Salah satu keberatan yang ditujukan kepada Ahmadiyah adalah suka memelintir ayat, diantaranya adalah Ahmad Dahlan dalam bukunya Musang Berbulu Ayam yang menuduh bahwa Jamaah Ahmadiyah telah memutar ayat-ayat Al-Quranul-Majid, tentang keterangan yang ke 4 dan yang ke 6, dia menulis:

“Saya amat pelik kenapa ayat “falamma tawaffaitani dan inni mutawaffiika wa roofi’uka ilayya” ini diputar-putar oleh pihak Ahmadiyah” (Musang Berbulu Ayam, hal. 26).

Jawaban Pertama:

Agar terbukti siapa yang memutar-mutar ayat, maka saya hendak menyebutkan keterangan-keterangan yang telah dia kemukakan. Ahmad Dahlan menulis: “inni mutawaffiika wa roofi’uka ilayya” jikalau kita kehendaki maknanya “yang mematikan” itupun tidak mengapa, tetapi bukan “telah mematikan”, maka arti ayat ini:

“Bahwasanya Aku akan mematikan engkau sesudah diangkat kepada-Ku dan sesudah engkau turun ke bumi pada akhir zaman”. (Musang Berbulu Ayam, hal. 21).

Pembaca yang mulia!! Perhatikanlah arti yang disebutkan oleh Ahmad Dahlan itu, menurut keterangannya ini hendaknya firman Allah (إِنِّي مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ ) itu begini:

إِنِّيْ رَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُتَوَفِّيْكَ بَعْدَ نُزُوْلِكَ إِلَى الْأَرْضِ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ

Jadi, menurut pikiran Ahmad Dahlan susunan firman Allah itu tidak betul, karena tidak sesuai dengan pemahamannya. Saudara-saudara! Ahmadiyah beriman bahwa susunan firman Allah swt itu betul dan kejadian-kejadian yang berhubungan Nabi Isa as itu pun sudah terjadi menurut susunan firman Allah itu, akan tetapi Ahmad Dahlan berkata bahwa kalimat-kalimat ayat Al-Quran itu tidak tersusun (tertib), hendaknya “mutawaffiika” yang didahulukan itu diletakkan dibelakang dan “wa roofi’uka ilayya” yang di belakang itu diletakkan di depan.

Sekarang kita bertanya kepada pembaca yang jujur, siapakah yang memutar ayat-ayat Allah? Ahmad Dahlan-kah atau Ahmadiyah?

Ahmad Dahlan membawa satu keterangan untuk membenarkan pikirannya yang keruh itu, katanya bahwa di antara “inni mutawaffiika wa roofi’uka ilayya” itu ada kalimah “wawu” karena ayat itu begini: “inni mutawaffiika wa roofi’uka ilayya”. Jadi athaf dengan “wawu” tidak memberi faedah harus tertib, bahkan karena muthlaq jama’ (semata-mata jama’)”.

Kita tidak heran kalau Ahmad Dahlan itu berani menulis begitu, kita bertanya kepadanya: “Apakah haram ‘wawu’ itu dipakai untuk tertib menurut ilmu Lughat Arab?”. Sekali-kali tidak! Jadi, tidak ada larangan bahwa huruf wawu itu dipakai untuk tertib (susunan).

Di antara Imam yang mengakui bahwa wawu itu memberi faedah tertib (susunan) ialah Imam Qurthubi, Ar-Rib’iy, Al-Farra’, Tsa’lab, Abu Umar, Zahid, Hisyam, Imam Asy-Syafi’iy, Abu Abduh, Al-Muayyad Billah, Imam Abu Thalib, bahkan semua Imam Ilmu Nahwu yang masyhur di dalam negeri Kufah itu mengatakan:

Wawu itu memberi faedah tertib (susunan) (Irsyadul-Fuhul, hal. 25)

Lebih jauh telah disebutkan:

“Biasanya wawu itu memberi faedah susunan dan jarang dipakai untuk tidak memberi faedah susunan”. (Chasyiah Syudzurudz-Dzahab Li Ibni Hisyam Al-Anshari, hal. 168)

Apakah para Imam tersebut dan para Imam Ilmu Nahwu Kufah itu tidak mengetahui undang-undang yang disebutkan oleh Ahmad Dahlan atau Ahmad Dahlan-kah yang tidak paham dalam hal ini?

Dengarlah apa kata Ulama berkenaan dengan susunan ayat-ayat Al-Quranul-Majid. Hadhrat Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata:

“Ketahuilah bahwa apabila kalam Allah itu dapat diartikan menurut susunan yang zhahir, maka lari kepada taqdim dan ta’khir itu tidak dibolehkan” (At-Tafsirul-Kabir, Juz V, hal. 177)

Taqdim berarti mendahulukan kalimah yang di belakang dan Ta’khir artinya membelakangkan kalimah yang dahulu, seperti yang dibuat Ahmad Dahlan berkenaan dengan ayat “INNI MUTAWAFFIIKA” ini.

Juga disebutkan dalam Tafsir Al-Kasysyaf begini:

“Orang yang hendak menafsirkan Kitabullah itu wajib menjaga susunannya yang bagus itu dalam hal pengakuannya”. (Al-Kasysyaf, Juz 1, hal. 145)

Ibnu ‘Arabiy berkata:

“Allah swt bersifat AlMuqdimu Yang mendahulukan barang yang patut didahulukan dan AlMuakhkhir Yang membelakangkan barang yang patut dibelakangkan – Jadi, apabila engkau membelakangkan apa yang didahulukan oleh Allah atau engkau mendahulukan apa yang dibelakangkan oleh Allah, maka berarti perbuatan engkau itu satu pertentangan yang sembunyi dengan Allah ta’ala, perbuatan mana akan menjauhkan engkau dari berkah dan rahmat Allah, tidakkah engkau ketahui bahwa tatkala Nabi menunaikan Haji Wada’ itu naik di atas gunung Shafa, beliau itu sudah membaca ayat “innash-shafa wal-marwata” dan beliau bersabda: “Saya akan memulai dengan apa yang dimulai dengannya oleh Allah” maka beliau mulai keliling (thawaf) dari gunung Shafa, karena Allah menyebutkan nama bukit Shafa itu lebih dulu daripada bukit Marwah.” (AlFutuhatulMakkiyah, Juz II, hal. 326)

Lihatlah! Bagaimana Nabi kita Muhammad saw telah membuang undang-undang yang dipakai oleh Ahmad Dahlan dan beliau telah menyatakan bahwa perkataan yang dahulu itulah seharusnya yang didahulukan.

Ahmad Dahlan tentu akan berkata bahwa pada masa Nabi kita Kitab Alfiyah Ibnu Aqil belum  ada, kalau ada tentu Nabi Muhammad saw mengikuti keterangan Ibnu Aqil itu dan tentu Nabi Muhammad saw tidak berani membuat seperti yang telah dibuatnya itu.

Kalau Ahmad Dahlan berani berkata begitu, maka Ahmadiyah akan menyebut Na’udzubillahi minasy-Sayithanir-Rajim saja, karena Ahmadiyah yakin bahwa susunan Al-Quranul-Majid itu tidak perlu dirubah dan Ahmadiyah suka menjadi murid Nabi Muhammad saw daripada menjadi murid Ibnu Aqil itu. Alhasil, susunan ayat “inni mutawaffiika wa roofi’uka ilayya” itu benar dan pikiran Ahmad Dahlan yang karut-marut itu tidak berharga sedikit pun. [1]

[1] Muhammad Sadiq bin Barakatullah (2014), Penjelasan Ahmadiyah. Neratja Press, hal. 73 -77. ISBN: 978-602-70788-1-9

(Visited 58 times, 1 visits today)