Jawaban Atas Tuduhan Bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Mengaku Sebagai Anak Allah

Selain menuduh bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah mengaku sebagai Allah, para penentang juga menuduh beliau telah mengaku sebagai anak Allah. Dan kembali dasar tuduhan mereka adalah kutipan wahyu yang disalahartikan.  Yaitu wahyu yang diterima Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1902, yang salah satu kalimatnya berbunyi:

أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ أَوْلاَدِي

“Engkau disisi-Ku pada kedudukan putra-putra-Ku” (Tadzkirah, edisi 1969, hal. 112, Tadzkirah, 2nd English Edition, hal. 542).

Dan pada tempat lainnya, terdapat wahyu yang berbunyi:

أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلةِ وَلَدِي

Engkau disisi-Ku pada kedudukan putra-Ku

 

Tidak setiap wahyu Allah swt boleh dipahami secara harfiah. Dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat mutasyabihaat yang tidak boleh dipahami secara harfiah, karena akan menimbulkan kesalahan dan merendahkan keagungan Allah swt. Demikian juga wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as banyak yang tidak boleh dipahami secara harfiah, karena itu dalam hal ini biasanya beliau menjelaskannya sendiri supaya orang lain tidak salah paham, namun orang-orang yang bermaksud jahat biasanya memahaminya sesuai dengan tujuan yang diinginkannya.

Kalimat wahyu. itu ’bimanzilati auladii’, yang berarti “pada kedudukan putra-putra Ku”, bukan “anta waladi” atau “engkau adalah putra-Ku”.

Ini berarti, bukan Allah Ta’ala mengangkat beliau menjadi anak-Nya, melainkan karena kecintaan beliau terhadap Allah swt, sehingga Dia mengasihi beliau seperti halnya bapak mengasihi anaknya. [1]

Wahyu tersebut sebenarnya telah dijelaskan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sedemikian rupa jelasnya, antara lain:

“Ingatlah, bahwa AllahS.w.t. suci dari mempunyai anak. Dia tidak mempunyai sekutu, tidak mempunyai anak dan tak seorangpun yang berhak mengatakan bahwa ‘Aku Tuhan atau anak Allah’. Kalimat pada wahyuku ini hanyalah merupakan satu kiasan semata”. (Haqiqatul Wahyi, hal. 89, catatan kaki)

Pada Catatan kaki no. 599 (Tadzkirah, 2nd English Edition, hal. 542-543) beliau menjelaskan:

“Hendaklah diingat bahwa Tuhan Maha Kuasa tidak punya putra. Dia tidak punya sekutu dan putra; dan juga tak seorang pun berhak berkata menjadi Tuhan atau putra Tuhan. Bagaimanapun, kalimat yang digunakan disini, adalah bentuk ungkapan secara isti’arah (kiasan) atau perlambang. Sebagai contoh, dalam Al-Quran, Tuhan berfirman: يَدُالله فَوقَ ايْديْهِم  yang melukiskan tangan-Nya dengan tangan Nabi Muhammad saw dalam kalimat: “Tangan Allah berada di atas tangan mereka”. Dia juga menggunakan ungkapan: . قُلْ يَا عِبَادِى  (Katakan, wahai hamba-Ku), bukan dengan ungkapan:  قُلْ يَا عِبَادَالله (Katakan, wahai hamba Allah). Atau juga seperti firman-Nya: فَذْكُرُواالله كَذِكْركُمْ آباءكُمْ  (Ingatlah Allah sebagaimana kamu mengingat bapak-bapakmu). Oleh karena itu, kalimat Tuhan perlu ditelaah dengan hati-hati dan tajam. Percayalah pada perlambang, dan berputar secara harfiah, serahkanlah kepada Tuhan. Berpegang teguhlah pada kebenaran bahwa Tuhan tidak pernah mengangkat seorang anak-pun; kalimat-Nya banyak mengandung arti kiasan (mutasyabihat). Hati-hati mengartikan kiasan secara harfiah, sebab hal itu akan menghancurkan kamu. Mengenai aku, ada suatu wahyu yang jelas dalam Barahin Ahmadiyah:

 

قُلْ إنَّمَآ أناْ بَشَرٌمّثْلُكُمْ يُوحَى اِلَىَّ أنَّمآ إلهُكُمْ إلهُ وحِدٌ  وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِ الْقُرْءَانِ

 

Katakan pada mereka; Aku hanya seorang manusia seperti kamu juga. Diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan-mu adalah Tuhan Yang Esa, dan semua kebaikan berada dalam Al-Quran”. (Dafi’ul Bala, hal. 6-7, Catatan kaki; Ruhani Khazain, vol. 18, hal. 227, Catatan kaki)

Kiasan seperti ini, dapat dijumpai dalam Al-Quran yang menyatakan:

 فَذْكُرُواالله كَذِكْركُمْ آباءكُمْ

 

“…Maka ingatlah kepada Allah sebagaimana kalian mengingat bapak-bapakmu…”. (Surat Al Baqarah: 201)

Dalam ayat ini, Allah swt memerintahkan kepada orang yang beriman untuk mengingat Dia, seperti mengingat bapak mereka. Maksudnya, bukan Allah swt  mengangkat orang beriman seperti anak-Nya ataupun dan Dia menjadi bapak kita, melainkan sebegitu pentingnya mengingat Allah, sampai-sampai Allah swt  mengkiaskan zikrullah itu seperti kita mengingat orang tua atau nenek moyang kita sendiri, yang sangat dekat di hati kita.

Dalam Hadits Qudsi, terdapat kalimat:

اَلْخَلْقُ عِيالُ اللهِ فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إلى اللهِ مَنْ أَحْسَنَ إِلَى عِيَالِهِ

“Bahwa semua makhluk ciptaan Allah adalah keluarga Allah, maka sebaik-baik manusia adalah orang yang berbuat baik kepada keluarga-Nya.” (Misykat, Babus-Safaah Mathbu Nizhami, hal. 363; Mathbu Mujtba, hal. 425)

Kemudian, terdapat kalimat lain:

إنَّ الْفُقَرَاءَ عِيَا لُ اللهِ

“Sesungguhnya orang fakir itu adalah keluarga Allah.” (Tafsir Kabir Imam Razi, jilid 4, hal. 673, cetakan Mesir)

Kemudian, dalam ayat Al Quran:

يَدُالله فَوقَ ايْديْهِمْ

 “Tangan Allah di atas tangan mereka.”

Kalimat “Keluarga Allah” dan “tangan Allah”, disini bukan berarti keluarga dan tangan lahiriah, melainkan bermakna kiasan atau isti’arah.

Selanjutnya, Allah swt berfirman kepada Nabi Muhammad saw:

قُلْ يَا عِبَادِى

“Katakanlah; Hai hamba-hamba-Ku”.

Kalimat itu seharusnya:

قُلْ يَا عِبَادَالله

“Katakanlah; Hai hamba-hamba Allah

Maksudnya:

“Hai,Muhammad! Katakan kepada hamba-hamba-Allah!”

Makna Allah diubah menjadi aku (Nabi Muhammad saw), menggambarkan betapa tingginya maqam rohani Rasulullah saw, sehingga Allah swt. memerintahkan beliau untuk mengatakan: ” Hai, hamba-hambaku”.

Namun hal tersebut hanya berupa kiasan semata, bukan berarti beliau saw, benar-benar sebagai Allah. [2]

Syah Waliyullah Sahib Muhaddits Delhi menulis tentang kata ‘Ibnu Allah’:

“Kalau ungkapan ‘anak’ digunakan selain untuk menyatakan rasa kecintaan tentulah itu sesuatu yang aneh.

Beliau melanjutkan:

“Sesudah masa permulaan kaum Nasrani muncullah generasi baru yang tidak memahami sebab penamaan Al-Masih (Nabi Isa) sebagai ‘anak Allah’ dan mereka memahami ungkapan ‘anak’ itu dalam arti yang hakiki.” (Al-Fauzul-Kabir, hal. 8 dan juga lihat Hujatul Balighah, bab XXXVI, Jilid I, Terjemahan Urdu, mausumah bih sumusullah al-Bajighah, cetakan Himayat-Islam Press, Lahore, Jilid I, hal 109)

Maulwi Sahib Muhajir Makki r.h. berkata dalam bukunya Izalatul-Auham, hal. 520 bahwa yang dimaksud dengan farzan (anak) adalah Nabi Isa as yang oleh orang Nasrani dianggap sebagai anak yang sebenarnya. Namun semua orang Islam mempercayai bahwa Nabi Isa as yang dijuluki sebagai anak Allah itu adalah kekasih pilihan Allah swt, seolah-olah kata ‘anak Allah’ mengandung arti sebagai kekasih pilihan Tuhan. Dalam pengertian seperti ini orang-orang Islam juga mempercayai bahwa Almasih itu sebagai ‘anak Allah’.[3]

[1] Syamsir Ali (2009). Madu Ahmadiyah Untuk Para Penghujat. Wisma Damai, hal. 37-38

[2] Ahmad Sulaiman, Ekky (2011). Klarifikasi Terhadap Kesesatan Ahmadiyah dan Plagiator, Neratja Press. Hal. 54-58. ISBN 978-602-14539-3-3

[3] Syamsir Ali (2009). Madu Ahmadiyah Untuk Para Penghujat. Wisma Damai, hal. 40-41

(Visited 68 times, 1 visits today)