Shalat dan Doa

Shalat sendiri berarti doa. Karena itu ketika sedang shalat, ajukanlah doa agar memperoleh keselamatan dari bencana di dunia ini maupun di akhirat dan agar kalian nantinya bisa mengakhiri hidup ini dalam keadaan yang baik


Shalat Dilakukan Dengan Cara Yang Tertib

Tuna ilmu sekali jika merasa puas hanya dari tampak luar pelaksanaan suatu shalat. Kebanyakan orang melaksanakan shalat hanya sebagai formalitas dan bersigegas sepertinya shalat itu menjadi beban bagi dirinya yang harus segera diselesaikan. Kemudian ada lagi orang yang bersicepat dalam shalat tetapi setelah itu berdoa panjang yang menghabiskan waktu dua atau tiga kali waktu shalat, padahal shalat itu sendiri tidak lain adalah doa semata.

Mereka yang melaksanakan shalat tidak dalam kerangka pikiran demikian dan tidak menyibukkan diri dengan permohonan doa saat itu, sesungguhnya telah gagal dalam shalat. Kalian harus menjadikan shalat kalian menjadi nikmat seperti makanan yang lezat atau air minum yang sejuk, karena jika tidak maka shalat hanya akan menjadi beban dan bukannya rahmat. Shalat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan kepada Tuhan. Seyogyanya shalat dilakukan dengan cara yang tertib. (Malfuzat, vol. VI, hal. 370).

Doa Dalam Shalat

Shalat merupakan kriteria yang efektif dari kesalehan seorang mukminin. Mereka yang menangis dalam shalatnya akan  memperoleh keamanan. Sebagaimana seorang anak yang menangis di pangkuan ibunya dan kemudian mendapat ketenangan karena kasih dan sayang ibunya itu, begitu juga halnya dengan ia yang memohon kepada Allah Swt dalam shalat dengan kerendahan dan hati yang mencair, samanya menempatkan dirinya dalam pangkuan kasih sayang Ilahi.

Ia yang belum memperoleh kenikmatan dalam shalatnya, sesungguhnya belum mendapatkan kenikmatan keimanan. Shalat tidak semata-mata hanya gerakan dan sikap tubuh. Sebagian orang bergegas dalam shalat seperti ayam yang mematuk remah-remah di tanah, tetapi setelah itu berdoa panjang-panjang. Keadaannya sama dengan mengatakan bahwa shalat dilakukan secara cepat sebagai suatu acara formil, padahal itulah saatnya berdoa kepada Allah Swt. Selesai melaksanakan shalat tanpa hasil maka mereka lalu menyambungnya dengan doa-doa panjang. Lakukanlah pengajuan permohonan doa kalian pada saat shalat, jadikanlah shalat sebagai sarana untuk mengajukan permohonan doa. (Malfuzat, vol. II, hal. 145).

Pengucapan Al-Fatihah Dalam Shalat

Doa adalah tujuan dan ruh daripada shalat. Bagaimana tujuan itu bisa dicapai kecuali dengan cara berdoa di dalam shalat. Sang penyembah sepertinya mendapat kesempatan hadir di hadapan Raja untuk menyampaikan permohonannya tetapi ia malah tidak berbicara apa-apa saat itu. Setelah selesai kesempatan hadir dan meninggalkan hadirat sang Raja, barulah ia bermaksud menyampaikan permohonannya. Cara demikian tidak akan ada manfaatnya bagi yang bersangkutan.

Keadaan seperti itulah yang terjadi pada orang-orang yang tidak mengajukan doanya secara khusuk dan tekun pada saat sedang shalat. Panjatkanlah doa kalian ketika sedang dalam keadaan shalat dan laksanakan dengan cara yang tertib. Allah Swt telah mengajarkan kepada kita sebuah doa di awal mula Al-Quran dan memerintahkan kepada kita untuk membacanya sebagai persyaratan keabsahan shalat. Pengucapan Surah Al-Fatihah merupakan kewajiban dalam setiap shalat, hal mana menjadi indikasi bahwa doa hakiki seharusnya diajukan ketika sedang shalat. (Malfuzat, vol. III, hal. 258).

Shalat Dilakukan Dalam Bahasa Arab

Shalat hanya boleh dilakukan dalam bahasa yang digunakan oleh Al-Quran. Namun setelah selesai dengan bacaan yang diwajibkan, kalian boleh saja mengajukan permohonan doa dalam bahasa kalian sendiri. Bacaan yang diwajibkan itu sendiri tidak boleh diabaikan. Umat Kristiani yang meninggalkan prinsip ini sekarang telah kehilangan segalanya. (Malfuzat, vol. III, hal. 288).

***

Apakah shalat itu sebenarnya? Shalat adalah permohonan yang diajukan dengan segala kerendahan hati dengan mengemukakan keagungan dan pujian bagi Allah Swt, pengakuan atas Kesucian-Nya, menghimbau sifat Pengampunan-Nya dan memohonkan berkat-Nya atas diri Hadhrat Rasulullah Saw. Jika kalian sedang shalat, janganlah kalian membatasi diri hanya pada bacaan doa wajib sebagaimana halnya shalat dari orang-orang acuh yang shalatnya hanya merupakan formalitas tanpa realitas di dalamnya.

Ketika kalian sedang melakukan shalat, disamping bacaan doa wajib sebagaimana diajarkan Al-Quran dan Rasulullah saw, sebaiknya kalian juga memanjatkan doa-doa kalian dalam bahasa sendiri agar hati kalian tergugah oleh kerendahan hati dan hasrat dirimu. (Kisyti Nuh, Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 68-69, London, 1984).

Doa Bisa Diajukan Dalam Bahasa Sendiri

Panjatkanlah doa kalian dalam shalat lima waktu yang kalian dirikan. Kalian tidak dilarang untuk mengajukan permohonan doa dalam bahasa sendiri. Shalat tidak bisa dikatakan telah dilaksanakan dengan baik jika tidak dilandasi konsenstrasi, dan konsentrasi tak mungkin dicapai tanpa kerendahan hati, sedangkan kerendahan hati hanya mungkin dicapai karena memahami apa yang diucapkan. Karena itu hasrat dan getaran sukma hanya mungkin dihasilkan bila berdoa dalam bahasa sendiri. Namun tidak berarti kalian boleh mengabaikan doa-doa wajib dan kemudian mengerjakan shalat dalam bahasa sendiri. Bukan itu yang aku maksud. Maksud yang ingin kusampaikan ialah setelah bacaan doa wajib, perlu juga kiranya kalian mengajukan permohonan doa dalam bahasa sendiri.

Dalam doa-doa wajib tersebut terdapat berkat-berkat khusus. Shalat sendiri berarti doa. Karena itu ketika sedang shalat, ajukanlah doa agar memperoleh keselamatan dari bencana di dunia ini maupun di akhirat dan agar kalian nantinya bisa mengakhiri hidup ini dalam keadaan yang baik. Doakanlah juga isteri dan anak-anak kalian. Berbuatlah baik dan jauhilah segala dosa. (Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Malfuzat, vol. VI, hal. 146).


Khalid, A.Q (Penerjemah). 2017. Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Ekstrak dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Jakarta: Neratja Press, hal 284-287.