Tuduhan bahwa kitab suci Ahmadiyah adalah Tadzkirah diikuti juga dengan mempersoalkan ‘kejanggalan-kejanggalan’ wahyu yang terdapat di dalam Tadzkirah. Salah satunya keberatan akan wahyu tentang persamaan Mirza Ghulam Ahmad dengan Nabi Musa tetapi dianggap bahwa Kedudukan beliau sama dengan Nabi Musa as.

Permasalahan sebenarnya adalah dalam wahyu ini Allah Swt menyamakan zaman Hadhrat Ahmad as dengan zaman Nabi Musaa.s, tetapi celakanya, para penentang Jemaat memplesetkannya dengan menyamakan dalam hal kesamaan fisik dan kepangkatan kenabian Musa a.s. Wahyu tentang kesamaan Hadhrat Ahmad as dengan sifat-sifat Nabi Musa as yang beliau terima berbunyi sebagai berikut:

تَلََّطَّفْ بِا لنَّاسِ وَ تَرَاحِمْ عَلََيْهِمْ اَنْتَ فِيْهِمْ بِمَنْزِلَةِ مُوْسَى وَ ا صْْبِِرْ علََىَ مَا يَقُوْلُوْنَ

“Bersikap lemah-lembutlah engkau terhadap orangorang, dan berbelas-kasihlah atas mereka itu. Engkau di tengah-tengah mereka berada pada kedudukan Musa dan bersabarlah engkau atas apa yang mereka katakan.” (Tadzkirah, Edisi 1969, Urdu, hal. 83)

Penjelasannya:

Hadhrat Masih Mau’ud diingatkan oleh Allah Swt bahwa seperti halnya banyak orang-orang yang menentang beliau dan melontarkan berbagai fitnah dan tuduhan, maka masa seperti itu akan menimpa beliau, maka beliau diperintahkan oleh Allah untuk berakhlak karimah, bersikap lemah-lembut dan harus banyak-banyak berbelas-kasih terhadap lawan-lawan beliau. Selanjutnya beliau menerima wahyu tentang kemiripan kedudukan beliau seperti kedudukan Nabi Musa  as di tengah umatnya, wahyu tersebut berbunyi demikian:

بُشْرَى لَكَ يَا اَحْمَدِ ى اَنْتَ مُرَادِى وَ مَعِى غَرَسْتُ كَرَامَتَكَ بِيَدِىْ ا َكَانَ لِلنَّاسِ عَجَباً قُلْ هُوَ اللهُ عَجيْبٌ يَجْتَبِْ منْ يَشَاءُ مِنْ عِبَا دِهِ لاَ يُسْئَلُ عَمَّا يَفْعَلُ و َهُمْ يُسْئَلُوْنَ وَ تِلْكَ اْلاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّا سِ – وَ اِذَا نَصَرَ اللهُ الْمُؤْ مِنٍ َجَعَلَ لَهُ الْحَا سِدِ يْنَ تَلََّطَّفْ بِا لنَّاسِ وَ تَرَاحِمْ عَلََيْهِمْ اَنْتَ فِيْهِمْ بِمَنْزِلَةِ مُوْسَى فا صْْبِِرْ علََىَ جوَائِرِ الْجَائِرِيْنَ ا َحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُتْرَكُوْا اَنْ يَقُوْلُوْا اَ مَنَّا فَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ اَلاَ اِنَّهَا فِتْنَةٌ مِنَ اللهِ لِيُحِبَّ حَبًَّا جَمًََّا وَ فِيْ اللهِ اَجْرُكَ وَ يُرْضَى عَنْكَ وَ يُتِمُّ اِسْمُكَ وَ اِنْ يَتَّخِذُوْ نَكَ الاّهُزُوًًُّأً قُلْ اِنِّي مِنَ الصَّادِقِيْنَ فَانْتُظُرْوا اَيَا تيِْ حتَّى حِيْنَ- اَلَْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي جَعَلَكَ الْمَسِيْحَ اْبنَ مَرْيَمَ – قُلْ هَذَا فَضْلُ رَبيِّ وَ اَنيِّ اُجَرِِّدُ نَفْسِى مِنْ ضُرُوْبِ اْلخِطَابِ وَ اِنِّي اَحَدٌ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنِ (تذكره 1969 اردو ص 239- 240)

“Wahai Ahmad-Ku, selamatlah atas engkau. Engkau adalah maksud/tujuan-Ku dan engkau beserta dengan-Ku. Aku menanam kemuliaan engkau dengan tangan-Ku sendiri, apakah hal itu menjadikan keanehan bagi manusia? Katakanlah, ‘Dialah Allah, Dzat Yang Sangat Ajaib. Dia mengabulkan siapa yang Dia kehendaki dari antara hamba-hamba-Nya. Janganlah engkau bertanya tentang apa yang Dia lakukan, tetapi merekalah yang akan ditanyai. Dan inilah hari yang Kami berputar-putar mencari di antara manusia dan manakala Allah ingin menolong seorang mukmin, maka Dia menjadikan baginya para pembenci. Bersikap lemah-lembutlah terhadap manusia dan berbelas-kasihlah terhadap mereka itu, (sebab) kedudukan engkau di tengah-tengah mereka itu ada pada kedudukan Musa. Bersabarlah di atas kezaliman orang-orang yang zalim. Apakah orang–orang mengira mereka itu akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘Kami telah beriman’, lalu mereka itu tidak akan diuji?’

Ingatlah bahwa itu adalah satu ujian dari Allah, supaya Dia memberikan kecintaan yang luar biasa. Ingatlah, sesungguhnya pahala engkau ada pada-Nya dan Dia sangat mencintai engkau, Dia menamatkan nama engkau. Tiada lain yang akan mereka lontarkan kepada engkau melainkan hanyalah olok–olok dan cemoohan semata. Maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku adalah seorang yang benar diantara orang-orang yang benar! Maka kalian tunggulah tanda-tandaku sampai tiba saat yang telah ditentukan.’ Segala puji bagi Allah Yang Telah menjadikan engkau sebagai Almasih ibnu Maryam. Katakanlah: “Ini adalah karunia dari Tuhan-ku, aku menjauhkan diriku sendiri dari segala julukan-julukan (mulia) itu dan aku benar-benar salah seorang yang berserah diri.” (Tadzkirah, edisi 1969, Urdu, hal. 239-240)

Penjelasan:

Jelas sekali kepada kita, bahwa keberadaan para pengikut agama yang berdiri menentang Hadhrat Ahmad a.s. akan bermunculan juga seperti yang tampil sebagai penentang pada zaman Nabi Musa a.s. Namun berkat Quwwat Qudsiyyah (daya pensucian diri) dan akhlak karimah (budi pekerti yang luhur) yang beliau miliki itu, maka ujian Ilahi yang ditimpakan atas beliau itu telah menanamkan kecintaan Allah dan kecintaan dalam hati insan-insan yang berfitrat suci terhadap beliau dengan kecintaan yang sangat luar biasa. Allah Swt terus-menerus akan menunjukkan tanda-tanda yang mendukung kebenaran beliau dan membuka hati mereka itu untuk dapat meraih karunia Ilahi atas tanda-tanda kebenaran yang terlihat oleh mereka itu. Setelah beliau mencapai tingkat kesabaran yang paripurna itu, kemudian Allah Swt menetapkan beliau sebagai Almasih Yang Dijanjikan.

Tentang persamaan kondisi di zaman Imam Mahdi dengan Nabi Musa as, dalam Surat Kabar Berkala, “Akhbarul Alamul Islami, 21 Muharam 1400 H, hal. 7; terdapat karangan Ulama terkemuka dari Rabithah Alam Islami, Syekh Abdul Aziz bin Baas, dengan judul yang terjemahannya adalah “Kejahatan yang terjadi di Masjidil Haram, pemikiran yang batil tentang Mahdi Al Muntazar.

Berikut ini adalah guntingan bagian akhir dari karangan itu beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

اما انكارالمهدي المنتظربالكلية كما زعم ذالك بعض المتأخرين فهو قول باطل لان احاديث خروجه في اخرالزمان وانه يملأ الارض عدلا وقسطا كما ملئت جورا قد تواترا معنويا وكثرت جدا واصتفاصت كماصرح بذالك جماعة من العلماء بينهم ابوالحسن الا برى السجستانى من علماؤ القرن الرابع والعلا مح السفارين والعلا مه الشوقكانى وغيرهم وهم كالا جماع من اهل العلم ولكن لا يجوز الجزم بأن فلا نا هو المهدي الا بعي توافر العلا مات التى بينهاالنبي صلم الله عليه وصلم في الا حديث الثابتة واعظمها واوضحها كونه يملأ الارض قسطا وعدلا كما ملئت جورا وظلما كما سبق بيان ذالك

Artinya:

“Adapun mengingkari secara total kedatangan Mahdi yang dijanjikan, sebagaimana anggapan sementara golongan Mutaakhkhirin, adalah pendapat yang keliru. Karena hadis-hadis tentang kedatangannya di Akhir Zaman dan tentang ia akan mengisi bumi ini dengan keadilan dan kejujuran, karena telah penuh kezaliman adalah mutawattir dari segi isi, dari artinya dan terdapat dalam jumlah banyak.

Hal ini seperti sudah dijelaskan oleh kalangan ulama, diantaranya Abdul Hasan AlAbiri as Sajastani, seorang ‘alim abad keIV Hijrah, Allamah As-Safarini, Allamah AsSyaukani, dan lain-lain. Hal ini sudah menjadi semacam ijma’ di kalangan para ahli ilmu. Memang tidak dapat dipastikan seorang adalah Al-Mahdi kecuali bila ia dipenuhi tandatanda sebagaimana diterangkan oleh Nabisaw.

Dalam hadis-hadis yang teguh dan tanda paling besar dan jelas ialah bahwa ia (AlMahdi) akan mengisi bumi dengan kejujuran dan keadilan, karena telah dipenuhi oleh kekejaman dan kezaliman, seperti diterangkan di muka tadi.”

Dalam wahyu berikut ini, Allah Swt juga menyebut kemiripan musuh-musuh Nabi Musa  as yang ditenggelamkan di dasar laut, maka kepada para penentang beliau  as pun (ketakaburan) mereka akan ditenggelamkan, sebagaimana firman-Nya:

يَا اَحْمَدِي اَنْتَ مُرَادِىْ وَ مَعِي سرُّكَ سِرِّىْ شَا نُكَ عَجِيْبٌ وَ اَجْرُكَ  قَرِيْبٌ- اِنِّى اَنَرْ تُكَ وَ اَ خْتَرْتُكَ يَأْتِى عَلَيْكَ زَمَا نٌ كمثْلِ  زَمَانُ مُوْسَى وَلاَ تُخَا طِبْنِىْفىِْالَّذِيْنَ ظََلََمُوا اِنَّهُمْ مُغْرَقُوْنَ  (تذكرة 1969 اردو ص488)

“Wahai Ahmad-Ku, engkau adalah maksud/tujuan-Ku, dan engkau bersama-Ku, keunikanmu/ rahasia engkau adalah keunikan/rahasia-Ku. Keagungan engkau sangat ajaib/luar biasa dan pahala engkau sangat dekat. Aku menerangi engkau dan Aku memilih engkau. Akan tiba atas engkau zaman seperti zamannya Musa. Jangan engkau pertanyakan tentang orang–orang yang zalim itu. Sesungguhnya (keangkuhan) mereka itu akan ditenggelamkan.” (Tadzkirah, hal. 488)[1]

Zaman Hadhrat Ahmad Seperti Zaman Nabi Musa (?)

Wahyu Ilahi bunyinya sebagai berikut:

يَأْتِيْ عَلَيْكَ زَمَنٌ كَمِثْلِ زَمَنِ مُوْ سَى

“Suatu zaman akan datang atasmu seperti zaman Musa.” (Tadzkirah, hal. 446)

Dalam wahyu tersebut, yang dijelaskan adalah zaman yang sedang beliau jalani itu semisal zamannya Musa a.s, bukan sosok beliau, pangkat dan derajat beliau semisal pangkat, derajat  atau posturnya semisal Nabi Musa a.s. Dan wahyu di atas, yang turun lebih dahulu berkaitan dengan wahyu yang turun setelah itu, yakni:

إِنَّه‘ كَرِيْمٌ تَمَشَّ أَمَامَكَ وَعَادَى مَنْ عَادَى

“Dia Maha Mulia. Dia berjalan di depan engkau dan Dia akan menjadi musuh dari orang yang menjadi musuh engkau.”

Sebagai seorang mulham ‘alaihi yakni penerima wahyu langsung dari Allah, Hadhrat Ahmad  as yang sangat paham akan maksudnya itu, telah menjelaskan perihal kemiripan wahyu yang diterima beliau yaitu, “Akan datang atas engkau zaman seperti zaman Musa” dengan wahyu yang diterima Nabi Musa  as dahulu.

Di dalam Tadzkirah, edisi Urdu 1969, halaman 447, pada catatan kakinya beliau menjelaskan begini, “Ini (wahyu yang ke-2 di atas) tampaknya lanjutan dari wahyu yang aku terima kemarin, “Suatu zaman akan datang bagimu seperti zaman Musa.” Bila terdapat persesuaian sastra dari antara 2 wahyu, sekalipun keduanya dipisahkan oleh masa sampai 10 hari, aku yakin, di antara keduanya terdapat pertalian satu dengan lainnya. Di dalam Taurat juga terdapat hal yang serupa dengan itu, bahwa Tuhan berkata kepada Musa, “Berjalanlah dan Aku akan berjalan di depanmu. Dia akan menjadi musuh dari orang yang akan menjadi musuhmu.” (Al-Hakam, Jld. VI, no. 46, 24 Desember 1902, hal. 13)

Bagi orang yang bijak, dengan adanya wahyu yang mengatakan bahwa zaman Hadhrat Ahmad as ini seperti zamannya Musa as, seharusnya ia tidak perlu merasa keberatan atas hal tersebut, sebab Allah Swt., yang menurunkan wahyu ini, Dia itu Maha Mengetahui tentang zaman ini. Bagaimana corak wahyu yang Dia inginkan, itu merupakan hak prerogative-Nya untuk senantiasa menzahirkan sifat mutakalliman-Nya (berwawancakap) dengan hamba-hamba pilihan-Nya. Adapun kita, sebagai manusia, kita tidak punya kewenangan apapun untuk berkeberatan atas hal itu.

Wahyu yang dimaksud begini bunyinya:

أَنْتَ فِيْهِمْ بِمَنْزِلَةِ مُوْسَى فَاصْبِرْ عَلَى جَوْرِالْجَائِرِيْنَ. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُّتْرَكُوْا أَنْ يَّقُوْلُوْا أَمَنَّا وَهُمْ

لاَ يُفْتَنُوْنَ أَلْفِتْنَةُ هُنَا فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْ لُُوْالْعَزْمِ

 “Engkau di tengah-tengah mereka dalam kedudukan Musa, maka bersabarlah terhadap perlakuan keras lawan-lawan. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan ditinggalkan begitu saja sementara ia berkata, ‘Kami sudah beriman lalu mereka tidak akan dicobai?’ Inilah suatu cobaan, maka bersabarlah sebagaimana orang-orang yang teguh itu bersabar.” (Tadzkirah, hal. 446, cet. 1969)

Wahyu AllahSwt kepada Hadhrat Masih Mau’ud as berbunyi,

يَأْتِىْ عَلَيْكَ زَمَنٌ كَمِثْلِ زَمَنِ مُوْسَى

“Suatu zaman akan datang atas engkau, sebagaimana zamannya Musa.”[2]

Kemudian disebutkan dalam nada yang hampir serupa di dalam Tadzkirah, Edisi Urdu tahun 1969, hal. 656-657, hal. 715, 718, 239-240 catatan kakinya, pada intinya ialah,

  1. Hadhrat Ahmad as itu mendapatkan sebutan seperti Musas. Hal itu bukanlah keinginan beliau as, akan tetapi karena memang beliau memiliki quwat qud siyah, kesucian jiwa, kepribadian dan ketinggian rohani seperti Nabi Musa as.
  2. Dalam Al-Qur’an, dijelaskan bahwa Allah Swt menganugerahi hikmah dan ilmu kepada Nabi Musa as (QS. Al Qashash: 25) dan beliau menghadapi berbagai fitnah dari orang-orang Yahudi (QS. As Saff: 6) dan,
  3. Mengalami berbagai penderitaan lainnya. Akan tetapi beliau as termasuk seorang “Rasul Ulul Azmi”, Rasul yang bermental baja, rendah hati dan memiliki ketabahan yang luar biasa.

Di dalam Kitab Perjanjian Lama, tertulis:

“Musa adalah orang yang sangat rendah hati, melebihi semua orang yang hidup di bumi ini.” (Kitab Bilangan 12: 3)

Permisalan di dalam sifat dan kepribadian inilah yang dimiliki kedua pribadi utusan pilihan Allah Swt. ini, baik dalam bentuk cobaan, jenis para penentang dan bentuk penentangan yang beliau-beliau hadapi juga akan banyak persamaannya sebagaimana di dalam beberapa riwayat berikut ini:

  • Hadhrat Syeikh Muhyidin Ibnu Arabi berkata:

وَ اِذَا خَرَجَ هَذَا اْلاِمَا مَ الْمَهْدِيُُّ فَلَيْسَ لَهُ عَدُوٌٌّ مُبِيْنٌ اِلاَّ الْفُقَهَاءُ خَاصَّةًً

Bila Imam Mahdi muncul, tidak ada orang yang lebih nyata menentangnya kecuali para fuqaha khususnya.” [3]

  • Syeikh Ahmad Sarhindi (Lahir 971 H / 1564 M; wafat 1034 H / 1624 M), Mujaddid abad ke-11 berkata:

Ulama-ulama yang lebih memberikan tekanan pada kulit agama daripada isinya akan menolak menerima penafsiran-penafsirannya (Imam Mahdi), karena keluasan dan kedalamannya dan mencap penafsiran-penafsiran itu amat bertentangan dengan Alqur’an Suci dan Sunnah Nabi Muhammadsaw. [4]

  • Nawwab Siddiq Khan (Lahir 1248 H / 1835 M; wafat 1307 H / 1889 M) menulis:

Bila Mahdi akan sibuk dengan usaha menghidupkan kembali sunnah Nabi Muhammad dan membasmi bid’ah-bid’ah, maka ulama-ulama sezamannya menjadi pengikut buta kaum Fuqaha dan senang mencontoh pemuka-pemuka dan nenek moyang mereka akan berkata, ‘Orang ini menentang agama dan tradisi kita yang sudah ada.’ Dengan sepakat mereka akan bangkit menentangnya dan sesuai dengan kebiasaan mereka yang sudah ada berabad–abad, mereka akan menghukumnya sebagai kafir dan melanggar hukum. [5]

Hadhrat Ahmad as setelah mengumumkan kepada dunia bahwa beliau diutus AllahSwt sebagai Imam Zaman. Setelah itu, lebih dari 200 ulama di benua India telah mencap beliau sebagai Dajjal, nabi palsu, penipu, pembohong, murtad, kafir, dan sebagainya.

Penentangan yang keras seperti itu bukan hanya di benua India dan Pakistan saja, bahkan meluas hingga ke seluruh dunia yang dilancarkan oleh kelompok tersebut. Walaupun demikian, beliau senantiasa bersabar dan bersabar, sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan sesuai dengan kepribadian Nabi Musa  as yang ternyata benar-benar beliau miliki. [6]

 

[1] H.R. Munirul Islam Yusuf (2011). Bantahan Lengkap Menjawab Keberatan Atas Beberapa Wahyu di Dalam Tadzkirah & Tabayyun (Penjelasan). Bogor: Bintang Grafika

[2] Tadzkirah, edisi Urdu 1969, hal. 488

[3] Futuhatul Makiyyah, jld III, Bab. 366, hal 374

[4] Maktubati Imam Rabbani, jld II, Maktub 55, hal. 107.

[5] Hujjajul Kiramah, hal. 363, dicetak 1291 H.

[6] H.R. Munirul Islam Yusuf (2011). Bantahan Lengkap Menjawab Keberatan Atas Beberapa Wahyu di Dalam Tadzkirah & Tabayyun (Penjelasan). Bogor: Bintang Grafika

(Visited 35 times, 1 visits today)