Permohonan Libur Umum Pada Hari Jumat


Tidak berapa lama sesudah itu, Hazrat Ahmad as pergi ke Ferozpur. Pada semua perjalanan ini, di tiap-tiap tempat beliau as selalu disulitkan orang melalui lisan maupun tulisan. Mereka berusaha mencelakakan beliau.

Pada tanggal 1 Januari 1896, Hazrat Ahmad as memulai suatu upaya baru berkaitan dengan shalat Jumat, untuk menjunjung kehormatan serta peraturan Islam. Beliau mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk menetapkan hari Jumat sebagai hari libur. Sayang pada waktu itu di kalangan umat Islam sendiri sudah banyak timbul perselisihan tentang shalat Jumat. Banyak yang menetapkan berbagai macam syarat tentang boleh atau wajib diadakannya shalat Jumat. Bahkan banyak yang sudah tidak mengerjakan shalat Jumat lagi.

Upaya Hazrat Ahmad as menghidupkan kembali shalat Jumat dan agar pemerintah menetapkan Jumat sebagai hari libur, adalah satu tanda kebenaran beliau as yang amat jelas. Sebelum beliau menyampaikan permohonan itu pada pemerintah, para ulama telah menentang dan hendak mengambil alih urusan tersebut. Hazrat Ahmad as bekerja semata-mata demi Allah dan bukan untuk mendapatkan pujian manusia. Tujuan beliau hanya ingin mengkhidmati dan menegakkan agama Allah semata, tidak peduli siapa pun yang menyelesaikannya.

Atas permintaan Maulvi Muhammad Hussein Batalwi, Hazrat Ahmad as mengumumkan bahwa jika Maulvi Muhammad Hussein mau, ia boleh menyelesaikan urusan libur hari Jumat itu. Sangat disayangkan, Maulvi Muhammad Hussein dengan cara demikian telah mengulur-ulur urusan yang baik itu. Namun anjuran beliau as ini adalah anjuran Ilahi, dan pekerjaan baik ini akhirnya dilaksanakan sendiri oleh jemaat belau as.

(Visited 5 times, 1 visits today)