Yang dimaksud dengan wahyu atau ilham bukanlah sesuatu yang muncul dalam fikiran sebagai hasil dari pemikiran atau perenungan sebagaimana yang biasa dialami seorang penyair ketika sedang menyusun syairnya. Ia biasanya menulis satu bait dan merenungkan bait berikutnya yang terkadang muncul secara tiba-tiba dalam fikirannya. Hal seperti itu bukanlah ilham dalam pengertian sebagai wahyu, tetapi merupakan akibat dari pemikiran dan perenungan yang mengalir berdasarkan hukum alam. Siapa pun yang berfikir tentang hal-hal yang baik atau pun buruk akan menemukan sesuatu muncul dalam fikirannya sejalan dengan apa yang dipikirkan atau dicarinya. Sebagai contoh, seorang yang saleh dan muttaqi yang menuliskan beberapa bait guna menopang suatu kebenaran dengan seorang yang jahat yang mengemukakan suatu kedustaan dalam bait-baitnya untuk menghina ia yang saleh. Masing-masing mereka akan menghasilkan kalimat-kalimat dan bukanlah suatu hal yang mengejutkan jika lawan orang saleh itu dalam mendukung kedustaannya malah mampu menuliskan kalimat-kalimat yang lebih bagus karena yang bersangkutan mempunyai pengalaman menulis yang lebih baik.

Jika semua yang muncul dalam fikiran disebut sebagai wahyu atau ilham, maka seorang penyair yang jahat yang memusuhi mereka yang saleh dan muttaqi dan selalu mengejek kebenaran serta senang berpretensi, akan dikatakan sebagai seorang penerima wahyu. Karangan-karangan fiktif banyak yang mengandung kalimat-kalimat yang menyentuh hati walaupun si pengarang mendasarkannya pada hal-hal rekaan semata, dan hal seperti ini tidak dapat disebut sebagai ilham atau wahyu. Jika segala gagasan yang muncul dalam kepala seorang pencuri mengenai cara-cara mencuri, merampok atau membegal orang disebut sebagai ilham maka pencuri itu bisa disebut sebagai seorang penerima ilham atau wahyu. Jelas tidak mungkin kita menyebut hal demikian sebagai suatu wahyu.

Semua itu adalah hasil fikiran orang-orang yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan yang hakiki, Tuhan yang memberikan kesejukan hati melalui komunikasi-Nya serta mengaruniakan pengertian akan pengetahuan keruhanian kepada mereka yang belum mengerti. Yang dimaksud dengan wahyu adalah pembicaraan Tuhan dalam bahasa yang hidup dan tegas kepada seorang hamba pilihan-Nya atau siapa pun yang akan Dia pilih. Pembicaraan seperti itu akan bermula dengan cara yang menyenangkan, bebas dari kegelapan fikiran yang palsu dan tidak terbatas pada beberapa kata-kata yang tidak jelas. Wahyu demikian diterima sebagai suatu kenikmatan yang bernas dengan segala kebijakan dan keluhuran dan merupakan firman Tuhan yang menenteramkan hati hamba-Nya dan melalui-Nya Dia memanifestasikan Wujud-Nya kepada yang bersangkutan. Terkadang komunikasi seperti itu berbentuk percobaan dan tidak diikuti semua ciri-ciri dari suatu wahyu. Dengan cara ini seorang hamba Allah akan dicoba dimana dengan mengecap sedikit kenikmatan wahyu, apakah lalu ia akan menyesuaikan kondisi dirinya menjadi seorang penerima wahyu hakiki atau ia menjadi manusia yang gagal meneruskannya. Jika ia kemudian tidak mengikuti jalan ketakwaan maka ia akan diluputkan dari kesempurnaan karunia ini dan yang tinggal baginya hanyalah bualan kosong.

Berjuta-juta manusia yang telah menerima wahyu tetapi tidak semua dari mereka itu mempunyai derajat yang sama di hadapan Allah Swt. Bahkan para Nabi-nabi yang merupakan penerima wahyu tidak sama kedudukannya seperti yang dinyatakan firman Tuhan:

“Inilah Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang lain.” (QS. 2, Al-Baqarah: 254).

Hal ini membuktikan bahwa wahyu semata-mata merupakan berkat murni dan bukan merupakan tanda dari kedudukan atau jabatan. Derajat para penerima wahyu ditentukan oleh ketulusan dan kesetiaan yang hanya diketahui Allah Swt semata.

Wahyu yang diikuti dengan keadaan yang berberkat juga merupakan buah dari ketulusan dan kesetiaan. Tidak diragukan kalau wahyu diterima dalam bentuk tanya jawab dalam urutannya yang benar dan ditandai oleh keagungan dan nur Ilahi serta mengandung hal-hal tersembunyi atau pengertian hakiki, maka benarlah itu sebuah wahyu Ilahi. Karena sepatutnyalah wahyu Ilahi berupa pembicaraan di antara seorang hamba dengan Tuhan-nya sebagaimana halnya pembicaraan di antara dua orang sahabat ketika mereka bertemu. Ketika seorang hamba mengajukan pertanyaan dan sebagai jawaban ia menerima kata-kata yang nikmat dan fasih dari Allah Yang Maha Agung, dimana tidak ada tercampur pandangan dirinya sendiri atau pun renungannya, maka jelas bahwa itu adalah firman Tuhan sedangkan dirinya itu termasuk dalam golongan hamba yang dikasihi-Nya. Hanya saja tingkat wahyu yang merupakan berkat seperti ini serta bersifat hidup, murni, jernih dan tidak terkontaminasi, hanya dikaruniakan kepada mereka yang bersiteguh dalam keimanan, ketulusan dan ketakwaannya.

Wahyu hakiki yang suci memperlihatkan berbagai ciri-ciri Ilahi yang akbar. Seringkali wahyu diawali dengan suatu cahaya gemilang dan bersamaan dengan itu diturunkanlah wahyu yang agung dan cemerlang. Apa lagi yang bisa lebih luhur daripada seorang penerima wahyu yang sedang berbicara dengan Wujud Yang menciptakan langit dan bumi? Menyaksikan eksistensi Tuhan di dunia ini adalah melalui komunikasi dengan Tuhan. Dalam hal ini tidak termasuk keadaan dimana beberapa kata-kata, kalimat atau bait yang mungkin diutarakan seseorang yang tidak dituju langsung oleh Tuhan. Orang seperti itu nyatanya sedang diuji. Ia meraba-raba dalam kegelapan seperti orang buta dan tidak mengetahui sumber komunikasi itu apakah berasal dari Tuhan atau syaitan. Sebaiknya orang seperti ini langsung beristighfar saja.

Namun jika seorang yang saleh dan muttaqi menerima komunikasi Ilahi tanpa hambatan dalam bentuk pembicaraan, maka ia akan mendengar keagungan bentuk komunikasi yang terang, nyaman, bermakna dan penuh kebijakan, dalam keadaan diri sadar sepenuhnya. Pada saat seperti itu akan terlintas paling sedikit sepuluh pertanyaan dan jawaban dimana Tuhan juga mengabulkan permohonannya serta menyampaikan kepadanya mutiara pemahaman dan kabar gaib tentang hal-hal yang akan datang. Orang seperti ini sepatutnya amat bersyukur kepada Tuhan dan sepenuhnya mengabdi kepada-Nya karena Tuhan berkat karunia-Nya yang suci telah memilih yang bersangkutan dari sekian banyak hamba-Nya dan telah menjadikannya sebagai pewaris dari orang-orang muttaqi yang telah berlalu sebelum dirinya.

Karunia seperti itu jarang sekali terjadi dan merupakan takdir nasib yang baik. Semua hal lainnya dibandingkan dengan karunia seperti itu menjadi tidak ada artinya sama sekali. Islam selama ini selalu menghasilkan orang-orang dengan derajat seperti ini. Hanya dalam Islam saja Tuhan akan datang mendekat kepada hamba-Nya dan berbicara kepadanya. Dia berbicara di dalam hatinya dan menjadikan kalbunya sebagai tahta-Nya dan menarik yang bersangkutan ke langit guna diberkati dengan segala karunia sebagaimana yang telah diberikan kepada mereka sebelum dirinya. Sayang sekali dunia yang buta ini tidak menyadari betapa dekatnya seseorang bisa menghampiri Tuhan. Mereka sendiri tidak mau maju ke depan muka, dan ketika seseorang melakukannya maka mereka langsung mengkafirkannya atau malah mendewakannya sebagai pengganti Tuhan.

(Islami Usulki Philosophy, Ruhani Khazain, vol. 10, hal. 437-441, London, 1984).