Berikut jawaban terhadap keberatan para penentang Ahmadiyah yang mengatakan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sama dengan ketauhidan dan keesaan Allah.

 Wahyu di dalam Tadzkirah:

 اَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَتِ تَوْحِيْدِي وَ تَفْرِيْدِي

 “Engkau bagi-Ku seperti Tauhid-Ku dan Keistimewaan-Ku. Saat sudah tiba ketika engkau akan dibuat terkenal di antara manusia.” (Tadzkirah, edisi 1969, hal. 66; Tadzkirah, 2nd English Edition, hal. 82).

Wahyu tersebut menunjukkan maqam kesucian ruhani Mirza Ghulam Ahmad  dalam pandangan Allah swt. Beliau sendiri menjelaskan makna wahyu tersebut adalah:

“Engkau begitu akrab di sisi-Ku, yang Aku inginkan dari engkau adalah sebagaimana halnya Tauhid dan Keesaan-Ku”. (Arba’in, vol. 3, hal. 25)

Selanjutnya beliau menjelaskan:

“…….Orang yang ditunjuk membangun Keesaan Tuhan ibarat meterai bagi Keesaan-Nya, ialah dia mencurahkan sepenuhnya kepada tujuan dan sasaran, serta mencurahkan dirinya kepada pelaksanaan tugas ini, sehingga seolah dia adalah bentuk perwujudan dari Keesaan Tuhan. Manusia di bumi berupaya kembali dari meraih tujuan rendah yaitu penyembahan berhala, tetapi tujuan itu tidak bisa tercapai, sampai Allah Yang Maha Agung Sendiri mengisi seseorang dengan meterai ini…..Penunjukkan seseorang dikarenakan terjadinya kegelisahan untuk menegakkan Tauhid. Ia mempunyai keinginan bahwa sesuai kehendak Ilahi, Keesaan, Keagungan dan Kemuliaan-Nya akan mengalami kemenangan. Itulah makna wahyu:

(Arab) Kamu bagi-Ku bagai Tauhid-Ku dan Keistimewaan-Ku. (Al-Badr, vol. 2, no. 12, 10 April 1903, hal. 91, kol. 2; Tadzkirah, 2nd English Edition, hal. 82).

Sejalan dengan penjelasan di atas, Bayazid Busthomi (seorang ulama bukan dari Ahmadiyah) menuliskan pengalaman ruhaninya yaitu:

“Allah swt telah meletakkan mahkota kehormatan di atas kepalaku dan membuka pintu tauhid-Nya bagiku, maka Dia telah mempertemukan sifatku dengan sifat-Nya, Dia mempersenyawakan jati diri-Nya, lalu menyatakan namaku di dalam hadirat-Nya. Maka dua hilang esa-pun terbilang”.

Selanjutnya beliau bersabda:

“Keinginanmu, menjadi keinginan-Ku. Keadaan menjadi sedemikian rupa sehingga lahir dan batinpun lenyap, membuat segala ke-basyariatan (unsur manusiawi) pun lenyap sirna. Sebuah lubang di dalam rongga kegelapan di dada mulai terbuka; kepadaku dianugerahkan lidah ke-Tauhid-an dan ke-Esa-an, maka sekarang pastilah lidahku berkata dengan keunikan shamad-Nya dan kalbuku bergetar dengan nur Rabbani-Nya dan mataku melihat dengan keunikan Tuhan, bila aku hidup dengan semua itu, maka aku tidak akan mati. Ketika aku sudah mencapai derajat itu, maka gerakan isyarah jariku bersifat azali, ibadahku menjadi langgeng abadi, lidahku menjadi lidah Tauhid dan ruh ini menjadi ruh kemanunggalan. Aku tidak berkata dari diri sendiri ataupun berkata sendiri, bahwa aku ini mengucap zikir dengan lidah ini, aku sebagai penterjemah perantara; pada hakikatnya aku adalah Dia dan bukanlah aku”. (Tadhkiratul Auliya Bab ke-14, Zikr Mijaz Syekh Bayazid Busthomi, cetakan Mathba’ Islamiyah Lahore, hal. 156-157; Tadhkiratul Auliya terbitan Syekh Barkat Ali & sons, cetakan Mathba’ Ilmi, Lahore, hal. 130. Lihat juga Aku adalah Hajarul Aswad, hal. 662 dan 646).[1]

Referensi:

[1] Ahmad Sulaiman, Ekky (2011). Klarifikasi Terhadap Kesesatan Ahmadiyah dan Plagiator, Neratja Press. Hal. 36-38. ISBN 978-602-14539-3-3

(Visited 34 times, 1 visits today)