Ahmad Dahlan di dalam bukunya Musang Berbulu Ayam mengutip wahyu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s tentang Al-Quran:

Bahwasanya Al-Quran itu Kitab Allah dan perkataan-perkataan yang keluar dari mulutku (Mirza).

Tujuan pengutipan tersebut hendak menunjukkan hal-hal dalam pikirannya, ‘Siapakah yang dituju dengan kata “mulutku”. Allah atau Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as?’ Ia mengira bahwa kata itu ditujukan kepada Hadhrat Ahmad as, jika begitu ilham itu menunjukkan bahwa Al-Quran itu keluar dari mulut beliau.

Saudara-saudara yang terhormat! Adapun susunan bahasa Arab itu bukanlah seperti susunan bahasa-bahasa lain, karena bahasa itu sangat luas dan undang-undangnya pun sangat luas pula, jika kita hendak menyamakan susunannya itu dengan susunan bahasa-bahasa lain maka sudah pasti kita akan keliru, saya kemukakan lima contoh ayat Al-Quran saja di sini, silakan tuan-tuan memperhatikan:

Pertama: Firman Allah S.w.t.:

“Inilah ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan benar, wahai Muhammad!” (QS.Al-Baqarah, 2:253)

Kata “Kami” dalam ayat tersebut ditujukan kepada siapa? Berlainankah dengan perkataan “Allah”? Jika berlainan, ditujukan kepada siapa kata “Kami” itu?

Kedua: Firman Allah S.w.t.:

“Mereka itu telah mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah telah mengazab mereka karena dosa-dosa mereka” (QS. Ali-Imran, 3:12).

Perhatikanlah kata “Kami” dan kata “Allah”! berlainankah tujuan kedua kalimah itu? Tidak, sekali-kali tidak!

Ketiga: Firman Allah S.w.t.:

“Demikianlah Kami (Allah) membalas orang yang berlebih-lebihan dan tidak beriman kepada ayat-ayat Tuhan-nya” (QS.Tha Ha, 20:128).

Siapakah yang dimaksud dengan kata “Kami” dan dengan kata “Tuhannya”? Berlainankah? Jika berlainan, cobalah tunjukkan siapakah yang membalas orang-orang yang berlebih-lebihan itu pada hari kiamat?

Keempat: Firman Allah S.w.t.:

“Dia juga yang telah menurunkan air dari awan sesuai dengan kadarnya, maka “Kami” hidupkan dengannya tanah yang sudah kering” (QS. Az-Zuhruf, 43: 12)

Silakan perhatikan ayat ini! Kalau kita hendak membahasakan susunannya menurut susunannya Bahasa kita betapa susahnya nanti? Karena kata “Allah” dan kata “Kami” itu mempunyai satu maksud.

Kelima: Firman Allah swt:

“Orang-orang yang telah mengafiri ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya mereka itu sudah putus harapan dari rahmat-Ku” (QS. Al-Ankabut, 29: 24)

Siapakah yang dimaksudkan dengan kata “Aku” kalau bukan Tuhan?

Cobalah perhatikan! Bukankah susunan wahyu Hadhrat Ahmad itu sama dengan susunan ayat satu, empat dan lima? Sudah jelas bahwa maksud kata-kata “Aku” itu Hadhrat Ahmad sendiri pun tidak mengapa karena Al-Qur’anul-Majid itu ditafsirkan oleh banyak ulama dan jika kita membaca Tafsir-tafsir mereka itu maka kita akan yakin bahwa tafsir sebagian ayat itu bukanlah tujuan ayat yang sebenarnya, bahkan semata-mata rekaan penafsir itu saja. Maka dengan wahyu ini Allah sudah menyuruh Hadhrat Ahmad supaya menyatakan kepada manusia bahwa Al-Quranul-Majid Kitab Allah yang suci dan tafsirnya yang sebenarnya ialah dijelaskan oleh beliau itu di masa sekarang. Adapun turunnya Al-Quranul-Majid kepada Nabi Muhammad saw dan keluarnya dari mulut beliau itu sudah dipercayai oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Dengan jelas beliau menulis:

“Adapun Al-Quran itu tidak mengandung keraguan apa-apa di dalamnya dan inilah yang telah diturunkan dengan sebenar-benarnya kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sudah keluar dari mulut beliau itu, adakah kamu ragu-ragu dalam hal ini?” (Al-Khuthbah Al-Ilhamiyah, hal. 94)

Pendek kata, keterangan Ahmad Dahlan itu menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui cara orang-orang Arab itu bercakap-cakap dan ia tidak juga memperhatikan Al-Qur’an yang mengandung berpuluh-puluh ayat yang susunannya sama dengan susunan wahyu Hadhrat Ahmad as itu, jika sekiranya dia sudah mengetahuinya, berarti sudah pasti ia tidak berlaku jujur dalam hal ini.[1]

[1] Muhammad Sadiq bin Barakatullah (2014), Penjelasan Ahmadiyah. Neratja Press, hal. 3-13. ISBN: 978-602-70788-15-17

(Visited 73 times, 1 visits today)