Salah satu tuduhan keji yang ditujukan kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah beliau mengaku sebagai Tuhan, para penentang itu mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad menyatu dengan Allah dan dia menjadi Allah.

Berikut kutipan yang telah disalahartikan oleh para penentang Ahmadiyah tersebut:

 

َرَأَيْتُنِى فِى الْمَنَامِ عَيْنَ اللهِ و نَيْقَنْتُ اَنَّنى هُوَ وَلَم يَبْقَ لِى اِرَادَة ُ وَلاَ خَطْرَة ٌوَلاَ عَمَلٌ مِنْ جِهَةِ نَفْسِي وَصِرْتُ كَانَاءٍ مُنْثَلِمٍ بَل ْكَشٍْيْيءٍ تََاَبَِّطَهُ شَيْءٌ اَخَرُ وَ اَخْفَاهُ فِى نَفْسِهِ  حَتَّى مَا بَقِىَ مِنْهُ اَثَرٌ وَلاَ رَائِحَة ٌوَصَارَ كَالْمَفْقُوْدِيْن — وَاعِنِى بِعَيْنِِ اللهِ رُجُوْعَِ الظلِّ اِلىَ اَصْلِهِ وَغَيْبُوبَتَهُ ْفِيْهِ كَمِا يَجْرِى مِثلُ هَذِهِ اْلحَالاَتِ فِي بَعْضِ اْلاَوْقاَتِ عَلىَ اْلمُحِبِّْيَنَ- ( أئينه كملات اسلا م ص 564 و كتا ب الباريّه ص 79)

Artinya:

”Aku melihat diriku sendiri dalam mimpi, bahwa aku benar-benar Allah dan aku yakin bahwa aku adalah Dia. Aku sama sekali tidak punya hasrat/keinginan, tidak pula punya daya dan kemauan untuk berbuat sesuatu yang timbul dorongan dari diriku sendiri. Dan jadilah keadaanku ini bagaikan mangkuk yang sudah hancur, bahkan layaknya barang yang terhimpit oleh barang yang lain, hancur lumat, hilang seluruhnya tersembunyi, tanpa bekas, tak ada baunya”.  (Ainah Kamalaati Islaam, hal. 564)

Namun oleh para orang jahil, sebagian kutipan itu diubah sehingga maknanya menjadi buruk dan bertolak belakang. Kalimatnya menjadi:

رَأَيْتُ فِيْ الْمَنَامِ بِأَنّي اِلَهٌ وَ أَيْقَنْتُ اَنْنِي أنَا هُو  اللهُ بِعَيْنِهِ وَ خَطَرَ بِبَالى اَنْ اَصلَحَ الدُّ نْيَا و اُنْظِمَهَا بِنِظَامٍَ جَدِيْدٍ اَيْ اَخْلُق السَّمَاء

“Aku melihat dalam mimpi bahwa aku sungguh-sungguh Tuhan dan aku sepenuhnya yakin bahwa aku benar-benar adalah Dia, Allah Yang sejati. Timbul benar-benar dorongan dari diriku untuk mereformasi dunia ini, dan merobah sistemnya dengan tatanan yang baru, yakni aku ciptakan langit yang baru”.

Pengalaman rohani tersebut terjadi di alam mimpi, sungguh keliru jika mengartikannya secara lahiriah. Peristiwa mimpi yang sama akan menjadi janggal jika dimaknai secara harfiah.

Sebagai contoh, mimpi Nabi Yusuf as, tentang bersujudnya 11 bintang, matahari dan bulan kepada beliau as (Surat Yusuf 12: 4). Tidak berarti ketiga benda planet itu bersujud dihadapan Nabi Yusuf as.

Demikian juga dengan hadits:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ فِى يَدَيَّ سَوَارَيْنِ مِنْ ذَهَبٍ

 “Sesungguhnya Rasulullahsaw. bersabda, ‘Di waktu tidur aku melihat dua gelang emas pada dua tanganku.”  (HR Bukhari, Kitabur Ru’ya, Babun-Nafhi Filmanam, Vol. 2, hal. 49; vol. 4, hal. 134)

Mimpi Rasulullah saw yang memakai gelang emas (hal yang dilarang bagi laki-laki, oleh syariat Islam), bukan berarti beliau saw mengenakan gelang emas secara harfiah.

Jika pengalaman ruhani atau mimpi itu dialami oleh Mirza Ghulam Ahmad, dianalogikan seperti dijelaskan di atas, lalu apa dasar para penentang merasa keberatan atas mimpi beliau?

Terkait dengan hal ini Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri telah menjelaskan makna mimpi itu yaitu:

 وَ لاَ نَعْنِي بِهَذِهِ الْوَاقِعَةِ كَمَا يُعْنَى فِى كُتُبِ أَصْحَابِ وَحْدَةِ الْوُجُوْدِ وَمَا نُعْنِي بِذَلِكَ مَا هُوَ مَذْهَبُ الْحُلُو لِّيِيْنَ بَلْ هَذِهِ الْوَاقِعَةُ تُوَافِقُ حَدِيْثَ النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْنِي بِذَلِكَ حَدِيْثُ الْبُخَارِيِّ فِي بَيَانِ مَرْتَبَةِ قُرْبِ النَّوَافِلِ لِعِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْن

Kami tidak memaknakan peristiwa ini sebagaimana yang dimaknakan dalam kitab-kitab para pengikut kitab Wihdatul-Wujud (yakni aku sendiri adalah Tuhan). Dan kami tidak memaknakan hal itu seperti pendapat para Huluyin (Tuhan menitis dalam diri, dalam sesuatu). Bahkan peristiwa ini sesuai dengan Hadis Nabisaw yaitu Hadis Bukhari tentang penjelasan martabat hamba-hamba Allah yang shaleh yang berusaha mendekatkan diri kepada AllahSwt dengan melakukan ibadah-ibadah nafal.”

Hadits tersebut selengkapnya berbunyi:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman, ‘Aku akan menyatakan perang terhadap orang yang memperlihatkan permusuhan terhadap hamba-Ku yang saleh. Dan yang paling kucintai dari hamba yang mendekat kepada-Ku adalah apa yang telah kutetapkan kepadanya. Ketika hamba-Ku semakin mendekat kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah nawafil hingga Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya. Apapun yang ia minta, Kuberikan kepadanya dan jika ia meminta-Ku melindunginya, Aku akan melindunginya. (Bukhari, Kitabur-Riqaq, Bab at-Tawaadhu’)

Tentu saja makna hadits ini tidak menyatakan bahwa seseorang benar-benar menjadi Tuhan, tetapi maksudnya adalah adalah seorang hamba yang benar-benar menjalin kecintaan dan kedekatan kepada Allah, saat itu ia telah membunuh egonya dan keinginannya sendiri, dan sebaliknya ia terus berusaha untuk meraih ridha Allah. Sehingga apapun ya ia lakukan, atau ia perbuat semata-mata selalu untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Seorang hamba yang telah sedemikian dekatnya kepada Allah, seolah-olah ia telah sepenuhnya menyatu ke dalam wujud Allah. Karena kecintaan yang sangat besar kepada Penciptanya, mereka seakan-akan satu sama lain menjadi satu.

Makna mimpi menjadi Tuhan juga terdapat dalam Kitab Ta’thirul-Anam Fii Ta’biiril-Manam, karya Syeikh Abdul Ghani An-Nablusi, yakni;

ومن رأى كأنه صار الحق سبحانه و تعالى اهتدى إلى الصراط المستقيم

“Siapa yang melihat (dalam tidur) seakan-akan ia menjadi Allah subhanu wa taala, maka ia akan dipimpin ke jalan yang benar”.

 

Referensi:

  • Ahmad Sulaiman, Ekky (2011). Klarifikasi Terhadap Kesesatan Ahmadiyah dan Plagiator, Neratja Press. Hal. 46-49. ISBN 978-602-14539-3-3
  • Allegation that Mirza Ghulam Ahmad claimed Divinity
  • Syamsir Ali (2009). Madu Ahmadiyah untuk Para Penghujat, Wisma Damai.