Ancaman Perdamaian Dunia

Hazrat Mirza Masroor Ahmad

Pidato yang disampaikan pada jamuan spesial

di Princess Court Reception Centre, Melbourne, 11 Oktober 2013

bersatu untuk perdamaian

 

Para tamu yang terhormat
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Sebelum berbicara tentang hal-hal penting yang dibutuhkan dunia saat ini, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anda semua yang sudah menerima undangan dan hadir bersama kami di sini. Kehadiran anda yang tidak memandang perbedaan agama dan keyakinan menunjukkan sifat toleransi dan keterbukaan anda. Itu merupakan bukti atas keterbukaan pikiran dan sikap toleransi anda. Tentu saja, di tengah kondisi dunia yang materalistis saat ini, kedatangan anda dengan mendengarkan kata-kata dari seorang tokoh agama menunjukkan pikiran dan visi anda yang luas. Sementara itu dari sudut pandang duniawi sebagai bentuk norma kesopanan saya ingin menyampaikan penghargaan kepada anda. Dan hal yang penting bagi saya, menunjukkan rasa terima kasih merupakan bentuk kewajiban agama saya.

Kita perlu mengungkapkan rasa terima kasih sebagai wujud syukur kita kepada Sang Pencipta, karena junjungan saya, Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa seseorang yang tidak bersyukur kepada manusia ia tidak bersyukur kepada Tuhan. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia dan Tuhan menginginkan umat manusia supaya menghormati dan menghargai sesamanya. Itulah mengapa, Al-Quran – yang merupakan kitab suci bagi umat Islam dan menurut kami sebagai kitab syariat yang paling sempurna, dari awal sampai akhir – penuh dengan perintah-perintah yang mengharuskan umat manusia untuk memenuhi hak-hak satu sama lain.

Tentu saja mengungkapkan terima kasih kepada orang lain juga merupakan sarana memenuhi hak-hak yang dimiliki manusia, dan rasa terima kasih saya bukanlah formalitas semata melainkan muncul dari hati terdalam. Jadi jelas bahwa rasa terima kasih saya ini disampaikan bukan bentuk sopan santun semata melainkan untuk meraih keridhaan Allah taala.

Setelah pengantar singkat ini, sekarang saya ingin membahas beberapa permasalahan yang mendesak, yang telah menyebabkan manusia tidak memenuhi hak-hak satu sama lain di dunia saat ini. Tentu saja, kondisi genting ini dapat disaksikan oleh semua orang. Krisis ekonomi yang terjadi beberapa tahun lalu benar-benar menggoyahkan ekonomi dunia hingga ke dasar dan dampaknya masih terasa sampai sekarang. Biaya hidup dan inflasi telah melumpuhkan dunia dan pengangguran telah mencapai tingkat tertinggi di beberapa negara. Sejumlah negara Eropa telah terlilit hutang, bahkan menjadi bangkrut. Ini bukan hanya permasalahan bagi Eropa. Karena jika kita melihat Amerika Serikat yang dianggap negara paling kuat di dunia, kita mendapati bahwa beberapa Dewan Kota terpaksa menyatakan kebangkrutan kota mereka karena tidak sanggup dengan beban hutang yang mencapai milyaran dolar. Bahkan Pemerintah Federal telah mencapai titik yang mengharuskan beberapa kantor mereka mesti ditutup. Ini adalah kondisi negara-negara maju, sementara ekonomi negara-negara terbelakang selalu dalam kesulitan. Dibandingkan dengan negara lain, Australia masih dalam keadaan stabil. Namun, Australia juga telah terkena dampak krisis ekonomi global.

Dunia pada saat ini sudah sangat terhubung, tidak seperti sebelumnya. Sehingga permasalahan yang dihadapi satu negara memiliki efek domino pada negara lain, begitupun perkembangan suatu negara memiliki dampak positif bagi negara lain. Melihat kondisi ini, kita tidak dapat mengatakan bahwa satu negara dapat luput dari masalah atau kebal terhadap krisis hutang global. Lebih jauh kita melihat bahwa krisis ekonomi belum teratasi sementara krisis besar lainnya tengah tumbuh di beberapa negara. Yang saya maksudkan adalah krisis yang menimpa Dunia Arab dan negara-negara Islam yang kemudian dikenal dengan ‘Arab Spring.’ Di beberapa negara, warga mereka mulai menentang pemerintahnya. Terjadi protes dan demonstrasi besar. Terjadi juga pembantaian dan pembunuhan yang menyebabkan ribuan orang merenggang nyawa dan hingga sekarang ribuan orang terus kehilangan nyawa mereka.

Di beberapa negara, pemerintah setempat mampu menekan protes dan mengendalikan situasi. Namun di negara lain, pemerintah mereka menghadapi persoalan berat bahkan menghadapi kebrutalan. Saat ini masih terdapat negara yang dilanda perang yang terus menghadapi pemberontakan besar. Negara-negara besar ikut terlibat pada sebagian konflik dengan memasok senjata dan dana kepada para pemberontak dengan dalih membantu rakyat. Tetapi kita patut mempertanyakan hasil dari upaya tersebut, karena kekacauan dan kekisruhan terus terjadi di negara-negara tersebut. Misalnya, jika kita lihat Libya, kita menyaksikan bahwa para pejabat, analis politik dan media, semuanya sepakat bahwa telah terbentuk kelompok-kelompok pemimpin yang bersifat kesukuan, sehingga akibatnya, pemerintah pusat menghadapi kesulitan besar dan terus dilemahkan.

Saat kunjungan saya ke Amerika Serikat baru-baru ini, seorang wartawan dari sebuah surat kabar terkemuka menanyakan pendapat saya mengenai efek jangka panjang atau keuntungan dari aksi semacam itu di beberapa negara. Saya menjawab bahwa tindakan-tindakan tersebut tidak akan mengarah pada perdamaian, baik Libya atau Mesir atau negara-negara lain. Ketika saya bertemu dengan wartawan itu pada bulan Mei tahun ini, saya katakan bahwa pertumpahan darah lanjutan akan terjadi di Mesir. Tetapi saya tidak menyangka hal terjadi begitu cepat – yaitu beberapa minggu kemudian kita melihat kenyataannya. Terlepas dari kekerasan dan korban jiwa yang sangat besar, nampak nyata pada situasi ini, negara-negara besar mengabaikan kekuatan besar yang digunakan oleh pemerintah baru melawan beberapa kelompok rakyat. Mungkin hal itu dirasa bahwa diperlukan tangan yang kuat untuk melawan orang-orang semacam itu, tetapi hasil yang sama bisa dicapai hanya dengan kekuatan yang lebih kecil. Poin utama saya adalah untuk penanganan situasi yang sama, dengan dalih menegakkan perdamaian perdamaian, negara-negara besar mengambil dua pendekatan yang berbeda.

Mari kita lihat contoh di negara lain. Kita semua menyaksikan bahwa di depan mata kita situasi di Suriah terus memanas dan memburuk. Puluh ribu orang meninggal dan terus meningkat, sementara jutaan warga lainnya terpaksa mengungsi dari negara mereka untuk menghindari situasi yang mengerikan itu. Beberapa minggu lalu terlihat bahwa aliansi dari beberapa negara bersiap untuk melancarkan serangan militer ke Suriah, tapi untungnya situasi tersebut berubah. Mungkin saja para penguasa Suriah telah melakukan kejahatan dan ketidakadilan kepada warga mereka sendiri. Namun, dalam upaya meraih kebebasan, kelompok-kelompok pemberontak itu juga telah melakukan kekejaman. Orang-orang tidak berdosa, yang memiliki agama dan keyakinan yang sama dengan pemerintahan Suriah, telah dibunuh secara brutal oleh mereka yang menentang pemerintah. Lebih lanjut, dengan dalih membantu warga Suriah, kelompok-kelompok ekstremis dari luar Suria datang dan bergabung untuk berperang. Tetapi, mereka tidak berperang melawan pemerintah karena rasa simpati atau kepedulian kepada manusia, melainkan hanya ingin mencapai kepentingan dan keuntungan pribadi.

Pemerintah Suriah mengklaim bahwa mereka tidak menggunakan senjata kimia sebaliknya mereka menuding kelompok pemberontaklah yang menggunakannya. Para pengamat dan pengawas luar mengatakan bahwa mereka memiliki bukti penggunaan senjata kimia di Suriah, tetapi nampaknya tidak ada bukti yang kuat siapa pihak yang menggunakannya. Namun, sekarang terdapat beberapa pihak datang ke Suriah untuk menghancurkan senjata-senjata itu. Kita hanya berdoa semoga Allah membantu untuk keberhasilan tujuan mereka. Tuhan lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang terjadi di Suriah tidak hanya menghancurkan perdamaian dan keharmonisan di wilayah itu, tetapi juga menghancurkan perdamaian di seluruh dunia.

Prinsip yang terpenting adalah jika suatu negara melakukan kejahatan atau pelanggaran maka negara-negara tetangga wajib untuk menghentikannya. Beberapa bulan lalu Presiden Israel memberikan saran yang bijak untuk menyelesaikan krisis Suriah. Ia mengatakan bahwa daripada negara-negara besar memberikan bantuan senjata atau dukungan lainnya kepada tetangga-tetangga Arab Suriah, tindakan yang diambil untuk menegakkan perdamaian harusnya hanya meliputi pasukan Arab saja. Ia mengatakan bahwa jika angkatan bersenjata negara Barat atau non-Arab terlibat secara langsung maka perdamaian dunia menjadi semakin memburuk.

Tentu saja, kejadian ini benar-benar akurat untuk menunjukkan bahwa serangan kepada Suriah akan memancing terjadinya Perang Dunia Ketiga. Dua blok besar akan terbentuk – dan faktanya sudah terbentuk. Kita tahu bahwa Rusia dan China dan beberapa sekutu membantu dan mendukung pemerintah Suriah. Seperti telah saya katakan, ada terdapat dampak besar dari perang dunia, dan jika kita ingin menghindarinya maka para pembuat kebijakan harus membuat keputusan dengan bijak dan penuh pertimbangan.

Apa yang diajarkan Islam untuk membangun perdamaian dalam kondisi seperti itu? Di dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 10 Allah berfirman:

Dan, jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya, maka jika salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain, maka perangilah pihak yang menyerang, hingga ia kembali kepada perintah Allah, kemudian jika ia kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berbuat adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.”

Jadi ini adalah metode yang seharusnya digunakan oleh negara-negara tetangga Suriah untuk menciptakan perdamaian antara pemerintah dan kelompok oposisi. Sayangnya, pendekatan ini tidak diambil sejak awal sehingga ribuan orang terbunuh dan ratus ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Sebenarnya ini adalah tugas Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk bersatu dan berupaya mewujudkan perdamaian di kawasan itu.

Namun bukannya menganggap itu tugas mereka, negara-negara Islam malah mengundang negara-negara Barat untuk mengupayakan perdamaian atau mungkin negara-negara Barat yang mengundang diri mereka sendiri. Apa hasil yang didapatkan? Kita telah menyaksikan dampak nyata yang muncul, telah terbentuk dua blok yang berlawanan yang memiliki motif-motif berbeda. Hal ini tentu saja mengarahkan kita pada jurang kehancuran dari Perang Dunia Ketiga.

Ajaran Alquran yang saya sampaikan sangat jelas menyatakan bahwa semua usaha untuk mengadakan perdamian dari pihak-pihak yang bertikai harus didasarkan oleh keadilan hakiki. Jadi tidak seharusnya mereka yang ditugaskan membangun perdamaian menuntut untuk mengubah rezim sebagai prasyarat yang diperlukan, yang kemudian menyerahkan kunci pemerintahan kepada kelompok tertentu.

Jika kelompok yang melanggar setuju untuk memenuhi hak-hak warganya, dan memperlakukan mereka dengan adil dan setara, maka mereka yang datang sebagai pembentuk perdamaian tidak boleh menetapkan kondisi yang tidak adil dan tidak benar. Mereka harusnya tidak menggunakan kekuatan yang berlebihan dari yang seharusnya karena hal itu hanya akan mengarah pada kondisi yang semakin buruk. Islam mengajarkan bahwa ketika pihak ketiga yang mengupayakan rekonsiliasi antara dua faksi yang bertikai, mereka tidak boleh memihak tetapi harus menerapkan keadilan hakiki. Tentu saja ajaran yang saya sampaikan ini adalah ajaran Islam hakiki nan indah.

Jika umat Islam mengikuti petunjuk ini, kita tidak akan mendapati kekhawatiran di kalangan masyarakat, karena kerusuhan itu terjadi ketika hak seseorang dirampas atau tidak dipenuhi. Ketika keputusan-keputusan dibuat sesuai prinsip keadilan sejati, dan ketika hak-hak semua orang terpenuhi, maka perdamaian dan harmoni akan terwujud.

Mengenai pemenuhan hak-hak satu sama lain, Islam memberikan ajaran yang mendalam. Namun, karena terbatasnya waktu, tidak mungkin saya sampaikan semua pada hari ini. Saat ini saya ingin menyampaikan bahwa prinsip indah yang diberikan oleh Alquran bukan hanya untuk orang Islam saja tapi ajaran kebenaran yang bersifat universal, yaitu terwujudnya perdamaian dan keadilan. Sayangnya, atas nama perdamaian juga negara-negara besar ikut campur dalam urusan negara lain, mereka tidak menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan sampai tingkat yang diperlukan atau secara memadai.

Selama kunjungan saya ke Amerika Serikat, saya juga menyampaikan pidato di hadapan politisi senior dan para pembuat kebijakan di sana. Saya dengan jelas mengatakan kepada mereka bahwa segala tindakan atau kebijakan yang mereka ambil untuk membentuk perdamaian tidak akan pernah terwujud, sebelum semua orang mengesampingkan kepentingan pribadi dan tegaknya keadilan yang seutuhnya, dan tanpa pamrih. Untuk itulah di tempat lain Alquran menyatakan bahwa kalian harus senantiasa bertindak adil, sekalipun harus bersaksi menentang diri sendiri atau orang-orang yang dicintai. Jadi, poin yang ingin saya sampaikan adalah negara-negara besar dan PBB harus berupaya mewujudkan perdamaian dan rekonsiliasi dengan jalan adil dan kejujuran. Ketika ada perselisihan antara dua pihak atau negara, semua pihak harus berfokus pada pemenuhan hak masing-masing. Manakala kesepakatan damai telah terwujud, maka negara-negara besar atau PBB harus menjauhkan tujuan politik mereka sendiri terhadap negara atau kelompok manapun.

Jika kita lihat sejarah, kita menemukan bahwa Liga Bangsa-Bangsa telah gagal dalam dalam tujuannya, karena mereka bertindak di luar prinsip-prinsip ini. Kegagalan fatal dalam menegakkan keadilan telah menyebabkan kehancuran yang besar ketika terjadi Perang Dunia Kedua. Begitu juga jika kita beralih ke zaman ini, kita melihat PBB belum melakukan peran sebagaimana mestinya dan seringkali bungkam dalam berbagai permasalahan. Lebih jauh lagi, para pemimpin negara-negara besar pun menentang otoritas PBB dengan mengatakan bahwa mereka tidak mesti memerlukan izin dari PBB, karena itu adalah hak mereka untuk bertindak sesuka hati. Mereka mengatakan bahwa jika mereka ingin menyerang Suriah, mereka bebas untuk melakukannya. Mereka harus sadar bahwa dengan mengesampingkan prinsip-prinsip keadilan dengan dalih untuk memenuhi hak-hak orang lain, sementara mereka duduk ribuan mil jauhnya, maka tidak diragukan lagi hal itu hanya akan menimbulkan perselisihan dan kekacauan. Melalui tindakan mereka, semua orang akan terkena dampaknya.

Dunia telah menjadi sebuah kampung global, saat terjadi kekacauan semacam itu, maka ia tidak akan terbatas pada satu tempat, tetapi akan mencakup seluruh dunia. Inilah alasannya mengapa saya berkali-kali mengatakan bahwa kita harus melakukan segala upaya untuk menyelamatkan dunia dari ancaman Perang Dunia Ketiga. Jika perang semacam itu terjadi, maka bukan hanya terdapat ancaman senjata kimia bahkan kemungkinan besar senjata nuklir pun akan digunakan. Dampak dari perang atom tersebut akan sangat mengerikan dan akan dirasakan juga oleh generasi akan datang.

Jadi saya mengajak semua tokoh berpengaruh di negara ini, baik itu politisi, pejabat atau kaum intelektual, supaya dapat menyadari bahwa Australia juga merupakan salah satu negara besar di dunia. Mereka harus memainkan peran mereka dalam upaya mengubah kondisi kacau dan ketidakadilan menjadi kondisi yang damai dan harmonis.

Semoga generasi masa depan berterima kasih dan berdoa untuk anda, bukannya mengecam dan menyalahkan kalian, karena warisan buruk yang ditinggalkan.

Pada akhirnya sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas waktu dan upaya untuk menghadiri acara ini dan telah mendengarkan apa yang sudah saya sampaikan.

Semoga Allah memberi rahmat kepada anda semua. Terima kasih banyak.


Sumber: http://www.reviewofreligions.org/9918/special-reception-in-melbourne/
Penterjemah: Taufik Khalid Ahmad
Editor: Jusmansyah