Kewafatan Hazrat Ahmad as.


Hazrat Ahmad as sering terserang penyakit diare, dan kali ini setelah tiba di Lahore penyakit ini menyerang dengan lebih hebat lagi. Orang-orang tidak henti-hentinya datang menjumpai beliau, sehingga beliau tidak dapat waktu yang cukup untuk istirahat. dalam keadaan sakit demikian beliau as menerima sebuah ilham :

Waktu berangkat telah tiba, lalu waktu untuk berangkat telah tiba.

Ilham ini menimbulkan kekhawatiran pada banyak orang. Lalu datang pula sebuah berita dari Qadian bahwa seorang Ahmadi mukhlis disana telah wafat. Sebagian orang mulai menganggap bahwa ilham tersebut berkenaan dengan Ahmadi yang telah wafat itu. Tetapi Hazrat Ahmad as menjelaskan bahwa ilham itu adalah tentang seseorang yang terkemuka dalam Jemaat Ahmadiyah, dan bukan tentang orang yang telah wafat tersebut.

Karena perasaan yang ditimbulkan oleh ilham itu, Hazrat Ummul Mu’minin mengajak Hazrat Ahmad as pulang ke Qadian. Hazrat Ahmad as menjawab :

“Sekarang saya tidak kuasa lagi untuk pulang, dan jika Allah mau membawa nanti, saya dapat juga sampai ke Qadian.”

Meski pun beliau telah menerima ilham itu dan dalam keadaan sakit, Hazrat Ahmad  as tetap saja sibuk dalam pekerjaan beliau. Dalam keadaan sakit itu beliau merencanakan sebuah pidato untuk menimbulkan kecintaan dan perdamaian antara Hindu dan Muslim. Hazrat Ahmad as mulai menulis pidato tersebut, yang diberi nama Peygham-e-Suluh yang artinya Himbauan ke Arah Perdamaian.

Pekerjaan ini semakin melemahkan tubuh belaiu as dan penyakit buang-buang air pun bertambah parah. Sebelum karangan pidato tersebut selesai, pada malam hari itu Hazrat Ahmad as mendapat ilham dalam bahasa Farsi : Janganlah menyandarkan diri pada umur yang tidak kekal.

Hazrat Ahmad  as menyampaikan ilham ini kepada anggota keluarga beliau, dan menerangkan bahwa, “Ilham ini adalah tentang diri saya.”

Keesokan harinya naskah pidato itu telah selesai dan diserahkan untuk dicetak. Setelah itu pada waktu malam, penyakit Hazrat Ahmad as semakin parah dan sangat melemahkan tubuh beliau. Hazrat Ummul Mu’minin bangun dan terkejut melihat keadaan beliau a as yang sudah benar-benar lemah, lalu menanyakan kenapa. Hazrat Ahmad as menjawab, “Sekarang saat kewafatan saya sudah tiba.”

Kemudian beliau  as buang air lagi, dan kondisi beliau menjadi sangat lemah. Beliau memerintahkan agar memanggil Hazrat Maulvi Nuruddin ra (tabib yang ahli dan seorang Ahmadi Mukhlis). Kemudian beliau as meminta agar membangunkan Mahmud (penulis buku ini) dan Mir Sahib (mertua beliau as.)

Tempat tidur saya tidak jauh dari tempat tidur beliau as. Saya pun bangun dan melihat keadaaan beliau yang sangat gelisah. Para dokter telah datang, dan mulai mengobati beliau. Tetapi obat-obat itu tidak dapat menolong. Akhirnya beberapa obat diberikan melalui suntikan, dan beliau pun dapat tertidur. Pada waktu Subuh, Hazrat Ahmad as terbangun dari tidur, dan melaksanakan shalat Subuh. Suara beliau as serak, sehingga sulit berbicara. Kemudian beliau meminta pena dan tinta untuk menulis sesuatu, tetapi karena terlalu lemah, Beliau tidak mampu memegang pena lagi dan tidak dapat menulis. Beliau pun merebahkan diri di atas tempat tidur. Tidak lama kemudian tampak beliau as seperti tertidur.

Pada tanggal 26 Mei 1908, pukul 10:30 pagi Hazrat Ahmad as  Telah mengkhidmati agama-Nya. Innaa lillahi wa innaa illayhi roji’uwn.

Sewaktu sakit, hanya satu perkataan yang selalu beliau ucapkan, yaitu “Allah”. Kabar tentang kewafatan Hazrat Ahmad as dengan cepat tersebar keseluruh Lahore. Jemaat Ahmadiyah di tempat-tempat lain -pun diberitahukan dengan telegram pada petang hari itu dan esok harinya, surat-surat kabar diseluruh India memuat berita tentang kewafatan beliau as.

Selama hidup, Hazrat Ahmad as senantiasa bersikap halus dan sopan terhadap musuh-musuh beliau. Akan tetapi ketika beliau as wafat, para musuh beliau memperlihatkan kebencian dan dendam mereka, dengan melakukan berbagai macam perbuatan yang hina.

Setengah jam setelah kewafatan beliau as sebuah rombongan besar orang-orang yang tidak senang terhadap beliau as telah berkumpul didepan rumah tempat tinggal beliau di Lahore. Mereka berteriak dan bersorak-sorak, serta melakukan berbagai macam tindakan yang menampakan kekotoran batin mereka.

Jemaat Hazrat Ahmad as sangat mencintai beliau. Mereka menyaksikan jenazah beliau di hadapan mereka. Namun karena kecintaan yang tinggi, mereka hampir tidak sudi menerima kenyataan bahwasanya beliau as telah wafat, berpisah dari mereka untuk selama-lamanya. Murid-murid Nabi Isa Israili dahulu sangat heran melihat Nabi Isa as masih tetap hidup setelah disalib. Tetapi murid-murid Masih Mau’ud as yang sekarang justru sangat heran melihat beliau as telah wafat. Seribu tiga ratus tahun sebelumnya, ketika Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad sawKhaataman Nabiyyin, penghulu sekalian Nabi — telah wafat, seorang penyair Muslim pernah mengungkapkan perasaan hatinya sebagai berikut:

Engkau lah biji mataku,

kewafatanmu telah menghilangkan penglihatanku;

kini setelahmu, siapa pun yang meninggal aku tidak perduli,

sebab hanya kewafatnmu lah yang daku risaukan.

Kini setelah 1300 tahun, kita menyaksikan lagi keadaan semacam itu atas wafatnya.

Hazrat Ahmad as — seorang murid Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw. Orang-orang yang telah beriman kepada Hazrat Ahmad as sangat berduka dan bersedih hati atas kewafatan beliau. Seolah-olah dunia telah menjadi gelap bagi mereka. Hingga sekarang pun mereka tetap berduka demikian di dalam hati. Walaupun sudah seabad mereka tidak akan dapat melupakan suasana tersebut — tatkala Rasul Allah, Hazrat Ahmad as yang mereka cintai itu masih hidup dan bergaul dengan mereka. Kedukaan hati dapat mempengaruhi dan menggelisahkan manusia. Saya pun sewaktu, menceritakan keawafatan Hazrat Masih Mau’ud as. ini telah jauh bergeser dari pokok pembahasan.

Saya telah ungkapkan tadi bahwa Hazrat Ahmad as wafat pada pukul 10:30 pagi. Kemudian segera diatur segala yang perlu untuk membawa jenazah beliau as ke Qadian. Dengan kereta api sore, pada hari itu juga, jenazah beliau as disertai rombongan besar Jemaat Ahmadiyah, diberangkatkan ke Qadian. Demikianlah telah sempurna ilham beliau as (dalam bahasa Urdu berikut ini) yang telah dicetak sebelumnya :

Jenazahnya telah dibawa dengan terbungkus kain kafan. Setelah turun di stasiun Batala, jenazah Hazrat Ahmad as diusung sampai ke Qadian. Sebelum beliau dikebumikan Jemaat yang berada di Qadian dan ratusan wakil Jemaat Ahmadiyah dari tempat-tempat lainnya dengan sepakat telah mamilih Hazrat Haji Maulvi Nuruddin sebagai pengganti beliau as dan sebagai Khalifatul Masih Awwal. Dan mereka pun bai’at kepadanya. Demikianlah kabar ghaib yang tercetak di dalam buku Al-Wasiat Hazrat Ahmad as telah menjadi sempurna:

“Allah Taala akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hazrat Abu Bakar ra mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw.

Kemudian Hazrat Khalifatul Masih Awwal ra. memimpin shalat jenazah Hazrat Ahmad as. Dan setelah Zuhur, jenazah hazrat Ahmad as dikebumikan.

Demikian pula telah sempurna ilham Hazrat Ahmad as yang beliau terima pada bulan Desember 1907, dan yang telah dicetak sebelumnya: “Sebuah peristiwa pada tanggal 27.”

Hazrat Ahmad as wafat pada tanggal 26 Mei 1908, dan dikebumikan di Qadian pada tanggal 27 Mei 1908. Selain ilham tersebut, ada lagi ilham (dalam bahasa Farsi) yang menjelaskan hal itu: “Telah tiba saatnya.”

Pada peristiwa kewafatan Hazrat Ahmad as seluruh surat kabar berbahasa Inggris maupun Urdu di India — walau memusuhi — juga mengakui bahwa beliau as adalah seorang tokoh besar zaman sekarang ini. [SELESAI]

(Visited 2 times, 1 visits today)