Sesudah i’tiqad Ahmadiyah dijelaskan, ada baiknya juga saya jelaskan siapakah yang dikatakan Muslim Ahmadiyah menurut keterangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, beliau bersabda:

muslim ahmadiyah

“Tidak boleh masuk ke dalam Jamaah kita ini melainkan orang yang telah masuk agama Islam dan telah mengikuti Kitab Allah (Al-Quranul-Majid) dan sunnah-sunnah penghulu segala makhluk (Muhammad) dan telah yakin benar berkenaan dengan Allah dan Rasul-Nya Yang Maha-mulia dan Maha-pengasih dan Qiamat, Sorga dan Neraka, lagi dia berjanji dan berikrar benar-benar bahwa dia tidak akan mencari agama selain dari Islam dan bahwa dia akan mati di atas agama yang suci ini dengan berpegang teguh menurut Kitab (Al-Quranul-Majid) Allah Yang Maha-Tahu” (Mawahibur-Rahman, hal. 96)

Berkenaan dengan Jamaah ini Abul-Hasan Ali Al-Husaini mengatakan bahwa Jamaah Ahmadiyah ini memusuhi Islam dan Muhammad saw:

islam ahmadiyah

“Ia menentang Islam dalam segala hal” (Al-Qadiyaniah hal. 21)

Kami tidak heran kalau ulama di masa sekarang berani berdusta dan berani menaburkan benih fitnah kepada manusia, karena hal ini telah dikabarkan lebih dulu oleh Nabi kita Muhammad saw.

Saudara-saudara, para pembaca yang mulia, perhatikanlah keterangan beliau yang tersebut dalam kitab (Kisyti Nuh, hal. 17), artinya begini:

“Wahai orang yang mengaku dirinya menjadi Ahmadiyah! Janganlah kamu mengira sudah bai’at dan bai’at itu saja sudah cukup bagi kamu, Allah swt melihat hati kamu, maka Dia akan berlaku terhadap kamu menurut niat kamu, wahai murid-muridku, dengarlah baik-baik, aku memenuhi kewajibanku dengan memberikan keterangan ini. Dosa itu adalah semacam racun, janganlah kamu makan racun itu; durhaka kepada Allah swt itu adalah maut (kematian) rohani, maka jauhilah itu! Berdoalah, agar kamu terpelihara, orang yang tidak yakin waktu ia berdoa bahwa Allah swt Maha-kuasa (Qadir) ia bukan dari Jamaahku; orang yang tidak membuang kedustaan dan penipuan itu bukan dari Jamaahku; orang yang tamak kepada dunia dan ingat pun tidak kepada Akhirat itu bukan dari Jamaahku; orang yang mendahulukan urusan dunia daripada urusan agama itu bukan dari Jamaahku; orang yang tidak memelihara dirinya dengan sebenar-benarnya dari dosa dan dari amalan yang jahat, yakni minum tuak (arak), berjudi, memandang perempuan dengan nafsu birahi, berlaku khianat, memakan uang suap dan tidak bertobat dari segala perbuatan jahat itu bukan dari Jamaahku; orang yang tidak mengerjakan sembahyang lima waktu sehari-semalam itu bukan dari Jamaahku; orang yang tidak istiqamah berdoa ke Hadhirat Allah swt  dan tidak selalu tunduk kepada-Nya itu bukan dari Jamaahku; orang yang tidak menjauhi kawan-kawan yang jahat yang merusak kelakuan dan keimanannya itu bukan dari Jamaahku; orang yang tidak menghormati ibu-bapanya dan tidak menuruti kata-katanya yang baik yang tidak berlawanan dengan Al-Quranul-Majid dan tidak memelihara mereka itu bukan dari Jamaahku; orang-orang yang tidak bergaul dengan baik dan tidak berlaku lemah lembut kepada istrinya dan kaum kerabatnya itu bukan dari Jamaahku, orang yang tidak berbuat baik kepada tetangganya bukan dari Jamaahku; orang yang tidak mau memberi maaf kepada orang yang bersalah yakni ia mendengki dan dendam saja itu bukan dari Jamaahku; tiap-tiap suami yang berlaku khianat kepada istrinya dan tiap-tiap istri yang berlaku khianat kepada suaminya itu bukan dari Jamaahku; orang yang melanggar perjanjian bai’atnya itu bukan dari Jamaahku; orang yang tidak merpercayaiku sebagai Al-Mahdi dan Al-Masih Yang Dijanjikan dengan sebenar-benarnya itu bukan dari Jamaahku; orang yang tidak taat kepadaku dalam perkara-perkara yang baik itu bukan dari Jamaahku; orang yang duduk dalam majlis para musuh Ahmadiyah serta ia setuju dengan mereka itu bukan dari Jamaahku; tiap-tiap orang yang berbuat zina, yang fasiq, yang minum tuak (memabukkan) atau yang mencuri, yang main judi, yang khianat, yang makan suap, yang merampok, yang zalim, yang berdusta kepada kawan sejawat mereka itu dan orang yang suka menuduh saudara-saudaranya, kalau mereka itu tidak bertobat kepada Allah swt itu bukan dari Jamaahku; Dosa-dosa ini adalah sebagai racun, kamu tidak akan hidup kalau kamu memakan racun-racun itu; dan kegelapan tidak dapat berkumpul dengan cahaya dalam satu tempat; tiap-tiap orang yang tidak berlaku lurus terhadap Allah swt itu tidak akan mendapat berkat dari-Nya sebagaimana orang-orang yang bersih hatinya itu akan mendapatkannya. Berbahagialah orang-orang yang membersihkan hatinya dan memenuhi perjanjian kesetiaannya kepada Allah swt  karena mereka itu tidak akan disia-siakan; dan AllahS.w.t. tidak akan membiarkan mereka itu menjadi hina karena mereka itu menyerah kepada-Nya dan Dia akan memelihara mereka itu”.

Dalam buku itu juga beliau bersabda lagi:

“Orang-orang yang menjadi muridku itu perlu yakin bahwa Allah swt itu Qadir lagi Qayyum dan KhaliqulKulli (Yang menjadikan segala sesuatu), yang tidak ada permulaannya dan tidak pula ada penghabisannya, Dia tidak berubah, Dia tidak diperanakkan dan tidak pula beranak, Dia suci dari mati, meskipun Dia jauh tetapi Dia dekat juga, dan meskipun Dia dekat tetapi Dia jauh juga, Dia itu Esa, tetapi Dia menyatakan kekuasaan-Nya dengan bermacam-macam jalan … perlu kamu beriman kepada-Nya, dan perlu kamu utamakan Dia melebihi dirimu sendiri dan daripada kesenanganmu dan perlu kamu dahulukan hubungan dengan Dia daripada segala hubungan yang lain, turutilah Dia dengan sebenar-benarnya dan setialah kepada-Nya, orang-orang dunia tidak mendahulukan Dia daripada kaum kerabatnya, tetapi kamu perlu mendahulukan Dia daripada segala sesuatu. Memperlihatkan tanda-tanda rahmat-Nya adalah sunnatullah, tetapi kamu boleh mengambil bagian dari rahmat-Nya itu, kalau kamu tidak bercerai dengan Dia, keridhaan-Nya hendaklah menjadi keridhaanmu dan kemauan-Nya hendaklah menjadi kemauanmu, biar kamu berhasil maupun gagal hendaklah kepala kamu tetap tunduk dihadapan Allah swt , barulah kamu akan merasakan nur Allah swt dalam diri kamu, adakah di antara kamu orang yang tak berbuat demikian? Dan kamu jangan merasa kecil hati karena Qadha’ dan Qadar-Nya, maka melihat kepada musibah-musibah hendaklah kamu bertambah maju kepada-Nya (Allah), karena inilah jalan kemenangan kamu, dan berusahalah kamu sedapat mungkin akan menyebarkan tauhid-Nya di atas muka bumi, cintailah hamba-hamba-Nya, janganlah berlaku aniaya kepada mereka itu, baik dengan tangan, dengan lidah maupun dengan jalan yang lain; berusahalah untuk berbuat kebaikan kepada makhluk, janganlah sombong walaupun terhadap orang yang berada di bawah perintah kamu; janganlah kamu mencaci-maki kepada siapapun, walaupun ia mencaci-maki kamu; hendaklah kamu bersifat rendah hati, penyabar dan suci hati agar kamu diterima oleh Allah swt; berapa banyak orang yang nampaknya penyabar akan tetapi hatinya ganas seperti harimau; berapa banyak orang yang bersih pada lahirnya, tetapi batinnya seperti ular, maka kamu tidak akan disukai oleh AllahS.w.t., kalau lahir dan batin kamu tidak sama. Orang-orang besar janganlah berani menghina orang-orang yang dipandang rendah, bahkan perlu mengasihi mereka itu; orang-orang alim janganlah berani merendahkan orang-orang bodoh, bahkan perlu memberi nasehat kepada mereka itu; orang-orang kaya janganlah berani menyombongkan diri kepada orang-orang miskin, bahkan perlu menolong mereka itu.

Jauhilah semua jalan kebinasaan, takutlah kepada Allah swt dan bertakwalah kepada-Nya dan janganlah menyembah kepada makhluk; tunduklah kepada Allah swt jangan tunduk kepada dunia; jadilah kamu milik Allah swt dan hiduplah untuk Dia, dan bencilah kepada segala dosa dan kotoran karena Allah swt Suci (Dia suka kepada yang suci juga); hendaklah setiap pagi (shubuh) itu meyakinkan bahwa pada malam yang lalu kamu telah hidup dengan taqwa dan hendaklah tiap-tiap malam itu menyaksikan bahwa pada siang yang lalu kamu telah hidup dengan taqwa juga; janganlah takut kepada laknat dunia, karena sebentar saja ia akan hilang seperti asap, akan tetapi perlu takut kepada laknat Allah swt karena Dia dapat menghapuskan orang yang dilaknat itu; kamu tidak dapat memelihara diri kamu sendiri dengan kebaikan yang berpura-pura, karena Allah swt dapat melihat segala isi hati kamu, apakah kamu dapat menipu Dia? Maka luruslah kamu dan bersih serta sucikanlah dirimu dari dosa-dosa lahir dan batin; dan jagalah dirimu, karena kalau terdapat kegelapan yang sedikit saja dalam hati kamu, maka ia akan dapat menghilangkan segala nur kamu; kalau pada diri kamu ada sifat takabur, ria (berpura-pura) dan kemalasan, maka kamu tidak layak diterima oleh Allah swt, janganlah kamu tertipu dengan beberapa perkara saja karena Allah swt menyuruh kamu agar mengadakan perubahan yang luar biasa dalam diri kamu; berdamailah dengan manusia, berikanlah maaf kepada saudaramu, orang yang tidak suka berdamai itu akan dibuang, karena ia suka mengadakan perpecahan; janganlah menuruti hawa nafsu; meskipun kamu benar perlu juga kamu tunduk dan rendah hati agar kamu diampuni oleh Allah swt; janganlah menuruti hawa nafsu dan janganlah kamu memperbesarkan hawa nafsu itu karena orang yang menuruti hawa nafsunya itu tidak dapat masuk pintu kerajaan rohani.

Betapa sialnya orang yang tidak mendapatkan apa-apa dari Allah swt sedangkan aku sudah menerangkannya. Kalau kamu ingin bahwa Allah swt mencintaimu, maka bersatu padulah kamu seperti saudara-saudara yang seibu-sebapak … orang yang jahat tidak dapat berbakti kepada Allah swt, orang yang sombong tidak dapat berbakti kepada Allah swt, orang zhalim tidak dapat berbakti kepada AllahS.w.t., orang khianat tidak dapat berbakti kepada Allah swt, orang yang tidak cinta dengan sebenarnya kepada-Nya itu tidak dapat berbakti kepada Allah swt, orang yang mengejar dunia seperti anjing dan seperti elang mengejar bangkai dan seperti semut mengejar gula itu tidak dapat berbakti kepada Allah swt, tiap-tiap mata yang jahat itu jauh dari-Nya, tiap-tiap hati yang kotor tidak dapat mengenal Dia; orang yang masuk ke dalam api kesusahan karena Dia itu akan dipelihara dari api Neraka kelak; orang yang menangis karena Dia sekarang akan merasa senang di belakang hari; orang yang membuang dunia demi Dia itu akan dapat bertemu dengan-Nya; Cintailah Allah swt dengan segenap hatimu dan taatlah dengan setia kepada-Nya sehingga Dia mencintaimu; kasihilah orang yang berada di bawah perintah kamu, kepada orang-orang miskin, dan kepada istri-istri kamu agar kamu dikasihi oleh Allah swt. Dunia ini adalah tempat bahaya dan musibah, maka mintalah pertolongan kepada Allah swt agar Dia memelihara kamu dari itu; tidak mungkin akan turun suatu bahaya di atas muka bumi ini selagi belum ada perintah dari atas (Allah) dan tidak mungkin hilang satupun bahaya dari bumi selagi rahmat Tuhan belum turun”

Dan satu pelajaran lagi yang perlu kamu ingat yaitu janganlah engkau anggap Al-Quranul-Majid itu seperti barang yang terbuang (ia adalah satu barang yang tak dapat dinilai harganya), karena hidup (kemajuan) kamu bergantung dengannya, orang yang menghormati Al-Quranul-Majid mereka akan dihormati oleh Allah swt dan malaikat-malaikat-Nya; orang yang mendahulukan Al-Quranul-Majid daripada segala Hadits dan fatwa-fatwa yang lain, mereka akan didahulukan oleh Allah swt; bagi manusia di atas muka bumi ini tidak ada satu pun kitab yang perlu diikuti melainkan Al-Quranul-Majid dan bagi anak-cucu Adam tidak ada lagi Rasul dan orang yang memberi syafa’at selain dari Nabi Muhammad saw.

Bolehkah dikatakan berkenaan dengan Jamaah Ahmadiyah ini, bahwa ia berani menyamakan Hadhrat Ahmad Al-Qadiyani dengan Nabi Muhammad saw? Tidak, sekali-kali tidak. Akan tetapi pengarang kitab: “Al-Qadiyaniyah” itu dengan tidak malu-malu berkata:

muslim ahmadi

“Jamaah Ahmadiyah mengaku, bahwa pangkat Ahmad Al-Qadiani itu sama dengan pangkat Nabi MuhammadS.a.w. bahkan lebih tinggi daripadanya” (lihat hal. 22)

Laknat Allah alal-kaadzibiin, beliau as bersabda lagi:

“Wahai murid-muridku! Kamu tidak akan menjadi murid-muridku pada sisi Allah swt sebelum kamu bertakwa, maka kerjakanlah shalat dengan khusyuk seakan-akan kamu melihat Tuhan kamu dalam shalat itu; berpuasalah dengan ikhlas karena Allah swt; tiap-tiap orang yang mempunyai nisab cukup wajib membayar zakat dan orang yang sanggup naik Haji ke Mekkah, ia wajib naik Haji kalau tidak ada halangan apa-apa”.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as memerintahkan orang-orang Ahmadiyah naik Haji ke Mekkah, sehingga pada tahun 1912 anak beliau Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad pun telah naik Haji ke Mekkah, akan tetapi Pengarang kitab “Al-Qadiyani” itu tidak senang kalau tidak berdusta, ia menuduh Ahmadiyah naik Haji ke Qadiyan. Bbegitu juga orang yang menuduh kita bahwa kita mengaku bahwa mesjid di Baitul-Muqaddas bukan Al-Masjidil-Aqsha. Itu jelas salah paham atau dengan sengaja hendak menipu manusia. Kami Ahmadiyah percaya bahwa Al-Masjidil-Aqsha yang disebutkan dalam surah Al-Isra itu ialah yang terletak di Baitul-Muqaddas, tidak ada seorang Ahmadiyah pun yang menafikan hal itu.

Beliau as bersabda lagi:

“Tiap-tiap kebaikan perlu kamu kerjakan dengan cara yang sebaik-baiknya dan perlu kamu membuang kejahatan dengan membenci kepadanya, yakinlah bahwa tiada satupun amalan yang dapat sampai kepada AllahS.w.t. kalau ia kosong dari taqwa. Asas dan sendi-sendi setiap amalan dan kebaikan ialah takwa (Kisyti Nuh, hal. 10-14).

Inilah ajaran yang telah diberikan oleh Hadhrat Ahmad as kepada murid-muridnya, apakah seperti itu ajaran orang-orang kafir dan murtad? Sebagian orang yang ternama seperti Syekh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afghani, Hasan Al-Bana’, Ath-Thanthawi Al-Jauhari, Muhammad Farid Wajdi dan lain-lain itu mempunyai pengaruh besar di kalangan rakyat Mesir, akan tetapi pengaruh itu dipergunakan untuk mengadakan perolehan dalam hal duniawi bukan untuk mengadakan perolehan dalam hal rohani, oleh karena itulah Mesir yang dipandang oleh seluruh umat Islam sebagai “Pusat ilmu pengetahuan Rohani” itu kosong belaka dari gerakan-gerakan rohani. Bermacam-macam gerakan untuk merebut kekuasaan dunia telah timbul di sana, akan tetapi belum ada satu pun gerakan yang diadakan untuk mencari kemerdekaan dari penjajah yang sangat zalim itu, memang ada gerakan yang diadakan dengan nama agama seperti Ikhwanul-Muslimin dan sebagainya akan tetapi tujuannya pun hanya merampas kekuasaan dunia saja. Pendek kata, tidak ada di antara mereka itu seorang pun yang telah menetapkan kesucian rohani sebagai syarat untuk menjadi muridnya, oleh karena itulah di negeri itu senantiasa berlaku huru-hara dan selalu timbul keributan dan kerusuhan yang mengharukan pikiran rakyat pada umumnya. Adapun pekerjaan Hadhrat Ahmad as berasaskan kesucian rohani semata-mata, beribu-ribu orang yang sudah membersihkan dirinya karena teladan yang suci, beratus-ratus orang yang sudah mengorbankan harta bendanya, bahkan jiwanya untuk memajukan Islam karena pengaruh ajaran beliau as yang murni, dan beratus-ratus manusia yang sudah dapat keimanan dan keyakinan karena mu’jizat yang diperlihatkan oleh Allah swt dengan perantaraan beliau. Jadi, Jamaah beliau dalam segala hal menuju kepada keridhaan Allah swt akan tetapi tidak pula ketinggalan dalam hal duniawi.

Beliau as telah menyatakan kepada manusia bahwa, “Agama Islam mempunyai kehidupan rohani, siapa saja yang hendak mencari kehidupan rohani perlu ia mengikuti Islam, tidak seorang pun yang dapat menghidupkan kerohaniannya dengan meninggalkan agama Islam. Siapa yang hendak mendengar suara Allah, siapa saja yang hendak melihat tanda-tanda kekuasaan Allah swt dan siapa yang hendak mendapatkan kehidupan rohani ia perlu mengikuti Penghulu semua Nabi, yaitu Sayyidina Muhammad saw, kalau tidak ia tidak akan mendapatkan apa-apa, ‘saya adalah bukti yang nyata dalam hal in’, kata beliau.

Suara ini belum pernah didengar oleh manusia di abad 14 ini dari ulama Islam tersebut, apalagi dari agama lain, dengan berkat suara beliau orang yang sudah mati sedang dihidupkan, orang buta penglihatan dan orang-orang tuli diberi pendengaran, dan tidak berapa lama lagi Islam akan maju dan menang, dan umat Islam akan dimuliakan lagi oleh Allah swt, insya Allah, pada waktu itu semua orang yang mengkafirkan dan memurtadkan beliau kelak akan menyesal dan akan mengakui seperti saudara-saudara Yusuf asinaa kunnaa khootiiin” (Sungguh kami benar-benar orang-orang yang bersalah).


Muhammad Sadiq bin Barakatullah (2014), Penjelasan Ahmadiyah. Neratja Press, hal. 41-48. ISBN: 978-602-70788-15-17

(Visited 222 times, 1 visits today)