Keindahan Allah, Kemurahan dan Tauhid Ilahi Yang Diajarkan Al-Quran

Kitab suci Al-Quran berisi petunjuk-petunjuk yang mengarah kepada kasih Allah swt. Firman-firman itu menggambarkan keindahan Wujud-Nya dan mengingatkan akan kerahiman-Nya, dimana kecintaan kepada Tuhan tercipta melalui penghayatan keindahan itu atau karena menyadari kerahiman tersebut. Al-Quran mengajarkan bahwa dengan memperhatikan segala kemuliaan-Nya maka disimpulkan kalau Tuhan itu Maha Esa tanpa sekutu. Dia tidak memiliki cacat apa pun. Dia merangkum segala sifat yang baik dan memanifestasikan semua kekuatan suci-Nya. Dia adalah sumber dari segala ciptaan dan mata air dari berkat. Dia adalah pemilik dari semua ganjaran dan segala-galanya akan kembali kepada-Nya. Dia itu dekat tetapi juga jauh, Dia itu jauh tetapi juga dekat. Dia berada di atas segalanya, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada seseorang di bawah-Nya. Dia itu lebih tersembunyi dari segalanya tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada yang lebih mewujud dari sosok-Nya. Dia itu ada dengan sendiri-Nya dan segalanya hidup karena-Nya. Dia itu eksis dengan sendiri-Nya dan semuanya eksis melalui-Nya. Dia itu tegak dengan sendiri-Nya dan tak ada satu pun yang menopang-Nya. Tidak ada apa pun yang mewujud atas dirinya sendiri atau bisa hidup sendiri tanpa Dia. Dia meliputi keseluruhan tetapi tidak bisa dikatakan apakah sifat peliputan itu. Dia adalah Nur bagi semua yang ada di langit dan di bumi, setiap sinar memancar keluar dari tangan-Nya dan menjadi refleksi daripada Wujud-Nya. Dia adalah yang menghidupi alam semesta. Tidak ada jiwa yang tidak dihidupi oleh-Nya dan eksis dengan sendirinya. Tidak ada jiwa yang memiliki kekuatan bukan dari Wujud-Nya dan yang eksis dari dirinya sendiri.”

Dua Jenis Rahmat Ilahi

“SIFAT KASIH-NYA terdiri dari dua macam jenis. Pertama, adalah sifat Rahmãn yang secara abadi dimanifestasikan tanpa tergantung pada tindakan atau amalan siapa pun. Sebagai contoh, langit dan bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang, air, udara dan api serta semua partikel di alam ini yang diciptakan bagi keselesaan dan kebutuhan kita, yang seluruhnya telah tersedia sebelum kita sendiri mewujud. Semuanya itu sudah ada sebelum kita hadir. Tidak ada amalan apa pun yang berasal dari kita. Siapa yang bisa mengatakan bahwa matahari itu diciptakan karena hasil kerja seseorang, atau bumi terhampar sebagai akibat dari amal baik dirinya? Ini adalah sifat Rahmãn yang sudah berjalan sebelum terciptanya manusia dan bukan merupakan hasil kerja manusia. Adapun sifat kasih Ilahi yang kedua, yaitu Rahĩm, yang akan berjalan sebagai akibat dari tindakan atau amalan manusia. Hal-hal seperti ini tidak memerlukan ilustrasi.”


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 46-47, ISBN 185372-765-2
(Visited 291 times, 1 visits today)