Hakikat Kalimat Syahadat

 

Aku telah menekankan berulang-kali bahwa kalian tidak boleh hanya cukup puas kalau kalian itu termasuk umat Islam dan telah menyatakan:

لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ

“Tidak ada yang patut disembah selain Allah.”

Mereka yang telah mempelajari Al-Quran tahu betul kalau Tuhan itu tidak puas hanya dengan omongan manusia saja. Al-Quran mengemukakan riwayat umat Yahudi, bagaimana mereka pada awalnya dikaruniai Allah swt dengan berbagai anugerah akbar. Tetapi ketika mereka kemudian hanya berucap di mulut saja sedangkan hatinya menjadi penuh dengan kedengkian, keculasan dan pikiran jahat, maka Allah Swt lalu menimpakan berbagai azab di atas mereka, sedemikian rupa sampai ada dari golongan mereka yang disebut sebagai monyet dan babi.

Semua ini terjadi padahal mereka memiliki Kitab Taurat dan Mazmur dimana mereka menyatakan bahwa mereka mengimani isinya serta mengakui semua Nabi-nabi mereka. Hanya saja Tuhan tidak puas dengan mereka karena pengakuan mereka itu semata-mata merupakan ucapan di mulut saja, sedangkan hati mereka kosong daripadanya.

kalimat syahadat, syahadat ahmadiyah

Coba renungi makna dari ungkapan kepercayaan bahwa “Tidak ada yang patut disembah selain Allah.” Dengan menyatakan hal ini melalui lidah dan meneguhkannya di dalam hati, maka seseorang mengakui bahwa tidak ada sembahan lain selain Allah Swt. Arti kata Ilah dalam bahasa Arab mengandung arti Wujud yang disembah, yang terkasih dan Tuhan yang sesungguhnya. Kepercayaan yang dianut umat Islam ini merupakan perlambang atau ringkasan dari Al-Quran. Sulit bagi sembarang orang untuk menghafal buku-buku yang tebal. Allah itu Maha Bijaksana dan karena itu menyampaikan kepercayaan yang ringkas bunyinya. Maknanya yang paling mendalam mengandung arti bahwa sebelum manusia memilih Tuhan di atas segalanya, sebelum Dia itu diakui sepenuhnya sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah dan sebelum Dia itu menjadi tujuan hakiki maka manusia tidak akan memperoleh keselamatan. Dinyatakan dalam salah satu Hadits bahwa:

مَنْ قَالَ لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menyatakan bahwa “Tidak ada yang patut disembah selain Allah” maka ia akan masuk surga.”

Banyak orang-orang yang menyalah-artikan Hadits ini. Mereka membayangkan bahwa cukup mengulang-ulang kepercayaan tersebut secara lisan dan mereka akan masuk surga dengan sendirinya. Allah Swt tidak menghiraukan ungkapan perkataan belaka. Dia itu melihat bagaimana hati sesungguhnya. Berarti, mereka yang menanamkan konsep hakiki dari kredo ini dalam hatinya sehingga keagungan Allah Swt sepenuhnya terukir dalam kalbu, maka ia akan masuk surga.

Jika seseorang meyakini sepenuhnya kepercayaan ini maka tidak akan ada lagi selain Allah Swt yang menjadi obyek perhatian atau yang patut disembah. Martabat kerohanian dalam bentuk Abdal, Qutab atau Ghauts tidak lain adalah keimanan sepenuhnya pada kalimah:

لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ

“Tidak ada yang patut disembah selain Allah.”

Kepercayaan luhur ini mengecualikan segala sembahan lainnya selain Allah Swt. Dengan demikian perlu kiranya mengikis dari kalbu tiap orang segala sembahan lain yang bersifat personal atau pun universal agar hatinya disucikan bagi Allah semata. Sebagian dari berhala itu kasat mata, tetapi sebagian lainnya bersifat tersembunyi dan tidak nampak. Sebagai contoh, ketergantungan pada sarana material di samping Allah Swt adalah juga merupakan berhala, meski tersembunyi dan tidak nampak sifatnya.

Semua berhala tersembunyi yang dibawa-bawa manusia ke mana saja, nyatanya sulit sekali dienyahkan. Para filosof akbar dan orang-orang bijak saja tidak mampu mengenyahkannya. Berhala-berhala itu seperti serangga  yang amat halus dan tidak bisa dilihat dengan mata kecuali melalui mikroskop rahmat akbar Allah Swt. Serangga-serangga ini amat merugikan manusia. Yang dimaksud dengan berhala-berhala tersebut adalah nafsu pribadi yang telah melencengkan manusia sedemikian rupa sehingga melupakan hak sesamanya dan hak Allah Swt. Banyak dari orang-orang besar yang dianggap terpelajar, para Maulwi serta mereka yang mempelajari Hadits, nyatanya tidak mampu mengenali berhala-berhala demikian dalam diri mereka, bahkan mereka malah mengagungkannya.

Menghindari berhala seperti itu hanya mungkin dilakukan oleh seorang yang memiliki keberanian besar. Mereka yang mengagungkan berhala-berhala tersebut terbiasa memelihara kedengkian di dalam hati mereka, mengingkari hak sesama manusia dan mempunyai bayangan sepertinya mereka telah mendapat suatu tambang khazanah. Mereka menganggap penting dan sepenuhnya bergantung pada sarana material. Selama kecenderungan seperti itu belum dienyahkan sama sekali, maka selama itu juga Ketauhidan Ilahi tidak akan bisa ditegakkan.

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah dalam Jalsah Salanah, 1906; hal. 1-5).


 

Dikutip dari buku Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, halaman 275-277

(Visited 101 times, 2 visits today)