Kebesaran Kitab Suci Al-Quran (Syair)

Keindahan Al-Quran

Pesona dan keindahan Al-Quran

Adalah Nur dan kehidupan setiap Muslim,

Rembulan mungkin kecintaan lainnya

Bagi kami yang terkasih Al-Quran semata.

Telah kucari ke berbagai penjuru

Tak bersua sama sekali tandingannya,

Bagaimana tidak ada padanannya

Ia adalah Kalam Suci Tuhan yang Maha Kaya.

Setiap kata di dalamnya berisi kehidupan

Dan sumber mata air tak berkesudahan,

Tak ada kebun yang demikian indah

Tidak juga taman serupanya.

Kalam Allah Yang Maha Pengasih

Tak ada bandingannya,

Meski mutiara dari Oman

Atau pun mirah dari Badakshan.

Gimana mungkin kata manusia

Bisa mengimbangi Kalam Ilahi?

Di sini kekuatan samawi, di sana tanpa daya,

Bedanya demikian nyata.

Dalam pengetahuan dan kefasihan

Gimana mungkin manusia mengimbangi-Nya?

Padahal para malaikat pun

Tak berdaya di hadirat-Nya.

Bahkan kaki serangga kecil pun

Tak mampu manusia mencipta,

Gimana mungkin baginya

Mencipta Nur Sang Maha Perkasa?

Wahai manusia, perhatikanlah

Keagungan Tuhan yang Maha Akbar

Kendalikan lidah kalian

Jika ada sedikit saja keimanan kalian.

Menganggap ada yang sama dengan Tuhan

Adalah kekafiran pada puncaknya,

Takutlah kepada Tuhan, wahai sayangku

Betapa dusta dan fitnah hal ini.

Jika kalian menerima Ketauhidan Ilahi

Mengapa hati kalian berisi penuh berhala?

Tabir kegelapan apa yang telah menyelimuti hati kalian.

Sesungguhnya kalian telah berdosa

Bertaubatlah, jika kalian takut kepada Allah.

Aku tidak mengharapkan buruk bagi kalian, saudaraku

Ini hanyalah nasihat sederhana

Hati dan jiwaku adalah persembahan bagi

Siapa pun yang berhati mulia.

(Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 198- 204, London, 1984).

 ***

Syair Urdu

Nur dari Al-Furqan

Adalah yang paling cemerlang dari semua sinar,

Maha Suci Dia yang dari-Nya

Mengalir sungai nur ruhani.

Pohon keimanan dalam Ketauhidan Ilahi

Sudah hampir meranggas kering

Ketika tiba mata air murni ini

Muncul dari ketiadaan.

Ya Allah, Furqan-Mu sendiri adalah alam hakiki

Yang berisi segala yang dibutuhkan mahluk ini.

Telah kucari ke seluruh dunia,

Telah kutelusuri semua tempat niaga

Yang kutemukan adalah piala satu ini

Berisi ilmu hakiki Sang Ilahi.

Tak ada padanan Nur ini

Di segenap penjuru bumi

Fitratnya unik dalam segala hal

Tanpa tanding di segala bidang.

Semula kukira bahwa Furqan serupa dengan tongkat Musa,

Setelah kurenungi mendalam nyatanya

Setiap katanya adalah al-Masih.

Jika buta mata mereka

Itu kesalahan mereka sendiri,

Padahal Nur ini telah bersinar

Seterang seratus mentari.

Betapa menyedihkan kehidupan

Umat manusia di dunia,

Yang hatinya tetap membuta

Meski tersedia Nur hakiki ini.

(Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1,

hal. 305- 306, London, 1984).

 ***

Sumber segala kebenaran

Dari Nur suci Al-Quran muncul hari yang terang

Angin musim semi semilir mengusap kuntum hati.

Mentari pun tidak memiliki Nur dan kecemerlangan ini

Pesona dan keindahannya pun tak ada pada rembulan.

Yusuf dilemparkan sendiri ke sebuah lubang

Sedangkan Yusuf [1]yang ini telah menarik manusia ke luar lubang.

Dari sumber segala ilmu, ia telah mengungkap ratusan kebenaran

Keindahannya menggugah wawasan mulia.

Tahukah kalian betapa luhur fitrat pengetahuan miliknya?

Penaka madu surgawi menetes dari wahyu Ilahi.

Ketika mentari kebenaran ini muncul di dunia,

Semua celepuk yang memuja kegelapan, bersembunyi semua.

Tak ada yang bisa merasa pasti di dunia ini,

Kecuali ia yang berlindung dalam wujudnya.

Ia yang diberkati dengan pengetahuannya

Menjadi khazanah pengetahuan,

Ia yang tidak menyadarinya

Serupa mereka yang tak tahu sesuatu apa.

Hujan rahmat Ilahi menghampiri dirinya

Wahai sialnya mereka yang meninggalkannya dan mencari yang lain.

Kecenderungan kepada dosa adalah gejala syaitan bernoda

Yang kuanggap manusia hanya mereka yang meninggalkannya.

Wahai tambang keindahan, aku tahu sumbermu

Engkau adalah Nur dari Allah Yang mencipta semesta.

Aku tak hasrat dengan siapa pun, hanya engkau kasihku

Kami telah menerima nurmu dari Dia yang mendengar doa.

(Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 304- 305, London, 1984).

 ***

Wahyu Ilahi

Dengan kalam Ilahi, fajar kebenaran telah merekah

Mata yang belum melihat kalam suci, sesungguhnya buta.

Istana hatiku dipenuhi wewangian kesturi itu

Kekasih yang telah meninggalkan, sekarang telah kembali.

Mata yang tidak melihat Nur Al-Furqan

Demi Allah, ia tidak akan dibukakan.

Mereka yang mencari taman Ilahi tetapi menyisihkan Al-Quran

Sesungguhnya ia tidak pernah mencium wewangiannya.

Aku bahkan tidak membandingkan dengan mentari

Akan nur yang aku perhati,

Beratus mentari mengitarinya dengan rendah hati.

Sial sungguh manusia yang memalingkan wajah

Dari Nur hanya karena keangkuhan belaka.

(Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 335, London, 1984).

[1] Nabi Yusufa.s. dikenal karena ketampanannya. Maksud koplet ini ialah Al-Quran (ditam­silkan sebagai Yusuf) tidak saja memang sudah sangat indah, tetapi juga menjadi pe­nyelamat, sedangkan Yusuf Sang manusia meski tampan tetapi tidak bisa menghindar di buang ke sebuah lubang.

 


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 489-493, ISBN 185372-765-2

 

 

(Visited 17 times, 1 visits today)