Perjalanan Terakhir


Pada tanggal 27 April 1908, berhubung karena sakitnya ibu kami, Hazrat Mu’minin (istri Hazrat Ahmad as , yang bernama Nusrat Jahan Begum ra. -pen.), beliau akan berangkat ke Lahore. Malam itu beliau as mendapat ilham: Janganlah mengabaikan permainan zaman Hazrat Ahmad as menerangkan bahwa ilham ini mengisyaratkan pada suatu peristiwa yang akan menyedihkan. Justru pada malam itu juga, adik kami, Mirza Syarif Ahmad jatuh sakit. Namun Hazrat Ahmad as tetap memaksakan untuk berangkat.

Ketika sampai di Batala — stasiun kereta api terdekat dari Qadian — pada waktu itu diketahui bahwa karena ada huru-hara di perbatasan, hanya sedikit kereta api yang digunakan untuk keperluan umum. Maka Hazrat Ahmad as terpaksa menunggu dua tiga hari di Batala, kemudian barulah diperoleh sebuah gerbong bagi beliau as. Dan beliau menceritakan kepada kami anggota keluarga, bahwa beliau mendapat ilham yang menakutkan, dan juga mendapat beberapa hambatan di perjalanan. Oleh karena itu beliau as menetapkan untuk sementara waktu menetap dulu di Batala dan memanggil seorang dokter perempuan.

Tetapi istri beliau as meminta supaya tetap melanjutkan perjalanan ke Lahore. Setelah dua tiga hari, beliau as meneruskan perjalanan ke Lahore. Kedatangan Hazrat Ahmad as di Lahore menimbulkan keributan besar. Dan sebagaimana biasanya, para ulama berkumpul untuk menentang beliau as.

Di sebuah lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah tempat Hazrat Ahmad as menginap, setiap hari dari jam empat sore sampai jam sembilan malam para penentang itu menyelenggarakan pidato-pidato yang menghina dan mencaci maki beliau as dengan kata-kata kotor. Para murid beliau as yang terpaksa harus melalui kawasan itu, menyatakan keprihatinan atas kata-kata kotor para penentang tersebut. Hazrat Ahmad as memberi nasihat kepada murid-murid beliau bahwa cacian dan kata-kata kotor itu sedikit pun tidak merugikan kita, maka jangan perdulikan hal itu, bahkan tidak perlu memandang ke arah itu.

Oleh karena Hazrat Ahmad as akan menetap agak lama di Lahore, maka orang-orang Ahmadi dari kota-kora lain pun banyak berdatangan dan berkumpul di Lahore. Setiap waktu ramai orang yang datang untuk berjumpa dengan beliau as.

Umumnya orang-orang kaya di seluruh dunia kurang memberikan perhatian agama. Maka untuk menyampaikan tabligh kepda orang-orang kaya di Lahore, Hazrat Ahmad as melalui seorang hartawan yang telah beriman kepada beliau as. mengundang orang-orang kaya lainnya dala sebuah jamuan khusus. Sebelum jamuan disajikan, Hazrat Ahmad as menyampaikan sebuah pidato yang agak panjang. Baru satu jam beliau as berbicara, sudah ada seorang dari hadirin yang menyatakan kebosanannya. Tetapi hadirin lainnya segera membantah dan mendesak supaya santapan rohani itu dilanjutkan. Maka Hazrat Ahmad as pun meneruskan pidato beliau setengah jam lamanya.

Ada yang salah paham tentang pidato tersebut, bahwasanya Hazrat Ahmad as telah menarik kembali penda’waan beliau sebagai nabi. Dan berita yang berisikan kesalahpahaman itu dicetak pula oleh sebuah surat kabar bernama Akbhar-e-Aam Lahore.

Hazrat Ahmad as pun segera membantah berita yang salah itu dan menyiarkan sebuah karangan yang berjudul Ek Ghalathy Ka Izalah, yakni memperbaiki suatu kesalahan. Beliau as menjelaskan :

“Saya memang mendakwahkan sebagai nabi dan sama sekali tidak pernah menarik kembali pendakwahan itu. Hanya saja saya tidak membawa syariat baru, dan tetap hanya satu syariat saja, yang dibawa oleh Junjungan yang Mulia Nabi Muhammad saw.

(Visited 3 times, 1 visits today)