Perdebatan Delhi


Hazrat Ahmad as tiba di Delhi pada tanggal 27 September 1891. Pada waktu itu Delhi dipandang sebagai pusat ilmu pengetahuan di seluruh India. Dan pihak lawan lebih dahulu telah menghasut penduduk Delhi menentang beliau as. Maka dengan kedatangan beliau timbulah suatu keributan dan kegoncangan yang hebat. Para ulama menantang Hazrat Ahmad as berdebat. Akhirnya mereka secara sepihak telah menetapkan Maulvi Nazir Hussein, tokoh Ahli-Hadis, akan berdebat dengan Hazrat Ahmad as di Masjid Jami’ Delhi. Sedangkan hal itu tidak diberitahukan kepada Hazrat Ahmad as.

Pada waktunya, datanglah Hakim Abdul Majid membawa kendaraan supaya Hazrat Ahmad as berangkat ke Masjid Jamii’ untuk perdebatan itu. Hazrat Ahmad as menjawab:

“Dalam keributan dan kekacauan yang begini hebat, jika belum ada pengawalan yang lengkap dari pemerintah, saya tidak dapat pergi ke tempat perdebatan itu. Lagi pula, masalah perdebatan serta syarat-syaratnya seharusnya telah dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan saya juga.”

Atas jawaban ini, para penentang semakin ribut. Oleh karena itu, Hazrat Ahmad as mengumumkan: “Baiklah, Mlv. Nazir Hussein Delwi menyatakan dengan sumpah di Masjid Jami’, bahwamenurut ayat-ayat Al-Quran Nabi Isa as masih hidup dan sampai sekarang belum wafat. Setelah sumpah itu, jika dalam tempo satu tahun Mlv. Nazir Hussein tidak mendapat suatu siksaan dari langit, maka boleh lah saya dianggap sebagai pendustadan saya akan membakar seluruh buku saya.”

Untuk hal itu Hazrat Ahmad as telah pula menetapkan hari dan tanggalnya. Permintaan tersebut sangat menggelisahkan murid-murid Mlv. Nazir Hussein, dan mereka berupaya dengan berbagai cara untuk menghalangi persumpahan itu. Tetapi masyarakat umum mendesak Mlv. Nazir Hussein agar bersumpah bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah dusta dalam pendakwahanya.

Pada waktu itu rakyat jelata berduyun-duyun berkumpul di Masjid Jami’ Delhi. Banyak orang memberi pandangan agar Hazrat Ahmad as tidak usah pergi ke tempat itu, sebab diri beliau as terancam dan mungkin timbul bahaya bagi diri beliau. Tetapi Hazrat Ahmad as beserta 12 orang sahabat beliau pergi juga ke tempat itu (Nabi Isa Israili dahulu juga mempunyai 12 orang sahabat/hawariyin, dan pada kejadian ini Hazrat Ahmad as pun ditemani oleh 12 orang sahabat beliau).

Bagian luar dan dalam Masjid Jamii’ Delhi telah penuh sesak oleh massa, bahkan di tangga-tangga luar pun penuh dengan khalayak ramai. Dalam kerumunan puluhan ribu orang itu — yang sebagian besar berkumpul karena kebencian terhadap Hazrat Ahmad as — telah naik darah dan gelap mata. Beliau as dengan beberapa sahabat itu berjalan terus melalui kerumunan masa sampai ke tempat imam dalam masjid itu, dan beliau pun duduk disana. Seorang perwira polisi dengan seratus orang pasukannya telah berada di tempat untuk menjaga ketenteraman dan keamanan. Dari antara hadirin banyak pula yang membawa batu untuk melempar Hazrat Ahmad as.

Demikianlah Masih Mau’ud yang sekarang ini, seperti halnya Masih Israili dahulu juga terancam oleh para ulama dan pendeta. Hanya saja Masih Mau’ud as ini bukan disalibkan, melainkan akan dirajam dengan batu-batuan.

Dalam perdebatan itu pihak lawan menderita kekalahan. Tidak ada yang mau memperbincangkan masalah kewafatan Nabi Isa as. Demikian pula Mlv. Nazir Hussein atau orang lainnya tidak berani bersumpah seperti yang dimintakan. Seorang advokat dari Aligarh bernama Khwaja Muhammad Yusuf, telah menerima tulisan iktikad dan pendirian Hazrat Ahmad as yang akan dibacakannya di hadapan umum. Tetapi para ulama yang telah menyebarkan fitnah — bahwa Hazrat Ahmad as tidak mempercayai Al-Quran, Hadis dan Junjungan Nabi Muhammad saw — mereka takut bila tipu muslihat dan fitnah mereka itu terbongkar. Maka mereka terus menghasut, supaya masyarakat umum jangan sampai mendengarkan iktikad dan pendirian Hazrat Ahmad as yang sebenarnya.

Atas hasutan mereka timbul-lah keributan dan kekacauan besar, sehingga Khwaja Muhammad Yusuf tidak dapat membacakan tulisan itu. Oleh karena keadaan begitu gawat, perwira polisi memberi peringatan untuk  membubarkan pertemuan, dan melarang mengadakan perdebatan pada waktu itu. Polisi mengantar Hazrat Ahmad as sampai ke luar pintu mesjid, dan ketika menunggu kendaraan, banyak orang berkumpul hendak membuat keributan. Lalu beliau as naik kendaraan untuk pulang, dan polisi membubarkan massa yang ada.

Kemudian pada kesempatan lain, masyarakat Delhi memanggil Maulvi Muhammad Bashir dari Bhopal untuk mengadakan perdebatan dengan Hazrat Ahmad as dan pesan perdebatan itu telah dicetak juga. Beberapa hari setelah itu Hazrat Ahmad as kembali ke Qadian. Setelah beberapa bulan, pada tahun 1891 itu juga, beliau as berangkat ke Lahore dan mengadakan suatu perdebatan dengan Maulvi Abdul Hakim Kalanauri. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke Sialkot, lalu terus ke Jallandar dan Ludhiana. Dari sana beliau as kembali ke Qadian.

(Visited 3 times, 1 visits today)