Menyingkapkan Tabir Keraguan Mengenai orang-orang Ahmadi

a. Keyakinan Ahmadiyah tentang Khataman Nubuwat

Beberapa orang dari kelompok orang-orang yang belum mengenal Ahmadiyah seperti tersebut di atas mempunyai tanggapan demikian bahwa, “Orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada Khātaman Nubuwat dan tidak percaya kepada Rasulullah saw sebagai Khātaman Nabiyyīn”. Hal ini merupakan suatu kepalsuan dan sebagai ekor daripada ketidaktahuan mereka juga. Apabila orang Ahmadi menyebut dirinya orang Islam dan beriman kepada Kalimah Syahadat maka atas dasar apakah ia harus ingkar kepada Khātaman Nubuwat dan tidak percaya kepada Rasulullah saw. sebagai Khātaman Nabiyyīn? Allah SWT. telah jelas berfirman di dalam Al-Qur’an Karim:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّنْ رِّجَا لِكُمْ وَلَكِنْ رَّسُولَ اللهِ وَ خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ

“Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu, melainkan ia adalah Rasulullah dan Khātaman Nabiyyīn”. (Al Ahzab: 40).

Bagaimanakah orang yang mempercayai Al-Qur’an Karim dapat mengingkari ayat ini? Tegasnya orang-orang Ahmadi tidak beritikad bahwa Rasulullah sawnaudzubillāh- bukanlah Khātaman Nabiyyīn. Apa yang dikatakan oleh orang-orang Ahmadi hanyalah demikian bahwa makna tentang Khātaman Nabiyyīn yang dewasa ini populer di kalangan kaum Muslimin itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut; dan begitu pula makna itu tidak menampakkan kemuliaan dan keagungan beliau seperti kemuliaan dan keagungan yang diisyaratkan oleh ayat tesebut.

Jemaat Ahmadiyah mengartikan Khātaman Nabiyyīn sesuai dengan penggunaan umum bahasa Arab dan hal mana diperkuat oleh ucapan-ucapan Siti Aisyah ra, Sayyidina Ali ra, dan para sahabat-sahabat lainnya. Dengan artian itu (yang dikemukakan oleh Jemaat Ahmadiyah), keagungan Rasulullah saw dan martabat beliau bertambah semarak lagi dan terbuktilah olehnya ketinggian beliau dari seluruh umat manusia. Jadi orang-orang Ahmadi tidak mengingkari gagasan dari Khātaman Nubuwat yang dewasa ini secara kesalahan telah tersebar di tengah-tengah kaum Muslimin. Sebab kalau orang mengingkari Khātaman Nubuwat berarti ia kufur. Sedangkan dengan karunia Allah orang Ahmadi itu adalah muslim dan beranggapan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah berjalan di atas rel Islam.

Dari orang-orang yang masih asing terhadap Ahmadiyah ini terdapat beberapa orang yang beranggapan bahwa, “Orang-orang Ahmadi tidak beriman kepada kitab suci Al-Qur’an dengan sepenuhnya, melainkan hanya percaya beberapa juz saja“. Hal ini terbukti ketika baru-baru ini di kota Quetta puluhan orang menemui saya dan menyatakan bahwa, “Kepada kami, ulama-ulama mengatakan bahwa orang Ahmadi tidak mempercayai seluruh isi Al-Qur’an“. Inipun satu tuduhan yang dilemparkan oleh orang-orang yang menaruh antipati terhadap Ahmadiyah. Ahmadiyah percaya bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang tidak akan mengalami perubahan-perubahan dan penghapusan-penghapusan. Ahmadiyah percaya dari huruf awal bismillāh sampai hurup terakhir wannās, bahwasannya tiap-tiap huruf dan perkataannya adalah dari Allah Taala dan menerimanya sebagai hal yang harus diamalkan.

< Previous | Next >

(Visited 79 times, 1 visits today)