Beberapa ulama yang tuna ilmu malah  sedemikian  jauhnya  dalam penyangkalan mereka dengan mengatakan bahwa pintu wahyu telah tertutup sama sekali sehingga tidak mungkin lagi seorang Muslim menyempurnakan keimanannya melalui berkat ini. Jawaban bagi mereka yang berpandangan seperti itu adalah jika memang benar umat Muslim demikian sialnya, buta dan merupakan kaum yang paling buruk, lalu mengapa mereka disebut Allah Swt sebagai umat yang terbaik? Sesungguhnya orang yang berpandangan sempit seperti itulah yang sebenarnya yang tuna ilmu.

Sebagaimana Allah Swt telah mengajarkan umat Muslim akan doa yang diberikan dalam Surah Al-Fatihah, Dia juga telah mengatur akan memberikan karunia atas mereka sebagaimana yang diberikan kepada para Nabi yaitu berkat berupa komunikasi langsung dengan Tuhan yang menjadi mata sumber dari segala keberkatan. Apakah Allah Yang Maha Agung telah membohongi kita dengan doa ini? Apa manfaatnya suatu umat yang tidak berguna dan telah jatuh, yang bahkan lebih buruk daripada perempuan- perempuan Israil? Adalah suatu kenyataan bahwa ibunda Yesus as mau pun Musa as bukanlah nabi-nabi namun mereka mendapat karunia berupa wahyu Ilahi. Bisakah dibayangkan bahwa seorang Muslim yang berjiwa bersih layaknya Ibrahim as dan demikian patuhnya kepada Tuhan sehingga telah menanggalkan egonya sama sekali, dimana ia demikian mengabdi kepada Allah Swt sehingga fana bagi dirinya sendiri, namun dikatakan bahwa ia tidak bisa menjadi penerima wahyu sebagaimana halnya ibunda Musa? Beranikah kita melekatkan sifat kekikiran demikian kepada Wujud Allah Yang Maha Agung? Tanggapanku bagi orang-orang seperti ini ialah: “Kutuk Allah atas para pendusta.”

Sesungguhnya ketika orang-orang seperti ini telah menjadi seperti serangga di muka bumi dimana tanda-tanda ke-Islaman di antara mereka hanya tinggal dalam bentuk sorban, janggut, khitan dan beberapa pelafazan ucapan serta pelaksanaan shalat dan puasa secara formal, karena nyatanya Allah Swt telah membekukan hati mereka dan menurunkan ribuan tabir menutup mata mereka sehingga mereka telah kehilangan semua tanda-tanda kehidupan keruhanian. Mereka inilah yang menyangkal kemungkinan komunikasi langsung dengan Tuhan padahal penyangkalan mereka itu merupakan penyangkalan kepada Islam. Karena hati mereka sudah mati maka mereka tidak menyadari kondisi diri mereka sebenarnya.

(Brãhĩn-i-Ahmadiyah, bag. V, Ruhani Khazain, vol. 21,

hal. 310-311, London, 1984).



Wahai umat Muslim, berhati-hatilah karena jalan fikiran seperti itu  hanyalah  ciri  suatu  ketuna-ilmuan  dan  keawaman.  Jika  Islam merupakan agama yang mati, lalu siapakah yang akan kalian ajak untuk memasukinya? Apakah kalian mau membawa-bawa mayatnya ke Jepang atau mempersembahkannya kepada Eropa? Siapa orangnya yang cukup serampangan untuk mencintai suatu agama yang telah mati yang luput dari segala berkat dan keruhanian seperti halnya agama-agama kuno di masa lalu? Dalam agama-agama lama itu para wanitanya saja masih menerima wahyu sebagaimana halnya ibunda Musa dan Yesus, dimana laki-laki kalian yang ternyata tidak setara dengan wanita-wanita tersebut.

Wahai kalian yang tuna ilmu dan buta, ketahuilah bahwa Nabi Suci Saw, junjungan dan penghulu kita, berada jauh di depan dari semua Nabi dalam segala hal yang berkaitan dengan berkat keruhanian. Berkat para Nabi terdahulu telah berakhir pada suatu saat tertentu, dimana umat dan agamanya sekarang ini sudah mati. Tidak ada lagi kehidupan dalam agama mereka. Namun berkat dari Hadhrat Rasulullah Saw akan berlanjut terus sampai Hari Kiamat. Karena itu tidak diperlukan adanya Al-Masih yang dijanjikan datang dari umat lain. Tumbuh dan berkembang di bawah naungan bayangan Hadhrat Rasulullah Saw bisa mengubah seorang hamba yang lemah menjadi seorang Al-Masih sebagaimana yang telah dilakukan Tuhan atas diriku.

(Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 389, London, 1984).