Sejarah Ahmadiyah di Aceh

Sejarah Ahmadiyah Tapaktuan

Sebagaimana di tempat-tempat lainnya, masyarakat Tapaktuan juga sudah lama mengenal kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi. Begitu juga beberapa pelajar Nusantara di Qadian sering mengirim surat, agar apabila utusan pertama dari Imam Mahdi datang supaya diterima sebaik-baiknya. Itulah sebabnya ketika Maulana Rahmat Ali tiba di pantai Tapaktuan, beliau disambut ratusan penduduk yang menunggu kedatangan Utusan Imam Mahdi. Selaku juru bahasa dalam bahasa Arab adalah pemuda Abdul Wahid. Walaupun Maulana Rahmat Ali belum menguasai bahasa dan adat istiadat setempat, namun berkat sifat ramah-tamah, mudah bergaul dengan setiap orang, disamping berilmu, pandai bersenda gurau, sifat pemberani, beliau mudah diterima orang.

tapaktuan

Gambar 2.1. Pelabuhan Kapal Laut di Tapaktuan Aceh, di sinilah pertama kali Mln. Rahmat Ali tiba di tanah Nusantara untuk mulai menaburkan benih-benih Ahmadiyah (foto diambil pada bulan Januari 2007)

Maka dalam waktu beberapa bulan saja setelah kedatangannya, di Tapaktuan telah berdiri Jemaat Ahmadiyah. Sambutan penduduk amat hangat dan sudah cukup banyak orang membenarkan pendirian Ahmadiyah[1] serta ratusan orang yang bersimpati. Kebetulan sekali dalam minggu-minggu setelah kedatangan Rahmat Ali di Tapaktuan itu, telah terjadi perlawanan hebat Tengku Abasah di daerah Bakongan terhadap pemerintah Belanda[2], sehingga pemerintah Belanda merasa bimbang untuk memperpanjang waktu seorang asing berdiam di daerah yang sedang bergejolak itu. Kontroler Belanda di Tapaktuan berkali-kali memanggil Rahmat Ali dan menyarankan agar beliau bersedia meninggalkan Aceh. Tapi anjuran ini ditolak halus oleh Rahmat Ali dengan alasan bahwa beliau adalah seorang Muballigh Islam, yang menurut hukum yang berlaku tidak ada halangannya bagi beliau untuk tinggal di daerah ini. Mengenai keselamatan dirinya, tidak ada orang Aceh yang mengganggu karena semuanya orang-orang beragama Islam.

Tetapi keadaan itu semakin menggelisahkan Gubernur Aceh[3]. Akhirnya dengan perintah halus beliau dipaksa juga meninggalkan Aceh. Pada bulan Ramadhan di tahun 1926, Maulana Rahmat Ali berangkat meninggalkan Tapaktuan Aceh. Selama Maulana Rahmat Ali tinggal tiga bulan di Tapaktuan, banyak yang telah terang-terangan bai’at sehingga Jemaat disana sudah didirikan pada akhir Desember 1925, dengan rumah Mamak Gamuk dijadikan sebagai tempat berkumpulnya. Anggota Jemaat di Tapaktuan pada masa itu diantaranya adalah: Moehammad Syam, Mahdi Soetan Singasoro, Mamak Gamoek, Moenir, Ali Soetan Maradjo, Soelaiman, Datoek Dagang Moehammad Hasan, Abdoel Wahid, Moehammad Yakin Moenir, Nyak Radja, Abbas, Teoekoe Nasroeddin.

Gambar 2.2. Rumah Mamak Gamoek, tempat berkumpul Ahmadiyah Tapaktuan di masa awalin (foto diambil pada bulan Januari 2007)

Gambar 2.2. Rumah Mamak Gamoek, tempat berkumpul Ahmadiyah Tapaktuan di masa awalin (foto diambil pada bulan Januari 2007)

Gambar 2.3. Rumah Mamak Gamoek tampak dalam, ditunjukkan oleh H. Dzulfiqar Qoyum, seorang keturunan awalin dan keponakan dari Mln. Abdul Wahid, HA. Sy. (foto diambil pada bulan Januari 2007)

Gambar 2.3. Rumah Mamak Gamoek tampak dalam, ditunjukkan oleh H. Dzulfiqar Qoyum, seorang keturunan awalin dan keponakan dari Mln. Abdul Wahid, HA. Sy.
(foto diambil pada bulan Januari 2007)

 

Jemaat Tapaktuan Sepeninggal Rahmat Ali

 

Keadaan Jemaat di Tapaktuan sepeninggal Rahmat Ali tetap berkembang. Orang-orang Ahmadiyah tetap mendirikan shalat Jum’at di rumah Sulaiman. Datuk Raja Ahmad pernah mengadakan perdebatan antara Ahmadiyah dengan Ulama-Ulama Tapaktuan selama dua malam berturut-turut. Pendek kata, seluruh daerah Tapaktuan ramai memperbincangkan soal-soal Ahmadiyah yang berkaitan dengan Imam Mahdi, wafatnya Nabi Isa a.s. dan masalah Khaatamannabiyin.

Perlu ditambahkan disini, bahwa Zaini Dahlan yang telah tinggal belajar di Qadian, dua tahun kemudian pulang ke kampungnya di Padangpanjang. Ketika beliau kembali lagi ke Qadian pada bulan Maret 1926, dengan melalui Tapaktuan beliau membawa empat orang pemuda Tapaktuan yang telah masuk Ahmadiyah di tangan Rahmat Ali. Mereka berangkat dari Tapaktuan pada tanggal 9 Juni 1926 untuk memperdalam studinya dalam agama, dan tiba di Qadian tanggal 3 Juli 1926.

Akan tetapi setelah rombongan tersebut meninggalkan tanah airnya, Pemerintah Belanda di Tapaktuan menjalankan siasat guna mengikis pertumbuhan Ahmadiyah di sana. Jemaat dilarang melakukan shalat Jum’at di tempat sendiri dan harus shalat bersama-sama masyarakat di Masjid umum. Setiap orang Ahmadi dipanggil Raja dan mereka diperintahkan untuk tidak boleh berkumpul lagi. Diantara orang-orang yang anti Ahmadiyah itu terdapat seseorang yang bernama Mamak Haji Abdullah.

ahmadiyah aceh

Gambar 2.4. Foto bersama di makam para Ahmadi awalin Tapaktuan. Tampak dalam gambar (kiri-kanan): Dudun Bashiruddin, Djamil Samian, Dzulfiqar Qoyum dan Mln. Ibnu Muhyiddin (foto diambil pada bulan Januari 2007)

 

Gambar 2.5. Nasir, salah seorang putra Ahmadi Awalin di Tapaktuan, yang karena kurang mendapat Tarbiyat Jamaat, kini menjadi pengurus Muhammadiyah di Tapaktuan Aceh (foto diambil pada bulan Januari 2007)

Gambar 2.5. Nasir, salah seorang putra Ahmadi Awalin di Tapaktuan, yang karena kurang mendapat Tarbiyat Jamaat, kini menjadi pengurus Muhammadiyah di Tapaktuan Aceh (foto diambil pada bulan Januari 2007)

[1]Abdoer Rahman, Moehammad Syam, Mahdi Soetan Singasoro, Mamak Gamoek, Moenir, Ali Soetan Marajo, Soelaeman, Datoek Dagang Moehammad Hasan, Abdoel Wahid, Moehammad Yakin Moenir, Nyak Radja, Abas, Teoekoe Nasroeddin (Revised Edition, p-15)

[2] Mr.  D. FOCK adalah Gubernur Jenderal VOC di Hindia Belanda (1921-1926).

[3]Mr.  O.M. Gedhart,  menjabat sebagai  Gubernur Sipil Hindia Belanda di Acheh  (1925-1929).

(Visited 179 times, 1 visits today)