dalam kondisi-kondisi itu bahkan seorang raja pun tidak dapat membantunya. Misalkan seseorang sakit keras. Dalam kondisi itu kekayaan sang raja tidak dapat membantunya. Pasukan sang raja tidak menolongnya. Kedekatan dengan sang raja tidak dapat menolongnya. Yang dapat menolongnya hanyalah Allah Ta’ala, Yang memiliki kekuatan untuk menjauhkan segala macam penyakit.

Atau ketika seseorang lewat di hutan dan tiba-tiba serigala atau harimau menyerangnya. Meskipun ia orang terdekat sang raja, atau anak sang raja, maka apakah yang dapat sang raja lakukan untuk menolongnya?…bersabda… ia sedang berjalan sendirian di hutan, kemudian singa, cheetah, atau serigala datang menghampirinya. Dalam keadaan demikian, Dzat Allah Ta’ala sajalah yang menolong, tidak ada orang yang dapat menolong. Maka sebelum timbul keyakinan ini di dalam diri manusia, yakni hanya Allah Ta’ala-lah yang membantu dalam segala macam kegelisahan  maka sampai saat itu ia tidak dapat disebut sebagai mudhthar….

Manfaat Menjalin  Hubungan dengan Allah Ta’ala

Ada peristiwa pada masa India dan Pakistan masih menyatu, dan di India terdapat pemerintahan Britania. Seraya memberikan salah satu contoh peristiwa itu beliau bersabda “…di bawah kekuasaan Inggris, ada beberapa kaum pengecut (suku bangsa yang dikenal penakut) di India, tetapi pemerintahan Inggris tidak dapat membuat mereka menjadi pemberani. Hanya mengatakan demikian, yaitu “mereka tidak mengalami perkembangan di dalam pasukan”. Seolah bukannya menjadi penyebab kemajuan kaum-kaum itu, mereka justru menjatuhkan orang-orang tersebut ke dalam lubang dimana mereka sebelumnya telah terjatuh.

Namun, tengoklah Dzat Allah Ta’ala, berkat menjalin perhubungan dengannya, yang sangat pengecut sekalipun menjadi pemberani dan kaum yang sangat tidak teratur sekalipun, berubah menjadi kaum yang teratur…” Bersabda, “…Kaum yang dianugerahi kemajuan oleh Allah Ta’ala, Dia mengubah bentuk dan rupanya, dan hati mereka menjadi sangat berubah. Kelemahan dan kepengecutannya menghilang dan timbul di dalam diri mereka kekuatan dan potensi yang membuat dunia menjadi tercengang….”

Gambaran Bangsa Arab Sebelum Menjadi Muslim

Beliau memberikan contoh mengenai orang-orang Muslim, “Lihatlah orang-orang Islam. Negeri Arab adalah negeri di mana para penduduknya tidak biasa tinggal di bawah kekuasaan seorang raja untuk menurut secara teratur kepada suatu nizam (aturan),  melainkan pemimpin kabilah-kabilah bermusyawarah dengan masyarakat umum dan bekerja. Serta setiap kabilah dianggap merdeka pada tempatnya masing-masing.

Tetapi kedudukan mereka tidak seperti para politikus yang paling kecil sekalipun dewasa ini. Ada kabilah yang terdiri dari 1000 orang, ada yang terdiri dari 2000 orang, ada yang berjumlah 3000….penduduk Mekkah saat itupun hanya 10.000 (terdiri dari beberapa kabilah). Di dalamnya tidak terdapat nizam (aturan).

Mereka tidak memiliki kekayaan. Tidak ada tentara, tidak ada departemen yang di bawahnya para pasukan ditempatkan secara teratur. Dan tentara ditingkatkan (dikembangkan)….pendek kata, mereka merupakan sebuah kaum yang tidak memiliki arah tujuan. Di dalamnya tidak didapati cara-cara atau peraturan yang benar.

Dalam keadaan itu Hadhrat shalallaahu ‘alaihi wa sallam diutus, tetapi sedikit sekali orang yang beriman kepada beliau. Menurut para peneliti, orang di Mekkah yang beriman selama periode kehidupan [beliau saw] di Mekkah, jumlahnya mendekati 100 orang.

Singkatnya, sedikit orang inilah yang beriman kepada Rasul Karim shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Pertama-tama, dari segi duniawi, orang Mekkah sendiri pada sangatlah rendah dan tidak memiliki kekuatan.” —  Meskipun pandai berperang, mereka suka bertengkar, tetapi dari segi duniawi mereka tidak memiliki kekuatan — “Lalu di antara orang-orang lemah itu pun orang-orang orang yang masuk Islam adalah orang-orang yang dalam pandangan orang-orang Mekkah pun dianggap lemah.

Tetapi kemudian Allah Ta’ala menciptakan sedemikian rupa keberanian di dalam hati mereka dan mulailah nampak keteraturan yang begitu tinggi sebagai ganti kondisi yang tidak beraturan itu. Orang-orang Mekkah atau para penduduk Arab inilah yang dulu tidak senang melihat kondisi ini, yakni  keitaatan yang di dunia dianggap sebagai tatacara hidup masyarakat, menurut mereka itu merupakan hal yang sangat hina.”

Kisah Raja Arab Bernama Amru bin Hind dan Tamunya,

Amru Ibnu Kultsum: Gambaran Watak Bangsa Arab Sebelum Islam Yang Tidak Suka Disuruh Berubah Total Sepenuhnya Taat Setelah Beriman Kepada Nabi saw

Beliau [Mushlih Mau’ud] kemudian memberikan contoh mengenai sebuah kisah lama yang masyhur di Arab:

Lihatlah, ‘Tertulis di dalam buku sejarah  Arab bahwa ada seorang raja Arab bernama Amru bin Hind. Ia mendirikan pemerintahan di wilayah Syam sampai Iraq. Ia sedemikian rupa mendapatkan wibawa dalam pandangan orang Arab sehingga ia berpikir bahwa ‘Seluruh orang Arab mematuhi perkataanku.’

Suatu hari ketika bercapak-cakap dengan orang-orang istana ia berkata, ‘Apakah ada di negeri Arab ini orang yang dapat mengingkari perkataanku?’ Mereka menjawab, ‘Ada satu orang bernama Amru bin Kultsum yang merupakan pemimpin kabilahnya. Menurut kami dia adalah orang yang tidak akan taat kepada Anda’. Raja itu berkata, ‘Baik, saya akan memanggilnya untuk membuktikannya.’

Karena itu sang raja mengundang Amru bin Kultsum dan menulis surat kepadanya yang isinya, ‘Datanglah anda ke sini. Saya ingin bertemu dengan Anda.’ Kemudian Amru datang dengan beberapa orang dari kabilahnya seperti kebiasaan di Arab. Waktu itu sang raja sedang berada di sebuah tenda di suatu tempat.

Begitu datang Amru mendirikan tenda di tempat itu juga. Raja tersebut juga menulis kepada Amru bin Kultsum, ‘Datanglah dengan membawa ibu dan keluarga Anda yang lain juga.’ Maka sesuai dengan itu Amru datang dengan membawa ibunya. Amru bin Hind (sang raja) berkata kepada ibunya, ‘Bawalah serta ibunya  Amru bin Kultsum dalam beberapa pekerjaan, kemudian perhatikanlah sehingga bisa diketahui bagaimana keadaan [sikap] orang-orang ini.’

 Karena itu ketika ia duduk untuk makan, maka sesuai dengan kebiasaan Arab, meskipun ia disebut sebagai raja, tetapi ibunya sendiri duduk-duduk untuk menyajikan makanan. Untuk anaknya dan juga untuk Amru bin Kultsum, seolah-olah pada waktu itu ibu Amru bin Hind (ibu sang raja) secara amalan sedang melakukan pekerjaan Amru bin Kultsum dan keluarganya yang lain.

Jadi, pada waktu itu bantuan yang dilakukan oleh ibu Amru bin Kultsum dalam pekerjaan apapun tidak menyebabkan kehinaan baginya. Karena ketika ibu sang raja sendiri melakukan suatu pekerjaan, maka ibu Amru bin Kultsum memberikan bantuan, hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan kemuliaan dan kehormatannya.

Tetapi apa yang terjadi? Pada waktu pembagian makanan ada sebuah nampan besar tergeletak agak jauh. Ketika membagikan makanan, ibu Amru bin Hind berkata kepadanya, ‘Nyonya, tolong ambilkan nampan itu.’ Dia tidak berani membuatnya melakukan pekerjaan lebih besar dari itu, untuk menyuruhnya melakukan pekerjaan.

Tetapi tertulis dalam sejarah, bahwa begitu ibu sang raja mengatakan hal ini kepadanya, yakni kepada ibu Amru bin Kultsum, dia berdiri (ibu pemimpin kabilah berdiri karena merasa diperintah) dan dia mulai berteriak dengan keras [kepada anaknya], ‘Hai Ibnu Kultsum! Ibumu sudah direndahkan!’

 Amru bin Kultsum ketika itu sedang makan bersama raja, dan karena sedang makan dia meletakkan pedangnya di suatu tempat. Tetapi begitu dia mendengar suara ibunya, — dia tidak bertanya kepada ibunya, ‘Ibu dihinakan seperti apa?’ – dia berdiri dengan takut dan melihat ke sana ke mari. Di kemah tergeletak pedang sang raja. Dia merampas pedang itu dari tuannya lalu menghunusnya dan membunuh raja tersebut. Lalu pergi keluar dan berkata kepada orang-orang kabilahnya ‘Rampaslah seluruh kekayaan raja!’

“…Jadi orang Arab tidak tahan menaati seseorang…Tetapi kemudian kita melihat orang-orang Arabi itu juga, bagaimana pada zaman Rasulullah s.a.w. Allah Ta’ala telah mengubah hati mereka. Dari orang-orang Arab itu, seseorang cerdas dan terpelajar dan orang yang terhormat di kaumnya, Hadhrat Abdullah bin Mas’ud r.a. sedang lewat di jalan, dan Rasulullah s.a.w. sedang memberikan nasihat di mesjid. Beliau sedang pergi ke mesjid untuk mendengarkan nasihat tersebut.

 Di mesjid, karena suatu sebab, Rasulullah s.a.w. bersabda kepada orang-orang, ‘Duduklah.’ Beliau (Abdullah bin Mas’ud r.a) karena sedang di jalan, sedang berjalan, beliau mendengar suara (Rasulullah s.a.w.), beliau juga duduk, dan beliau mulai berjalan ke mesjid dengan ngesot seperti anak kecil.

Seorang teman yang sedang lewat berkata kepada beliau, ‘Abdullah bin Mas’ud, tindakan menggelikan apa yang engkau lakukan ini, berjalan dengan duduk di tanah? Kenapa tidak berjalan tegak?’ Beliau berkata, “Sebenarnya saya mendengar suara Rasulullah s.a.w.duduklah’. Dalam hati saya berpikir mana saya tahu apakah saya akan hidup sampai sana atau tidak? Jangan-jangan hidupku berakhir dalam kondisi tidak taat pada Rasulullah s.a.w. karena itu saya langsung duduk disini dan mulai pergi ke mesjid sambil duduk.”

 Sekarang bandingkan sebentar peristiwa tersebut dengan peristiwa Amru bin Kultsum. Dia pergi atas undangan seorang raja, dan ibu sang raja tidak memerintahkan pekerjaan besar kepada ibunya, bahkan memerintahkannya melakukan pekerjaan yang ia sendiri sedang melakukannya, dan ia melakukannya untuk orang yang lebih rendah derajatnya dari anaknya. Kemudian, pekerjaan itupun bukan pekerjaan yang sangat besar, bahkan yang sedang dilakukannya, dia memerintahkannya untuk melakukan pekerjaan yang sangat umum dan kecil.

Tetapi jiwanya tidak bisa menerima hal (permintaan bantuan) itu, dan begitu ia (ibu Amru bin Hind) mengatakan hal itu, yang satu  (Ibu  Amru bin Kultsum) langsung berteriak, ‘Aku sudah dihinakan!’ Tetapi seorang dari kelompok tersebut mendengar suara Rasulullah s.a.w. di jalan, dan begitu mendengarnya di jalan langsung duduk, dan melakukan tindakan yang di dunia pada umumnya dianggap hina.”

Kemudian beliau menulis, “Saudara-saudara tentu akan menganggapnya gila, tetapi keadaan para Sahabah adalah mereka menjadikan diri mereka gila dalam ketaatan kepada Muhammad s.a.w., sebab mereka mengerti, ketaatan kepada Muhammad s.a.w. adalah ketaatan kepada Tuhan.”

Keberanian Penduduk Madinah: Para Petani yang Tadinya dianggap tidak bisa berperang

Kemudian lebih lanjut Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. menulis, “Kemudian, orang-orang Medinah dalam peperangan dianggap sangat hina dan rendah. Seperti beberapa kaum di negeri kita tidak dianggap ahli dalam seni peperangan….orang-orang Medinah tidak diragukan lagi kaya dan mereka adalah tuan tanah, karena mereka bertani, dan orang-orang Arab tidak suka bertani.

Orang-orang Arab bangga pada berapa banyak kuda mereka, berapa banyak unta mereka, bagaimana mereka bertarung, dan bagaimana mereka menyerang orang-orang. Tetapi orang-orang Medinah tinggal di kampung dan bercocok tanam. Mereka tidak bertarung, dan tidak bisa banyak memelihara unta dan kuda. Sebab jika mereka memelihara banyak unta dan kuda darimana mereka memberinya makan. Karena itu mereka dalam pandangan orang-orang Arab lainnya secara umum dianggap hina.

Mengenai mereka [orang-orang Madinah], orang-orang Arab berkata, ‘Mereka adalah penanam sayuran…. tidak diragukan lagi bahwa orang yang berlumuran taraffuh (yakni orang yang berlumuran lumpur dll), membuat kebun, sibuk dalam cocok tanam, dan berusaha mengumpulkan harta kekayaan, bagaimana mungkin mereka bisa berperang? Dan mereka sudah sejak lama, turun-temurun terus melakukan pekerjaan ini, karena itu mereka tidak dianggap bisa berperang.’”

 Kemudian beliau bersabda, “…Dalam pandangan Arab, orang-orang Medinah dianggap lemah, dan mereka berbicara mengenainya dengan merendahkan bahwa, ‘Ini adalah orang-orang petani.’ Tetapi lihatlah orang-orang ini. Setelah menjalin hubungan dengan Rasulullah s.a.w., betapa besar perubahan yang timbul dalam diri mereka, sehingga peran penanam sayur dan petani tersebut berubah menjadi tentara terbaik dunia.

Pada waktu Perang Badar para pemimpin besar Arab berkumpul dan mereka berpikir bahwa ‘Hari kami akan menghancurkan orang-orang Muslim!’  Hari itu 1000 pasukan berpengalaman yang telah melihat puluhan peperangan, dan yang kesibukannya siang-malam ikut dalam peperangan dan menghantamkan pedang pada musuh, nampak berbaris melawan umat Muslim, dan umat muslim hanya 313 orang.

Pada sebagian riwayat sejarah tertulis bahwa diantara 313 orang itu sebagian bahkan sampai tidak punya pedang, dan mereka datang dengan membawa tombak. Dalam kondisi tanpa perlengkapan seperti itupun, ketika Rasul Karim s.a.w. berangkat perang, dua  remaja  Anshar berkeras bahwa ‘Kami harus ikut’. Akhirnya Rasulullah s.a.w. mengizinkan mereka ikut serta….

Tekad Dua Remaja Madinah Membunuh Abu Jahal Dalam Perang Badr

Hadhrat Abdurrahman bin Auf ra., seorang prajurit yang sangat berani dan berpengalaman, berkata, ‘Hari itu tidak ada orang yang bisa tahu semangat hati kami. Kami mengerti bahwa sekarang, ketika Allah telah memberikan izin kepada kami untuk berperang, kami akan menuntut balas kezaliman orang-orang Mekkah itu yang telah mereka lakukan kepada kami.’

Tetapi beliau berkata, ‘Prajurit yang baik baru bisa bertarung dengan baik ketika sisi kanan kirinya kuat (yakni  ada petarung yang baik yang mendampingi). Ketika dia menyerang dan menerobos barisan musuh, maka keduanya akan melindungi punggungnya dari serangan musuh…. karena itu prajurit pemberani selalu ditempatkan di tengah, supaya di sisi kanan kirinya ada sarana penjagaan yang baik, dan ketika dia maju membelah barisan musuh maka punggungnya selalu terlindung.’

Hadhrat Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Dengan pikiran itu saya melihat kanan kiri saya, saya mau lihat siapa di kanan kiri saya?’ Beliau berkata, ‘Pemandangan yang nampak oleh saya, saya melihat dua orang bocah (remaja) Anshar, berumur limabelasan tahun berdiri di kanan kiri saya….pertama, mereka ini adalah penduduk Medinah….timbul dalam pikiran saya, hati saya kecewa…. kota yang penduduknya tidak dikenal sebagai ahli perang. Kemudian mereka ini adalah bocah (remaja) berumur lima belasan tahun, bagaimana mereka akan menjaga saya? Maka hari ini semangat yang ada dalam hati saya, itu hanya akan tetap di dalam hati, dan saya tidak akan bisa mengeluarkan keinginan saya.”

Pendeknya, saya menjelaskannya secara ringkas, beliau (Abdurrahman bin Auf r.a.) bersabda, ‘Baru saja pikiran ini timbul dalam hati saya, ketika dari kiri saya menyodok rusuk saya. Saya menoleh dan melihat bocah (remaja) itu, (berpikir) apa yang ingin dia katakan pada saya. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga saya dan berbisik pada saya, ‘Paman, Abu Jahal itu yang mana, yang sering menyusahkan Rasul Karim s.a.w.? Hari ini saya ingin menuntut balas darinya.’

Dia baru saja berkata seperti iktu  dan saya pun baru akan menjawabnya, tiba-tiba ada yang mencolek saya dari sisi satunya, dan dia juga mendekatkan mulutnya ke telinga saya dan berkata, ‘Paman, Abu Jahal itu yang mana, yang sering menyusahkan Rasul Karim s.a.w. hari ini saya ingin menuntut balas darinya.’

Dalam hati saya saja tidak ada pikiran seperti itu bahwa Abu Jahal, yang merupakan pemimpin dan berada di tengah pasukan, sangat terlatih, dan  orang-orang jago perang menyertainya, lalu  saya bisa sampai dan membunuhnya. Tetapi anak-anak remaja ini berpikir seperti itu. Pendeknya, saya memberi isyarat [menunjuk Abu jahal], dan kedua bocah remaja tersebut menginginkan, ‘Sayalah yang akan mendapatkan nikmat tersebut, yakni sayalah yang mendapat karunia bahwa saya menjadi orang yang membunuh Abu Jahal!’

Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda, “Keadaan Abdurrahman bin Auf sendiri, beliau merasa gelisah. Tetapi beliau tidak tahu bahwa iman telah menciptakan suatu semangat dalam hati mereka berdua. Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Saya merasa heran pada pertanyaan kedua orang remaja itu, dan saya merasa sangat takjub melihat keimanan mereka. Karena itu saya mengisyaratkan dengan jari untuk memberitahukan ‘betapa tidak mungkinnya pikiran kalian, sebab orang ada di jantung (di tengah) pasukan  mengendarai kuda dan dari kepala sampai kaki berbaju zirah (baju besi), yang di depannya ada dua jenderal menjaga dengan pedang terhunus, itulah Abu Jahal.”

Waktu itu di depan Abu Jahal ada Ikrimah yang menjaga dengan pedang terhunus, dan satunya lagi seorang jenderal terkenal. Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. berkata, ‘Dan Ikrimah juga bukan orang biasa, bahkan waktu itu termasuk prajurit terbaik, dan keduanya waktu itu keduanya berdiri di depan Abu Jahal membawa pedang terhunus.

Pendeknya Abdurrahman bin Auf r.a. berkata, ‘Saya mengangkat jari untuk memberitahu mereka yang mana Abu Jahal. Maksud saya adalah supaya mereka tahu, betapa tidak mungkinnya keinginan mereka itu.’ Selanjutnya beliau berkata, ‘Jari saya belum turun, seketika kedua remaja itu  menyerang seperti elang menyerang burung gereja, dan sebelum pasukan kafir (Quraisy) menyadari apa yang terjadi, mereka melukai dan menjatuhkan Abu Jahal.

Tangan salah seorang remaja tersebut putus, maka dia membuang tangan yang terputus tersebut dan maju lagi, dan mereka melukai dan menjatuhkan Abu Jahal, dan dengan demikian…perang Badar menjadi peperangan tanpa jenderal.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda, “Lihat, kaum yang dianggap hina, karena orang-orangnya dianggap tidak bisa berperang, berkat beriman kepada Muhammad s.a.w. betapa besar perubahan yang terjadi pada mereka, sehingga Abu Jahal mati dengan penyesalan, ‘Dua bocah Medinah yang membunuhku’. Dia berkata, ‘Aku tidak peduli dengan kematian, prajurit banyak yang mati dalam peperangan. Penyesalanku  adalah bahwa yang membunuhku adalah dua bocah Medinah.”

 Seakan-akan orang yang bangsa Arab bahkan tidak menganggapnya sebagai prajurit, tetapi ketika beriman kepada Muhammad s.a.w. maka Allah Ta’ala — yang hati (manusia) ada di tangan-Nya, dan yang punya kekuatan membuat yang lemah menjadi kuat — Dia menjadikan mereka sedemikian berani, sehingga hal yang dianggap tidak mungkin oleh seorang jenderal berpengalaman (Abdurrahman bin Auf r.a.), Tuhan menyelesaikannya melalui tangan dua bocah (remaja) kaum tersebut.

Ketaatan Seorang Anak Perempuan Kepada Sabda Rasulullah S.a.w.

Kemudian, dalam diri orang-orang Arab terdapat semangat yang sangat besar, sehingga dalam semangat itu mereka siap mengorbankan segala milik mereka. Tetapi lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengubah hati mereka sehingga semangat palsu itu bahkan tidak ada lagi di hati mereka.”

 Kemudian beliau menjelaskan peristiwa seseorang yang ingin menikahi seorang perempuan, dan pergi kepada ayah perempuan itu. Dia berkata, ‘Perlihatkanlah kepadaku perempuan tersebut. Ayahnya berkata, ‘Tidak, saya tidak mau memperlihatkan anak perempuan saya.’ Dia pergi kepada Rasul Karim s.a.w. dan berkata, ‘Ya Rasulullah! Saya ingin menikah dengan seorang perempuan, tetapi ayahnya tidak memperlihatkan wajah perempuan tersebut kepada saya.’ Rasul Karim s.a.w. bersabda,  ‘Dia salah, dia hendaknya memperlihatkan anak perempuannya.’

Orang itu kembali lagi pada  ayah si perempuan itu dan berkata, ‘Anda menolak dan berkata anda tidak akan memperlihatkan putri anda.’ Saya bertanya mengenai hal ini kepada Rasul Karim s.a.w. dan beliau bersabda, ‘Jika ingin menikah, boleh melihat wajah si perempuan’.

Ayah perempuan itu berkata, ‘Mungkin saja boleh, tetapi saya tetap tidak akan memperlihatkannya. Engkau carilah calon di tempat lain.’ Anak perempuan orang itu  duduk di dalam mendengar semua perbincangan tersebut.  Begitu dia mendengar semua ini dia langsung keluar dengan wajah terbuka dan berkata, ‘Ayah! Apa yang anda katakan. Kalau Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa sebelum menikah boleh melihat wajah si perempuan, lalu bagaimana ayah bisa mengingkarinya?’ Lalu dia berkata kepada pemuda tersebut, ‘Lihat, aku berdiri di hadapan engkau, lihatlah.’ Pemuda tersebut berkata, ‘Saya tidak perlu melihat, saya suka perempuan  yang taat pada Allah dan Rasul-Nya.’

Jadi lihatlah bagaimana Rasul Karim s.a.w. telah menyiapkan bangsa Arab untuk secara zahir mengorbankan kehormatan duniawi, sehingga menurut mereka tidak ada hal lain lagi kecuali ‘Apa perintah Allah dan Rasul-Nya’.

Tidak ada pemerintahan dunia yang bisa mengubah hati. Hanya Allah Ta’ala sajalah yang bisa mengubah hati. Pengecut menjadi pemberani atas perintah Allah, dan pemberani menjadi pengecut atas perintah Allah. Orang kikir menjadi pemurah atas perintah Allah, dan pemurah menjadi kikir atas perintah Allah. Orang bodoh menjadi berilmu atas perintah Allah, dan orang berilmu menjadi bodoh atas perintah Allah.

 Ketika Allah memutuskan untuk melenyapkan suatu kaum, maka orang-orang terpelajarnya menjadi bodoh. Para pemberaninya menjadi pengecut, para pemurahnya menjadi kikir, dan orang-orang kuatnya menjadi lemah. Tetapi ketika Allah menetapkan untuk memajukan suatu kaum, maka orang-orang lemahnya menjadi pemberani, orang-orang bodohnya menjadi pandai, orang-orang kikirnya menjadi pemurah dan orang-orang bodohnya menjadi berakal. Kami telah melihat banyak contoh seperti ini dalam kehidupan kami.”

Revolusi Hati di Kalangan Orang-orang Ahmadi

Beliau bersabda, “Kami juga telah melihatnya pada para Ahmadi. Seseorang menjadi Ahmadi dengan ikhlas, dia tidak terpelajar dan bodoh, tetapi begitu menjadi Ahmadi lidahnya menjadi demikian terbuka sehingga ulama-ulama besar merasa takut dan mengkerut berbicara dengannya.

Tetapi kami juga melihat, beberapa orang pandai masuk ke Jemaat kami, namun karena di dalam hatinya tidak ada keikhlasan mengenai Ahmadiyah  karena itu dia tetap bodoh, seperti kondisi orang-orang ghair Ahmadi yang jahil terhadap ilmu agama. Yang dari itu dengan jelas diketahui bahwa ilmu bukanlah dari kita sendiri melainkan ilmu adalah pemberian Tuhan.

Keberanian kita bukanlah punya kita, tetapi keberanian adalah pemberian Tuhan. Pengorbanan kita bukanlah dari kita, tetapi hasil dari taufik pemberian Tuhan. Jika itu bukan keberanian pemberian Tuhan, jika itu bukan ilmu pemberian Tuhan, jika itu bukan keberanian pemberian Tuhan, lalu apa hubungannya itu dengan keikhlasan? Jika begitu maka hubungannya adalah dengan kebiasaan, kerja-keras, dan usaha pribadi. Demikianlah kami melihat orang-orang yang dari segi duniawi benar-benar tidak berpengalaman dengan hal itu, tetapi dalam hati mereka ada keikhlasan.”

Kisah Peera Sahib, Pembantu Tak Terpelajar dan Dialognya dengan Ulama Besar, Husain Batalwi

Kemudian beliau memberikan contoh, “Saya akan memberikan ringkasannya. Peera adalah seorang laki-laki yang merupakan khadim Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Dia adalah orang yang sangat terbelakang, tidak bisa memahami apa itu Ahmadiyah? Hubungannya adalah secara pribadi dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Sebelumnya dia sakit, kedua orangtuanya meninggalkannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. untuk berobat. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengobatinya. Dia sembuh, dan dia tetap tinggal di beranda.

Ketika keluarganya datang untuk membawanya pulang dia berkata, ‘Tidak, sekarang saya akan tinggal bersama orang yang mengobati saya. Saya tidak akan pergi bersama kalian.’ Di sana dia tinggal di beranda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. membawa pesan, menyampaikan pesan, menghidangkan makanan pada tamu, pekerjaan seperti ini. Tetapi dia tidak mengerjakan shalat.

Hadhrat Khalifatul Masih awal r.a. bersabda, ‘Engkau tinggal di sini, jangan menjadi sebab tergelincirnya sebagian orang karena tidak mengerjakan shalat.’ Beliau berkata kepadanya, ‘Kerjakanlah shalat.’ Beliau terus menasihatinya, mungkin juga membujuknya.

Suatu hari dia (Peera) pergi untuk shalat lima waktu. Waktu itu, ketika dia sedang shalat di mesjid, pembantu perempuan datang membawa makanan untuk tamu, dia memanggil. Ketika suaranya tidak sampai maka dia berteriak dengan keras bahwa, ‘Ambil makanan ini, kalau tidak aku akan mengadukan engkau!’

Waktu itu shalat sedang berlangsung, sedang duduk tahiyat. Semuanya sedang duduk tasyahud. Ketika perempuan  itu berteriak suaranya terdengar oleh Peera Sahib, maka dia dalam kondisi duduk di mesjid itu berteriak, ‘Tunggu sebentar saya baca tahiyat dulu, baru datang.’”

Demikianlah kondisi akalnya. Tetapi, Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda,”Waktu itu di Qadian tidak ada kantor pos maupun kereta. Tidak ada kantor telegram maupun yang lain. Juga tidak ada stasiun. Maulwi Husein Batalwi Sahib pergi ke stasiun Batala dan memperingatkan orang-orang yang turun di sana: ‘Jangan pergi ke Qadian, iman kalian akan rusak!’

Suatu hari, seharian dia (Maulwi Husein Batalwi) tidak menemukan mangsa untuk dipalingkan di stasiun. Peera diutus ke sana untuk suatu pekerjaan, untuk membayar tagihan, untuk mengirim telegram maka maka dia menangkapnya. Dia berkata, ‘Peera, iman engkau telah rusak. Mirza Sahib kafir dan dajjal –na’uudzubillaah-  Kenapa engkau merusak agama engkau dengan mengikutinya?”

 Peera terus mendengarkan ucapannya. Ketika dia (Maulwi Husein Batalwi) sudah selesai bicara, lalu dia bertanya kepada Peera, ‘Katakan, bagaimana kata-kataku?’ Peera berkata, ‘Maulwi Sahib! Saya ini tidak terpelajar dan bodoh. Saya tidak punya ilmu  dan tidak bisa memahami persoalan. Tetapi ada satu hal  yang saya pun paham. Yakni sejak bertahun-tahun saya datang ke sini untuk membayar tagihan dan mengirim telegram, dan saya melihat anda selalu datang ke stasiun melarang orang-orang pergi ke Qadian.

Dalam usaha anda itu sampai sekarang anda mungkin sudah melakukan banyak sekali kebohongan. Tetapi Maulwi Sahib, tetap saja tidak ada yang mendengarkan anda, sedangkan Mirza Sahib duduk di Qadian  tetapi tetap saja orang-orang datang mengikuti beliau. Pasti ada hal yang menyebabkan perbedaan ini.’

 Jadi lihatlah betapa halus dan benar jawaban ini. Dia tidak tahu dalil, tetapi ini adalah jawaban dari Allah yang Allah ajarkan kepada Peera, yang kondisi shalatnya telah saya beritahukan kepada anda.

 

Allah Ta’ala   Memiliki   Khazanah yang Diperlukan

Orang yang Berkekurangan

Beliau bersabda, “Jadi Allah Ta’ala kadang-kadang memberitahukan hal-hal yang demikian kepada hamba-hamba-Nya dan orang-orang yang menjalin hubungan dengan-Nya, sehingga akal manusia menjadi takjub. Sebab di sisi-Nya, yakni di sisi Allah Ta’ala, ada segala sarana sehingga sesuatu yang  kurang Dia memilikinya [untuk mengubahnya]: Kurang dalam kepandaian, Dia memilikinya. Kurang keberanian, Dia memilikinya. Kurang sifat pemurah, Dia memilikinya. Kurang kesehatan, Dia memilikinya. Kurang kehormatan, Dia memilikinya. Kurang harta, Dia memilikinya. Pendeknya khazanah setiap hal ada di sisi-Nya dan Dia memberikan kepada hamba-hamba-Nya dari khazanah tersebut dengan cara sedemikian rupa, sehingga manusia menjadi heran…’

Membungkam Lidah Tajam Pendeta Zwemer

Kemudian beliau bersabda, “Di Qadian ini suatu kali padri (pendeta) Zwemer datang, yang merupakan padri paling termasyhur di dunia, dan penduduk Amerika. Di sana dia juga merupakan editor sebuah majalah tabligh yang sangat besar dan memiliki kedudukan yang terkemuka dalam masyarakat Kristen Missionaris. Dia juga mendengar kabar tentang Qadian. [3]

Ketika dia datang ke India, maka setelah melihat semua tempat dia datang ke Qadian. Bersamanya ada juga seorang padri bernama Gordon. Dr. Khalifah Rasyiduddin Sahib Almarhum ketika itu masih hidup. Beliau ketika itu memperlihatkan semua tempat di Qadian. Tetapi Padri Sahib tidak bisa berhenti dari lidah tajamnya.

Pada masa itu di Qadian tidak ada administrasi kota dan banyak sekali kotoran tercecer di jalan-jalan. Padri Zwemer sambil tertawa-tawa dalam percakapan berkata, ‘Kami telah melihat Qadian, dan telah melihat kebersihan desa Masih yang baru. Dr. Khalifah Rasyiduddin Sahib sambil tersenyum berkata kepadanya, ‘Padri Sahib, Hindustan masih di bawah pemerintahan Masih terdahulu,  dan ini adalah contoh kebersihannya. Pemerintahan Masih yang baru belum berdiri.’ Atas hal itu dia menjadi malu.

Jawaban-jawaban Ilhami yang Sangat Telak

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda, “Mereka mengirim pesan kepada saya, ‘Kami ingin bertemu.’ Kondisi saya sedang tidak sehat, tetapi saya berkata, ‘Silahkan.’ Padri Zwemer berkata, ‘Saya ingin menyampaikan satu dua pertanyaan.’ Saya berkata, ‘Silahkan.’ Dia berkata, ‘Apa akidah Islam mengenai reinkarnasi? Apakah Islam mempercayai hal ini atau mengingkarinya?’

Begitu dia menanyakan hal ini, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala memasukkan dalam hati saya, tujuannya dengan pertanyaan itu adalah, ‘Yang kalian katakan bahwa Masih Mau’ud adalah buruz (bayangan) dan matsil (misal) Masih Nashiri, apakah maksudnya ruh Masih Nashiri masuk ke dalam dirinya. Jika ini maksudnya, maka ini adalah reinkarnasi, dan akidah reinkarnasi bertentangan dengan Al Quran Karim.’ Karena itu sambil tersenyum saya berkata kepadanya, ‘Padri Sahib, anda keliru. Kami tidak berpendapat bahwa ruh Masih Nashiri masuk ke dalam tubuh Mirza Sahib, tetapi kami menyebut beliau matsil (misal) Masih Nashiri,  dengan pengertian bahwa beliau datang dengan warna akhlak dan keruhanian Masih Nashiri.”

 Ketika saya memberikan jawaban ini, dia berkata, ‘Siapa yang memberitahu anda bahwa ini pertanyaan saya? (pertanyannya pertanyaan tidak langsung) pendeknya, dia lalu berkata, ‘maksud pertanyaan saya adalah untuk mengetahui bagaimana anda bicara?’”

Kemudian beliau bersabda, “Saya berkata kepadanya apa pertanyaan kedua anda?’ Dia berkata, ‘Kebangkitan seorang nabi hendaknya di tempat yang seperti apa?’ Tempat seperti apa yang diperlukan baginya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

 Begitu menanyakan soal kedua ini, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala memasukkan dalam hati saya bahwa tujuannya dengan pertanyaan itu adalah Qadian adalah sebuah desa kecil, bagaimana bisa ini menjadi markaz dunia? Dan bagaimana bisa dari tempat kecil ini menyampaikan tabligh keseluruh dunia? Jika maksud kebangkitan Mirza Sahib adalah menyampaikan tabligh Islam ke seluruh dunia, maka beliau hendaknya diutus di tempat yang dari situ suara bisa sampai ke seluruh dunia.

Pendeknya bersamaan dengan pertanyaan tersebut Allah Ta’ala menanamkan hal ini dalam hati saya, kemudian sambil  tersenyum saya berkata kepadanya, “Padri Sahib (Tuan Pendeta), apakah nabi bisa datang di tempat yang lebih besar dari Nazaret?  Desa tempat Hadhrat Masih Nashiri (Yesus Kristus, Nabi Isa) muncul, namanya Nazaret, dan penduduk Nazaret hanya terdiri dari 10-12 rumah.”

 Atas jawaban saya itu dia menjadi pucat dan terheran-heran bahwa saya memberikan jawaban hal itu. Begitu juga dia menanyakan soal ketiga, yang saya tidak ingat. Pendeknya dia menanyakan tiga soal, dan berkenaan dengan soal itu Allah Ta’ala mengilhamkan dan memberitahukan kepada saya apa maksud sebenarnya pertanyaan-pertanyaan tersebut? Dan meskipun sebelumnya dia menanyakan hal-hal lain untuk mengaburkan, tetapi Allah Ta’ala menzahirkan tujuannya yang sebenarnya kepada saya dan dia benar-benar terdiam.

Jadi Allah Ta’ala mempengaruhi hati dengan cara yang luar biasa, dan dia menolong hamba-hamba-Nya dengan pengaruh tersebut, dan pengaruh ini hanya ada dalam kekuasaan Tuhan, tidak ada dalam kekuasaan hamba. “

Membungkam Mulut Seorang Ulama dengan Ayat Al-Quran yang Dikemukakannya

Beliau bersabda, “Suatu kali seorang ulama yang pemikirannya keliru menemui saya di mesjid dan berkata, ‘Berikan kepada saya bukti kebenaran Mirza Sahib.’ Saya berkata, ‘Al-Quran ada, seluruh Al Quran adalah bukti kebenaran Al Quran.’ Dia berkata, ‘Ayat yang mana?’ Saya berkata: ‘Setiap ayat AlQuran adalah bukti kebenaran Mirza Sahib.’

Memang benar bahwa setiap ayat Al Quran, dengan  satu dan lain cara pasti cocok dengan nabi. Tetapi sebagian ayat ada yang untuk menerangkannya dan memberitahukan dengan cara bagaimana ayat itu menjadi bukti kebenaran nabi sangat sulit. Katakanlah ayat yang menjelaskan kejadian perang.

Sekarang, meskipun dari situ bisa dibuktikan kebenaran nabi, tetapi itu dalam bentuk yang ada di atas pemahaman orang awam. Tetapi beliau berkata, ‘Saya ketika itu yakin bahwa Allah akan mempengaruhinya dan dari mulutnya akan mengeluarkan ayat yang darinya kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s. akan terbukti dengan sangat jelas.’”

Pendeknya, beliau berkata, “Dia membaca ayat ini:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

(Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir”, tetapi mereka sekali-kali bukan orang-orang yang beriman).

     Saya mengerti bahwa ini adalah pengaruh Allah Ta’ala sehingga dia mengeluarkan dari lidahnya ayat ini, maka saya berkata kepadanya: ‘Ayat ini mengenai siapa? Mengenai orang-orang Muslim ataukah mengenai orang-orang non-Muslim?’ Pertanyaan dia yang awal adalah: ‘Sementara orang-orang Muslim mengerjakan shalat…  — pertama dia telah bertanya bahwa ketika umat Muslim mengerjakan shalat — … berpuasa, pergi haji, dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka apa perlunya nabi bagi mereka?’

     Ketika dia membaca ayat ini maka saya bertanya kepadanya, ‘Ayat ini mengenai siapa?’ Dia berkata, ‘Mengenai orang-orang Muslim.’ Saya berkata: ‘Jadi ayat ini memberitahukan bahwa di antara umat Muslim juga sebagian orang menjadi rusak. Mereka mengatakan dengan mulut mereka, ‘kami beriman’, tetapi sebenarnya mereka tidak beriman. Dan Al-Quran memberitahukan bahwa ucapan kosong bahwa dirinya adalah mukmin (orang beriman) tidak cukup, selama tidak memberikan bukti keimanannya dengan amalan. Sekarang tolong katakan, jika umat Muslim juga bisa rusak, maka Tuhan akan mengutus nabi untuk memperbaiki mereka atau tidak?’”

     Selanjutnya beliau bersabda, “Memuaskan hati adalah pekerjaan Allah Ta’ala, tetapi pendeknya dengan perkataan itu dia menjadi diam.”

Semua Sarana Kesuksesan Datang dari Allah Ta’ala

Kemudian di akhir beliau bersabda,  “Jadi semuanya datang dari Allah Ta’ala, kekuatan manusia tidak dapat melakukan apapun. Karena itu ingatlah, selama doa-doa  tidak dipanjatkan dalam kondisi mudhtarr (khawatir/takut) yakni dengan keyakinan bahwa Wujud yang memenuhi semua keperluan dunia hanya dan hanya Dzat Allah Ta’ala maka selama itu tidak akan dikabulkan. Tidak diragukan lagi, meskipun di dunia ini ada orang-orang yang memberikan dari pemberian Allah Ta’ala, tetapi dia hanya bisa memberikan pakaian pada manusia. Tidak diragukan lagi, di dunia ini meskipun ada orang yang memberi dari pemberian Allah Ta’ala, tetapi dia hanya bisa memberikan rumah. Tidak diragukan lagi, di dunia ini meskipun ada orang memberikan manfaat kepada orang lain dari ilmu pemberian Allah Ta’ala, tetapi dia hanya bisa menyembuhkan yang sakit. Tidak diragukan lagi bahwa di dunia ini ada orang yang bisa bertarung (beragumentasi) di pengadilan secara gratis untuk melindungi orang lain, tetapi dia hanya bisa bertarung di pengadilan tanpa bayaran.

    Namun demikian, tidak ada orang di dunia ini, yang di tangannya terdapat semua hal ini. Tidak ada orang yang di tangannya ada kemampuan untuk mengubah hati. Tidak ada orang yang di tangannya ada kemampuan untuk mengubah perasaan. Hanya Dzat Allah Ta’ala yang semua benda ada di tangan-Nya dan pengaruh-Nya, dan Yang punya kekuatan untuk mengubah perasaan manusia yang paling tersembunyi sekalipun.

Jadi selama tidak memanjatkan doa dalam kondisi mudhtarr (khawatir/takut)  dan selama dia tidak berdoa dengan berputus asa dari keempat penjuru dan yakin sepenuhnya pada Allah, maka selama itu doa tidak akan dikabulkan. Tetapi jika dia memanjatkan doa seperti ini, maka itu pasti sampai ke ‘Arsy (Singgasana) Allah Ta’ala dan akan dikabulkan.”

Jadi, ini adalah contoh cara pidato beliau yang telah saya sampaikan, dengan referensi (rujukan) itu hari ini saya juga ingin mengatakan sesuatu, bahwa jika hari ini kita juga ingin mengubah keadaan maka kita harus tunduk di hadapan Pemilik semua kekuatan, dan tunduk sedemikian rupa, seakan-akan di dalamnya kita mendengar bahwa Dia-lah Sumber segala kekuatan, dari-Nya-lah dapat diperoleh segala macam pertolongan. Dia-lah Wujud Yang membolak-balikkan hati. Dialah Wujud Yang menguasai hati. Dia-lah Yang menguasai segala kekuatan manusia. Semoga menjadi orang-orang yang berdoa seperti ini.

Shalat Jenazah Gaib: Mukaram Azhim Sahib

Di sini seorang karyawan kita yang sangat mukhlis, Mukaram Adzim Sahib, yang bekerja di departemen Dhiafat UK, dan sebelumnya juga telah lama bekerja di Jerman, telah wafat dua-tiga hari yang lalu. إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Hari ini seharusnya jenazah beliau sudah tiba, tetapi karena ada kesulitan dalam memperoleh sertifikat dan lain-lain, maka jenazah belum bisa tiba.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Satu-dua hari lagi setelah jasad beliau bisa dibawa dari rumah sakit setelah memenuhi semua proses hukum, maka, Insya Allah, akan tiba di mesjid Fazl. Pendeknya beliau adalah pekerja yang sangat tulus, mukhlis, setia. Mengasihi setiap orang. Penuh dengan semangat pengkhidmatan kepada makhluk.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Semua anak beliau masih belajar. Beliau punya tiga anak, 2 putri dan 1 putra, dan orang-orang yang sangat ikhlas. Semoga Allah juga menjaga mereka dalam perlindungan-Nya, dan memberikan kesabaran dan tekad kepada istri beliau, dan melingkupi anak-anak beliau, memenuhi dengan karunia-Nya rasa kekurangan (wujud) ayah mereka

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Wudhu, bab an-Naumi ‘ala syaqqil iman

[3] Samuel Marinus Zwemer, lahir pada 12 April 1867 di Michigan, Amerika Serikat dan meninggal dunia pada 2 April 1952 di New York. http://en.wikipedia.org/wiki/Samuel_Marinus_Zwemer