Pendakwahan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

b. Pendakwahan Bahwa Kenabian itu Merupakan Hasil dari Fanaa Fii Rasuul


Kemudian jika ada orang yang mempertanyakan,  bagaimana mungkin akan datang Nabi lagi setelah  Rasulullah saw sedangkan beliau adalah  Khãtamun Nabiyyĩn [1],  jawaban sederhananya adalah tidak ada lagi nabi  – baru  atau lama – yang dapat datang dengan cara sebagaimana orang-orang kalian menunggu kedatangan Nabi Isa as di akhir zaman, dan kalian juga percaya bahwa beliau akan menjadi  seorang Nabi dan beliau akan terus menerima wahyu kenabian selama 40 tahun, suatu masa yang melampaui  periode kenabian Rasulullah saw. Keyakinan semacam ini tidak diragukan lagi benar-benar dusta. Ayat berikut:

 [2]وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

dan Hadits:

[3]لا  نبى بعدى

secara tegas membuktikan bahwa keyakinan ini benar-benar  palsu. Saya sendiri sangat menolak keyakinan seperti ini dan  saya percaya sepenuhnya pada ayat:

وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Ayat ini berisi nubuatan yang tak terpikir sedikitpun oleh  para penentang kami. Dalam nubuatan ini Allah Taala berfirman bahwa setelah Rasulullah saw pintu nubuatan  telah tertutup sampai hari kiamat, sehingga tidak akan mungkin lagi bagi seorang Hindu, Yahudi, Kristen ataupun  Muslim untuk menyandang gelar ‘Nabi’; dan semua pintu  yang mengarah pada Kenabian telah tertutup, kecuali pintu SiratSiddiqi,[4]  yaitu tenggelam dalam wujud Rasulullah saw ( fanā fir rasūl ).

Jadi, barangsiapa yang datang kepada Allah melalui pintu  ini, ia akan dianugerahi jubah Kenabian yang sama, yaitu jubah Kenabian Rasulullah saw dengan cara  Zilly.[5] Dengan  demikian, kedudukannya menjadi  Nabi bukanlah hal yang  perlu dicemburui, karena ia tidak mendapatkan status ini dari  dirinya sendiri melainkan berasal dari mata air Rasulullah saw;  dan hal itu juga bukanlah untuk kemuliaannya sendiri  melainkan untuk kemuliaan dan keagungan Rasulullah saw. Dengan alasan inilah di langit ia dinamai ‘Muhammad’ dan  ‘Ahmad’. Jadi Kenabian Muhammad saw, dalam uraian terakhir,  akan kembali kepada Nabi Muhammad saw, dengan jalan  Buruz, [6] bukan dengan jalan yang lain. Jadi ayat:

 [7]مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Artinya adalah:

 [8]لَيْسَ مُحَمَّدٌ أَبَا أٰحَدٍ مِّنْ رِّجَالِ الدُّنْيَا وَلٰكِنْ هُوَ أَبٌ لِرِجَالِ الْأٰخِرَةِ لأَنَّهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ وَلَا سَبِيْلَ اِلٰى فُيُوْضِ اللّٰهِ مِنْ غَيْرِ تَوْسَطِ

Singkatnya, Kenabian dan Kerasulan saya hanyalah  berdasarkan karena jadinya saya sebagai Muhammad dan Ahmad, bukan berasal dari saya; dan saya dianugerahi  nama ini karena pengabdian sempurna saya kepada Nabi Muhammad saw ( fanā fir rasūl ). Dalam cara apapun hal ini tidaklah mengubah pengertian hakiki dari  Khãtamun Nabiyyĩn, sebaliknya keyakinan turunnya Nabi Isa as dari  langit niscaya akan mengubah artinya. *

 

[1] Khatamun Nabiyyin: Stempel para Nabi. [Penerbit]

[2] Akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan materai sekalian nabi.  Al-Ahzab, 33:41 [Penerbit]

[3] Tidak ada Nabi sesudahku. (Bukhari , Kitabul Fada’il, Babu ada’ili Ali bin Abi Talibra; Muslim, Kitabul Fada’il, Babu Min Fada’ili Ali bin Abi Talib ra.) [Penerbit]

[4] Ketaatan sempurna kepada Rasulullah saw seperti yang ditunjukkan oleh Abu Bakar Siddiq ra [Penerbit]

[5] Zilly atau  Zilliyyat artinya pengabdian sempurna kepada Rasulullah saw , dan dengan  peniadaan dirinya seseorang tersebut akan menjadi refleksi dari gambaran  Tuannya saw [Penerbit]

[6] Buruz: manifestasi rohaniah; atau seorang yang menjadi manifestasi rohaniah dari  Nabi atau Orang suci [Penerbit]

[7] Muhammad bukanlah bapak, salah seorang diantara laki-lakimu, akan tetapi ia  adalah Rasul Allah dan materai sekalian nabi.  Al-Ahzab , 33:41 [Penerbit]

[8] Muhammad bukanlah bapak bagi manusia di dunia ini, tetapi dia adalah bapak dari  orang-orang di akhirat karena dia adalah Cap Para Nabi dan tidak ada cara untuk mendapatkan anugerah Ilahi kecuali melalui perantaraannya. [Penerbit]


* Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (2015), Menghapus Sebuah Kesalahan, Jakarta: Neratja Press. hal. 3-6. ISBN: 978-602-0884-08-0

(Visited 84 times, 1 visits today)