Seluruh warga Jemaat Ahmadiyah berkeyakinan, bahwa Al-Qur’an Syarif cukup untuk memutuskan segala perselisihan yang terjadi di lingkungan umat Islam, akan tetapi sayang sekali sebagian ulama Islam tidak mau menerima keputusan Kalamullah yang suci itu. Mereka mengikuti fatwa-fatwa ulama atau pikiran-pikiran mereka sendiri. Sungguh benarlah kata syekh Muhammad Iqbal yang dipuja-puja oleh Abul-Hasan Ali Al-Husni:

“Sesungguhnya ulama itu tidak mau mengubah keadaan mereka, bahkan mereka mengubah-ubah apa yang ada dalam Al-Qur’an menurut hawa nafsunya”.

Berikut ini adalah beberapa keterangan Al-Qur’an Syarif yang menunjukkan kebenaran pendakwahan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., antara lain:

I.) Tatkala Nabi Muhammad saw diutus, hampir semua orang Arab, terlebih penduduk Mekkah telah mendustakan beliau, Allah Ta’ala berfirman:

قُل لَو شاءَ اللَّهُ ما تَلَوتُهُ عَلَيكُم وَلا أَدراكُم بِهِ ۖ فَقَد لَبِثتُ فيكُم عُمُرًا مِن قَبلِهِ ۚ أَفَلا تَعقِلونَ

“Katakanlah [wahai Muhammad], “Jika Allah menghendaki tentu aku tidak akan membacakan [Al-Qur’an] ini kepada kamu dan tidak pula diberitahukan berkenaan dengan [Al-Qur’an] ini apa-apa kepada kamu. Maka sungguh sebelum ini aku sudah tinggal di antara kamu sepanjang umur saya, apakah kamu tidak mempergunakan akal?” (Qs. Yunus [10]:17).

Ayat di atas menyatakan bahwa kehidupan Muhammad saw sebelum mendakwahkan diri menjadi Nabi dan Rasul diakui sangat bersih dan suci, sehingga beliau diberi gelar ‘Al-Amin’, artinya orang yang sangat dipercaya. Orang-orang kafir sebelum mendengar pengakuan beliau benar-benar mengakui:

“Kami belum pernah mendapati engkau berdusta” (Al-Bukhari, Juz III, hal. 106).

Bukan hanya Nabi Muhammad saw saja, bahkan semua Nabi adalah ma’shum, termasuk sebelum mendakwahkan sebagai Nabi. Jadi, kebenaran, kesucian dan kesopanan yang mulia itu menjadi keterangan yang nyata atas kebenaran pengakuan (pendakwahan) mereka itu juga. Seorang yang hidup sampai 40 tahun lamanya di antara manusia, dan dalam 40 tahun itu dia belum pernah berdusta, belum pernah menipu orang, belum pernah menganiaya dan belum pernah melakukan kejahatan apa pun. Mustahil orang semacam itu tiba-tiba berani mengada-adakan kedustaan kepada Allah Ta’ala. Itulah yang dikemukakan oleh Allah Ta’ala dalam ayat tersebut sebagai keterangan mengenai kebenaran Nabi Muhammad Saw.

Berikut ini adalah beberapa keterangan kehidupan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebelum mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih, sebagai seorang Nabi ummati yang tidak membawa syariat baru, bahkan menjunjung tinggi dan memperjuangkan syariat Islam laksana bayangan dari Nabi Muhammad saw di zaman akhir ini. Syekh Muhammad Husain Al-Batalwi yang kemudian sangat memusuhi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., sebelumnya ia telah berkomentar dalam majalahnya mengenai keluar-biasaan buku Barahin-i-Ahmadiyya, karya Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang ditulis sebelum mendakwahkan diri sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud:

“Menurut pandangan dan pengalaman tiap-tiap kawan dan lawan, pengarang kitab Al-Barahin Al-Ahmadiyah itu tetap tegas di atas syariat Muhammad, orang bertakwa dan sangat benar keadaannya (Majalah Isya’atus-Sunnah, Jilid VII, hal.9).

Lagi dia menulis:

“Pengarang kitab Al-Barahin Al-Ahmadiyah itu tetap menolong Islam dengan hartanya, jiwanya, penanya dan lidahnya. Pendek kata dengan segala-galanya, sehingga di antara orang-orang Islam yang dahulu pun jaranglah orang yang semacam itu” (Majalah Isya’atus-Sunnah, Juz VI, hal. 7).

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sendiri telah bersabda dalam salah satu risalah yang ditulisnya:

“Dan kamu tidak akan dapat menunjukkan satu pun kesalahan, tuduhan, kedustaan atau tipuan yang aku ada-adakan sebelum aku mengemukakan pengakuan dan pendakwahanku ini. Kalau ada, tentu kamu hanya menyangka bahwa orang yang dahulu biasa berdusta, sekarang pun juga berdusta. Maka siapakah di antara kamu yang dapat menunjukkan perkara-perkara tersebut dalam kehidupanku? Dengan karunia-Nya semenjak dahulu Allah telah menetapkan aku di atas ketakwaan. Hal ini adalah satu keterangan bagi orang yang berakal” (Tadzkiratusy- Syahadatain, hal. 62).

Jadi, kesucian hidup beliau sebelum pengakuannya sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi itu adalah satu keterangan yang nyata bagi kebenaran pendakwaannya. Adapun setelah pengakuan (pendakwahan) itu timbullah bermacam-macam tuduhan yang ditujukan kepada Mirza Gulam Ahmad a.s., sama dengan tuduhan-tuduhan yang sudah pernah ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. Padahal orang-orang Arab dahulunya mengakui bahwa beliau saw. itu seorang yang benar, tetapi setelah mendengar pendakwaan beliau sebagai Nabi, mereka berkata:

“Dan orang-orang kafir berkata, “[Muhammad] ini seorang tukang sihir lagi pendusta besar!” (QS. Shad [38] :5).

Seorang yang bernama Maulana Sirajuddin (bukan seorang Ahmadi) berkata tentang masa muda Mirza Ghulam Ahmad a.s:

“Pada tahun 1860-1861 tuan Mirza Ghulam Ahmad adalah bekerja di Bandar Sialkot, usianya ketika itu kira-kira 23 tahun, kami sudah menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri bahwa pada masa mudanya beliau itu adalah seorang yang sangat saleh yang bertakwa dan dihormati” (Surat kabar Zamindar, 8 Juni 1908).

(II) Allah Ta’ala berfirman:

وَلَو تَقَوَّلَ عَلَينا بَعضَ الأَقاويلِ لَأَخَذنا مِنهُ بِاليَمينِ

“Dan jika sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan [sebagian ilham atau wahyu yang palsu] atas [nama] Kami, niscaya Kami menangkap dia dengan kekuatan kuasa Kami dan Kami putuskan tali jantungnya” (QS. Al-Haqqah [69]:45-47).

Ayat ini menyatakan bahwa “Nabi Muhammad –atau siapa saja — jikalau menyiarkan wahyu palsu yang diada-adakannya dengan nama Allah Ta’ala pasti dia akan segera dihukum oleh Allah Ta’ala Sendiri, dia akan dimatikan dan pekerjaannya akan dibinasakan. Oleh karena Nabi Muhammad saw telah menyiarkan wahyu dengan nama Allah Ta’ala dan selamat sampai 23 tahun lamanya dan pekerjaannya pun maju dan terus berkembang, maka sudah dapat dipastikan bahwa wahyu itu memang dari Allah Ta’ala dan beliau seorang yang benar dalam pengakuannya sebagai utusan-Nya.

Menurut keterangan ini juga, kita dapat mengetahui kebenaran Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani as. Beliau ini mulai mendapatkan ilham dan wahyu dari Allah Ta’ala sejak tahun 1868 M. Dan pada tahun 1883 M beliau telah menyiarkan wahyu-wahyu itu kepada manusia pada umumnya melalui bukunya Al-Barahin Al-Ahmadiyah. Kemudian beliau hidup sampai tahun 1908 M. Jadi, sesudah menyiarkan wahyu-wahyu dan ilham itu beliau hidup bukan saja 23 tahun seperti Nabi Muhammad saw, bahkan sampai 25 tahun lamanya. Dalam masa yang panjang ini beliau pun selamat dan pekerjaan beliau pun maju dan terus-menerus berkembang (kini, pada bulan Juli 2016 M sudah berdiri lebih dari 209 Negara dengan, red.).

Kalau Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as ini tidak benar dan wahyu serta ilham yang telah beliau kemukakan bukan dari Allah Ta’ala tentu beliau dimatikan dengan segera dan semua hasil pekerjaan beliau dibinasakan dengan segera juga. Telah disebutkan dalam satu kitab begini:

“Pekerjaan orang yang benar tetap maju dan pekerjaan orang pendusta habis binasa. Beginilah berlakunya sunnatullah yang tidak akan berubah-ubah” (Syarah Al-Akidah Al-Ashfaniyah, hal. 131).

Telah disebutkan lagi:

“Para Nabi yang dahulu pun telah menjelaskan bahwa Nabi palsu tidak akan tinggal (lama), melainkan dalam masa yang sedikit saja” (Syarah Al-Akidah Al-Ashfaniyah, hal. 84).

Perhatikanlah keadaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani as, yang membuktikan bahwa beliau itu seorang yang benar, kalau tidak benar pasti sudah lama pekerjaan beliau habis dibinasakan. Syekh Muhammad Thahir Jalaluddin rahmatullah ‘alaihi telah mengemukakan satu rahasia tentang mafhum ayat tersebut. Beliau berkata bahwa maksud ayat itu tidak berhubungan dengan sembarang orang pendusta yang mengada-adakan wahyu palsu, bahkan hukum ayat itu akan berlaku juga terhadap Nabi yang benar yang mengada-adakan wahyu palsu. (Lihat Perisai Orang Beriman, hal. 68)

Tafsir beliau ini salah sekali, karena tidak sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an Syarif dan tidak pula dibenarkan oleh pikiran yang waras. Menurut keterangan beliau bahwa Nabi yang benar dapat juga mengada-adakan wahyu palsu dan bahwa kalau Nabi yang benar mengada-adakan wahyu palsu, maka dia akan dihukum. Adapun Nabi-nabi palsu yang dengan sengaja mengada-adakan wahyu palsu dan menyiarkannya dengan nama Allah ta’ala, maka dia tidak akan dihukum. Siapakah yang mau mengakui pendapat seperti ini. Ya! Ayat ini menyatakan bahwa kalau sekiranya Muhammad saw mengada-adakan wahyu palsu, maka dia akan dihukum, apalagi para Nabi palsu yang lain (Lihat Tafsir Ruhul-Bayan, Juz IV, hal. 462), akan tetapi oleh karena beliau tidak dihukum, bahkan ditolong oleh Allah Ta’ala, maka terbuktilah bahwa beliau itu seorang Nabi yang benar. Hadhrat Ibnu Arabi rahmatullah ‘alaihi telah menulis berkenaan dengan ayat itu demikian:

Dengan ayat “Lau taqawwala ‘alaina” ini, Allah Ta’ala telah memberi tahu kepada para hamba-Nya bahwa mereka akan mendapat azab yang sangat pedih kalau mereka mengada-adakan wahyu dusta atas nama Allah Ta’ala. Jadi, hukum ini berlaku bagi semua orang yang mengada-adakan wahyu dusta atas nama Allah Ta’ala (Al-Futuhatul-Makkiyah, Juz I, hal.369)

Begitu juga Al-Qadhi Iyadh Al-Yahshabi rahmatullah ‘alaihi telah menjelaskan dalam kitabnya:

Hukuman itu akan berlaku bagi siapa saja yang mengada-adakan kedustaan (wahyu) atas nama Allah, sehingga kalau engkau wahai Muhammad! Berbuat begitu, maka hukuman itu akan berlaku juga bagi engkau. (Asy-Syifa’, Juz II, hal.92)

Dua keterangan di atas menyalahkan mafhum yang dijelaskan oleh tuan Syekh Muhammad Thahir Jalaluddin itu. Dalam kitab Arbain Hadhrat Mirza ghulam Ahmad ‘alaihis salam menulis:

“Barang siapa yang dapat menunjukkan seorang pun yang telah mengada-adakan wahyu palsu atas nama Allah Ta’ala dan ia menyiarkannya dan dapat hidup sampai 23 tahun lamanya, maka beliau akan memberikan hadiah kepadanya 500 Rupee, akan tetapi sampai saat beliau wafat tidak ada seorang pun yang dapat menunjukkannya.”

Pendek kata, semenjak Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. mendakwahkan diri telah mendapatkan wahyu dan ilham dari Allah Ta’ala serta wahyu itu disiarkan, lalu beliau hidup sekurang-kurangnya 25 tahun lagi dan pekerjaan beliau pun terus mengalami kemajuan, maka semuanya ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang benar dalam segala pendakwannya.

(III) Tatkala Nabi Muhammad saw telah mendapatkan kemajuan dan kemenangan, maka orang-orang Kristen dari negeri Najran datang hendak berdialog dengan beliau. Setelah terjadi dialog cukup panjang, mereka tetap menyalahkan beliau, maka Allah Ta’ala menunjukkan satu jalan yang terbaik untuk memutuskan perselisihan itu, Firman-Nya:

“Katakanlah wahai Muhammad! Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu dan saudara-saudara kami dan saudara-saudara kamu, lalu kita berdoa bersama-sama dengan sungguh-sungguh agar laknat Allah diturunkan kepada orang-orang yang berdusta (QS. Ali Imran [3]:62).

Tatkala ayat ini diturunkan, Rasulullah saw. memberitahukan kepada mereka itu, setelah mereka mendengar, mereka berkata: “Kami mau berunding dulu, wahai Muhammad!”. Tatkala mereka bermusyawarah, maka seorang di antara mereka yang bijak berkata:

“Sungguh kamu benar-benar telah mengetahui kebenaran Muhammad, dan sesungguhnya tidak satu kaum pun bermubahalah dengan Nabinya, melainkan mereka itu binasa” (Tafsir Jalalain). Jadi, janganlah kita bermubahalah dengan Muhammad”,  katanya. Akhirnya mereka tidak bermubahalah dan pulang ke negerinya. Nabi Muhammad saw bersabda, “Jika mereka bermubahalah juga: “sebelum habisnya satu tahun ini, mereka binasa semuanya (Tafsir Kabir, Juz II, hal. 465).

Mubahalah artinya dua pihak yang berlawanan itu berdoa bersama-sama kepada Allah Ta’ala agar pihak yang tidak benar itu dikutuk. Keterangan ini menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw itu Nabi yang benar, sedang orang Kristen dari Najran yang mendustakan beliau itu salah. Kalau Nabi kita itu bukan seorang Nabi yang benar tentu beliau tidak berani minta kutukan (laknat) bagi orang-orang yang berdusta, dan kalau orang Kristen itu benar, tentu mereka itu tidak takut meminta kutukan begitu. Jadi ayat ini menunjukkan satu jalan yang terang untuk mengetahui kebenaran atau kepalsuan siapa pun juga.

Tatkala Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Al-Qadiani didustakan, dihina dan dikafir-kafirkan, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat ini kepada beliau agar dengan jalan ini dapat diketahui oleh manusia siapakah yang benar dan siapakah yang salah. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. telah menyeru semua ulama yang mendustakannya agar mereka mau maju ke depan untuk ber-mubahalah dengannya. Syekh Sa’dullah telah ber-mubahalah dan telah dibinasakan, Muhyiddin Lagurki telah ber-mubahalah dan sudah dibinasakan, Faqir Mirza Darr Jaham telah ber-mubahalah dan sudah dibinasakan pula, dll.

Pendek kata, barang siapa yang berdoa mubahalah demikian, maka yang salah dibinasakan oleh Allah Ta’ala. Adapun, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. tetap selamat, bahkan ditolong oleh Allah Yang Maha Mengetahui.

(Visited 154 times, 1 visits today)