Mengapa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad belum diterima umat

Menurut keyakinan Ahmadiyah orang yang diberi nama Isa ibnu Maryam di masa sekarang ialah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiani a.s. tatkala beliau mendakwhakan sebagai Al-Masih yang dijanjikan (Al-Masih Al-Mau‘ud), maka sebagian ulama menentang beliau dan bermacam-macam fatwa buruk mereka tujukan kepada beliau dan kepada Jamaah (Jemaat) beliau, sebagaimana yang juga dialami oleh para Rasul Allah sebelumnya (QS. 36: 31-33).

Berikut adalah beberapa kenyataan tersebut:

(1) Para Rasul dan Nabi Allah Ta’ala itu pasti dimusuhi oleh syaitan-syaitan, sebagaimana firman Allah:

وَكَذٰلِكَ جَعَلنا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَياطينَ الإِنسِ وَالجِنِّ

Dan begitu juga Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan dari manusia dan jin” (Qs. Al-An’aam [6]:113).

Jadi, semua Nabi dan Rasul Allah itu didustakan, difitnah, dimusuhi bahkan ada juga yang dibunuh, Al-Iyadzu billah.

(2) Para wali Allah seperti Ibnu Arabi rahmatullah ‘alaihi telah menulis dalam kitabnya (Al-Futuhah Al-Makkiyah, Juz III, hal. 374):

 “Apabila Imam Mahdi keluar, maka tiada baginya musuh yang nyata melainkan para Faqih dan ulama”(Lihat Hujajul-Kiramah, hal. 363).

(3) Di dalam umat Islam ada banyak partai dan golongan. Sebagian ulama tiap partai itu mengkafirkan dan menyesatkan golongan yang lain. Imam Ar-Razi rahmatullah ‘alaih telah berkata:

Ketahuilah, bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen sudah berlaku juga dalam umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sesungguhnya tiap-tiap partai itu mengkafirkan golongan-golongan yang lain (Tafsir Kabir, Juz I, hal. 448).

(4) Diantara orang-orang yang dipandang sebagai wali Allah dan Syekh dalam Islam di masa itu ada banyak orang yang telah disiksa, yang telah diusir dari negerinya, yang telah dihina dan dikafirkan, umpamanya :

  • Dzunnun Al-Mishri, beliau tujuh kali diusir dalam belenggu, dan ulama Mesir telah berfatwa bahwa beliau itu zindiq (kafir batin), sebagaimana Ahmad Dahlan berfatwa tentang Ahmadiyah.
  • Sahal bin Abdillah At-Tustari pun sudah diusir dari kampungnya Kabshirah karena dikafirkan.
  • Abu Sa’id Al-Khazari telah dikafirkan.
  • Al-Junaid Al-Baghdadi dan Hadhrat Asy-Syibli juga dikafirkan beberapa kali.
  • Abu Bakar An-Nabilisi telah difatwakan zindiq dan kulitnya dikupas hidup-hidup.
  • Abu Mudin dan Abul-Hasan Asy-Syadzali pun dikenakan fatwa kafir sehingga beliau diusir.
  • Syekh Tajuddin As-Subki telah dikafirkan karena fitnah-fitnah dari ulama bahwa beliau telah  menghalalkan minuman keras (arak) dan melakukan perbuatan kaum Luth, na’udzubillah. Tatkala beliau diusir, beliau dibawa dari negeri Syam hingga ke Mesir dalam keadaan dibelenggu. Beginilah kelakuan sebagian ulama terhadap hamba-hamba Allah Ta’ala yang mukhlis. Keterangan yang lengkap dapat dibaca dalam (Kitab Al-Yawaqitu Wal-Jawahir, Juz I, hal. 14-15).

Sebelum Ahmadiyah berdiri, kaum muda dan kaum tua sudah bertentangan hebat di India serta di lain-lain tempat. Siapakah para pemuka dan pemimpin kaum muda di India? Mereka itu antara lain Maulwi Nadzir Ahmad Delhi, Syekh Muhammad Husain Al-Batalwi, Syekh Tsanaullah Al-Amritsari, Sayid Athaullah Al- Bukhari dan Sayid Abul-A’la Al-Maududi. Mereka itu berjuang bersama melawan ‘kaum tua’, sebagaimana mereka kemudian menyerang Ahmadiyah (Lihat Kitab Al-Qadiyaniyah, hal. 9).

Di masa dulu, Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qayyim juga menjadi pemimpin, maka ulama ‘kaum tua’ telah mengeluarkan fatwa berikut ini terhadap mereka:

“Janganlah engkau cenderung kepada apa-apa yang tersebut dalam kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qayyim dan lain-lain, karena mereka itu adalah di antara orang-orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai Tuhan, dan Allah telah menyesatkan mereka dan telah mencap pendengaran dan hati mereka dan di atas penglihatan mereka itu ada tutupnya” (Kitab Al-Datawa Al-Haditsiyah, hal. 173).

Perhatikanlah fatwa Ibnu Hajar Al-Haitsami terhadap ulama ‘kaum muda’ tersebut. Sebaliknya ‘kaum muda’ pun mengeluarkan bermacam-macam fatwa terhadap ‘kaum tua’. Dalam satu kitab ‘kaum muda’ yang bernama “Hariqul-Asyrar”, dikarang oleh Syekh Fathullah, dalam kitab yang hanya sebanyak 20 halaman saja, telah disebutkan (difatwakan) tentang kaum tua itu bahwa:

  • Orang-orang yang pergi ke kuburan para wali dan minta tolong kepadanya adalah fasik, bukan laki-laki, musyrik.
  • Imam mereka itu Iblis.
  • Ulama mereka menurut Al-Qur’an adalah keledai dan anjing.
  • Orang-orang yang tidak mengerjakan shalat Jum’at itu nuthfatul-fujjar.
  • Ulama yang meramaikan kuburan para wali adalah syaitan.

Beginilah fatwa ‘kaum muda’ yang disebutkan dalam kitab tersebut yang ditujukan kepada ‘kaum tua’ dan ulama mereka itu. Jadi, kalau ada sebagian ulama menentang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. tidak perlu heran lagi dan pihak Ahmadiyah, insya Allah Ta’ala, tidak akan panik dan takut menghadapi mereka, karena mungkin para penentang tersebut belum dapat memahami seperti yang telah pahami pihak Ahmadiyah.

 

(Visited 224 times, 1 visits today)