Tanda Kebenaran Mirza Ghulam Ahmad

Tergenapinya Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari di Bulan Ramadhan

 

Rasulullah saw menubuatkan bahwa tanda bagi kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman adalah akan terjadi gerhana bulan dan matahari di dalam bulan Ramadhan yang sama. Dan nubuatan itu telah sempurna saat pendakawahan diri Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi.

Berikut kami kutipkan tulisan-tulisan beliau sendiri tentang kebenaran Mirza Ghulam Ahmad melalui peristiwa Gerhana Bulan dan Matahari pada tahun 1894.


“Di masa saya juga gerhana-gerhana matahari dan gerhana bulan telah terjadi di dalam bulan Ramadhan. Di masa saya juga – sesuai dengan hadis-hadis shahih, Al-Quran Syarif, dan kitab-kitab terdahulu – di negeri ini telah timbul [wabah] pes. Dan di masa saya juga telah dijalankan kendaraan baru, yakni kereta api. Dan di masa saya juga – bersesuaian dengan nubuatan-nubuatan saya – telah terjadi gempa-gempa bumi yang menakutkan. Maka kemudian apakah bukan suatu dorongan/gejolak ketakwaan untuk tidak menjadi berani mendustakanku?

Lihat! Aku bersumpah demi Allah Ta’ala, mengatakan bahwa ribuan Tanda telah zahir untuk membuktikan kebenaran saya. Dan [hal itu masih] sedang terus berlangsung. Jika ini suatu rencana manusia, maka sama sekali tidak mungkin timbul dukungan dan pertolongan yang sedemikian rupa”. (Haqiqatul Wahyi:45)

Kemudian beliau as bersabda:

“Dan saya pun bersumpah demi Allah Ta’ala, mengatakan bahwasanya saya adalah Masih Mau’ud (AlMasih yang dijanjikan)! Dan sayalah orang dijanjikan oleh para nabi. Mengenai zaman/masa saya, terdapat beritanya di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran Syarif, bahwa pada saat itu di langit akan terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari, serta di bumi akan merebak [wabah] pes yang dahsyat”. (Dafi’ul Balaa:18)

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Saya bersumpah demi Allah yang di tangan-Nya terletak nyawa saya, bahwa Dia telah menzahirkan tanda ini di langit untuk membuktikan kebenaran saya. Dan Dia menzahirkannya tatkala para maulwi menamakan saya dajjal, kazzab, dan kafir, bahkan yang paling kafir. Inilah dia tanda yang mengenainya telah dijanjikan dua puluh tahun silam di dalam Barahiyn Ahmadiyah. Dan [janji] itu adalah:

قُلْ عِنْدِى شَهَادَةٌ مِنَ اللّٰهِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُؤْمِنُوْنَ – قُلْ عِنْدِى شَهَادَةٌ مِنَ اللّٰهِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Yakni: “Katakan kepada mereka, bahwa padaku terdapat kesaksian dari Allah, apakah kalian akan mempercayainya atau tidak. Lalu katakana kepada mereka, bahwa padaku terdapat kesaksian dari Allah, apakah kalian akan menerimanya atau tidak.”

Hendaknya diingat bahwa walau untuk membuktikan kebenaran saya sudah sangat banyak kesaksian dari Allah Ta’ala – dan lebih dari seratus nubuatan telah sempurna yang mana ratusan ribu orang menjadi saksinya – akan tetapi pemaparan nubuatan tersebut di dalam ilham ini adalah benar-benar untuk suatu pengkhususan. Yakni yang tidak pernah diberikan kepada siapapun semenjak Adam sampai sekarang.

Ringkasnya, sambil berdiri di Ka’bah saya dapat bersumpah bahwasanya tanda ini adalah membuktikan kebenaran saya.” (Tohfah Golerwiyah:53-54)[1]


Gerhana Bulan dan Matahari


Bukti Keabsahan Hadis Daru-Quthni & Jawaban Terhadap Serangan Para Pengeritik

“…Dan mengatakan bahwa para muhadditsin telah mempertanyakan beberapa perawi hadis ini, perkataan itu sebenarnya adalah suatu kekeliruan. Sebab hadis ini merupakan suatu kabar-ghaib yang telah sempurna pada waktunya. Jadi, tatkala hadis ini sendiri telah menzahirkan kebenarannya, maka tidak ada masalah lagi mengenai keabsahan hadis tersebut” (Anjaam-e-Atham: 294).

“Sungguh suatu kecurangan dan pengkhianatan, dimana Allah Ta’ala dari satu segi telah menzahirkan suatu hadis serta telah memberikan bukti yang memuaskan, lalu masih tetap saja [orang-orang] tidak mau meninggalkan pemikiran-pemikiran keliru bahwasanya seseorang telah meragukan perawi tertentu. Hal itu sama saja seperti terbuktinya kematian seseorang melalui uraian para perawi terpercaya, dan kemudian orang yang sudah dinyatakan mati itu muncul. Lalu, walaupun dia muncul, [orang-orang] tetap saja tidak mempercayai hidupnya orang itu, dan mengatakan bahwa ‘Perawi-perawi itu kan sangat terpercaya. Kami tidak dapat mempercayai bahwa dia hidup’. Demikianlah, maulwi-maulwi malang itu memang telah belajar ilmu, namun akal sampai sekarang belum mereka miliki” (Anjaam-e-Atham: 294-295).

“Seandainya diumpamakan bahwa dalam cara penelitian para muhadditsin berkenaan dengan hadis ini terdapat beberapa keraguan, akan tetapi dari segi lain keraguan itu telah hapus. Para muhadditsin tidak mengambil tanggung-jawab terhadap hal ini, bahwa hadis yang menurut mereka memiliki beberapa kelemahan dari segi kaidah tanqid—riwayat kelemahan itu tidak dapat dihilangan dengan cara lain. Seorang pun tidak ada yang menyatakan hadis ini maudhu‘ (rekayasa; diada-adakan). Dan didapati di kalangan Ahli Sunnah maupun Syiah kedua-duanya. Dan ahli-hadis benar- benar mengetahui bahwasanya fatwa para muhadditsin secara mutlak tidak dapat dinyatakan
sebagai dasar benar atau dustanya suatu hadis. Bahkan bisa saja para muhadditsin menyatakan suatu hadis itu muhadditsin dan [ternyata] kabar-ghaib hadis tersebut sempurna pada waktunya. Dan dengan demikian terbukalah kebenaran hadis tersebut. Tujuan utama kita adalah meneliti keabsahan [suatu hadis], bukannya kaidah-kaidah para muhadditsin(Anjaam-e-Atham: 294)

“Nah, cobalah sedikit risih dan malulah, bahwa kalian telah menyatakan dua perawi hadis ini dusta, Amru dan Jabir Ja‘fa. Akan tetapi kedustaan mereka tidak terbukti. Tidak ada seorang pun yang memaparkan bukti syariat akan kedustaan mereka. Justru riwayat gerhana matahari dan gerhana bulan mereka telah terbukti benar. Akan tetapi kedustaan kotor kalian telah terbukti dengan jelasnya sehingga kalian layak memperoleh hukuman di mata Syariat. Dan dusta itu adalah, untuk menyembunyikan kebenaran serta dengan niat membatilkan mukjizat Rasulullah saw., kalian telah merubah tanggal-tanggal gerhana tersebut. Gerhana matahari dan gerhana bulan yang dinubuatkan itu diketahui oleh segenap warga Hindu, Muslim, maupun Kristen. Dan tertera di surat-surat kabar maupun almanak-almanak, bahwa terjadinya adalah demikian, gerhana bulan telah terjadi pada 13 Ramadhan, dan gerhana matahari pada 28 Ramadhan. Sebagaimana pada saat itu juga telah kami cetak di dalam buku kami Nurul Haq, namun untuk menyembunyikan kebenaran, di dalam selebaran kalian yang berjudul:

Tanggal gerhana bulan yang seharusnya 13 Ramadhan itu telah kalian tulis 14 Ramadhan. Sedangkan tanggal gerhana matahari yang seharusnya 28 Ramadhan telah kalian tulis 29 Ramadhan” (Anjaam-e-Atham: 333-334).

“Rincian tanda ini, seperti yang tertera di dalam kitab-kitab hadis, berasal dari keluarga Khairul Mursaliyn. Yakni Daru Quthni telah meriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir…

Demikian pula yang telah dituliskan oleh Baihaqi dan para muhadditsin lainnya. Dan Sahib Risalah Hasyriyah pun telah menerangkan bahwa gerhana matahari serta gerhana bulan ini akan terjadi di dalam bulan Ramadhan” (Najmul Hudaa: 117-118).

“Para penentang kami memang mengakui bahwa gerhana bulan dan gerhana matahari telah terjadi di bulan Ramadhan, serta telah terjadi di abad keempat-belas. Akan tetapi mereka dengan sangat aniaya serta untuk menyembunyikan kebenaran telah memaparkan tiga buah alasan. Para pengamat pikirkanlah sendiri, apakah alasan ini benar?

1) Alasan pertama adalah bahwa beberapa perawi hadis ini bukan dari golongan orang yang dapat dipercaya.

Jawabannya adalah: Jika pada hakikatnya beberapa perawi telah jatuh dari martabat kepercayaan, maka kritikan itu akan terkena pada Daru Quthni, bahwa, mengapa beliau telah mengecoh umat Islam dengan menuliskan hadis seperti itu? Yakni, jika hadis ini tidak layak untuk dipercayai, maka mengapa Daru Quthni menuliskannya di dalam shahih beliau? Padahal beliau itu adalah seorang yang memiliki derajat sedemikian rupa sehingga Shahih Bukhari pun dapat beliau susul. Dan tidak ada seorang pun yang angkat bicara mengkritik beliau. Serta tulisan beliau pun telah melewati masa lebih dari seribu tahun. Namun hingga kini tidak ada seorang ilmuwan pun yang mempermasalahkan hadis ini lalu menyatakannya maudhu’.

Jika ada dari antara para tokoh besar muhadditsin yang menetapkan hadis ini muhadditsin, maka tolong paparkan suatu sikap atau pun ucapan salah satu muhaddis dari antara mereka, yang di dalamnya tertulis bahwa hadis ini muhadditsin(Tohfah Golerwiyah: 133).

2) Kritikan kedua dari para penentang adalah bahwa nubuatan ini tidak sempurna sesuai makna kata-katanya. Sebab gerhana bulan tidak terjadi pada malam pertama Ramadhan, melainkan terjadi pada malam ketiga-belas. Kemudian gerhana matahari tidak terjadi pada tanggal keempat-belas Ramadhan, melainkan telah terjadi pada tanggal keduapulun-delapan.

Jawabannya adalah bahwa untuk gerhana ini Rasulullah saw. tidak ada mematokkan suatu ketentuan baru dari diri beliau sendiri. Melainkan telah mengabarkan tanggal-tanggal gerhana itu sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah dari sejak semula bagi matahari dan bulan. Dan dengan kata-kata jelas beliau bersabda bahwa gerhana matahari akan terjadi pada hari pertengahan dari antara hari-harinya, sedangkan gerhana bulan akan terjadi pada malam pertamanya. Yakni dari tiga malam yang telah ditetapkan Allah untuk gerhana bulan, akan terjadi gerhana bulan pada malam yang pertama. Jadi, demikianlah yang terjadi. Sebab gerhana telah terjadi pada bulan malam ketiga-belas, yang merupakan malam pertama dari malam-malam [biasanya] bulan bergerhana” (Tohfah Golerwiyah: 137-138).

3) Kritikan ketiga yang telah dipaparkan untuk menghapuskan Tanda ini adalah bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan memang kini telah terjadi di dalam Ramadhan. Namun apakah tidak mungkin bahwa Mahdi — yang untuk mendukung serta untuk mengenalinyalah gerhana matahari dan bulan ini telah terjadi — akan lahir pada abad kelima-belas, atau abad keenam- belas,.atau pada abad-abad sesudahnya?

Jawabannya adalah: Wahai orang-orang yang mulia! Semoga Allah mengasihi kalian. Apabila pemahaman kalian sudah sampai sedemikian rupa, maka saya tidak punya kuasa lagi untuk dapat memberikan pemahaman [kepada kalian]. Jelas sekali nyatanya bahwa Tanda-tanda Ilahi itu adalah untuk membuktikan kebenaran dan mengenali para rasul serta para utusan-Nya. Dan itu terjadi pada saat dimana mereka sedang hebat-hebatnya didustakan.

Tidak pernah terjadi dimana suatu tanda itu munculnya hari ini sedangkan orang – yang untuk membuktikan kebenarannya serta untuk memusnahkan kedustaan para penentangnya itulah Tanda tersebut muncul — baru akan lahir setelah seratus atau dua tiga ratus atau ribuan tahun kemudian. Dengan sendirinya nyata bahwa apa pula bantuan yang bisa diberikan oleh tanda-tanda seperti itu kepada pendakwaannya.

Jadi, apalah manfaat tanda-tanda yang sebelum – bukan pada waktunya itu, dan untuk umat mana pula. Sebab orang-orang pada zaman itu sedikit pun tidak dapat mengambil manfaat dari tanda-tanda yang tidak ada sangkut-pautnya itu. Dan orang-orang yang menyaksikan tanda-tanda tersebut sudah akan menyatu dengan tanah semuanya. Dan tidak akan ada yang masih hidup di bumi ini yang dapat mengatakan: “Aku telah melihat dengan mata sendiri gerhana bulan dan gerhana matahari itu”.

Ringkasnya, jika dilakukan pemisahan antara Mahdi dengan tanda-tandanya, maka itu adalah suatu kabar-buruk yang makruh, yang darinya dapat dipahami bahwa Allah Ta’ala sama-sekali tidak berkeinginan untuk membuktikan ke-mahdi-annya melalui tanda-tanda samawi.

Pendeknya, hadis Daru Quthni ini sangat berfaedah bagi umat Islam. la pertama-tama secara mutlak telah menetapkan zaman abad keempat-belas bagi Mahdi yang dijanjikan. Dan yang kedua, untuk mendukung Mahdi tersebut ia telah memaparkan suatu Tanda samawi yang telah dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam sejak 1300 tahun [silam]” (Tohfah Golerwiyah: 140-142).

“Sesuai pernyataan Syaukani (penulis Taudhih), nubuatan gerhana matahari dan gerhana bulan tidak diragukan lagi adalah tergolong marfu‘. Bahkan nubuatan ini ratusan kali lebih kuat dari hadis marfu‘-muttasil. Sebab dengan kesempurnaannya ia telah menzahirkan kebenarannya. Dan Al-Qur’an Syarif telah membenarkan isinya. Lalu kemudian Al-Quran Syarif telah memaparkan suatu nubuatan lain sebagai imbangannya. Yakni nubuatan tentang unta-unta yang tidak akan dipergunakan lagi. Pemaparan tanda-zamini (tanda dari bumi) itu merupakan bukti kebenaran tanda-samawi (tanda dari langit), yakni gerhana matahari dan gerhana bulan. Kedua tanda ini merupakan imbangan bagi satu sama lainnya. Dan demikian pula bukti kebenarannya terdapat di beberapa kitab dalam Taurat. Dan derajat pembuktian ini tidak dimiliki oleh hadis marfu’-muttasil manapun yang tidak disertai oleh hal-hal lazim ini” (Tohfah Golerwiyah:catatan-kaki: 194).

“Tahun kedua-puluh dari abad ini pun telah bermula. Namun mujaddid mereka sampai sekarang tidak juga datang. Langit telah memberikan kesaksian melalui gerhana matahari dan gerhana bulan di dalam bulan Ramadhan. Dan kesaksian ini tidak hanya tertera pada kitab Daru Quthni orang-orang Sunni saja. Bahkan kitab orang-orang Syiah, ‘Akmaluddiyn‘ — yang dianggap sangat terpercaya — pun menuliskan hadis gerhana matahari dan bulan ini sebagai tanda bagi Mahdi yang dijanjikan. Namun walau demikian pun orang-orang ini telah menolak hadis tersebut dengan kecurangan yang nyata. Apakah dalam kondisi dimana kedua firqah tersebut telah sepakat pun hadis ini masih tetap tidak shahih?” (Nuzulul Masih: 385)

Gerhana Matahari & Gerhana Bulan Suatu Tanda Kebenaran Mirza Ghulam Ahmad

“Di dalam hadis, tentang gerhana bulan, yang dipakai adalah kata ‘qomar‘. Jadi, seandainya yang dimaksudkan itu supaya di malam pertamalah terjadi gerhana bulan, maka tentu yang dipakai di dalam hadis bukan kata ‘qomar‘. Melainkan kata ‘hilal‘. Sebab, tidak ada seorang ahli lughat dan ahli-bahasa yang menyebut bulan di malam pertama itu dengan kata ‘qomar‘. Melainkan, terus selama tiga hari [bulan itu] dikenal dengan nama ‘hilal‘…
Jadi, tulisannya seharusnya begini:

Nah, pikirkanlah. Orang-orang ini dikatakan maulwi dengan keilmuannya, [namun] hingga kini mereka tidak tahu bahwa bulan pada malam pertama itu di dalam Bahasa Arab dinamakan apa.

Hendaknya diperhatikan bahwa dari kata ‘Lam takuwna munzu khalqis-samaawaati wal-ardh‘ yang terdapat di dalam hadis ini, telah diambil pengertian bahwasanya gerhana bulan dan gerhana matahari itu akan merupakan suatu mukjizat. Bukan suatu gerhana bulan dan gerhana matahari yang biasa di pandangan astronom.

Kesalah-pahaman ini pun merupakan dalil mutlak yang menyatakan betapa orang-orang ini sama-sekali luput dan kosong dari pengetahuan bahasa Arab serta dari pemikiran ilmiah. Disini kata ‘Lam takuwna‘ itu berkaitan dengan ‘ayaatayn’, yang artinya bahwa kedua Tanda ini tidak pernah diberikan sebelumnya kepada siapa pun, kecuali kepada Mahdi. Jadi, disini dari mana pula telah diambil pengertian bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan itu akan merupakan suatu mukjizat.

Cobalah, mana pula ada kata yang darinya bisa diambil pengertian sebagai mukjizat. Dan tatkala yang dimaksud hanyalah bahwa berlakunya gerhana matahari serta gerhana bulan pada tanggal-tanggal tersebut di dalam bulan Ramadhan itu tidak akan terjadi untuk siapapun [melainkan] terjadi hanya bagi Mahdi yang dijanjikan saja; maka apa perlunya Allah Ta‘ala — bertentangan dengan sistim yang Ia berlakukan sejak awal — menggerhanakan bulan di malam pertama? Padahal [saat itu] bulan sendiri memang tidak kelihatan. Sejak dari permulaan Allah Ta’ala telah menetapkan tanggal-tanggal 13, 14, 15 untuk gerhana bulan, dan tanggal-tanggal 27, 28, 29 untuk gerhana matahari” (Anjaam-e-Atham: 331).

“Di dalam bahasa orang Arab, bulan itu dinamakan ‘qomar’ apabila telah berumur lebih dari tiga hari. Sedangkan selama tiga hari itu namanya adalah ‘hilal’, bukan ‘qomar‘…

Demikianlah di dalam Lisanul-Arab dan sebagainya tentang kata ‘qomar’ tertulis:

Yakni kata ‘qamar’ ilu dipakai untuk bulan setelah tiga malam. Lalu, tatkala bulan yang muncul di malam pertama itu bukanlah ‘qomar’ dan tidak pula padanya terkandung wajah-tasmiyah (unsur sebab-penamaan) ‘qomar’ — yakni padanya terdapat kilauan putih serta cahaya yang kuat — maka bagaimana mungkin arti ini bisa menjadi benar: bahwa akan terjadi gerhana pada ‘qomar‘ di malam pertama…

Wahai saudara-saudara! Takutlah kepada Allah. Tatkala di dalam hadis yang terdapat adalah kata ‘qomar’ dan secara sepakat ia dikatakan ‘qomarr’ — yang merupakan bulan setelah [berumur] tiga hari atau setelah tujuh hari — maka mengapa pula ‘hilal‘ dikatakan ‘qomar‘. Aniaya pun toh ada batas-batasnya.

Sekarang, memperdebatkan nubuatan yang begitu jelasnya serta mengatakan gerhana qomar‘ hendaknya terjadi pada malam pertama dari bulan — yakni tatkala ‘hilal’ muncul di ufuk langit — ini sungguh suatu keaniayaan. Mana itu orang-orang yang menangisi pemikiran-pemikiran seperti ini…” (Tohfah Golerwiyah: 138-139).

“Menurut orang Arab, malam dimana ‘hilal‘ itu [mulai] dikatakan ‘qomar’, bukanlah suatu malam khusus yang di dalamnya tidak ada perselisihan pendapat. Sebagian mengatakan bahwa pada [umur] satu malam, ia tetap merupakan ‘hilal’, dan malam kedua barulah mulai ‘qomar’. Sebagian menyebut bulan pada malam ketiga sebagai ‘qomar‘. Menurut sebagian, sampai tujuh malam ia tetap merupakan ‘hilal’.

Jadi, dalam kondisi demikian, tidak ditentukan suatu malam khusus bagi sempurnanya nubuatan [tsb.]” (I’jaz-e-Ahmadi/Dhamimah Nuzulul Masih: 141).

“Tidak menerima/mengakui Tanda-tanda Allah adalah suatu perkara yang lain lagi. Sebab Tanda yang agung ini, yang mana ribuan ulama dan muhadditsin sebelum saya sangat mengharapkan keajadiannya dan mereka memperingatkan hal itu sambil naik ke atas-atas meja sembari menangis-nangis. Bahkan yang paling akhir adalah Maulwi Muhammad Lakhoke Wale telah menuliskan sebuah syair di dalam buku beliau, ‘Ahwalul-Akhirat‘, mengenai gerhana tersebut pada zaman ini juga, yang di dalamnya diberitahukan masa/saat bagi Mahdi yang dijanjikan.
Dan [syair] itu adalah sbb.:

[Artinya: Di bulan ke-13 dan matahari ke-27 akan terjadi gerhana pada tahun itu di bulan Ramadhan. Demikianlah telah dituliskan oleh seorang perawi.] (Haqiqatul Wahiy: 205)

“Di dalam syair, kata ‘keduapuluh-tujuh‘, adalah kesilapan juru-tulis atau Tuan Maulwi sendiri sebagai manusia telah silap/lupa. Sebab hadis yang mana syair ini merupakan terjemahannya, di dalamnya yang ada bukanlah duapuluh-tujuh, melainkan tanggal duapuluh-delapan” (Haqiqatul Wahiy, eatatan-kaki: 205).

“Seribu-tigaratus tahun kemudian barulah pintu mukjizat Yang Mulia Rasulullah saw. telah terbuka. Dan orang-orang telah menyaksikannya dengan mata mereka sendiri, bahwa gerhana bulan dan gerhana matahari telah muncul bersesuaian dengan hadis Daru Quthni dan Fatawa Ibnu Hajar. Yakni gerhana bulan-dan gerhana matahari terjadi di bulan Ramadhan. Dan sebagaimana isi yang terkandung di dalam hadis, seperti itulah gerhana bulan telah terjadi pada malam pertama dari malam-malam terjadinya gerhana bulan, dan gerhana matahari telah terjadi pada hari pertengahan dari hari-hari terjadinya gerhana matahari. [Yaitu] pada suatu masa dimana terdapat seseorang yang mendakwakan diri sebagai Mahdi” (Ayyaam-e-Sulh: 305-306).

“Saya dapat bersumpah berdiri di Ka’bah, bahwasanya Tanda ini adalah untuk membuktikan kebenaran saya. Bukan untuk membuktikan kebenaran seseorang yang belum pernah didustakan dan mengenainya belum pernah timbul kehebohan berupa tuduhan kafir, tuduhan dusta, dan tuduhan fasiq. Dan demikian pula saya dengan bersumpah berdiri di Ka‘bah dapat mangatakan bahwa dari Tanda ini telah terjadi penetapan abad. Sebab, ketika Tanda ini telah muncul di abad ke-14 untuk membuktikan kebenaran seseorang, maka sudah tetaplah bahwasanya Yang Mulia Rasulullah saw. pun telah menetapkan abad ke-14 juga bagi kemunculan Mahdi” (Tohfah Golerwiyah: 143).

“Tidak pernah terjadi bersamaan gerhana bulan dan gerhana matahari di dalam bulan Ramadhan pada masa seorang rasul, atau nabi, atau muhaddats. Dan semenjak dunia tercipta, tidak pernah terjadi bersamaan gerhana bulan serta gerhana matahari pada masa seorang yang memiliki pendakwaan risalat, atau nubuat, atau muhaddatsiyat.

Dan kalau ada yang mengatakan bahwa pernah terjadi bersamaan, maka tanggung-jawabnya lah untuk membuktikan. Akan tetapi makna hadis [itu] bukanlah bahwa gerhana bulan dan gerhana matahari akan terjadi di bulan Ramadhan sebelum kemunculan sang Mahdi. Sebab, dalam bentuk demikian, mungkin saja setelah melihat gerhana bulan serta gerhana matahari di bulan Ramadhan itu maka setiap pendusta mendakwakan diri sebagai Mahdi. Dan perkara itu menjadi kabur/meragukan. Sebab setelah itu mudah saja untuk mendakwakan diri. Dan tatkala sesudah itu berbagai pendakwa bermunculan, maka tidak ada seorang pun yang dapat dianggap benar dengan jelas.

Justru maksud hadis [itu] adalah sesudah pendakwaan Mahdi yang dijanjikan. Bahkan beberapa saat setelah itu Tanda ini muncul sebagai pendukung dakwaan [tersebut]. Sebagaimana yang terbukti dari:

Dan dengan cara ini tidak ada seorang pendusta pun yang bisa tampil dan tidak ada suatu rencana/makar pun yang bisa berjalan. Sebab kemunculan Mahdi sudah terjadi sebelumnya, kemudian barulah terjadi gerhana sebagai pendukung dakwa tersebut. Bukannya setelah melihat kedua hal itu baru sang Mahdi menongolkan kepalanya. Tanda-tanda [bersifat] penyokong semacam itu pun untuk Junjungan kita saw. telah tertulis di dalam kitab-kitab terdahulu. [Yaitu] yang muncul setelah kenabian Rasulullah saw., dan telah menjadi bukti-kebenaran serta penyokong pendakwaan [beliau].

Ringkasnya, kemunculan Tanda-tanda seperti ini sebelum pendakwaan adalah tidak bermakna serta tidak berguna. Sebab di dalamnya banyak peluang dusta. Dan disitu pun terdapat kenyataan lain lagi, bahwa kemunculan gerhana bulan dan gerhana matahari serta Mahdi di dalam bulan Ramadhan, adalah suatu hal yang luar-biasa. Sedangkan sekedar menyatunya gerhana bulan serta gerhana matahari, bukanlah suatu hal yang luar-biasa” (Anwarul-Islam: 48-49).

“Dari sekian tanda-tanda, sebuah Tanda adalah terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari di dalam bulan Ramadhan. Sebab di dalam Daru Quthni dengan jelas tertulis bahwa untuk membuktikan kebenaran Mahdi yang dijanjikan, dari Allah Ta’ala akan ada sebuah Tanda, bahwa di dalam bulan Ramadhan akan terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari.

Ternyata demikianlah gerhana itu telah terjadi. Dan tidak ada seorang pun yang dapat membuktikan bahwa sebelum saya ada juga orang yang mendakwakan diri dimana pada saat pendakwaannya itu telah terjadi gerhana bulan dan matahari dalam bulan Ramadhan. Jadi, ini adalah suatu Tanda yang sangat berbobot yang telah dizahirkan dari langit oleh Allah Ta’ala. Tidak ada suatu kemusykilan di dalam hadis Daru Quthni. Sebagaimana yang telah terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari itu, pada hakikatnya adalah bersesuaian dengan kata-kata hadis. Demikianlah bahwa saya telah menulis sebuah buku dalam bahasa Arab berkenaan dengan gerhana bulan dan gerhana matahari di bulan Ramadhan. Di dalamnya telah diuraikan dengan rinci hadis tersebut” (Anjaum-e-Atham: 293-294).

“Semenjak dunia ini diciptakan, tidak pernah dialami oleh seorang pendakwa pun bahwa pada saat pendakwaannya telah terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari di dalam bulan Ramadhan pada tanggal-tanggal tersebut.

Sabda Rasulullah saw. itu bukanlah bermaksud supaya gerhana bulan dan gerhana matahari itu muncul bertentangan dengan hukum-hukum qudrat; serta bukan pula di dalam hadis itu terdapat kata yang demikian. Justru maksudnya hanyalah bahwa sebelum sang Mahdi itu tidak pernah terjadi bagi seorang pendakwa yang benar maupun yang pendusta, bahwa dia melakukan pendakwaan ke-mahdi-an maupun kerasulan sementara pada saat itu telah terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari di dalam bulan Ramadhan pada tanggal-tanggal tersebut.

Jadi, para maulwi ini jika menyangsikan keabsahan nubuatan itu, maka mereka hendaknya memaparkan sebuah contoh dari zaman sebelumnya melalui suatu kitab dimana tertulis bahwa pendakwaan yang seperti ini sudah pernah terjadi dan pada saat itu gerhana bulan serta gerhana matahari seperti ini pun telah terjadi. Akan tetapi mereka tidak pernah berpaling ke arah ini” (Anjaam-e-Atham: 330).

“Tanda adalah untuk orang yang memang tidak diterima. Sangat disayangkan bahwa ulama-ulama bodoh serta para fuqara angkuh kita tidak berpikir bahwasanya tanda-tanda dan di dalam hadis-hadis pun terdapat-tanda ini bagi Mahdi yang dijanjikan, yakni sebelumnya dia akan dinyatakan kafir dengan hebatnya, lalu untuk membuktikan kebenarannya lah akan terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari di bulan Ramadhan.

Jadi, sangat jelas sekali sempurnanya Tanda ini. Apakah hingga kini orang-orang itu dapat dikatakan muttaqi dan bertakwa, yaitu yang tidak memberikan perhatian pada kebenaran walaupun telah zahir Tanda yang sedemikian“ rupa nyatanya? Di dalam hati mereka tidak timbul rasa takut terhadap Allah Ta’ala. Betapa di dalam hati mereka terdapat gembok-gembok kunci, yakni mereka sedikit pun tidak mengambil manfaat dari sebuah pembuktian-kebenaran” (Anjaam-e-Atham: 296-297).

“Wahai para maulwi Islam yang tidak punya malu! Cobalah buka mata kalian sedikit! Dan lihatlah, betapa kalian telah melakukan kesalahan. Maut adalah lebih baik daripada kehidupan bodoh.

Nyata dengan jelas bahwa di dalam hadis ini gerhana matahari dan gerhana bulan itu tidak dinyatakan sebagai sesuatu yang tiada bandingannya. Melainkan, ia dinyatakan tiada bandingannya adalah dalam hubungan dimana ia terjadi bersamaan dengan sang Mahdi. Yakni, maksudnya adalah bahwa gerhana bulan dan gerhana matahari demikian, yang dari segi tanggal serta bulannya berkaitan erat dengan sang Mahdi, kaitan itu sebelumnya tidak pernah terjadi dengan siapa pun. Dan tafsir pernyataan ini adalah sebagai berikut:

Keduanya ini secara khusus telah diberikan kepada sang Mahdi. Sebelumnya tidak pernah diberikan kepada siapa pun. Dan kata ‘Lam takuwna‘ menjelaskan ‘aayaatayn‘, bahwa keduanya telah dikhususkan bagi sang Mahdi.

Yang menjadi tujuan bukanlah menerangkan kondisi ajaib/aneh dari gerhana bulan dan gerhana matahari. Melainkan, yang dimaksudkan di dalam ungkapan itu adalah pengkhususan kedua tanda tersebut dengan sang Mahdi. Jadi bukannya supaya diuraikan tentang suatu kondisi ajaib dari gerhana bulan dan gerhana matahari. Dan kalaupun yang dimaksudkan adalah untuk menjelaskan kondisi ajaib, maka ungkapannya haruslah seperti ini:

Yakni akan terjadi gerhana bulan dan matahari dengan cara yang sedemikian rupa bahwa sebelumnya, semenjak langit dan bumi ini diciptakan, tidak pernah terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari seperti itu.

Kini sudah saya uraikan benar-benar, lalu memperlihatkannya dengan membukakan makna-makna yang sebenarnya. Sekarang pun jika masih ada yang tidak mengerti, maka ia [dapat] dikatakan gila. Dan walaupun dari kata-kata nubuatan itu sama-sekali tidak tersirat bahwa gerhana bulan serta gerhana matahari tersebut akan terjadi secara ajaib, akan tetapi untuk mempermalukan para maulwi ini Allah Ta’ala telah meletakkan suatu perkara yang luar-biasa di dalam gerhana bulan dan gerhana matahari ini. Demikianlah bahwa pada bulan Maret 1894, Pioneer dan Civil Military Gazzette telah menyatakan bahwa: ‘Gerhana bulan dan matahari yang akan terjadi pada tanggal 6 April 1894 ini, sedemikian rupa ajaib/anehnya bahwa sebelumnya tidak pernah terjadi dalam corak dan bentuk seperti itu’.

Lihatlah, orang-orang kafir memberikan kesaksian bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan ini adalah suatu hal yang luar-biasa. Sedangkan para maulwi mengeritiknya” (Anjaam-e-Atham: 332-333).

“Dan kemudian ada keraguan yang dikemukakan oleh Abdullah Ghaznawi, bahwa: ‘Kata-kata berkenaan dengan gerhana bulan dan gerhana matahari [itu] membuktikan bahwa setelahnya lah sang Mahdi akan muncul. Sedangkan ini adalah tahun keempat setelah pendakwaan dan kemunculan Mirza Qadiani‘.

Namun tetaplah ingat bahwa ini pun merupakan tipuan dan makar orang yang tak berguna itu. Kata-kata jelas dari hadis adalah:

Yakni, ada dua Tanda untuk membuktikan kebenaran dan mendukung Mahdi kita. Jadi, ‘Laam‘ yang berfungsi untuk [menjelaskan] kegunaan/bagi, dengan jelas membuktikan bahwa kemunculan sang Mahdi sebelum gerhana bulan dan gerhana matahari itu adalah mutlak. Dan Tanda gerhana matahari serta gerhana bulan itu telah terjadi setelah kemunculannya, serta telah ditampakkan untuk membuktikan kebenarannya.

Dan untuk menzahirkan tanda-tanda, kebiasaan Allah pun demikian bahwa [tanda-tanda] itu adalah untuk membuktikan kebenaran pendakwaan seorang pendakwa. Bahkan [tanda-tanda] itu terjadi pada masa pendustaan/penentangan atas diri si pendakwa tersebut sedang hebat-hebatnya dilancarkan. Dan beberapa tanda yang zahir sebelum saatnya, namanya bukan-lah ‘nisyaan’ (tanda), melainkan namanya adalah ‘irhaas’ (pengantar/pendahulu).

[Kata] ‘aayat‘ (آيت) yang terjemahannya adalah ‘nisyaan'(tanda), sebenarnya berasal dari kata ‘iywaa‘ (ايواء), yang artinya adalah memberikan perlindungan. Jadi, saat yang tepat untuk kata ‘aayat‘ itu adalah ketika seorang utusan Allah didustakan. Dia dinyatakan pendusta. Barulah pada waktu itu, untuk menarik orang yang tak berdaya itu ke dalam perlindungan-Nya, Allah Ta‘ala memperlihatkan beberapa perkara yang luar biasa. Namanya adalah ‘aayat‘, yang artinya ‘nisyaan‘ (tanda)” (Anjaam-e-Atham: 334).

“Tidaklah bahwa ketika nama serta ciri sang pendakwa belum lagi muncul dan ternyata tanda sudah muncul sebelumnya. Dan tanda yang demikian itu tidak ada gunanya. Sebab mungkin saja sesudah melihat tanda-tanda, lalu banyak bermunculan orang-orang yang mendakwakan diri. Ini pun hendaknya dipikirkan, bahwa sekarang merupakan tahun ketiga bagi gerhana bulan dan gerhana matahari [itu]. Cobalah katakan, mana pula ada mahdi lain telah lahir, yang menurut kalian adalah benar?

Selain itu, Tanda gerhana bulan dan gerhana matahari adalah suatu tanda murka dan peringatan, yang seyogyanya muncul untuk orang-orang yang gencar mendustakan. Dan pada akal mereka telah terjadi gerhana ‘kesesatan/kegelapan’. Nah, tatkala wujud sang Mahdi saja belum ada, siapa pula orang yang akan mendustakannya, yakni [orang-orang] yang untuk menakut-nakuti merekalah Tanda peringatan ini zahir? Sedangkan orang yang akan dimurkai pun belum ada?

Ini pun hendaknya dipahami, bahwa di dalam setiap tanda itu selalu terkandung suatu rahasia/hikmah. Jadi, telah kami terangkan bahwa hikmah di dalam gerhana bulan dan gerhana matahari ini adalah supaya gambaran kondisi keaniayaan/keterlaluan para ulama itu — yang timbul di dalam diri mereka akibat sikap mendustakan tersebut — akan dizahirkan di langit. Gerhana bulan dan gerhana matahari di langit, merupakan bayangan serta dampak dari gerhana bulan dan gerhana matahari pada diri para ulama. Dan sebelumnya telah dikabarkan bahwa para ulama akan mendustakan serta mengafirkan sang Mahdi yang dijanjikan itu” (Anjaam-e-Atham: 335).

“…Bulan dan matahari telah disatukan, sebagaimana yang tertera di dalam Quran Syarif. Dan keduanya di bulan Ramadhan Syarif telah terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan. Seperti halnya telah terjadi Syaqqul-qamar di zaman Rasulullah saw….

Lihatlah ke arah karunia Allah Ta’ala. Sebab Dia telah menzahirkan untukku sebuah saksi dari langit, serta sebuah saksi dari bumi, dan sebuah dari keduanya. Dan Dia telah memperlihatkan sinar terang siang-hari” (Khutbah Ilhamiyah:94-95).

“lngatlah, bahwa di dalam Al-Quran Syarif, ayat:

mengisyaratkan kepada gerhana matahari dan gerhana bulan ini” (Dhamimah Tohfah Golerwiyah:63).

“Dan perkara yang paling aneh adalah bahwa sekitar 15 tahun sebelum peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan [ini], di dalam Barahiyn Ahmadiyah telah diberikan kabar tentang peristiwa tersebut. Dan ini pun diberitahukan juga bahwa pada saat kemunculannya, orang-orang aniaya tidak akan mengakui Tanda itu, dan akan mengatakan bahwa itu senantiasa terjadi. Padahal bentuk yang seperti itu tidak pernah terjadi semenjak adanya dunia, [yakni] dimana ada seseorang yang mendakwakan diri sebagai Mahdi dan pada zamannya telah terjadi gerhana matahari serta gerhana bulan di dalam satu bulan yang sama, yaitu Ramadhan” (Dhamimah Tohfah Golerwiyah: 63).

“Lihatlah, betapa nubuatan ini telah sempurna dengan jelasnya. Dan pada waktu pendakwaan saya, di bulan Ramadhan, di abad ini juga, yakni abad keempat-belas tahun 1311 Hijriah, telah terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari. Falhamdulillah ala zaalik(Tohfah Golerwiyah: 132).

“Kemudian, sebuah bukti berkenaan dengan abad keempat-belas adalah, bahwa seorang tokoh suci telah menerbitkan sebuah syair tentang mimpinya sejak beberapa kurun waktu yang lalu. Ratusan ribu orang mengetahuinya. Di dalam kasyaf itu pun yang tertulis adalah bahwa Mahdi yang dijanjikan, yakni Masih Mau‘ud, akan muncul di awal abad ke-14. Syair itu adalah sbb.:

Terjemahan syair ini adalah, bahwa apabila sebelas tahun dari abad ke-14 akan berlalu, maka di langit akan terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari. Dan itu akan merupakan Tanda kemunculan Mahdi dan Dajjal. Di dalam syair ini, sang penulis tidak menuliskan ‘Masih’ sebagai bandingan/padanan Dajjal. Melainkan yang ditulis adalah Mahdi. Di dalamnya terdapat isyarah bahwa Mahdi dan Masih itu keduanya merupakan satu adanya” (Tohfah Golerwiyah: I32).

“Di dalam hadis Daru Quthni tidak ada tertera bahwa sebelumnya tidak pernah terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari. Yaa, dengan jelas terdapal kata-kata ini bahwa sebagai suatu Tanda, gerhana matahari dan gerhana bulan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebab di dalam Daru Quthni kata ‘Lam takuwna‘ adalah dengan sighah muannas (feminin-gender), yang artinya adalah bahwa Tanda seperti ini tidak pernah terjadi. Dan kalau yang dimaksudkan itu adalah bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan belum pernah terjadi sebelumnya, maka seharusnya adalah ‘Lam yakuwna‘ dengan sighah muzakkar (masculine-gender). Bukan ‘Lam takuwna‘ yang mecrupakan sighah muannas. Dari itu dengan jelas diketahui bahwa yang dimaksudkan olehnya [‘belum pernah terjadi‘] itu adalah ‘aayatayn’, yakni dua buah Tanda” (Casma-e-Makrifat: 329).

“Bakal terjadinya gerhana bulan dan matahari merupakan suatu nubuatan yang sangat mashur. Sampai-sampai ketika Tanda ini zahir di Hindustan, maka menjadi bahan pembicaraan di setiap lorong dan sudut kota Mekkah Mu’azzamah, bahwasanya Mahdi yang dijanjikan telah lahir. Seorang teman yang pada masa-masa itu tengah berada di Mekkah, menuliskan di dalam surat bahwa ketika orang-orang Mekkah mendapat kabar gerhana matahari dan bulan – yakni sesuai dengan kata-kata hadis, telah terjadi gerhana di bulan Ramadhan — maka mereka melompat-lompat kegirangan bahwa kini telah tiba saat kemajuan Islam dan sang Mahdi telah lahir. Dan sebagian orang, dikarenakan kesalahan-kesalahan jihad pada masa lampau, telah mulai membersihakn senjata mereka, bahwa sekarang akan terjadi pertempuran dengan orang-orang kafir.

Ringkasnya, terus-menerus terdengar bahwa bukan hanya di Mekkah saja, bahkan di seluruh negara Islam telah bangkit kehebohan besar dan kegembiraan yang amat sangat setelah mendapat berita gerhana matahari dan gerhana bulan itu. Dan para astronom pun memberikan kesaksian bahwa di dalam gerhana matahari serta gerhana bulan itu terdapat suatu keunikan yang khas. Yakni suatu keunikan yang tiada bandingannya. Dan untuk menyaksikan keunikan tersebut, oleh para pemikir Inggris telah didirikan tempat observasi di sebuah tempat di negeri ini. Dan para astronom Barat dari negara-negara jauh di Amerika dan Eropa, telah berdatangan untuk menyaksikan keunikan gerhana matahari dan gerhana bulan [tersebut]. Sebagaimana pada masa-masa itu keunikan gerhana bulan dan gerhana matahari [ini] telah dicetak dengan rinci di dalam majalah Civil Military Gazzette dan demikian pula surat-surat kabar Inggris lainnya serta beberapa surat-kabar Urdu” (Tohfah Golerwiyah: 154-155).

“Tanda samawi gerhana bulan dan gerhana matahari, telah terjadi di dalam bulan Ramadhan yang benar-benar bersesuaian dengan ayat suci ‘Wajumi‘a syamsyu wal-qamar’ (Al-Qiyamah:10) dan hadis Daru Quthni” (Tohfah Golerwiyah: 194).

“Untuk menghancurkan helah para pengingkar, Allah benar-benar telah mengatur hal ini. Yaitu telah menetapkan empat Tanda penting bagi Masih Mau’ud:
(l) Pertama adalah: kelahirannya, dalam corak kelahiran Adam a.s, akan terjadi di akhir ribuan keenam.
(2) Kedua adalah : kemunculan dan kedatangannya akan terjadi di awal abad.
(3) Ketiga adalah : pada waktu pendakwaannya akan terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari di langit dalam bulan Ramadhan.
(4) Keempat adalah: pada masa pendakwaannya, di dunia akan lahir kenderaan lain sebagai pengganti unta.
Kini nyatalah bahwa keempat Tanda ini telah zahir“ (Tohfah Golerwiyah:catatan- kaki:252).

“…Mengatakan bahwa berdasarkan sunnatullah terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan bukanlah suatu perkara yang luar biasa, adalah kebodohan lain. Tujuan sebenarnya dari nubuatan ini bukanlah menjanjikan suatu keajaiban yang luar-biasa. Melainkan, tujuan sebenarnya adalah menerangkan sebuah Tanda yang tidak dialami oleh yang lainnya” (Dhamimah Nuzulul Masih/I’jza-e-Ahmadi: 141).

“Syiah dan Sunni, kedua kelompok ini telah menanti-nanti gerhana matahari dan gerhana bulan ini sejak l300 tahun lamanya. Namun tatkala sudah muncul, mereka mendustakannya. Apakah ada makna lain lagi dari ke-Yahudi-an?” (Nuzulul Masih: 406).

“Bagi seorang Mahdi Mau’ud yang hakiki telah ditetapkan sebuah Tanda, bahwa pada masa-masa pendakwaannya — tatkala dia akan didustakan, dan dia membutuhkan Tanda tersebut — maka barulah akan terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari di dalam bulan Ramadhan pada tanggal-tanggal itu” (Nuzulul Masih, catatan kaki: 506).

Ini adalah ayat Surah Al-Qomar dalam menerangkan mukjizat syaqqul qamar (terbelahnya bulan). Pada saat itu orang-orang kafir merujuk tanda syaqqul qamar — yang merupakan semacam gerhana — lalu mengatakan bahwa: ‘Di dalamnya tidak ada perkara yang ajaib. Dari sejak semula memang selalu demikian. Bukan merupakan perkara yang luar biasa’. Jadi, ayat itu jugalah yang telah dipaparkan Allah Ta’ala di dalam ilham ini:

(Barahiyn Ahmadiyah:498)

[Dengan itu] Dia mengisyaratkan bahwa kepada orang-orang ini pun akan diperlihatkan Tanda gerhana bulan, dan orang-orang yang ingkar akan mengatakan sama apa yang telah dikatakan oleh Abu Jahal dan yang lainnya. Yakni, ‘Memang demikianlah dari sejak awal selalu terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari. Hendaknya yang luar biasa, supaya kami percaya’.

Nah, lihatlah, betapa agungnya nubuatan ini, yaitu yang telah ditulis 12 tahun sebelum gerhana bulan dan gerhana matahari [tersebut]” (Nuzulul Masih: 506-507).

“Seluruh surat-kabar lnggris maupun Urdu dan sejumlah astronom menjadi saksi bahwa di zaman saya ini juga — yang peristiwanya sudah berlalu sekitar 12 tahun silam — telah terjadi gerhana bulan dan matahari dengan ciri demikian pada bulan Ramadhan. Dan sebagaimana telah diterangkan di dalam sebuah hadis lainnya, gerhana ini dua kali telah terjadi di bulan Ramadhan. Yang pertama di negara ini. Yang kedua di Amerika. Dan kedua-duanya terjadi pada tanggal-tanggal yang telah diisyaratkan oleh hadis. Dan dikarenakan pada masa gerhana itu selain saya tidak ada di muka bumi ini orang yang mendakwakan diri sebagai Mahdi yang dijanjikan — dan tidak pula ada seorang pun, seperti saya, yang menyatakan gerhana tersebut sebagai Tanda ke-mahdi-annya, lalu menyebarluaskan ke seluruh dunia ratusan selebaran dan risalah bahasa Urdu, Farsi, dan Arab — oleh sebab itu Tanda samawi ini telah ditetapkan untuk saya. Dan dalil kedua akan hal itu adalah, 12 tahun sebelum kemunculan Tanda ini, Allah “Ta’ala telah mengabarkan kepada saya perihal tanda tersebut, bahwa akan muncul Tanda yang demikian. Dan kabar itu tertera di dalam Barahiyn Ahmadiyah yang telah tersebar di kalangan ratusan ribu orang, sebelum Tanda tersebut muncul” (Haqiqarul Wahiy: 202).

“Ini adalah suatu Tanda sedemikian rupa yang melaluinya Allah Ta’ala mengumumkan ke seluruh dunia perihal seseorang yang datang/diutus. Demikianlah bahwa orang-orang Arab pun sesudah melihat Tanda ini telah mengatakan [sesuatu yang] benar sesuai selera mereka. Ketempat mana saja selebaran kami yang berupa pengumuman itu tidak sampai, maka disana gerhana bulan dan gerhana matahari ini telah mengumumkan tentang masa seseorang yang datang/diutus. lni adalah Tanda dari Allah, yang benar-benar suci dari perencanaan-perencanaan manusia. [Tidak perduli] filsuf bagaimana pun seseorang itu, ia dapat menela’ah serta memikirkan, bahwa tatkala Tanda yang sudah ditentukan itu telah sempurna maka mutlak bahwasanya orang yang digenapi [Tanda] itu pun sudah ada di suatu tempat” (Malfuzaat jld.I: 30-31).

“Sebagian orang mengatakan bahwa berdasarkan ilmu astronomi memang terbukti biasa terjadi demikian di bulan Ramadhan. Dengan mengatakan itu seolah-olah mereka ingin mengurangi nilai hadis yang berasal dari Imam Muhammad Baqir ‘alaihis-salaam‘. Akan tetapi orang-orang bodoh ini tidak berpikir bahwa tidak semua orang bisa memberikan nubuatan. Nubuat [artinya] adalah memberikan kabar-ghaib. Yakni bukan pekerjaan setiap orang untuk memberikan kabar-ghaib kesana-kemari. Rasulullah saw. telah bersabda bahwa: ‘Gerhana matahari dan gerhana bulan akan terjadi di dalam bulan Ramadhan pada zaman seseorang yang mendakwakan diri sebagai Mahdi dan Masih’. Jika secara akal ada suatu keraguan, maka para penentang demikian hendaknya [dapat] mengurangi kehebatan kabar-ghaib ini dari segi sejarah. Yakni memberitahukan suatu masa dimana telah terjadi gerhana matahari serta gerhana bulan dalam bulan Ramadhan sedemikian rupa yang mana sebelumnya seorang pendakwa pun telah mendakwakan diri, dan sebagai bukti pendakwaannya itu telah pula dinubuatkan pada zaman seorang nabi sebelumnya tentang gerhana matahari dan gerhana bulan di bulan Ramadhan [tersebut]. Namun tidak mungkin ada yang bisa membuktikan demikian” (Malfuzaat Jld.I: 89).

“Yang menjadi tujuan adalah mengabarkan suatu Tanda. Maka Tanda itu telah terbukti benar. Jika tidak terbukti benar, maka paparkanlah suatu contoh peristiwa seperti ini dari lembaran sejarah. Dan ingatlah, bahwa sama-sekali kalian tidak akan dapat memaparkannya“ (Dhamimah Nuzulul Masih/I‘jaz-e-Ahmadi: 142).

“…[Mereka] membaca di dalam hadis-hadis bahwa pada zaman Mahdi akan terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan dalam bulan Ramadhan. Dan selama Tanda itu belum sempurna, selama itu pula mereka terus ribut/heboh bahwa Tanda tsb. belum juga sempurna. Tetapi kini, hampir seluruh dunia menjadi saksi bahwa Tanda ini sudah sempurna. Sampai-sampai di Amerika pun telah sempurna. Dan di negara-negara lainnya pun sudah sempurna. Dan sekarang orang-orang yang dulu menyatakan Tanda ini sebagai tanda-tanda sang Mahdi, ketika ia sempurna justru mereka lah yang mendustakannya dengan mulut mereka sendiri….
Semoga Allah Ta‘ala mengasihi keadaan mereka. Ada laknat atas penentangan terhadap diri saya. Sebab mereka pun mendustakan kabar-ghaib Rasulullah saw.” (Malfuzaat J1d.III: 13-14).

“Seorang sahabat saya menerangkan bahwa ketika Tanda ini sempurna, ada seorang maulwi bernama Ghulam Murtadha, pada waktu gerhana bulan dia memukul-mukul kedua pahanya sambil berkata, ‘Sekarang dunia akan menjadi sesat’. Pikirkanlah, dia itu menginginkan kebaikan bagi dunia melebihi Allah Ta‘ala. Betapa dia telah melakukan kesalahan” (Malfuzaat J1d.IX: 158).

“Dengan memperlihatkan gerhana bulan dan gerhana matahari dari langit di dalam bulan Ramadhan tepat pada tanggal-tanggal yang telah ditetapkan, [Dia] telah memberikan kesaksian tentang zahirnya Mahdi yang dijanjikan ini” (Triyaqul Qulub: 157).

“Dikalangan surat-kabar yang dikutip oleh harian Tribune 8 Juli 1899, telah diterbitkan sebuah nubuatan seorang ahli-nujum terkemuka, bahwa bersamaan dengan tahun 1900 M akan bermula suatu era baru. Dan kedua tahun, yakni 1890 M dan 1900 M, menutup era luar biasa yangmana atas penutupan itu matahari akan masuk ke dalam sebuah buruj baru dari gugusan bintang dalam zodiak. Dan akibat pengaruh astronomi tersebut — yakni ketika matahari masuk ke dalam suatu buruj baru, sebagaimana yang selalu terjadi dari masa awal – pada tahun 1900 M akan muncul seorang auvtar baru dari Masih Kalimatullah dan seorang Mazhar Ilahi. Dan dia akan merupakan masil/duplikat daripada Masih. Dan dia akan menyadarkan dunia lalu menganugerahkan sebuah kehidupan yang mulia. Lihat Tribune 8 Juli 1899, terbitan Lahore“ (Triyaqul Qulu/1, catatan kaki: 157).

“Sebenarnya orang-orang ini, bersamaan dengan kehebatan-kehebatan mereka sebagai syeihul-Islam, juga memiliki keangkuhan bahwasanya mereka sangat mahir dalam bidang astronomi. Wahai hamba-hamba Allah! Semoga Allah mengasihi keadaan kalian! Darimana pula kalian bawa [ilmu] baru ini! Sedangkan Socrates saja tidak mengetahuinya, demikian pula Pitagoras. Anak-anak kecil mengetahui bahwa gerhana matahari telah ditetapkan di dalam hukum qudrat pada tanggal-tanggal 27, 28, dan 29 dari hari-hari bulan Qomariah. Sedangkan gerhana bulan terjadi pada malam-malam ke-13, 14, dan 15 dari bulan Qomariah. Jadi, berdasarkan ilmu astronomi bagaimana mungkin keduanya dapat menyatu terjadi dalam satu saat yang bersamaan? Kaedah astronomi kalian ini suatu perkara aneh yang bukan saja kami tidak mengetahuinya, bahkan para astronom lainnya pun tidak tahu. Pendakwaan [kalian] yang sedemikian rupa atas ilmu astronomi sungguh hebat. Dan bicara bertentangan dengan itu pun [kalian] sangat hebat. Sungguh hebat ilmu itu, dan sungguh hebat keahlian di bidang astronomi ini” (Majmu’ah Isytiharaat jld. II: 324)

“Mengatakan ini adalah tidak benar, bahwa pada malam pertama Ramadhan gerhana hanya tampak di Punjab dan negeri-negeri /kawasan sekitarnya. Sedangkan tandanya tidak tampak di negeri-negeri lain. Nah, dalil itu tidak sempurna. Kenapa kita mengatakan bahwa maksud nubuatan ini terbatas pada negeri-negeri ini saja. Adalah karena negeri ini terbatas untuk Masih Mauud dan Mahdi Akhir Zaman. Namun, di negeri-negeri lain tidak ada Mahdi, dan tidak pula ada Isa. Dan dari segi ini pulalah gerhana bulan serta gerhana matahari tidak tampak di negeri-negeri Arab dan Syam, supaya Allah Ta’ala melenyapkan kebimbangan-kebimbangan khalayak umum serta menjauhkan pemikiran-pemikiran para penyembah kebatilan. Dan di dalamnya terkandung rahasia bahwasanya negeri Punjab kita pada pengetahuan Allah Ta’ala merupakan tempat kelahiran Masih Mauud dan Mahdi Mas’ud.

Jadi, Allah Ta’ala telah beriradah untuk mengkhususkan Tanda-tanda serta nisyaan tersebut lalu membimbing umat manusia ke arah itu. Supaya orang-orang dapat mengenali orang yang mendakwakan diri sebagai Masih dan Mahdi [ini] melalui tanda-tanda serta keagungan-keagungannya.

Akan tetapi jika kita umpamakan bahwa tanda sang Mahdi telah zahir di negeri kita sedangkan kemunculan Mahdi terjadi di negeri lain, pemikiran ini tidak masuk akal. Dan tidak ada ditemukan sedikit pun kesan-kesan seperti itu secara tulisan. Dan walaupun demikian, di negeri-negeri lain tidak didapati seorang pun yang telah mendakwakan diri sebagai Mahdi Zaman dan Mursilur-Rahman. Jadi, berdasarkan dalil ini, menurut para ahli-makrifat, kebenaran kami telah terbukti” (Nurul Haq II: 16-17)

Gerhana Matahari & Gerhana Bulan pada bulan Ramadhan serta Rahasia Ilahi

“Para ulama telah mendustakan serta mengafirkan dengan begitu hebat dan dahsyatnya, sehingga apa-apa yang telah tertulis dari sejak semula di dalam hadis-hadis dan tanda-tanda, kesemuanya telah mereka penuhi. Dan dengan demikian cahaya keimanan mereka telah sirna. Serta di dalam hati mereka telah terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari kegelapan akibat ingkar. Dan kemudian unluk memberikan kesaksian atas gerhana bulan serta gerhana matahari itu telah terjadilah gerhana bulan dan gerhana matahari di langit. Nah, dari sebab itulah kedua gerhana bulan dan gerhana matahari ini merupakan Tanda peringatan.

Dikarenakan langit merupakan reflektor bagi peristiwa-peristiwa bumi, oleh sebab itulah gerhana matahari dan gerhana bulan ini telah terjadi di langit sebagai refleksi” (Anjaam-e-Atham: 335-336).

“Di tempat ini menerangkan hikmah [berikut] ini tidaklah kosong dari manfaat. Bahwa, mengapa Allah Ta‘ala menjadikan gerhana bulan dan gerhana matahari yang telah berlangsung di bulan Ramadhan sebagai Tanda bagi Mahdi Mau’ud? Apa rahasia yang terkandung di dalamnya?

Nah, hendaknya diketahui bahwa sudah ada di dalam pengetahuan Allah Ta‘ala bahwasanya para ulama Islam akan mengafirkan sang Mahdi serta akan menuliskan fatwa kafir.

Dikarenakan para ulama-umat dan fuqara-agama bagaikan matahari dan bulan di bumi, serta melalui perantaraan merekalah kegelapan dunia menjadi sirna, oleh sebab itu Allah telah menjadikan kegelapan bulan dan matahari di langit sebagai dalil/bukti akan kegelapan hati para ulama dan fuqara. Seolah-olah gerhana terlebih dahulu terjadi pada bulan dan matahari di bumi, yakni hati para ulama dan fuqara telah menjadi kelam. Dan lalu untuk menekankan hal itu telah terjadilah gerhana bulan serta gerhana matahari di langit. Supaya diketahui bahwa bala yang telah melanda hati para ulama dan fuqara itu — lalu telah menciptakan kondisi gerhana matahari dan gerhana bulan — kesaksiannya telah diberikan oleh langit. Sebab, langit memberikan kesaksian terhadap tindak-tanduk bumi.

Disini patut disesali. Bahwa, sudah sekian lama, gerhana bulan dan gerhana matahari langit yang terjadi di dalam bulan Ramadhan itu sudah berlalu. Dan bulan serta matahari pun keduanya telah jelas dan bersinar kembali. Namun para ulama serta fuqara kita ini – yang dinamakan syamsyul-ulama serta badrul-‘urafa — mereka sampai hari ini masih tetap terjerat di dalam gerhana matahari dan gerhana bulan mereka.

Dan terjadinya di dalam bulan Ramadhan gerhana matahari serta gerhana bulan itu, mengisyaratkan hal berikut ini. Bahwa, Ramadhan merupakan bulan turunnya Al-Quran serta berkat-berkat. Sedangkan Mahdi Mau’ud juga memiliki makna Ramadhan. Sebab eranya pun, bagai Ramadhan, merupakan era turunnya makrifat-makrifat Al-Quran serta zahirnya berkat-berkat. Jadi, sikap ulama memalingkan wajah darinya [serta] mencapnya kafir, adalah seakan-akan terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari pada bulan Ramadhan.

Jika seseorang melihat mimpi bahwa telah terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari di dalam bulan Ramadhan, maka ta’birnya adalah bahwa pada masa seorang manusia yang penuh berkat, para ulama akan menentang orang itu serta akan memperlakukannya dengan caci-maki, penghinaan, serta pengafiran.

Kini, hendaknya ini pun diingat, bahwa yang dijanjikan di dalam hadis adalah dua buah gerhana bulan dan gerhana matahari. Yang pertama adalah gerhana bulan dan gerhana matahari yang terjadi di dalam hati para ulama serta fuqara. Yang kedua adalah gerhana bulan dan gerhana matahari. Jadi, gerhana bulan dan gerhana-malahari bumi telah disempurnakan oleh para ulama dan fuqara melalui tangan mereka sendiri. Sebab, setelah mereka memperoleh cahaya ilmu dan makrifat, mereka secara sengaja telah memalingkan wajah dari orang ini, yang seharusnya mereka terima” (Anjaam-e-Atham: 295-296).


Peringatan bagi Para Pengingkar Tanda Ini

“Setiap gerhana matahari dan gerhana bulan itu, yang dimaksudkan adalah peringatan. Sebagaimana yang untuk mengisyaratkan hal ini terdapat di dalam hadis bahwa: ‘Pada setiap waktu terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, shalatlah. Sibuklah dalam beristighfar. Dan berilah sedekah” (Anjaam-e-Atham: 335).

“…[Kitab] Bukhari, cetakan Mesir, halaman 122, baris 20, tertera:

Dan Allah Ta’ala berfirman:

(Anjaam-e-Atham, catatan kaki: 335)

“Saya telah menuliskan di dalam buku Nurul Haq, bahwa atas orang-orang ini akan turun azab, yaitu yang tidak bertobat setelah menyaksikan gerhana matahari dan gerhana bulan….

Maka demikianlah yang telah terjadi. Sesudah gerhana bulan dan gerhana matahari, telah dikirimkan wabah pes pada kebanyakan orang ghafil negeri ini. Dan ribuan orang telah mati akibat wabah itu. Dan sebuah percikan api telah menerpa setiap orang ghafil, yang mengakibatkan mereka mati dan dikeluarkan dari kampung-kampung dan kota-kota” (Najmul Hudaa: 121-122).

“Mengapa gerhana bulan dan gerhana matahari ditetapkan sebagai Tanda bagi Mahdi Mau’ud, perkara itu mengisyaratkan hal berikut ini. Bahwa, pengingkaran terhadapnya yang berlangsung di bumi, merupakan penyebab kemurkaan llahi. Demikianlah bahwa sesudah itu memang kemurkaan tersebut telah muncul di bumi melalui wabah Pes.

Pendeknya, Allah menginginkan supaya contoh itu timbul di langit sebagai penekanan dan peringatan. Dan untuk contoh Dia telah menerapkan gerhana matahari serta gerhana bulan keduanya. Sebab, pemerintahan matahari adalah terhadap siang. Sedangkan pemerintahan bulan pada malam. Demikian pula Imam yang dijanjikan ini telah dijadikan pemilik bagi kedua pemerintahan [itu]. Yakni atas agama Islam yang bagaikan siang, dan atas agama-agama lainnya yang bagaikan malam. Untuk menjalankan pemerintahan atas kesemuanya itulah orang yang dijanjikan ini telah datang.

Jadi, dalam suasana inilah — dimana pada pemerintahan siang pun telah terdapat hambatan-hambatan serta tabir, dan kemudian pada pemerintahan malam pun telah terdapat halangan-halangan — hikmah Ilahi telah berkeinginan untuk memaparkan contoh peringatan/ancaman gerhana matahari dan gerhana bulan di atas langit” (Nuzulul Masih: 405).

“…Keistimewaan yang kesembilan adalah, tatkala beliau dinaikkan ke tiang salib, maka telah terjadi gerhana matahari. Keistimewaan yang kesepuluh adalah, setelah menyiksa beliau, di kalangan Yahudi telah menyebar wabah Pes yang dahsyat” (Tazkiratus-Syahadatayn: 29).

“…Keistimewaan yang kesembilan pada Isa Almasih adalah, bahwa tatkala beliau dinaikkan ke tiang salib, maka telah terjadi gerhana matahari. Jadi, di dalam peristiwa itu pun Allah telah mengikut-sertakan saya. Sebab, ketika saya didustakan, setelah itu bukan saja matahari, bahkan bulan pun telah bergerhana di dalam satu bulan yang sama, yaitu bulan Ramadhan. Dan tidak hanya satu kali, melainkan, sesuai hadis, telah terjadi dua kali. Kabar tentang kedua gerhana ini pun telah diberikan di dalam Injil-injil. Dan di dalam Al-Quran Syarif pun ada. Serta di dalam hadis juga ada, sebagaimana di dalam Daru Quthni.

Keistimewaan yang kesepuluh adalah, bahwa setelah penyiksaan Isa Almasih, di kalangan umat Yahudi telah menyebar wabah Pes yang dahsyat. Nah, di masa saya pun telah menyebar wabah Pes yang dahsyat” (Tazkiratus-Syahadatayn: 33).

“Di samping banyak tanda lainnya, Allah Ta‘ala telah menetapkan dua buah Tanda –Tanda Zamini (tanda dari bumi) dan Tanda Samawi — untuk [bukti] kebenaran Masih Mau‘ud. Tanda Samawi adalah gerhana bulan dan gerhana matahari yang telah terjadi di dalam bulan Ramadhan, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw.. Yang kedua, Tanda Zamini adalah wabah Pes. Itu pun telah sempurna” (Malfuzaat jld.VII: 7).

 


Sumber:

Suvenir Peringatan Seabad Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari, Ramadhan 1894-1994, (Jema’at Ahmadiyah Indonesia, 1994)

(Visited 266 times, 1 visits today)