Tawaran Damai Kepada Para Ulama Islam


Pada hari-hari itu Hazrat Ahmad as menerbitkan sebuah selebaran dengan judul Ashshuluh Khair. Selebaran ini ditujukan kepada para ulama Islam dimana beliau mengemukakan supaya dalam tempo sepuluh tahun para ulama itu tidak menentang dan menghalangi beliau dulu dan agar membiarkan beliau menghadapi musuh-musuh Islam terlebih dahulu. Hazrat Ahmad as menjelaskan :

“Sekiranya saya seorang pendusta, penipu, niscaya saya akan binasa dalam tempo tersebut. Dan jika saya benar, maka kalian pun akan terpelihara dari sikasan yang akan diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk mereka yang melawan orang yang benar.”

Tetapi sayang, para ulama itu tidak menyambut permohonan beliau tersebut, dan daripada melawan para musuh Islam ternyata mereka lebih suka melawan seorang pembela Islam.

Pada bulan Oktober 1897 Hazrat Ahmad as pergi ke Multan sebagai saksi dalam sebuah perkara. Ketika kembali beliau singgah dulu di Lahore untuk beberapa hari lamanya. Di setiap jalan dan gang yang beliau lalui, orang-orang berkumpul mencaci-maki dan menghina beliau as dengan kata-kata yang sangat kotor.

Pada waktu itu saya (Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad –pen) baru berumur 8 tahun, dan saya pun ikut serta dalam perjalanan itu. Saya belum dapat mengerti ketika itu, mengapa orang-orang memusuhi dan menghina beliau as. Hal itu sangat mengherankan saya. Saya masih ingat, saat itu di tangga Masjid Wajir Khan ada seseorang yang tangannya buntung sebelah. Bahkan bekas potongan atau lukanya masih baru dan dibalut kain perca. Ia pun ikut dengan orang-orang ramai serta bersuit dan bertepuk tangan dengan menepuk tangan yang buntung itu ke tangan yang lain sambil berteriak-teriak mengatakan, ” Mirza sudah lari… Mirza sudah lari!”

Pemandangan tersebut sangat mengherankan hati saya, dan agak lama saya mengeluarkan kepala (dari kendaraan) untuk melihat orang itu. Dari Lahore kemudian Hazrat Ahmad as terus kembali ke Qadian. Pada tahun itu juga berjangkit wabah pes di Punjab. Semua golongan agama pada waktu itu sangat menentang cara-cara yang ditempuh pemerintah untuk membasmi wabah tersebut. Tetapi Hazrat Ahmad as justru menyetujui cara-cara itu dan menganjurkan agar para pengikut beliau jangan ragu-ragu menggunakan cara-cara itu, sebab Islam menganjurkan menjaga kesehatan.

Demikianlah Hazrat Ahmad as telah berjasa menegakkan ketenteraman publik. Karena, secara umum tersiar kabar bahwa pemerintah sendirilah yang telah menyebarkan wabah pes tersebut, sedangkan cara-cara yang dikatakan dapat membasmi wabah, sebenarnya itulah yang menyebabkan tersebarnya penyakit tersebut, dan bertentangan dengan agama Islam. Maka para ulama pun memberi fatwa tegas, bahwa pada masa wabah pes berjangkit orang-orang sama sekali tidak dibenarkan keluar rumah. Fatwa ini pun telah menyebabkan kematian beribu-ribu orang yang tidak tahu apa-apa. Obat pembasmi tikus mereka anggap sebagai bibit penyakit pes. Perangkap-perangkap tikus pun mereka tolak dan mereka cemoohkan.

Pendek kata pada waktu itu kekacauan merajalela dan di beberapa tempat para pembesar negeri diserang oleh rakyat. Dalam keadaan demikian, anjuran dan seruan Hazrat Ahmad as serta contoh dan amal yang ditampilkan oleh Jemaat beliau telah memberi inspirasi kepada orang-orang lain juga. Beliau as menerangkan kepada orang-orang Islam bahwa menurut agama Islam, dalam musim wabah pes, keluar dari rumah atau tinggal jauh dari kota, tidaklah dilarang. Yang dilarang adalah, pada musim wabah pes pergi dari suatu kota (yang telah terjangkit wabah pes tersebut) ke kota lain. Karena hal itu akan menjangkitkan wabah pes tersebut ke kota lainnya.

(Visited 5 times, 1 visits today)