Betul,  Beliau pernah mengaku sebagai nabi ummati,  karena Allah berkali-kali memanggil beliau sebagai Nabi dan Rasul melalui Wahyu-Nya sebagaimana yang dijanjikan dalam Al Quran surah An-Nisa ayat 70, yaitu Nabi pengikut dan penerus syariat Islam, bukan nabi yang membawa syariat dan agama yang menyalahi agama Islam. Nabi jenis ini tidak mengingkari dan menyalahi Nabi Muhammad saw sebagai khataman nabiyyin, bahkan nabi jenis ini untuk membenarkan dan menguatkan makna khataman nabiyyin, sebagaimana sabda yang mulia Sayyidina Al-Mustofa Muhammad saw sendiri yang menyatakan:

اِنما بُعِثْتُ فَاتِحًا و خَاتِمًاَ

Aku hanyalah diutus sebagai seorang nabi pembuka dan penutup. (Al Jamiush-Shagir, jilid I, hal.102)

Hadits tersebut dijelaskan oleh Ali Bin Abi Thalib ra bahwa Rasulullah saw itu adalah nabi pembuka bagi jenis kenabian yang sebelumnya ditutup, yaitu jenis nabi ummati (ghairu mustaqil), artinya nabi yang dipilih Allah karena telah mengikuti beliau saw seperti yang dijanjikan dalam ayat Al-Quran, istimewanya surah An-Nisa ayat 70, sedangkan Rasulullah saw menyatakan sebagai nabi penutup artinya menutup jenis kenabian sebelum beliau, yaitu jenis  kenabian yang membawa syariat baru atau agama baru dan jenis kenabian mustaqil ( terpisah) dari nabi pembawa syariatnya, meskipun ia sendiri tidak membawa syariat, bahkan ia diperintahkan supaya mengikuti syariat nabi sebelumnya. Jadi, jenis kenabian menurut Islam itu ada tiga macam, yaitu:

  1. Nabi yang membawa syariat (Nabi tasyri ‘)
  2. Nabi Mandiri yang tidak membawa syariat (nabi ghairu tasyri’  wa mustaqil)
  3. Nabi ummati dan tidak membawa syariat (Nabi ghairu tasyri’ wa ghairu mustaqill)

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as,  dipilih Allah dan mengaku sebagai nabi ummati  yang tidak membawa syariat baru. Jadi beliau bukan seorang Nabi dalam pengertian orang-orang yang menolak pendakwahan beliau.  Guna lebih jelasnya perhatikan pernyataan beliau dalam buku beliau – ek Ghalati  ka Izala (Memperbaiki Suatu Kesalahan) sebagai berikut:

“Dan kapanpun atau dimanapun aku telah mengingkari panggilan ‘nabi’ atau ‘rasul’ maka artinya tidak lain adalah bahwa aku bukanlah nabi atau rasul yang mustaqill, yang membawa syariat atau nabi yang berdiri sendiri. melainkan bahwa aku menerima karunia-karunia kerohanian dari Rasulullah Muhammad saw karena aku menaati beliau saw.

Jadi,  Ahmadiyah mempunyai pemahaman tentang nabi dan rasul ada tiga jenis dan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as hanyalah dipilih dan mendakwahkan diri sebagai nabi dalam pengertian yang telah beliau jelaskan sendiri,  bukan seperti yang dipahami oleh mereka yang menolak pendakwahan beliau. Agar lebih mantap perhatikan pernyataan beliau berikut ini:

“Aku tidak mengaku menjadi nabi dan rasul seperti yang dipikirkan mereka, (maksudnya menurut konsep yang biasa dipahami di luar Ahmadiyah) tapi harus diketahui bahwa aku adalah nabi dan rasul seperti yang aku terangkan.” (Eik Ghalati ka Izalah)[1]

 

[1] Syamsir Ali (2009). Madu Ahmadiyah Untuk Para Penghujat. Wisma Damai, hal. 12-14

(Visited 181 times, 1 visits today)