Baiat Pertama
Fakta-fakta Sejarah Berdasarkan Penelitian Terbaru
Maulana Dost Muhammad Shahid – Rabwah

baiat pertama baiat ahmadiyah

Pentingnya Sejarah Baiat Pertama

Setiap Ahmadi mengetahui benar pentingnya sejarah Baiat Pertama. Ini adalah sebuah fakta bahwa peristiwa ini di kemudian hari mempengaruhi secara umum dunia keagamaan, saat Hazrat Maulvi Nuruddin, di Bulan Maret 1889, mendapatkan kedudukan yang khusus yang membuat hati iri, sebagai orang yang pertama yang berbai’at ke dalam Ahmadiyah di tangan beberkah Mirza Ghulam Ahmad. Selain itu, pada hari yang penuh berkah itu, sekitar 40 orang yang muhlis lagi bertakwa, bergabung dalam jamaah Ahmadiyah di tangan Imam Akhir Zaman.

Tentu timbulnya pertanyaan, menurut penanggalan masehi dan hijriah, kapan pastinya tanggal kejadian yang luar biasa itu? Inilah titik yang menarik perhatian beberapa cendikiawan Ahmadiyah untuk melakukan sedikit riset.

Dasar Penelitian

Menurut pendapat saya, fakta-fakta berikut ini seharusnya dapat menjadi panduan untuk mendapatkan kesimpulan yang benar:

1. Kepada para pecinta sejati beliau yang ingin dibaiat sebagai muridnya, Hadhrat Masih Mau’ud as (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad) membuat sebuah edaran tertanggal 4 Maret 1889 sebagai berikut:

“Hamba yang lemah ini akan tinggal di Mohalla Jadid, Ludhiana, sejak hari ini, 4 Maret 1889 sampai dengan 25 Maret. Mereka yang ingin datang, harus berada di sini, di Ludhiana setelah tanggal 20 dengan segera. (Tabligh Risalat bagian 1, hal 150, catatan kaki diedit oleh Mir Qasim Ali)

Di lain pihak, Hadhrat Masih Mau’ud as mengirimkan instruksi khusus kepada Hadhrat Maulvi Nur-ud-Din yang meminta beliau untuk:

“Datanglah pada tanggal 22 (Maret) dan bukan tanggal 20 (Maret)… hamba yang lemah ini berniat untuk mengunjungi Hoshiarpur pada tanggal 15 Maret selama 2 atau 3 hari. Dan setidaknya-tidaknya akan kembali pada tanggal 19 (Maret) atau tanggal 20 (Maret)”. (Maktuubat Ahmadiyah: buku 5, no. 2 Hal. 62. Dikompilasi oleh Sheikh Yacoob Ali Arfani, Editor Al-Hakam)

Dari kutipan di atas, jelas bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as berencana untuk memulai Bai’at setelah tanggal 22 Maret. Kalau tidak, beliau tidak akan menginstruksikan Hadhrat “Maulvi Sahib” untuk sampai di Ludhiana pada tanggal 22 (Maret).

Kita harus mencatat bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as secara khusus meminta beliau untuk tidak datang sebelum tanggal 22 Maret. Pada saat itu, ‘Maulvi Sahib’ sedang berada di Jammu. Kita juga harus ingat bahwa ‘Maulvi Sahib’ telah meminta permohonan khusus kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa apabila beliau sudah mulai menerima Bai’at atas perintah Illahi, maka beliau (Maulvi Sahib) dapat diberikan kehormatan dan keistimewaan untuk menjadi yang pertama didaftarkan. Permohonan ini telah dikabulkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

2. Maulvi Abdullah dari Sannaur adalah salah satu sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as yang paling dekat. Beliau adalah saksi mata atas kasyaf yang terkenal ‘percikan tinta merah’. Beliau menemani Hadhrat Masih Mau’ud as ke Horshiarpur pada tahun 1886 sebagai petugas pribadi Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau juga memberikan pengkhidmatan yang tidak ternilai dalam pencetakan buku Bahrain Ahmadiyah. Hadhrat Masih Mau’ud as dalam mengungkapkan penghargaan yang mendalam atas jasanya, telah mencantumkan tulisan berikut ke dalam bukunya yang terkenal Izala Auham:

“Anak muda yang saleh ini telah tertarik kepada saya melalui kebaikan yang ada pada dirinya dan saya percaya bahwa ia adalah teman saya yang setia yang tidak akan tergoyahkan oleh kesulitan apapun. Dia telah tinggal bersama saya selama 2 atau 3 bulan dengan jarak waktu yang berbeda beda … anak muda ini, tentu saja, sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tidak dapat disangkal bahwa Mian Abdullah adalah orang yang sangat baik dan merupakan salah satu sahabat pilihan saya. (Izala Auham: Edisi Pertama: Hal 796).

Maulvi Abdullah Sannauri mendapatkan kehormatan sebagai orang keempat dalam daftar orang-orang yang dibai’at pada hari pertama. Beliau patut berbangga pada sebuah fakta bahwa selama prosesi pembai’atan, Sheikh Hamid Ali, petugas pribadi Hadhrat Masih Mau’ud as yang bertugas memanggil nama-nama masing-masing calon masuk ke ruangan untuk dibai’at, namun, khusus beliau, Hadhrat Masih Mau’ud as sendirilah yang memanggil namanya untuk dibai’at. (Al Fazal: 21.10.1927)

Peristiwa dari para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as yang saleh dan terpilih ini berlangsung pada:

“Hari pertama ketika beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as) mengadakan Bai’at tersebut, yaitu tanggal 20 Rajab 1306 Hijriah – 23 Maret 1889. (Siratul-Mahdi: Bagian 1: Edisi ke-2, hal 77, dikompilasi oleh Sahibzada Mirza Bashir Ahmad: Edisi Pertama, 10.12.1923 dan Edisi ke-2, 14.11.1935)

3. Nama Sheikh Yaqub Ali Turab tentunya tidak perlu diperkenalkan lagi. Beliau dikenal sebagai sejarawan pertama dan juga jurnalis pertama Jemaat Ahmadiyah. Beliau tidak dibai’at di hari pertama, namun beliau ada di Ludhiana pada saat itu. Beliau berpendapat sama dengan Maulvi Abdullah Sannauri bahwa Baiat Pertama terjadi pada tanggal 20 Rajab – 23 Maret 1889 (Hayat Ahmad: bagian III, hal 28)

4. Hadhrat Mirza  Basyiruddin Mahmud  Ahmad,  Muslih Mau’ud, juga berpandangan teguh bahwa Baiat pertama terjadi pada tanggal 23 Maret 1889. Dan karena alasan inilah maka beliau menetapkan tanggal 23 Maret sebagai “Hari Masih Mau’ud” di Ludhiana pada tahun 1944, sebuah acara yang beliau sendiri hadir memberikan pidato dengan kata-kata yang bersejarah ini:

“Di kota Ludhiana ini, Hadhrat Masih Mau’ud as memulai Bai’at yang pertama pada 23 Maret 1889″  (Alfazal: 18.2.1959.)

5. Sahibzada Mirza Sharif Ahmad juga memiliki pendapat yang sama dan menulis:

“Hadhrat Masih Mau’ud as mengadakan Baiat Pertama pada tanggal 23 Maret 1889, dan Jemaat Ahmadiyah dimulai sejak saat itu” (Alfazal: 18 Maret, 1959, hal 2.)

6. Pada plakat peringatan ‘Dar-ul-Bai’at’ yang berdiri sampai tahun 1947, Baiat pertama tertulis tanggal 23 Maret 1889 (Review of  Religions Urdu: Juli – Juli 1943, hal 26-39.)

7. Selama periode akhir penugasannya dan di bawah wewenang dan petunjuk Khalifatul Masih II, tanggal Baiat pertama telah berulangkali diumumkan dan dipublikasikan dalam pertemuan-pertemuan Hari Masih Mau’ud, pada tanggal 23 Maret 1889 (Alfazal: 4,  Aman/maret, 1327 Hijriah/ 1958 Masehi.;  page  )

8. Maulana Abdul  Rahim  Dard, M.A., editor dan pakar penelitian terkenal Ahmadiyah mendukung pandangan ini di dalam buku beliau Life of Ahmad. Beliau menulis:

“Bai’at resmi dimulai pada tanggal 23 Maret 1889 (20 Rajab,  1306 A.H.).”  (Hal 154: cetakan tahun 1949 Masehi – 1328 Hijriah.)

9. Maulana Abu-ul-Ata,  sang ‘Khalid’ dari Jemaat Ahmadiyah, menulis artikel ilmiah tentang ‘Pakistan Day’ pada tanggal 23 Maret 1957. Beliau tidak hanya mendukung pandangan di atas, namun juga menunjukkan pada kita poin yang sangat meyakinkan dan menggugah keimanan ketika beliau menulis:

“Kita percaya, bahkan tidak sehelai daunpun jatuh tanpa pengetahuan Allah Yang Maha Kuasa dan setiap perbuatan, setiap kejadian dan peristiwa ada di bawah Pengetahuan Illahi dan Kemahabijaksanaan-Nya. Bukanlah suatu kebetulan bahwa “Sang Pembaharu Zaman Ini” meletakkan dasar jamaah rohaninya pada tanggal ini, dan di dunia lahiriah ini,  pendirian ‘tanah suci’ (Pakistan) juga diproklamirkan pada tanggal yang sama. Singkatnya, tanggal 23 Maret adalah hari penuh suka cita yang penting bagi Jemaat Ahmadiyah”. (Alfazal:  28 Maret, 1957: hal 5: kolom 4.)

Petunjuk yang penuh pertimbangan dan kehati-hatian dari Hadhrat Khalifatul Masih II, Al-Muslih Mau’ud, catatan dari saksi hidup Maulvi Abdullah Sanauri; Pendapat yang menguatkan dari Irfani  Sahib; Bukti tak terbantahkan dari Sahibzada Mirza Shareef Ahmad,  Maudvi Abdul Rahim Dard dan Maulana  Abu­ ul-Ata, dan juga Plakat Peringatan “Dar-ul-Bai’at” serta kesepatakan pendapat Jemaat Ahmadiyah, semua berkontribusi pada kesimpulan yang tak terbantahkan bahwa 20 Rajab 1306 atau 23 Maret 1889 adalah tanggal saat Jemaat Ahmadiyah terbentuk.

Sisi Lain dari Gambaran ini

Sekarang mari kita lihat sisi lain dari gambaran ini dan memeriksa keberatan-keberatan yang mungkin diajukan, yang berlainan dengan keputusan tak terbantahkan di atas. Berkaitan dengan hal ini, 2 hal berikut nampaknya merupakan poin-poin yang diperdebatkan oleh mereka yang tidak setuju kepada kami dalam perkara ini:

  1. Tanggal masuk di dalam “Daftar Bai’at” yang asli.
  2. Ketidaksesuaian penanggalan Masehi dan Hijriah seperti yang disampaikan oleh Maulvi Abdullah Sannauri.

Poin pertama nampaknya sangat mendukung mereka yang memegang pendapat bahwa Baiat Pertama diadakan pada tanggal 21 Maret, yang pada tanggal tersebut 46 orang sahabat dari Qadian,  Kangra, Chauthgarh, Jammu, Malerkotla, Shahpur, Karyana, Jhanpat, Ludiana dll telah dibai’at ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Poin kedua tidak diragukan lagi menyebabkan keraguan serius di dalam pikiran, mereka berpendapat bahwa tanggal yang benar Baiat Pertama adalah 21 atau 22 Maret, dan bukan tanggal 23 Maret 1889. Karena menurut kalender At-Taufeequat-ul-Ilhamia yang disusun oleh sarjana Mesir yang terkenal Mohammad Mukhtar Pasha, tanggal 20 Rajab, 1306 Hijriah jatuh pada tanggal 22 Maret 1889. Perhatian Jemaat dialihkan ke arah ini, pada bulan Maret 1963, ketika Sahibzada Mirza Bashir Ahmad Sahib mengatakan di dalam pertemuan ‘Musyawarah’ bahwa, “Sebagai hasil penelitian lebih lanjut, telah diungkapkan bahwa Baiat Pertama ternyata dimulai pada tanggal 22 Maret 1889, bukan tanggal 23 Maret, sesuai dengan penanggalan hijriah, 20 Rajab jatuh pada tanggal 22 Maret.” (Laporan Majlis-i­Mushawarah, 1362 Hijriah – 1963 Masehi – halaman 118.)

Pandangan Sekilas Daftar Bai’at

Daftar Bai’at yang asli yang asli adalah dokumen yang sangat penting dan berharga dan saat ini dengan sangat hati-hati terpelihara di Perpustakaan Khilafat di Rabwah. Surat Bai’at ini dimulai dengan instruksi langsung Hadhrat Masih Mau’ud as yang menamainya “Bai’at Penyesalan untuk Ketakwaan dan Kesucian (Initiation of Penitence for Righteousness and Purification). Catatan daftar ini telah dibuat oleh tangan yang berbeda. Beberapa diantaranya ditulis oleh tangan beberkah Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri, dan beberapa diantaranya tulisan tangan Maulvi Nuruddin Sahib dan sahabat-sahabat yang lain. Karena lembar daftar aslinya telah hilang, maka untuk alasan ini, nama orang-orang yang didaftar paling awal tidak dapat dilacak. Dan pada tahun 1939, Sahibzada Mirza Bashir Ahmad, untuk pertama kali mempublikasikan 62 nama-nama pertama dalam bukunya Sirat Mahdi bagian III. Delapan nama pertama diberikan atas keterangan saksi-saksi dan laporan yang terpercaya. Pada daftar pertama ditulis tanggal 19 Rajab 1360 dan 21 Maret 1889, dan tanggal di daftar ke 47 dicantumkan tanggal 20 Rajab 1360 H, dan 22 Maret 1889.

Dari daftar yang diberikan di dalam Siratul Mahdi  bagian III, orang mendapat kesan bahwa tanggal 19 Rajab 1306 Hijriah dan 21 Maret 1889 harusnya diterima sebagai Hari Pertama Bai’at. Hanya beberapa saat yang lalu kami menerima surat dari seorang terpelajar dari luar negeri yang meminta agar bukti internal dari catatan daftar Bai’at tidak boleh diabaikan.

Tidak diragukan lagi bahwa Daftar Bai’at adalah catatan yang asli, dapat diandalkan dan otentik dalam hal nama-nama dari para sahabat awal Hadhrat Masih Mau’ud as yang terkemuka. Dan bagaimana para sarjana Ahmadi yang terlibat dalam penelitian hal tersebut –  betapapun menonjolnya beliau sebagai sarjana ataupun sejarawan – akan dapat mengabaikan dokumen penting ini. Namun kita tetap harus meneliti nilai keabsahan bukti tersebut. Jika diperlukan bukti keterangan tentang nama-nama, asal usul dan hal-hal lain dari para pengikut yang bergabung dalam Ahmadiyah pada masa awal berdirinya, maka daftar ini tidak diragukan lagi sebagai hal yang sangat penting. Namun jika menyangkut hal urutan nama-nama yang benar, dan kapan tanggal Bai’atnya yang benar, maka daftar ini nilainya diragukan. Para sarjana yang mempunyai reputasi baik seperti Sahibzada Mirza Bashir Ahmad dan Sheikh Yakub Ali Irfani juga memiliki pandangan yang sama. Karena kita tidak memiliki bukti apakah tanggal masehi dan hijriah yang sesuai dengan bai’at individual ditulis segera setelah janji baiat, Sahibzada Mirza Bashir Ahmad  menulis dalam Siratul Mahdi bagian III:

“Daftar Baiat” yang diberikan kepada saya oleh Mir Mohammad Ishaq tidak berhasil memberikan bukti penting kepada kita apakah keterangan yang dimasukkan di dalam catatan tersebut dibuat segera setelah bai’at dilakukan, atau sejumlah nama dimasukkan ke dalam catatan tersebut secara kolektif di hari berikutnya. Dalam perkara selanjutnya, mungkin saja urutan yang benar tidak diperhatikan. Sebenarnya keraguan ini menjadi nyata setelah mempelajari beberapa catatan tertentu. Sebab terdapat perbedaan yang cukup besar antara kedua catatan ini dengan bukti lisan yang kemudian dicatat.” (Hal 14.)

Beberapa Contoh dari “Perbedaan yang Cukup Besar”

Kami mengutip beberapa contoh ‘perbedaan yang cukup besar’ yang disebutkan di atas oleh Sahibzada Mirza Bashir Ahmad:

  1. Hadhrat Ummul-mukminin; Hadhrat Muslih Mau’ud; Sahibzada Mirza  Bashir  Ahmad;  Mufti Muhammad  Sadiq dan banyak sahabat terkemuka lainnya sepakat bahwa hanya 40 orang yang dibai’at pada hari pertama. (Siratul Mahdi, Bagian I, hal 18; Sirat Hazrat Masih Mau’ud, oleh Khalifat-ul-Masih II; Silsalah Ahmadiya, hal 29, oleh Sahibzada Mirza Bashir Ahmad; Zikr-i-Habib, hal 9, oleh Mufti Mohammad Sadiq). Berbeda dengan bukti yang melimpah ini, “Daftar Baiat” menyebutkan 46 nama, bukan 40 nama, di halaman pembukaannya.
  1. Nama ke-43 yang tercatat di dalam “Daftar Bai’at” adalah Maulvi Abdul Karim dari Sialkot. Namun dari kesaksian yang kuat dari Maulvi Abdullah Sannauri, Sahibzada Mirza Bashir Ahmad menulis: “Meskipun Maulvi Abdul Karim hadir di hari Baiat Pertama, namun beliau tidak dibai’at hari itu.” (Siratul Mahdi, Bagian I; Edisi kedua, halaman 78)
  1. Dari pernyataan dan kisah hidup Munshi Zafar Ahmad dari Kapurtala, sahabat yang terkenal dan sangat setia pada Hadhrat Masih Mau’ud as, kita memiliki bukti jelas bahwa ketika surat edaran bai’at dikirimkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, maka segera setelah menerimanya, Munshi Aroora Khan pergi ke Ludhiana. Namun Munshi Zafar  Ahmad  dan Mian Mohammad Khan keduanya mulai pergi di hari berikutnya dan sampai di Ludhiana satu hari setelahnya. Tapi ketiga orang yang terhormat ini dibai’at pada hari pertama proses pembaiatan. Munshi Aroora Khan adalah rombongan Kapurtala pertama yang dibai’at, diikuti oleh Munshi Zafar Ahmad dan selanjutnya Mian  Mohammad    (Ashab-i-Ahmad: Bagian IV: edisi pertama, hal 91). Namun “Daftar Bai’at” tidak menyokong hal ini. Kami menemukan bahwa nama Munshi Aroora Khan masuk dalam “Daftar” tanggal 20 Maret.

Sebuah Pertanyaan Penting dan Jawabannya

Tentu timbul pertanyaan, mengapa begitu banyak perbedaan antara bukti dari para sahabat yang saleh dan sangat setia Hadhrat Masih Mau’ud as dengan “Daftar Bai’at? Mungkinkah kedua hal ini dapat dicocokkan?

Jawabannya adalah bahwa sebuah studi yang cermat tentang kondisi tersebut membawa pada fakta yang terang lagi tak terbantahkan bahwa catatan yang ada dalam “Daftar Bai’at” tidak dibuat berdasarkan urutan kejadian sebenarnya dalam peristiwa Bai’at. Catatan tersebut dibuat ketika para calon mubayyi’in tiba di Ludhiana setelah mereka menerima surat edaran bai’at yang disebutkan diatas. Ini bukanlah dugaan atau terkaan tetapi didasarkan pada bukti internal dari surat edaran yang dikeluarkan oleh Hadhrat masih Mau’ud yang menyatakan maksud dan tujuan Bai’at. Surat edaran ini ditujukan kepada mereka yang dengan cemas dan gelisah menunggu panggilan Bai’at.

“Wahai saudara-saudara seiman, ketahuilah bagi mereka yang mengharap untuk mencari Allah dan ingin dibai’at di tanganku… bahwa atas wahyu dari Allah – yang berkehendak untuk membebaskan orang-orang Islam yang terlihat tidak berharga dan  tidak benar karena belenggu perselisihan dan perbedaan, dan juga karena konflik, pertengkaran, saling bermusuhan dan benci, dan mengubah mereka menjadi “Saudara karena Rahmat-Nya” – saya telah diberitahu bahwa manfaat Bai’at akan bertambah dan tumbuh kepada kalian. Dan untuk pengaturan ini, maka harus dibuat daftar yang nama kalian, beserta asal usul, dan alamat sementara maupun permanen serta keterangan lainnya akan dicatat. Dan bila nama-nama ini telah mencapai jumlah yang cukup banyak, daftar semua yang sudah dibai’at akan disiapkan dan dicetak, dan salinannya akan diberikan kepada setiap anggota yang dibai’at. Dan ketika di kemudian hari kelompok selanjutnya mencapai jumlah tertentu, maka nama-nama mereka bisa saja ditambahkan ke dalam daftar dan dipublikasikan. Dan prosedur ini mungkin akan berlanjut sampai kehendak Illahi terpenuhi … Namun hal ini tidak akan bisa dicapai tanpa kerjasama dari anggota yang dibai’at yang harus mengirimkan kepada kami keterangan-keterangan mengenai mereka yang ditulis dengan jelas oleh tangan mereka sendiri. Oleh karena itu, semua orang yang dengan tulus ikhlas dari lubuk hati mereka ingin dibai’at, dengan ini dimohonkan untuk menuliskan kepada kami nama mereka, asal usul, alamat dan juga keterangan-keterangan lainnya atau dapat memberikan informasi ini pada saat kedatangan mereka di sini.” (Tabligh Risalat;  Bagian I, hal 152.)

Kutipan di atas menyediakan kita bukti yang pasti dan tak terbantahkan bahwa nama-nama para sahabat tersebut telah dimasukan ke dalam “Daftar” bahkan sebelum diadakannya Bai’at. Oleh karena itu, keliru mengatakan bahwa catatan-catatan di dalam “Daftar” itu dibuat sebagai acuan, pada saat atau setelah proses baiat. Karenanya, tanggal yang ditulis dalam “Daftar” ini tentunya bukan tanggal ba’at sebenarnya. Namun dalam kasus tertentu, mungkin saja beberapa orang tersebut sampai di Ludhiana dan dibai’at pada hari yang sama. (namun) terbukti bahwa hal ini tidak dapat diterima sebagai prosedur yang biasanya.

Kunci Kontroversi

Kutipan di atas juga membantu kita untuk menyelesaikan masalah dicantumkannya 46 orang, bukan 40 orang yang sebenarnya dibaiat pada hari pertama, dan juga mengapa nama Maulvi Abdul Karim dari Sialkot tercantum pada tanggal tersebut, meskipun fakta kuat menyatakan jelas beliau tidak dibai’at di hari pertama. Begitu juga kutipan ini menjelaskan kemuskilan tentang tiga orang dari Kapurtala, yang semuanya dibai’at secara bergantian pada hari pertama, namun nama mereka tercatat dalam “Daftar” dengan tanggal berbeda, yaitu tanggal 21 dan 23 Maret.

Singkatnya, semua pokok kontroversial yang terkait masalah ini, seketika terpecahkan dengan kutipan Hadhrat Masih Mau’d as di atas. Dan kita dapat dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan mengatakan bahwa beberapa halaman pertama dari “Daftar” ini hanya menunjukkan keterangan bahwa sejumlah orang tertentu telah menulis niat mereka atau telah tiba di Ludhiana untuk berbai’at. Inilah satu satunya alasan mengapa nama dari 46 orang termasuk Maulvi Abdul  Karim tercantum di dalam “Daftar” sebelum tanggal 22 Maret. Dan untuk alasan inilah kita mendapati nama Munshi  Aroora  Khan tercantum pada tanggal 21 Maret segera setelah sampai di Ludhiana sedangkan nama Munshi Zafar Ahmad dan Mian Mohammad Khan tercatat pada tanggal 23 Maret setelah mereka tiba di Ludhiana. Namun tidak ada keraguan sedikitpun bahwa ketiga orang ini dibai’at pada hari yang sama.

Singkatnya, ini adalah kesimpulan yang positif bahwa daftar nama yang terdapat di beberapa halaman pertama “Daftar” tidak ditulis berdasarkan urutan dilakukannya Bai’at yang sesungguhnya. Sehingga tanggal 19 Rajab 1306 Hijriah atau 21 Maret 1889 tidak dapat diterima sebagai tanggal Baiat Pertama.

Enigma Penanggalan Masehi dan Hijriah

Sekarang tersisa satu kesulitan mengenai penyesuaian penanggalan masehi dan hijriah. Maulvi Abdullah Sannauri telah menyatakan bahwa tanggal 20 Rajab 1306 Hijriah adalah sama dengan tanggal 23 Maret 1889. Namun menurut “At-Taufiqat-ul-Ilhamia”, tanggal 20 Rajab 1306 jatuh pada tanggal 22 Maret 1889.

Saya yakin sepenuhnya bahwa tanggal yang disebutkan oleh Maulvi Abdullah Sannauri adalah benar. Jika ada kesalahan, tidak diragukan lagi terdapat pada bagian kalender Mesir At-Taufiqat-ul-Ilhamia, yang menunjukkan bulan Rajab pada tahun 1306 Hijriah sebagai bulan yang terdiri dari 29 hari. Padahal, bulan tersebut terdiri dari 30 hari. Tanggal 1 Rajab 1306 H jatuh pada tanggal 4 Maret 1889. Pandangan ini juga didukung oleh kalender terkenal bernama “KALENDER UNTUK 125 TAHUN” yang disusun oleh Mian Meraj-ud-Din Umar yang merupakan seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as yang terkemuka, beliau bai’at pada tahun 1889 dan wafat pada tanggal 28.7.1940. Kalender ini diterbitkan pada masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as – pada tanggal 1 September 1906. Pada halaman 217 dari buku ini diberikan berbagai versi penanggalan untuk bulan Maret 1889 sesuai dengan penanggalan Kristen, Islam, Fasli (musiman) dan Bikrami. Bagan tersebut kami tampilkan disini.

tanggal 100 tahun

Dari kalender di atas, sangatlah jelas bahwa tanggal 23 Maret 1889 jatuh pada tanggal 20 Rajab 1336 Hijriah. Oleh karena itu, dipastikan terdapat kesesuaian yang jelas pada tanggal yang diceritakan oleh Maulvi Abdullah Sannauri; sama sekali tidak ada kontradiksi dalam pernyataan beliau. Karenanya, pertanyaan mengenai opini yang berbeda berkaitan dengan tanggal 22 Maret 1889 tidak dapat lagi muncul.

Pembaca juga direkomendasikan untuk mengacu kepada halaman 183 dari “KALENDER SERATUS TAHUN” (1841 – 1940), yang disusun oleh Khawaja Qutbud Din dan dipublikasikan pada tahun 1925 oleh Naami  Press, Lucknow. Kalender ini juga mendukung pendirian kami.

Sebuah Keputusan Yang tak Terbantahkan

Sahibzada Mirza Bashir Ahmad mengatakan dalam sebuat catatan:

“Mian Abdullah Sannauri telah menyatakan bahwa tanggal Baiat Pertama adalah 20 Rajab 1306 atau 23 Maret 1889. Namun menurut “Daftar Bai’at” terlihat bahwa 19 Rajab atau 21 Maret adalah tanggal Baiat Pertama. Ini berarti bahwa tidak hanya terjadi perbedaan dalam hal tanggal, namun juga ada ketidaksesuaian antara penanggalan masehi dan hijriah. Untuk membuktikan hal ini, saya mengacu kepada kalender lama dan menemukan bahwa tanggal 20 Rajab terbukti adalah tanggal 23 Maret 1889. Oleh karena itu, entah apakah  catatan yang dibuat di kemudian hari, ada kesalahan yang dimuat di dalam “Daftar” atau bulannya tidak terlihat pada tanggal yang diberikan di dalam kalender. (Siratul Mahdi Bagian Ill, hal 4, dicetak pada 3 Februari, 1939).

Bukti Lain Yang Menguatkan

Keterangan Sahibzada Mirza Bashir di atas berdasarkan fakta-fakta dan alasan yang kuat. Bukti selanjutnya yang mendukung pandangan kami, didapatkan dari berbagai jurnal dan tulisan-tulisan kontemporer pada periode tersebut. Sebagai contoh, pada saat ini, di depan saya ada berkas lama Mingguan Riaz-I-Hind dari Amritsar. Pemilik dari surat kabar ini, Sheikh Nur Ahmad, adalah sahabat lama Hadhrat masih Mau’ud as. Tidak hanya itu, tiga bagian pertama Barahin Ahmadiyah dicetak di percetakan beliau, namun banyak buku yang ditulis oleh Hadhrat Masih Mau’ud as setelah klaim kedudukan beliau yang  dicetak di percetakan beliau, dihentikan setelah berdirinya Zia-ul-Islam Press di Qadian. Mingguan Riaz-i-Hind dapat memberikan perbedaan dari penerbitan edaran yang terkenal pada tanggal 20 Maret 1886. Catatan perjalanan, pidato dan aktivitas-aktivitas lain Hadhrat Masih Mau’ud as dulunya diterbitkan dan dipublikasikan di surat kabar ini. Dan menurut penelitian terbaru, Riaz-i-Hind adalah satu satunya surat kabar yang memuat berita kabar suka kelahiran Muslih Mau’ud. Di halaman depan surat kabar tersebut yang terbit pada tanggal 21 Januari 1889, tertulis:

“Ini merupakan kebahagiaan terbesar bahwa seorang anak laki-laki telah dilahirkan untuk Mirza Ghulam Ahmad Sahib pada 12 Januari. Semoga ia, putera yang dijanjikan, dikaruniai umur panjang”.

Surat kabar ini biasanya memberikan tanggal hijriah dan juga masehi di halaman depannya. Pada bulan Maret 1889, surat kabar tersebut menerbitkan empat isu dengan tanggal-tanggal berikut: bai

4 Maret 1889 – 1 Rajab-ul-Murajjab 1306 – Senin

11 Maret 1889 – 8 Rajab-ul-Murajjab 1306 – Senin

18 Maret 1889 – 15 Rajab-ul-Murajjab 1306 – Senin

25 Maret 1889 – 22 Rajab-ul-Mura`jjab 1306 – Senin

Tanggal diatas juga memberikan kita bukti yang tak terbantahkan lagi bahwa kalender Mesir At-Taufiqat-ul-Ilhamia telah keliru. Dan hari pertama Rajab yang jatuh pada tanggal 3 Maret 1889 adalah salah, tanggal yang benar adalah tanggal 4 Maret 1889. Dengan demikian, 20 Rajab 1360 H sebagaimana yang dinyatakan oleh Maulvi Abdullah Sannauri jatuh pada tanggal 23 Maret 1889.

Kesimpulan

Dari sudut pandang manapun kita melihat permasalahan ini, kita menemukan bukti yang cukup, baik internal maupun eksternal, semua fakta dan alasan yang kuat, data-data dokumentasi maupun verbal menunjukkan kesimpulan yang tak terbantahkan sejelas terangnya siang bahwa tanggal Baiat Pertama yang benar dan tepat di Ludhiana adalah tanggal 20 Rajab 1306, yang jatuh pada 23 Maret 1889. Dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah Hari Pertama dan Sakral bagi sejarah Ahmadiyah, yang akan tetap diberkahi sampai hari akhir, dan akan selalu mengingatkan kita akan Perintah Illahi, “Ingatlah mereka pada Hari-hari Allah”. Nubuatan dibawah ini yang  diberikan jauh sebelum adanya institusi Bai’at akan terus tergenapi:

“(Allah) akan sangat melipatgandakan kelompok ini dan mendatangkan ribuan orang-orang yang tulus masuk dalam jamaahnya. Dia sendirilah yang akan menyiraminya dan membuatnya tumbuh subur dan mendapat asupan yang baik. Sedemikian banyaknya sehingga jumlah dan perkembangan mereka tertampak aneh oleh mata. Dan mereka akan seperti lampu yang diletakkan di atas tumpuan yang tinggi, menyebarkan cahayanya ke seluruh dunia dan akan menjadi contoh beberkat dari Islam. (Selebaran 4 Maret 1889 tergabung dalam Tabligh-i-Risalat bagian I: hal 155).

Sebuah Doa

“Wahai Tuhan kami yang Maha Kuasa dan Yang Tercinta, karuniailah agar kami dan generasi yang akan datang selalu mengingat hari yang bersejarah ini”.

Kita berdoa semoga komitmen yang menginspirasi jiwa akan terukir dalam hati kita – perjanjian yang diletakkan Hadhrat Masih Mau’ud as kepada setiap orang dari kita pada saat kita Bai’at.

Ya Tuhan kami, mantapkanlah kaki kami dalam setiap langkah

Tidak akan pernah terjadi, hari dimana saya melanggar janji.

Dan seruan terakhir kami adalah Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam

 


Diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh M. A. K. GHAURI

Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Ratu Gumelar

Sumber: Alislam.org

 

(Visited 101 times, 1 visits today)