Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sosok yang sangat mencintai Rasulullah saw, hal itu dapat kita baca lewat tulisan-tulisan beliau (http://ahmadiyah.id/islam/rasulullah-saw) dan melalui amal-amal yang beliau tunjukkan. Tetapi terdapat tuduhan yang mengatakan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad lebih mulia daripada Nabi Muhammad Rasulullah saw.

Ahmad Dahlan di dalam buku Musang Berbulu Ayam menulis:

“Adapun pengakuan tuan Ghulam Husain Al-Fadhil mengatakan Nabi Muhammad saw itu semulia-mulia makhluk itu pun bohong karena berlawanan dengan wahyu Mirza yang tersebut dalam kitabnya “Ainah Kamalati Islam, hal. 124” yang bunyinya:

“Aku Mirza lebih mulia daripada Muhammad” (Musang Berbulu Ayam, hal. 7).

Demi nama Allah Yang Maha Mengetahui, perkataan itu atau perkataan yang semacam itu tidak ada di dalam Kitab itu. Perkataan Ahmad Dahlan ini adalah satu kedustaan yang dia buat sendiri.

Wahai Tuhan adakah orang Islam yang begitu zhalim dan pembohong? Wahai Tuhan! Ada jugakah ulama yang hitam mulai dari muka sampai ke hatinya di atas muka bumi ini? Perkataan Ahmad Dahlan itu adalah berisi “fitnah”, semata-mata, sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Maulana Iyaz. Di sini saya juga menyeru jika Ahmad Dahlan mempunyai rasa kemanusiaan, kejujuran dan keislaman sedikit saja, cobalah ia tunjukkan perkataan itu dari kitab “Ainah Kamalati Islam” atau selainnya. Kalau ia tidak dapat menunjukkan, maka jelaslah wahai pembaca yang jujur! Bahwa Ahmad Dahlan itulah sebenarnya “Musang Berbulu Ayam” dan pendusta besar, sebaliknya saya akan menyebutkan pula apa yang sebenarnya terdapat dalam kitab “Ainah Kamalati Islam” itu! Hadhrat Ahmad as menulis bahwa, Allah swt sudah memberi bermacam-macam nikmat dan rahmat-Nya kepadanya, lalu beliau bersabda:

“Semuanya itu dari berkat-berkat Nabi Muhammad saw, bayangan (Ahmad) telah mengikuti asalnya/Muhammad saw dan ia sudah melihat perkara-perkara yang ajaib dan kata beliau “Aku tidak takut akan orang-orang yang suka menghinakan dan juga orang-orang yang suka mencerca dan segala hal itu saya serahkan kepada Allah saja” (Miratu Kamalati Islam, hal. 7)

 Jadi, Hadhrat Ahmad as itu adalah sebagai bayangan sedang Nabi Muhammad saw itu sebagai aslinya.

Sudahkah pembaca melihat apa yang ditulis oleh Hadhrat Ahmad as dalam kitab itu? Baca lagi sabda beliau as, berikut ini:

“Matikanlah kami dalam golongannya Muhammad saw dan bangkitkanlah kami dalam umatnya dan berilah pada kami minuman dari mata airnya dan jadikanlah itu minuman kami yang tetap, dan jadikanlah ia Nabi Muhammad saw itu sebagai Syafi’ (yang memberi syafaat) dan Musyaffa’ (yang syafaatnya dikabulkan) bagi kami di dalam dunia dan di akhirat, wahai Tuhanku, kabulkanlah doa kami ini!” (Miratu Kamalati Islam, hal. 366).

 Dalam kitab itu juga beliau as telah menulis lagi:

“Dan kami beritiqad bahwa Nabi kita Muhammad saw lebih utama daripada semua Rasul dan beliau berpangkat KhaatamanNabyyin dan lebih mulia daripada semua manusia yang akan datang nanti dan yang sudah berlalu” (Miratu Kamalati Islam, hal. 387).

Inilah tiga keterangan dari berpuluh-puluh keterangan yang telah disebutkan dalam kitab itu, bandingkanlah keterangan-keterangan ini dengan kedustaan dan kepalsuan Ahmad Dahlan tersebut. Ia hendak meludahi bulan, akan tetapi mukanya sendiri yang terkena ludah itu. [1]

Di tempat lain dalam menjelaskan tentang keagungan Rasulullah saw, Hazrat Ahmad menulis:

“Martabat luhur yang diduduki junjungan dan penghulu kami, yang termulia dari semua manusia, Nabi yang paling agung, Hadhrat Khaatamun-Nabiyyin saw, telah berakhir dalam diri beliau saw yang  didalamnya terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tidak dapat dicapai oleh manusia”. (Ahmad, Taudhih Marram, 1891:23).

Selanjutnya Beliau memberikan sanjungan kepada Nabi Muhammad saw:

“Aku menyaksikan suatu kehebatan dalam wajahmu yang bersinar cemerlang, yang melebihi semua sifat manusia lain. Pada wajahnya tampak Tuhan Muhaimin dan seluruh keadaannya bagaikan cermin. Yang menampakan keindahan sifat Ilahi dan kebesarannya sungguh menyilaukan. Ia mengungguli seluruh manusia dengan kemampuan, kesempurnaan dan keelokannya dan kehebatan serta dalam kesegaran jiwanya. Sedikit pun tidak diragukan lagi, Muhammad Shallallaah ‘alaihi wasallam adalah terbaik di antara seluruh makhluk. Paling mulia di antara yang mulia, dan inti orang-orang yang terpilih. Segala sifat yang terbaik dan terpuji, pada diri beliaulah puncaknya dan Anugerah nikmat dirinya. Beliau adalah yang terbaik dari semua orang yang mendapat Qurub Ilahi. Keunggulan Beliau karena kebaikan-kebaikan, bukan karena zaman. Wahai Tuhanku, turunkanlah berkat-berkat kepada Nabi-MU Muhammad saw abadi selamanya, di dunia ini dan di hari kebangkitan kedua”. (Aina Kamalati-Islam, hlm. 594-596).[2]

[1] Muhammad Sadiq bin Barakatullah (2014), Penjelasan Ahmadiyah. Neratja Press, hal. 20-22. ISBN: 978-602-70788-1-9

[2] Syamsir Ali (2009). Madu Ahmadiyah Untuk Para Penghujat. Wisma Damai, hal. 14

(Visited 76 times, 1 visits today)