Shalat Menuntun Manusia Kepada Allah

 

Setelah memahami makna dari “Tidak ada yang patut disembah selain Allah,” selanjutnya laksanakanlah shalat sepenuh hati karena mengenai ini selalu ditekankan kewajibannya oleh Al-Quran seperti pada ayat:

فَوَيلٌ لِلمُصَلّينَ ° الَّذينَ هُم عَن صَلاتِهِم ساهونَ

“Maka celakalah mereka yang bersembahyang, tetapi lalai dari sembahyang mereka.” (QS. 107, Al-Maa’uun: 5-6).

Patut kiranya dimengerti bahwa yang namanya shalat itu adalah bentuk permohonan yang diajukan oleh seorang pengabdi kepada Allah pada saat ia merasakan kesedihan karena merasa terpisah dari Wujud-Nya. Dengan hati yang mencair ia memohon dapat diizinkan bertemu dengan Tuhan-nya, karena tidak ada yang bisa disucikan kecuali Tuhan mensucikannya dan tidak ada yang dapat bertemu dengan Tuhan hingga Dia berkenan.

Manusia terbelenggu oleh berbagai kekang rantai dan jerat leher. Ia menginginkan kebebasan tetapi belenggu-belenggu tersebut tetap menjerat. Seberapa besarnya niat manusia menginginkan kesucian namun jiwanya yang sangat menyesali (nafs lawwamah) masih juga terkadang tergelincir. Hanya rahmat Tuhan saja yang bisa mensucikan manusia dari dosa. Tidak ada kekuasaan yang dapat mensucikan kalian berdasar daya kekuatan sendiri semata. Tuhan sudah memberikan jalan berupa shalat guna menumbuhkan perasaan-perasaan yang suci. Shalat merupakan doa yang diajukan kepada Allah Swt saat merasakan kegalauan dengan hati yang terbakar sedemikian rupa sehingga segala pikiran keji dan jahat bisa dienyahkan dan sebagai gantinya muncul hubungan suci dengan Allah Swt melalui pelaksanaan firman-firman Tuhan.

Arti kata shalat itu sendiri mengindikasikan bahwa doa hakiki tidak semata diutarakan oleh lidah saja, tetapi juga harus disertai rasa seperti kalbunya itu seolah-olah terbakar dan terpanggang dalam api. Allah Swt tidak akan menerima doa hamba-Nya kecuali yang bersangkutan pada saat berdoa itu seolah-olah mengalami kematian.

Sesungguhnya shalat merupakan doa dalam bentuknya yang paling luhur, tetapi manusia tidak menyadarinya. Di zaman ini banyak sekali umat Islam yang melakukan pengulangan rumusan-rumusan kesalehan seperti halnya kaum Tarekat Nausyahi dan Naqsyabandi[1] dan lain-lain.

Sayang sekali tidak ada dari mereka yang menyadari bahwa ajaran mereka tidak sepenuhnya bersih dari segala bid’ah. Mereka ini tidak menyadari realitas shalat dan karenanya mengecilkan arti firman-firman Allah Swt Bagi seorang pencari tidak ada dari bid’ah-bid’ah tersebut yang bermanfaat dibandingkan dengan shalat sendiri. Cara yang diperlihatkan Rasulullah Saw ialah ketika sedang menghadapi kesulitan maka beliau mengambil air wudhu, lalu menegakkan shalat dimana segala doa beliau panjatkan saat shalat tersebut. Pengalamanku sendiri mengatakan bahwa tidak ada yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah Swt kecuali melalui shalat.

Berbagai sikap yang dilakukan saat shalat menggambarkan rasa hormat, rendah hati dan kelembutan. Dalam Qiyyam (sikap berdiri tegak) si pelaku shalat berdiri sopan dengan kedua tangan terlipat di dada layaknya seorang hamba yang berdiri takzim di hadapan tuan atau rajanya. Dalam sikap Ruku’ (membungkukkan tubuh) si pelaku shalat membungkukkan dirinya dengan segala kerendahan hati. Puncak dari kerendahan hati itu dicapai saat Sujud yang menggambarkan puncak rasa ketidak-berdayaan si penyembah.

(Khutbah dalam Jalsah Salanah, 1906; hal. 6-8).

***

Lakukanlah shalat secara teratur. Ada orang-orang yang merasa cukup dengan melakukan shalat hanya sekali dalam sehari. Mestinya mereka menyadari bahwa tidak ada manusia yang dikecualikan dari ketentuan tersebut, tidak juga para Nabi. Ada diutarakan dalam sebuah Hadits bahwa sekelompok orang yang baru saja baiat ke dalam Islam, memohon kepada Hadhrat Rasulullah Saw agar mereka dibebaskan dari kewajiban melakukan shalat. Beliau berujar: “Agama yang tidak menentukan suatu kewajiban, bukanlah suatu agama sama sekali.”

(Malfuzat, vol. I, hal. 263).

***

Sekali lagi aku tekankan kepada kalian bahwa jika kalian ingin mencipta hubungan hakiki dengan Allah swt, kerjakanlah shalat sedemikian rupa sehingga tubuh kalian, lidah kalian, rohani kalian dan perasaan kalian semuanya menjadi perwujudan shalat. (Malfuzat, vol. I, hal. 170).

 

[1] Tarekat Naqsyabandiah didirikan oleh Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari

Naqsyabandi (717-791 H, 1318-1389 M). Tarekat ini bersumber dari Abu Yakub Yusuf al-Hamadani

(w. 535 H, 1140 M), seorang sufi yang hidup sezaman dengan antara lain Sheikh Abdul Qadir al-

Jailani.(Penterjemah)


Khalid, A.Q (Penerjemah). 2017. Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Ekstrak dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Hal 277-279). Jakarta: Neratja Press