Kalau ada yang menghujat seperti keberatan ini, maka kita dapat menebak betapa dangkalnya orang tersebut dalam Ilmu Tafsir Alqur’an, Hadis,  ilmu Tassawuf ataupun tentang Tawarikh Islam-nya.

Hakikat Hadhrat Ahmad as menjadi Ibnu Maryam, sebuah hadis Rasulullah saw, di dalam Riwayat Bukhari sebagai berikut:

مَامِنْ مَوْلُوْدٍ اِلاَّ وَالشَّيْطَانُ يَمَسَّهُ حِيْنَ يُوْلَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِ خًامِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ اِيَّاهُ اِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا[1]

Tiada anak yang dilahirkan kecuali setan menyentuhnya. Sewaktu dilahirkan, maka ia menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan anaknya tidak disentuh setan.

Dalam hal ini akan timbul pertanyaan, apabila hanya Maryam dan anaknya yang bebas dari sentuhan setan maka bagaimana dengan para nabi yang lain pada umumnya? Dan bagaimana sentuhan setan kepada Yang Mulia Rasulullahsaw? Menjawab pertanya an ini, Az-Zamakhsari dalam Tafsir Kasysyaf-nya menjelaskan:

مَعْنَاهُ اَنََّ كُلََ مَوْلُوْدٍ يَطْمَعُ الشَّيْطَانُ فِيْ اَغْوَاعِهِ اِلاَّ مَرْيَمَ وَاِبْنَهَافَاِنَّهُمَاكَانَا مَعْصُوْمِيْنَ وَكَذَالِكَ كُلُّ مَن ْكَانَ فِيْ صِفَا تِهِمَا

“Maksud hadis ini adalah setiap anak yang dilahirkan, setan menginginkan untuk menyesatkannya kecuali terhadap Maryam dan anaknya, karena mereka itu suci (ma’shum). Dan demikian juga setiap anak yang memiliki sifat-sifat mereka, yaitu Maryam dan anaknya.”

Dalam hadis Yang Mulia Rasulullah saw bahwa yang dimaksud Maryam dan Ibnu Maryam tidak hanya dua macam manusia saja. Tetapi maksudnya kaum mukmin dan para nabi, yang mereka itu oleh lisan Yang Mulia Nabi saw. dijuluki dengan sebutan Maryam dan Ibnu Maryam. Lebih lanjut, sifat mereka itu dijelaskan dalam ayat Alqur’an berikut:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذينَ آمَنُوا امرَأَتَ فِرعَونَ إِذ قالَت رَبِّ ابنِ لي عِندَكَ بَيتًا فِي الجَنَّة

وَنَجِّني مِن فِرعَونَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّني مِنَ القَومِ الظّالِمينَ

وَمَريَمَ ابنَتَ عِمرانَ الَّتي أَحصَنَت فَرجَها فَنَفَخنا فيهِ مِن روحِنا وَصَدَّقَت بِكَلِماتِ رَبِّها وَكُتُبِهِ وَكانَت مِنَ القانِتينَ

“Dan Allah telah membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman, istri Fir’aun, ketika ia berdoa, “Wahai Tuhanku, dirikanlah untukku satu rumah di sisi Engkau dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan peliharalah aku dari kaum yang aniaya, dan begitu juga Maryam binti Imran yang telah manjaga kesuciannya. Kemudian Kami meniupkan padanya ruh Kami dan membenarkan firman dan kitab Tuhannya dan dia termasuk orang yang patuh.”  (QS. At-Tahrim: 12-13)

Dalam ayat sebelumnya, orang-orang kafir dimisalkan dua perempuan, yaitu istri Nabi Nuh as dan istri Nabi Luth as. Oleh karena kedua suami mereka adalah mukmin sejati, namun mereka sendiri adalah kafir. Ayat-ayat tersebut ini menjelaskan bahwa mukmin ini ada dua macam. Pertama adalah mukmin yang memiliki sifat Asia, istri Firaun. Kedua, mukmin yang memiliki sifat Maryam.

Mukmin yang pertama, seorang yang berada di bawah kekuasaan seorang kafir dan ia memanjatkan doa untuk mendapatkan keselamatan dari kezhalimannya, sedangkan mukmin kedua adalah yang sejak semula keburukan tidak dapat menguasai dirinya. Potongan ayat yang berbunyi:

اَحصنَتْ فَرْجَهَا

“Orang (perempuan) yang menjaga kesucian dirinya.”

Mukmin bentuk inilah yang oleh Alqur’an disebut dengan sebutan “Maryam”. Selanjutnya, dari status dan maqom Maryam, ia pun meningkat ke derajat Ibnu Maryam, sesuai dengan ayat Alqur’an yang berbunyi:

فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُوْحِنَا

 “Lalu Kami tiupkan kedalamnya ruh Kami.” (QS. Al-Anbiya: 92)

Sebagaimana fil haqiqah, maqom Maryam adalah derajat Siddiqiyah, sedangkan maqom Ibnu Maryam adalah derajat kenabian. Ternyata setiap nabiullah mengalami 2 tahapan atau 2 maqom ruhaniyyah: Pertama, maqom Maryam, yang mana maqom ini diisyaratkan oleh ayat Alqur’an yang berbunyi:

 فََقََدْ لََبِثْتُ فِيْكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ

“Lalu, sesungguhnya aku hidup di tengah-tengah kamu bertahun-tahun lamanya sebelum itu.” (QS. Yunus: 17)

Sesudah keadaan Maryam ini, kemudian meningkat ke maqom kenabian dan di dalam kedua keadaan ini dia suci dari sentuhan setan. Arti inilah yang dimaksudkan oleh hadis bukhari tersebut di atas.

Ayat-ayat Surah At-Tahrim tersebut membuktikan bahwa sebagaimana Siti Maryam Sidiqah mencapai maqom kesuciaan yang sangat tinggi, kemudian mengandung dan melahirkan Isa as yang menjadi Nabi Allah, demikian juga seorang mukmin laki-laki pun mengalami keadaan Maryam. Ia kemudian akan mengandung secara keruhaniaan dan mengandung secara kiasan yang menyebabkan kelahiran Ibnu Maryam secara majasi atau kiasan. Mukmin laki-laki itu disebut Maryam dalam majas dan istiarah.

Demikian juga dia mengandung dalam makna majaz dan istiarah, dan dalam makna ini menyebabkan kelahiran Ibnu Maryam. Allah Swt telah membuat perumpamaan orang-orang kafir dan mukmin dengan 4 orang wanita. Memang laki-laki itu bukanlah sejatinya seorang perempuan, tapi dalam arti istiarah dan majas, mereka disamakan dengan perempuan. Inilah sebabnya Syekh Fariduddin Ath-Thar ra telah mengutip perkataan Hadhrat Abbasiyah Thasi ra sebagai berikut:

“Pada Hari Kiamat ketika datang seruan, Wahai Laki-laki, kalian dari shaf laki-laki yang paling pertama harus mengikuti jejak langkah Maryam.” [2]

Ke arah poin makrifat inilah, Hadhrat Masih Mau’ud a.s mengisyaratkan melaui syair-syair dalam bahasa Parsi, yang terjemahannya sebagai berikut:

“Sesudah mencapai maqom Maryam, sesudah mengalami jenjang yang sulit; kemudian AllahSwt, Yang Maha Kuasa pun meniupkan ruh Isa ke dalam Maryam.” (Haqiqatul-Wahyi, hal. 339)

Kemudian beliau bersabda:

“Sifat-sifat Maryam pun telah berpindah kepada sifat-sifat Isa.” (Kisyti Nuh, hal. 4)[3]


[1] Artikel A, hal. 12-14.

[2] Tadzkiratul Auliya, Dzikir Hadhrat Rabiah Bashra, Bab 9, hal. 51. cetakan Syeh Barkat Ali, Edisinal Lahore wa Zhahirul Asyifa, terjemahan Urdu, Tadzkiratul Auliya, hal. 55.

[3] H.R. Munirul Islam Yusuf (2011). Bantahan Lengkap Menjawab Keberatan Atas Beberapa Wahyu di Dalam Tadzkirah & Tabayyun (Penjelasan). Bogor: Bintang Grafika

(Visited 8 times, 1 visits today)