Perkara Pengadilan di Gurdaspur


Perkara-perkara yang ditimbulkan oleh Karam Din di Jhelum pada zahirnya telah selesai dan ditutup. Tetapi tidak lama kemudian Karam Din kembali memperkarakan Hazrat Ahmad as dengan tuduhan-tuduhan palsu seperti dahulu, di pengadilan negeri Gurdaspur. Perkara ini menjadi sangat panjang, sampai-sampai hakim pengadilan itu telah pindah digantikan dengan yang baru. Hari-hari pemeriksaan pun ditetapkan cepat-cepat, sehingga untuk sementara waktu beliau as terpaksa harus menetap di Gurdaspur.

Perkara ini diperpanjang dengan tidak semestinya. Padahal yang hanyalah beberapa perkara saja. Karam Din telah berdusta tentang Hazrat Ahmad as oleh karena itu di dalam sebuah buku beliau as telah menyebut orang ini sebagai kadzab dalam bahasa Arab, yang bertarti pendusta atau pendusta besar. Demikian pula beliau menggunakan kata la’iyn dalam bahasa Arab yang artinya terkutuk, atau kadang-kadang digunakan juga dalam arti haramzadah.

Karam Din mengemukakan bahwa ia dituduh pendusta dan haramzadah, padahal yang dikemukakan oleh Hazrat Ahmad hanyalah berupa kedustaan yang memang telah dilakukan oleh orang itu sendiri. Pengadilan pun mulai mengusut perkataan tersebut. Hal itu semakin berlarut-larut, yang mengakibatkan perkara ini berlangsung sampai dua tahun lamanya.

Walau perkara ini masih dalam pengusutan, telah tersiar di surat kabar bahwa rekan-rekan seagama sang hakim  pengadilan itu telah mendesaknya untuk menghukum Hazrat Ahmad as — walau satu hari sekali pun. Para pengikut Hazrat Ahmad as sangat gelisah mendengar kabar tersebut dan segera menyampaikannya dengan rasa haru kepada beliau as. Mendengar kabar itu, Hazrat Ahmad as dengan wajah merah dan lantang menjawab:

“Apakah dia mau menyerang singa Allah? Jika dia berani berbuat demikian, niscaya dia akan menanggung akibatnya!”

Terlepas dari benar tidaknya berita tersebut, tetapi pada masa-masa itu juga hakim tersebut telah dipindahkan ke tempat lain. Kekuasaannya dikurangi, bahkan tidak lama sesudah itu pangkatnya pun diturunkan.

Perkara itu kemudian diserahkan kepada hakim lain, dan ia pun mengulur-ulur perkara itu tanpa seperlunya. Biasanya Hazrat Ahmad as mendapat kursi tempat duduk di pengadilan, tetapi hakim ini tidak memberikan kursi bagi beliau as padahal beliau dalam keadaan sakit. Bahkan beliau tidak diperkenankan minum ketika beliau benar-benar haus. Akhirnya setelah pemeriksaan yang begitu panjang, Hazrat Ahmad as didenda 200 rupis.

Tetapi keputusan itu ditinjau kembali di pengadilan oleh Mr. Hetry di Amritsar. Setelah mempelajari perkara tersebut, Mr. Hetry menyatakan keheranannya, mengapa perkara yang begitu sederhana diperpanjang sampai berlarut-larut demikian lamanya? Mr. Hetry mengatakan :

“Saya dapat menyelesaikan perkara ini dalam satu hari saja. Dan Karam Din memang patut disebut dengan perkataan yang lebih keras dari apa yang telah dikatakan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan pengusutan yang demikian panjang itu memang tidak pada tempatnya.”

Dalam waktu dua jam saja hakim Mr. Hetry ini telah membebaskan Hazrat Ahmad as dan membatalkan seluruh denda itu. Demikianlah, untuk kedua kalinya seorang hakim bangsa Eropa telah membuktikan dengan amal-amalnya bahwa Allah Ta’ala suka menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada orang-orang yang memang dianggap ahli untuknya. Perkara tersebut diputuskan pada bulan Januari 1905. Maka wahyu Allah Ta’ala yang turun kepada Hazrat Ahmad as beberapa tahun sebelumnya — tentang hasil perkara itu — telah menjadi sempurna.

(Visited 2 times, 1 visits today)