Nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Al-Quranul-Karim dan hadits-hadits yang mulia diberitakan dengan suara lantang dari seseorang yang dibangkitkan dalam umat Islam di zaman akhir ini dengan sifatnya sebagai Masih dan Mahdi Yang Dijanjikan, agar ia mengembalikan iman dari bintang Tsurayya dengan bimbingan Allah Taala, dan ia akan menjadi Hakim yang adil yang akan menghakimi di antara kaum Muslimin tentang apa yang sedang mereka perselisihkan, dan ia membersihkan akidah-akidah mereka dan amal-amal perbuatan mereka dari kesalahan-kesalahan yang masuk ke dalamnya. Dan, beberapa nubuatan menguatkan juga bahwa orang yang dijanjikan ini menjadi pelayan yang mukhlis dan taat yang membenarkan Pemimpin kita Muhammad, Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, khaatam para Nabi, dan beliau diberi tugas untuk menghidupkan pembaruan pelajaran Islam di kalangan kaum Muslimin, dan beliau menetapkan keutamaan Islam serta memenangkannya di atas semua agama.

 a. Kedatangan Orang Yang Dijanjikan

Bukti kebenaran nubuatan ini, adalah: Allah ‘Azza wa Jalla telah membangkitkan Pemimpin kita Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani ‘Alaihis-salaam (1835-1908) di India. Beliau mengumumkan berdasarkan perintah Allah bahwa beliau adalah Al-Masih dan Al-Mahdi untuk umat ini, dan orang Yang Dijanjikan, yang ditunggu kedatangannya dalam agama-agama lain. Beliau ‘Alaihissalaam telah mendirikan Jamaahnya pada tahun 1889  agar mereka memikul di atas pundak mereka  kepentingan untuk meninggikan kalimah Islam.

b. Dakwah dan Tujuan Kebangkitannya

Beliau ‘Alaihis-salaam berkata dengan menjelaskan bahwa tujuan yang diinginkan dari kebangkitannya yaitu:

”Sesungguhnya, akulah sosok manusia yang dahulu telah dinubuwatkan akan dibangkitkan dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla pada awal abad [empat belas Hijriyah] ini untuk memperbaharui Agama, menegakkan sebagian pembaruan iman di atas bumi ini, yang dahulu benar-benar pernah mencapai kemuliaan di atas sebagian bumi ini, dan memukau dunia dengan pertolongan Allah dan bimbingan Tangan-Nya; Dia Subhaana-Hu wa Ta’aalaa, membawa kepada perbaikan, ketakwaan dan kebenaran, serta meluruskan akidah dan amaliyah mereka yang salah.” (Tadzkiratu’sy-Syahaadatain, halaman 3)

Selanjutnya, beliau menyajikan:

“Dengarkanlah oleh kalian semua, wahai para pemimpin, semoga Allah membimbing kalian ke jalan-jalan kebahagiaan… Allah telah membangkitkan aku di awal seratus tahun ini, untuk memperbaharui agama (diin) dan menerangi wajah agama (millah) ini, dan aku pecahkan salib serta aku padamkan api Nasrani, dan aku tegakkan Sunnah Muhammad, Sebaik-baik Manusia, dan aku memperbaiki apa yang telah rusak, dan aku percepat apa yang tidak laku. Dan aku adalah Al-Masih Yang Dijanjikan dan Al-Mahdi Yang Dijanjikan. Allah telah memberikan kenikmatan kepadaku dengan wahyu dan ilham, dan Dia telah berwawan-sabda kepadaku sebagaimana Dia telah berwawan-sabda kepada para Utusan-Nya yang mulia, dan Dia telah menyaksikan kebenaranku dengan tanda-tanda bukti yang dapat kalian saksikan, dan Dia telah memperlihatkan wajahku dengan cahaya-cahaya yang dapat kalian mengerti.” (Al-Istiftaa’, halaman 641)

Dan beliau berkata, “Aku datang dari Allah untuk memecahkan salib yang kondisinya telah dijunjung tinggi, dan aku membunuh babi, sehingga sesudah itu ia tidak akan dihidupkan selamanya… dan sungguh janji-Nya adalah mengutus Al-Masih itu ketika Fitnah Salib berada dalam kesombongan dan kemenangan kesesatan kaum Kristen, dan jika kalian dalam keadaan ragu terhadap apa yang telah kami katakan, maka renungkanlah Sabda Nabi-Nya yakni, aku maksudkan Sabda beliau—“Dia akan memecahkan salib”, wahai orang-orang berakal?” (Mir’aatu Kamaalaati’l-Islaam, halaman 437)

c. Kewafatan Al-Masih Isa Ibnu Maryam ‘Alaihis-salaam

Beliau, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘Alaihis-salaam mengumumkan bahwa kepercayaan/akidah hidupnya Isa Ibnu Maryam ‘Alaihimaas-salaam dan turunnya dari langit adalah akidah yang salah dan kepercayaan itu menyangkal Al-Qur’an, As-Sunnah, akal dan fakta sejarah. Dan sebenarnya, Al-Masih itu sungguh-sungguh telah mati sebagaimana para Nabi yang lain ‘Alahimus-salaam. Dan beliau menambahkan perkara itu agar jelas, beliau berkata:

“Sesungguhnya, kesimpulan hidupnya Isa di kalangan orang-orang terdahulu adalah berada dalam kesalahan. Maka, pikirkanlah: Adapun pada zaman ini kepercayaan yang salah ini benar-benar telah berubah menjadi ular yang akan mencaplok Islam… Maka, sejak keluarnya kaum Kristen mencapai kesempurnaannya dan kaum Kristen menganggap hidupnya Al-Masih itu sebagai dalil yang besar dan kuat atas hidupnya Isa, kepercayaan yang salah ini sungguh menjadi ‘bahaya yang dapat merobohkan’. Sebab, mereka ini mengatakan dengan ‘segala kekuatan dan mengulang-ulang’ bahwa sekiranya Al-Masih itu bukan sebagai Tuhan, maka bagaimana beliau bisa naik dan duduk di atas Arasy; dan apabila ada kemungkinan manusia bisa naik ke langit dalam keadaan hidup, maka mengapa tidak ada seorangpun manusia yang bisa naik ke sana semenjak Adam hingga hari ini. Sesungguhnya, Islam di zaman ini dalam keadaan lemah dan menurun; dan kesimpulan hidupnya Al-Masih itu adalah senjata yang digunakan kaum Kristen untuk menyerang Islam; dan dengan sarana itulah, anak keturunan kaum Muslimin dijadikan buronan bagi Kristenisasi.” (Malfuzhaat, Juz VIII, halaman 337-345)

Kemudian, beliau mengatakan tentang turunnya Al-Masih yang disebutkan dalam beberapa Hadits bahwa sebenarnya maksud dari turunnya adalah lahirnya seseorang dari umat Islam ini yang menyerupai Al-Masih dalam sifat-sifatnya, akhlaknya, ruhaninya dan amal perbuatannya, karena berita turunnya Isa di kalangan kaum Muslimin itu serupa benar dengan berita turunnya Elia dahulu, ia tidak turun dari langit sebagaimana apa yang mereka lihat, bahkan ia lahir di atas bumi dengan kelahiran secara tamsil (perserupaan) dan itu ada pada sosok Nabi Yuhana, yaitu Yahya ‘Alaihis-salaam.

Dan beliau, Sayyidina Ahmad ‘Alaihis-salaam menyajikan satu argumentasi seraya mengatakan:

“Ketahuilah oleh kalian baik-baik bahwa sesungguhnya tidak akan ada seorangpun yang turun dari langit. Sesungguhnya, semua penentang kami yang ada pada zaman ini akan menemui kematian, namun tidak akan ada seorangpun dari mereka yang melihat Isa Ibnu Maryam turun dari langit selama-lamanya, kemudian anak-anak mereka yang menggantikan mereka akan mati juga. Namun selamanya, tidak akan ada seorangpun dari mereka melihat Isa Ibnu Maryam turun dari langit, kemudian anak-anak mereka yang akan menggantikan mereka akan mati, namun tidak seorangpun juga dari mereka yang melihat Isa Ibnu Maryam turun dari langit, kemudian anak-anak dari anak-anak mereka akan mati, namun mereka juga tidak akan melihat Ibnu Maryam turun dari langit dan ketika itu Allah menaruh kekacauan dalam hati mereka, lalu mereka merenungkan bahwa hari-hari kemenangan Salib telah sempurna, dan sesungguhnya dunia ini benar-benar telah berubah dengan sempurna, namun sesudah itu Isa Ibnu Maryam tidak turun; maka, pada saat itulah orang-orang yang berakal lari dari akidah ini sebagai satu penolakan, dan sebelum habis masa tiga abad dari zaman sekarang, kecuali datang rasa bosan dan keputusasaan yang sangat menguasai setiap orang yang menunggu-nunggu kedatangan Al-Masih Isa, baik ia seorang Muslim maupun seorang Kristen, lalu mereka menolak akidah yang palsu ini; lalu satu agama dan satu pimpinan akan ada di dunia ini. Dan sesungguhnya, aku tidak datang kecuali untuk menanam benih ini, dan sungguh benih ini ditanam dengan tanganku, dan sekarang akan tumbuh lebih besar dan berkembang, dan tidak akan ada seorangpun berkuasa membelokkan jalannya”. (Tadzkiratu’sy-Syahaadatain, halaman 67)

d. Akidah-Akidahnya

Beliau ‘Alaihis-salaam (Hazrat Mirza Ghulam Ahmad) menyatakan tentang akidah-akidahnya dengan jelas:

“Adapun akidah-akidah kami yang telah ditetapkan oleh Allah, maka ketahuilah, wahai saudaraku bahwa: ‘Kami beriman kepada Allah sebagai Tuhan, dan kepada Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi, dan kami beriman bahwa beliau adalah Khaatam para Nabi, dan kami beriman kepada Al-Furqan (nama lain Al-Qur’an), sesungguhnya itu berasal dari Tuhan Yang Maha Pemurah, dan kami tidak menerima setiap yang menentang Al-Furqan dan setiap yang menyangkal penjelasannya, hukum-hukumnya dan kisah-kisahnya, meskipun itu termasuk perkara akal atau Atsar yang oleh Ahli Hadits dinamakan Hadits, atau Pendapat Sahabat, atau Pendapat Tabi’in; karena Al-Furqaanul-Kariim adalah Kitab yang urut-urutannya telah ditetapkan lafazh demi lafazh, dan itu adalah wahyu yang dibacakan dengan pasti dan meyakinkan, maka siapa saja yang ragu terhadap kepastiannya, maka menurut kami ia adalah orang yang ingkar (kafir), tertolak (mardud) dan tergolong orang-orang fasik. Dan Al-Qur’an itu adalah ketentuan dengan kepastian yang sempurna, dan itu memiliki martabat di atas martabat semua Kitab dan semua Wahyu. Tangan-tangan manusia tidak dapat menyentuhnya. Adapun Kitab-kitab lainnya dan Hadits, tidak bisa mencapai kedudukan ini.” (Tuhfatu Baghdad, halaman 31)

Dan beliau juga mengatakan:

“Sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam, kami beriman kepada Kitab Allah Al-Furqan, dan kami beriman bahwa sesungguhnya Pemimpin kami, Muhammad adalah Nabi-Nya dan Rasul-Nya, dan sesungguhnya beliau datang dengan membawa sebaik-baik agama, dan kami beriman bahwa beliau adalah Khaatam para Nabi yang sesudahnya tidak akan ada Nabi … dan selamanya, tidak akan ada seorangpun yang termasuk golongan Muhammad yang mulia itu, kecuali orang yang bersamanya ada hiasan Khaatam-nya, dan ia memiliki bekas-bekas akibat pengaruh Sunnahnya, dan suatu amalan, dan ibadah tidak akan diterima, kecuali sesudah mengakui Kerasulannya, dan ketetapan agama dan syariatnya. Dan sungguh binasa, orang yang meninggalkannya dan ia tidak mengikuti semua Sunnahnya sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya… Kami tidak mempunyai Nabi di bawah langit ini selain Nabi kita yang terpilih (Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam), dan kami tidak mempunyai Kitab selain Al-Qur’an, dan setiap orang yang menentangnya, maka sebenarnya ia menarik dirinya sendiri kedalam api neraka. Dan siapa saja yang mengingkari Hadits-Hadits Nabi kita yang telah diteliti dan tidak menentang Al-Qur’an, maka ia adalah saudara Iblis dan ia benar-benar telah membeli kutukan untuk dirinya dan ia membuang iman… dan kami meyakini bahwa shalat, puasa, zakat dan haji adalah suatu Kewajiban dari Allah Yang Maha Mulia, maka siapa saja yang meninggalkannya dengan sengaja, tanpa ada alasan yang dibenarkan Allah, berarti ia sunguh-sungguh tersesat dari jalan yang benar.” (Mawahibur-Rahmaan, halaman 285-289)

Dan beliau menyajikan dengan mengatakan, “Dan kami berkeyakinan bahwa sesungguhnya Surga itu benar, dan Neraka itu benar, dan Penghimpunan jasad-jasad itu benar, dan mukjizat para Nabi itu benar. Dan kami berkeyakinan bahwa sesungguhnya keselamatan itu adalah dalam Islam dan mengikuti Nabi kita Pemimpin

makhluk. Dan setiap sesuatu yang menentang Islam, maka kami membebaskan dari itu, dan kami beriman kepada setiap yang dibawa Rasul kita Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, meskipun kami tidak mengetahui hakikatnya yang luhur.” (Mir’aatu Kamaalati’l-Islaam, halaman 387-388)

e. Pemikirannya yang Tinggi Berasal dari Allah Subhaana-Hu wa Ta’aalaa

Beliau ‘Alaihis-salaam berkata:

“Sesungguhnya Surga Firdaus kami adalah Tuhan kami, dan sesungguhnya kesenangan kami ada pada Tuhan kami, karena sesungguhnya kami telah melihatnya dan kami telah menemukan semua keindahan itu ada pada-Nya. Inilah perbendaharaan yang pantas dihimpun meskipun dengan mempertaruhkan jiwa, dan permata ini patut dibeli meskipun manusia harus mengorbankan segala yang ada untuk mendapatkannya. Wahai orang-orang yang mahrum (terluput dari kenikmatan itu)! Kemarilah kalian dengan segera menuju sumber mata air ini agar Dia menceriterakan kepada kalian bahwa sesungguhnya Dia itu Sumber air kehidupan Yang akan menyelamatkan kalian. Apa yang aku perbuat, dan bagaimana aku menetapkan kabar suka ini ke dalam beberapa hati? Dengan genderang apa, aku mengundang agar manusia di pasar-pasar mendengar bahwa sesungguhnya Dia itu adalah Tuhan kalian? Dan dengan obat apa aku mengobati, hingga telinga-telinga manusia itu menjadi berguna untuk mendengar?” (Safiinatu Nuuh, halaman 21-22)

Dan beliau berkata:

“Sesungguhnya Tuhan kami adalah Dia, Tuhan Yang Maha Hidup sekarang ini, sebagaimana Dia Maha Hidup sebelum itu; dan Dia Tuhan Yang berbicara sekarang, sebagaimana Dia berbicara sebelum itu; dan Dia Tuhan yang sekarang mendengar, sebagaimana Dia mendengar sebelum itu. Suatu dugaan yang salah bahwa sekarang ini, Dia Subhaana-Hu wa Ta’aalaa mendengar, namun Dia tidak berbicara lagi. Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya Dia itu mendengar dan berbicara juga. Sesungguhnya semua Sifat-Nya adalah azali dan abadi, tidak ada satu tanda bukti dari Sifat-Sifat-Nya yang menganggur, dan itu tidak akan menganggur selamanya. Sesungguhnya Dia itu Esa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Dia tidak mempunyai anak, dan Dia juga tidak mempunyai istri. Sesungguhnya Dia itu Tunggal Yang tidak ada saingan bagi-Nya… Sesungguhnya Dia itu dekat bersama kejauhan-Nya, dan sesungguhnya Dia itu jauh bersama kedekatan-Nya, dan sesungguhnya Dia itu mungkin menampakkan Diri-Nya kepada Ahli Kasyaf secara bayangan, karena Dia itu tidak berjisim dan tidak berbentuk. Dan Dia itu ada di atas segalanya, namun tidak mungkin Dia berbicara sedang seseorang berada di bawah-Nya, karena sesungguhnya, Dia itu ada di Arasy, namun tidak mungkin Dia berbicara sedang Dia tidak ada di bumi.” (Al-Washiyyah, halaman 309-310)

f. Kedudukan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam

Beliau berkata tentang pujian kepada Rasul yang mulia Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya cahaya yang lebih terang yang telah diberikan untuk manusia, aku maksudkan untuk manusia sempurna, bukanlah cahaya yang ada pada Malaikat, dan bukan cahaya pada bintang-bintang, dan bukan cahaya pada bulan, dan bukan cahaya pada matahari, dan bukan cahaya pada lautan di bumi dan bukan cahaya pada siang harinya, dan bukan cahaya yang ada pada batu permata, dan bukan cahaya yang ada pada batu mulia (yaqut), dan bukan cahaya yang ada pada permata (zamrud), dan bukan cahaya yang ada pada intan, dan bukan cahaya yang ada pada mutiara. Ringkasnya, cahaya itu tidak ada pada sesuatupun di bumi atau di langit, tetapi cahaya itu hanya ada pada manusia yang sempurna, itulah manusia yang paling lengkap, paling sempurna, paling tinggi, paling luhur dibandingkan pribadi manusia manapun, dan beliau itu adalah: Pemimpin kita dan Kekasih kita, Pemimpin para Nabi, yaitu Pemimpin orang-orang yang hidup, Muhammad Al-Mushthafa Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (Mir’aatu Kamaalati’l Islaam, halaman 160-161)

Dan beliau berkata juga:

“Sesungguhnya aku senantiasa melihat dengan mata kekaguman kepada Nabi berkebangsaan Arab ini yang namanya Muhammad ‘alaihi alfu alfi shalaatin wa salaamin (semoga atasnya sejuta rahmat dan salam). Alangkah luhur keadaan beliau! Tidak akan didapatkan setinggi kedudukannya yang luhur itu, dan bukan kekuatan manusia menguasai pengaruhnya yang suci. Maaf saja, sesungguhnya dunia tidak dapat menempatkannya pada kedudukan yang sebenarnya. Sesungguhnya beliau itu Pahlawan Tunggal yang mengembalikan tauhid ke dunia ini setelah hilang dari dunia ini. Sesungguhnya Allah sangat mencintai, dan Diri-Nya telah mencair dengan pujian yang sempurna kepada Makhluk Allah itu, oleh karena itu, maka sesungguhnya Allah Yang mengetahui di Singgasana-Nya memberikan kelebihan keutamaan di atas para Nabi semuanya, dan beliau paling utama dibandingkan dengan orang-orang yang dahulu dan orang-orang akhir semuanya, dan Dia telah membuktikan keutamaan itu dalam kehidupannya setiap saat yang Dia kehendaki.” (Haqiiqatu’l-Wahyi, halaman 118-119)

Dan beliau berkata sebagai penolakan atas sebagian pendeta yang mencaci-maki Nabi kita Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Mereka memfitnah Rasul yang mulia dengan kebohongan-kebohongan, dan mereka menyesatkan banyak makhluk dengan kebohongan yang dibuatnya. Dan tidaklah sesuatu menyakiti hatiku seperti olok-olok mereka mengenai keadaan Al-Mushthafa, dan cacian mereka mengenai kehormatan Makhluk yang terbaik. Demi Allah, seandainya semua bayiku, anak-anakku dan cucuku dibunuh di hadapan mataku, lalu tangan dan kakiku dipotong-potong, lalu biji mataku dikeluarkan, lalu aku dijauhkan dari tujuanku, lalu menjaminku dan memperlihatkan kepadaku… semua itu tidak lebih berat atasku daripada caci-makian itu.” (Mir’aatu Kamaalati’l-Islaam, halaman 15)

g. Kedudukan Al-Qur’an Karim

Dan beliau berkata tentang sifat Al-Qur’an Karim:

“Demi Allah, sesungguhnya itu adalah mutiara yang sangat  berharga. Luarnya cahaya, dan di dalamnya cahaya, dan di atasnya cahaya, dan di bawahnya cahaya, dan pada setiap lafaznya dan kata-katanya adalah cahaya. Surga ruhani yang jejaknya dihinakan, dan sungai-sungai mengalir di bawahnya, setiap buah kebahagiaan terdapat di sana, dan setiap ilmu dikutip darinya, sedang selainnya adalah bubutan yang dipotong. Sumber-sumber kelimpahannya adalah makanan yang lezat, maka berbahagialah bagi orang-orang yang meminumnya. Dan cahaya-cahaya darinya benar-benar telah dialirkan ke dalam hatiku, maka tiada bagiku untuk mendapatkan itu dengan cara lain. Demi Allah, seandainya tidak ada Al-Qur’an, maka tidak ada makanan bagi hidupku. Aku telah melihat keindahannya melebihi seratus ribu Yusuf, maka aku cenderung kepadanya dengan kecenderunganku yang sangat kuat, lalu Al-Qur’an itu dituangkan ke dalam hatiku. Al-Qur’an itulah yang mengasuhku, sebagaimana janin itu diasuh. Baginya ada goresan yang menakjubkan dalam hatiku, dan keindahannya membujuk diriku.” (Mir’aatu Kamaalati’l-Islaam, halaman 545)

h. Pendidikannya untuk Jamaahnya

Beliau ‘Alaihis-salaam berkata:

“Tidak termasuk ke dalam Jamaahku, kecuali orang yang masuk agama Islam, dan mengikuti Kitab Allah, dan Sunnah-Sunnah Pemimpin kita, yaitu Muhammad sebaik-baik manusia, dan ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang mulia dan penyayang, dan ia beriman kepada Hari Penghimpunan dan Kehidupan sesudah mati, dan surga serta neraka jahim. Dan ia berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam, dan ia akan mati di atas agama ini, yaitu agama fithrah … dan ia berpegang teguh kepada Kitab Allah Yang Maha Mengetahui, dan ia beramal berdasarkan setiap ketetapan Sunnah, Al-Qur’an dan Ijma’ Sahabat yang mulia. Dan siapa saja yang telah meninggalkan tiga hal ini, berarti ia sungguh-sungguh telah meninggalkan dirinya dalam api neraka, sedang harapannya adalah kerusakan dan kebinasaan. Maka ketahuilah oleh kalian wahai saudara-saudaraku bahwa sesungguhnya, iman itu tidak menjadi nyata, kecuali disertai amal shalih dan ketakwaan, maka siapa saja yang telah meninggalkan amal itu dengan sengaja dan kesombongan, maka tidak ada iman baginya di sisi Tuhan Yang Maha Agung. Bertakwalah kepada Allah, wahai saudara-saudaraku, dan segeralah menuju kebaikan-kebaikan, dan jauhilah keburukan-keburukan sebelum datang kematian.” (Mawaahibu’r-Rahmaan, halaman 315)

Selanjutnya beliau berkata:

“Sekarang tidak ada seorang Rasul dan tidak ada seorang Penolong bagi semua anak Adam, kecuali Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib atas kalian cepat-cepat berupaya dengan segala daya untuk menumbuhkan ikatan kecintaan yang setia kepada Nabi Muhammad ini, yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, dan janganlah kalian mengutamakan selainnya dalam bentuk apapun melebihi keutamaan beliau, agar kalian dicatat di langit termasuk orang-orang yang selamat. Ingatlah kalian semua, bahwa sesungguhnya keselamatan itu bukan sesuatu yang akan tampak nyata sesudah mati, namun sesungguhnya keselamatan yang sebenarnya adalah keselamatan mendapatkan cahayanya di dunia ini juga.” (Safiinatu Nuh, halaman 13-14)

i. Masa Depan Jamaahnya

Beliau berkata tentang maksud perkembangan Jamaahnya:

“Dunia ini tidak mengenal aku, namun Tuhan Yang telah membangkitkan aku mengenalku. Sesungguhnya mereka ingin berbuat aniaya kepadaku disebabkan kesalahan dan kemalangan mereka sendiri yang sangat kuat. Sesungguhnya aku adalah Pohon yang telah ditanam oleh Tuhan Pemilik sejati dengan Tangan-Nya sendiri… wahai manusia, percayalah kalian bahwa bersamaku ada Tangan yang senantiasa memenuhi janji bersamaku hingga akhir urusan ini. Lalu, jika para lelaki dan para wanita kalian, para pemuda dan tetua kalian, orang-orang kecil dan para pembesar kalian semuanya berkumpul mengutuk dan berdoa kepada Allah Ta’aalaa untuk kehancuranku dalam ke-khusyu’-an dan kutukan, hingga hidung-hidung mereka menjadi pesek dimakan karat dan tangan-tangan mereka lumpuh, maka Allah tidak akan mengabulkan doa mereka, dan Dia tidak akan meninggalkan sehingga apa Yang Dia inginkan menjadi sempurna… Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri. Sesunggunya orang-orang yang dusta itu mempunyai wajah yang bukan wajah orang-orang yang tulus benar. Dan Allah Ta’aalaa tidak meninggalkan satu perkara tanpa Dia menetapkan keputusannya…sebagaimana Allah telah menghakimi di antara para Nabi-Nya dan orang-orang yang mendustakannya di masa lampau, maka sesungguhnya Dia Ta’alaa akan menghakimi di masa sekarang juga. Sesungguhnya, kedatangan para Nabi Allah itu mempunyai tanda-bukti seperti itu. Maka percayalah kalian, sesungguhnya aku tidak datang tanpa tanda-bukti, dan aku tidak akan pergi tanpa tanda-bukti. Maka, janganlah kalian bermusuhan dengan Allah sebab kalian tidak akan bisa membencanaiku.” (Dhamiimatu’t-Tuhfati’l-Jularwiyyah, halaman 49-50)

Dan beliau berkata:

“Sungguh Allah Ta’alaa memberikan kepadaku berita berulang-ulang dan berkali-kali bahwa sesungguhnya Dia akan memberikan kepadaku rezeki kebesaran yang luar biasa, dan akan menguatkan kecintaanku kedalam semua hati; Dia akan mengembangkan Jamaahku di seluruh dunia, dan Dia akan menjadikan Jamaahku ini mengalahkan semua Firqah-firqah; dan Dia akan menjaga anak-anak Jamaahku dengan sempurna dalam ilmu dan makrifat di mana semua firqah dibuat bungkam dengan kekuatan cahaya kebenaran mereka, bukti-bukti dan tanda-tanda kebesaran mereka. Dan semua bangsa akan meminum dari sumber air ini. Dan Jamaah ini akan tumbuh dan berkembang dengan kekuatan luar biasa hingga Jamaah ini meliputi seluruh dunia. Di sana akan terjadi banyak bencana dan ujian-ujian, namun Allah akan menghilangkan semuanya dengan satu sistem dan dia akan menyempurnakan janji-Nya. Dan sungguh, Allah telah berfirman kepadaku, ‘Aku akan memberikan berkah demi berkah kepadamu sehingga Raja-raja akan mengambil berkah dengan pakaianmu.’ Kemudian beliau berkata, ‘Wahai para pemerhati, dengarkanlah, kalian pasti mengerti. Dan peliharalah kabar-kabar ghaib ini dalam peti-peti kalian, karena itu adalah Firman Allah yang akan menjadi sempurna dengan pasti dalam suatu hari dari hari-hari penampakan kemenangan itu.” (Tajliyyatu’l-Ilahiyyah, halaman 409-410)

Kemudian beliau menyajikan lagi:

“Dengarkanlah baik-baik, wahai manusia semuanya! Sesungguhnya, itu adalah sebagian yang telah dinubuwatkan oleh Pencipta semua langit dan bumi, bahwa sesungguhnya, Dia akan membentangkan Jamaah-nya ini di semua negara, dan Dia akan menjadikan mereka menang di atas semuanya dengan argumentasi dan bukti. Dan sungguh, hari-hari kemenangan akan datang, bahkan sesungguhnya, kemenangan itu adalah dekat, ketika dakwa yang satu ini diperingatkan di jagat raya ini dengan keperkasaan dan kemuliaan. Sesungguhnya, Allah akan memberikan banyak berkat yang besar ke dalam Jamaah dan Dakwah ini, secara luar biasa yang menyalahi kebiasaan, dan Dia akan menggagalkan setiap keputusan orang yang akan membencanainya, dan kemenangan ini akan berlangsung hingga Allah mewarisi bumi dan semua orang yang berada di sana.” (Tadzkiratu’sy-Syahaadataini, halaman 66)

j. Jamaahnya di Masa Kini

Meskipun ada permusuhan dan penentangan, dengan pertolongan Allah Ta’alaa, Jamaahnya ini senantiasa terpelihara dalam penerimaan, dan perkembangan dan penyebaran, sehingga di dunia ini, Jamaah ini berdiri kokoh di 170 negara lebih dalam tempo sekitar satu abad lebih, dan sejumlah pengikutnya yang ramah hidup berdampingan, dan Jamaah ini membuktikan pemenuhan yang besar dengan membangun ribuan masjid dan pusatpusat dakwah dalam berbagai penjuru dunia untuk menyiarkan Islam dan mengukuhkannya di bawah penggembalaan dan kemuliaan para Khalifahnya yang mulia. Sebagaimana Jemaah ini telah diberi taufik untuk menyebarkan Al-Qur’an Karim dan terjemahan makna maknanya lebih 50 bahasa dunia. Dan meskipun hanya sedikit sumber-sumbernya, Jamaah ini telah berusaha keras berjuang mengkhidmati kemanusiaan yang tertimpa bencana, dan bangkit membantu penderitaan orang-orang fakir, tanpa memandang kepada asal-usul golongan dan agama, dalam berbagai tempat di dunia ini, khususnya di Afrika di mana Jamaah ini telah mendirikan banyak klinik, rumah sakit, sekolah dan perguruan tinggi. Demikian juga, dengan pertolongan Allah Ta’alaa, Jemaat ini telah membuka saluran televisi Islam Internasional yang pertama (MTA Internasional), dan tujuannya satu, yaitu menyampaikan tabligh Islam ke semua penjuru dunia, dan Jamaah ini, telah menyiarkan programnya sepanjang waktu dengan berbagai macam bahasa dunia ke lima benua. Dan dengan nikmat Allah ‘Azza wa Jalla, kami menceritakan bahwa sesungguhnya pemenuhan yang mulia ini telah melebihi keadaan dan kemampuan serta cara-cara dari semua negara Islam. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah itu adalah Pemilik karunia Yang Maha Agung.

(Visited 491 times, 1 visits today)