Tuduhan yang ditujukan kepada pribadi pendiri Jamaah Ahmadiyah adalah naudzubillah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad wafat di WC disebabkan kena wabah kolera dan berlumuran kotoran.[1]

Jawaban:

Mengatakan sesuatu yang hanya didengarnya saja hukumnya berdosa menurut sabda Rasulullah Muhammad saw. Karena itu janganlah mengatakan suatu kesimpulan yang tidak tahu duduk persoalannya.

Tuduhan yang mengatakan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad wafat di WC adalah tidak benar dan itu adalah fitnah keji yang hanya dapat keluar dari mulut orang yang tidak takut kepada Allah swt. Tuduhan  itu hanyalah hasil praduga yang salah, karena penyakit yang terakhir menjelang kewafatan beliau adalah diare yang tentunya beliau harus sering ke WC, lalu dianggapnya beliau meninggal di WC sendirian tanpa ada orang yang tahu. Naudzubillah!.   Pembaca yang Budiman, ketahuilah beliau itu pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah yang mempunyai banyak pengikut dan dihormati. Di akhir akhir hayat beliau, tidak kurang 4 dokter pribadi dan 2 pembantu pribadi selain anak dan pengikut beliau selalu berada bersama beliau. Jadi bagaimana mungkin beliau dapat meninggal dunia sendirian di WC? [2]

Cerita di atas dibuat oleh para penentang beliau, dengan penuh dengki, tetapi tanpa bukti. Siapa di antara mereka yang menyaksikan apalagi membuktikan bahwa beliau wafat di WC? Laysal khabaru kal mu’aayanah, yaitu; Desas-desus tidaklah sama dengan yang disaksikan sendiri.

Kejadian sebenarnya adalah: Beliau meninggal dunia karena diare dan wafat di tempat tidur dengan tenang, disaksikan keluarga, sahabat dan kerabatnya.

Keterangan dari yang menyaksikan kewafatan beliau adalah:

“…Ummul Mukminin (istri beliau) bangun dan terkejut melihat keadaan beliau yang sangat lemah dan bertanya, ‘Ada apa?’. Hazrat Ahmad menjawab, “Sekarang saat kewafatan saya sudah tiba”… para dokter datang dan mulai mengobati beliau.. beberapa obat diberikan melalui suntikan dan beliau tertidur. Pada waktu Subuh, Hazrat Ahmad terbangun dari tidur dan melaksanakan shalat subuh. Kemudian… beliau merebahkan diri di atas tempat tidur. Tidak lama kemudian tampak beliau seperti tertidur… Pada tanggal 26 Mei 1908, pukul 10.30, Hazrat Ahmad berpulang ke Rahmatullah..”. (Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1995, hal. 69-70)

Beliau wafat di kota Lahore. Pada saat itu berjangkit wabah kolera disana. Pemerintah Inggris mengeluarkan larangan keras, bagi orang yang meninggal karena wabah, jenazahnya harus segera dikubur di tempat ia meninggal tidak boleh dibawa ke tempat lain. Hal ini untuk sebagai upaya mencegah penyebaran wabah. Tetapi, jenazah beliau diizinkan dibawa ke Qadian, setelah jenazahnya diperiksa dan diberi sertifikat kematian meninggal bukan karena wabah kolera, melainkan meninggal secara wajar. (Review of Religion, February 1997, vol 92, no 2, hal. 28-29)

Pertanyaannya adalah, apakah sakit diare yang menyerang perut beliau dapat dinyatakan sebagai penyakit yang diridhoi Allah? Jawabannya diperoleh dalam hadits Nabi Muhammad saw yaitu;

  1. “Nabi saw bersabda; Mati syahid itu ada tujuh macam, selain syahid terbunuh di jalan Allah; (1) karena penyakit thaun, (2) karena tenggelam, (3) karena sakit panas, (4) karena sakit perut, (5) karena terbakar, (6) karena tertimbun reruntuhan dan (7) karena melahirkan”. (Fikih Sunnah 11, Sayyid Sabiq, alih bahasa H. Kamaluddin Marzuki, PT. Al Maarif, Bandung, 1987, hal. 80)
  2. “Nabi saw bersabda: Rasulullah bertanya, ‘Bagaimana caramu menghitung syahid?’ Mereka menjawab; ‘Wahai Rasulullah, orang yang mati terbunuh di jalan Allah itu mati syahid’. Rasulullah bersabda; ‘Jika demikian, orang-orang syahid dalam umatku itu sedikit’. Mereka berkata; ‘Jika demikian, siapa wahai Rasulullah?’. Rasulullah menjawab; ‘Orang yang terbunuh di jalan Allah itu syahid. Orang yang mati di jalan Allah itu syahid. Orang yang terserang penyakit thaun itu syahid. Orang yang mati karena penyakit perut, itu syahid. Orang yang mati tenggelam, itu syahid’”. (Fikih Sunnah 11, hal. 81)

Dengan perkataan lain, menurut sabda Rasulullah saw diatas, Mirza Ghulam Ahmad wafat secara syahid. Insyaa Allah.

Dalam buku yang beliau tulis 3 tahun sebelum kewafatannya, yaitu Al Wasiyat, beliau menjelaskan wahyu-wahyu Ilahi yang mengisyaratkan tentang semakin dekatnya saat kewafatannya. Isyarat Allah swt melalui wahyu-Nya itu kemudian sempurna pada saat dan setelah beliau wafat di tahun 1908. Hal ini lebih dari cukup sebagai bukti, bahwa beliau bukan seorang yang dimurkai oleh Allahswt, sebagaimana fitnah yang dilontarkan oleh penentang beliau. [3]

[1] Tuduhan ini disampaikan dalam dokumen yang ditulis oleh Hilman Firdaus yang berjudul Kesesatan Ahmadiyah, Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Muhammadiyah.

[2] Syamsir Ali (2009). Madu Ahmadiyah Untuk Para Penghujat. Wisma Damai, hal. 8-9

[3] Ahmad Sulaiman, Ekky (2011). Klarifikasi Terhadap Kesesatan Ahmadiyah dan Plagiator, Neratja Press. Hal. 30-32. ISBN 978-602-14539-3-3

(Visited 489 times, 2 visits today)