PENGERTIAN ARASY DALAM ISLAM


arasy Allah

Kitab Suci Al-Quran sudah menjelaskan bahwa pada satu sisi dikatakan Tuhan memiliki kedekatan dengan para mahluk-Nya dan bahwa Dia merupakan ruh kehidupan dan pendukung semua mahluk, sedangkan di sisi lain dinyatakan kalau Dia itu berada di atas segalanya dan berada di luar jangkauan apa pun serta berkedudukan di Arasy (singgasana) agar tidak ada yang menyalahartikan kedekatan-Nya sehingga menyekutukan manusia dengan wujud-Nya, bahkan Tuhan dianggap sebagai manusia itu sendiri sesuai anggapan kaum pengikut kitab Veda. Arasy (singgasana) bukanlah sesuatu yang diciptakan. Arasy adalah kedudukan Ilahi yang berada di atas segala jangkauan. Arasy tidak berbentuk kursi tahta dimana manusia membayangkan Tuhan akan duduk di atasnya. Arasy adalah suatu posisi yang berada di luar segalanya dari para mahluk-Nya dan merupakan maqam transendental dan kesucian. Sebagaimana dinyatakan Al-Quran bahwa setelah menetapkan hubungan di antara Sang Pencipta dengan semua ciptaan dan segala sesuatunya, Tuhan lalu bersemayam di atas singgasana (Arasy) (QS.7 Al-A’raf:55) Dengan kata lain, meskipun terdapat perhubungan namun Dia tetap terpisah dan tidak bercampur dengan mahluk ciptaan-Nya.”

“Dikatakan Tuhan itu beserta semua orang dan memahami segala hal adalah sebagai bagian dari sifat kedekatan. Dia telah menyebutkan sifat ini dalam Al-Quran untuk menunjukkan kedekatan-Nya kepada manusia. Bahwa Dia berada di luar ruang lingkup ciptaan-Nya, serta berada jauh di atas dan jauh di suatu makam transendental dan kesucian yang bernama Arasy adalah cerminan sifat transendental-Nya. Allah swt mengemukakan sifat ini dalam Al-Quran guna meneguhkan Ke-Esaan Wujud-Nya dan bahwa Dia itu tanpa sekutu serta tidak bercampur dengan ciptaan-Nya. Umat lain ada yang hanya melihat sifat transendental itu dan menyebut-Nya sebagai Nargan, atau mereka mengakui-Nya sebagai Sargan dimana Dia menjadi mahluk ciptaan-Nya sendiri. Mereka tidak menggabungkan kedua sifat tersebut sedangkan Allah Yang Maha Kuasa dalam Al-Quran digambarkan sebagai cerminan dari kedua sifat tersebut dan inilah yang menjadi ciri Ke-Esaan-Nya.”

(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 97-99, London, 1984).

***

Arasy Bukan Bersifat Fisik

“Dalam keyakinan umat Islam, Arasy bukanlah suatu  benda  fisik  atau  ciptaan  sebagai  tempat  dimana Tuhan bertahta. Kalian bisa menelusuri Al-Quran dari awal sampai akhir dan kalian tidak akan menemukan bahwa Arasy (singgasana) merupakan benda ciptaan yang memiliki keterbatasan. Allah swt telah berulangkali mengungkapkan dalam Al-Quran bahwa Dia adalah Pencipta segala hal yang mempunyai eksistensi. Dia-lah pencipta langit dan bumi serta jiwa dengan segala sifatnya. Dia tegak dengan Dzat-Nya sendiri dan segala hal menjadi eksis karena Dia. Setiap zarah yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya namun tidak pernah Dia mengatakan bahwa Arasy adalah sesuatu yang bersifat fisikal yang merupakan hasil ciptaan-Nya.”

”Setiap kali kata Arasy dikemukakan dalam Al-Quran, yang dimaksud adalah sifat Maha Besar, Maha Agung dan Maha Kuasa dari Allah swt. Karena itulah Arasy tidak termasuk sebagai barang ciptaan. Ada empat manifestasi dari Kebesaran dan Keagungan dari Allah Yang Maha Kuasa. Kitab Veda menyebutnya sebagai empat dewa-dewa, tetapi sejalan dengan istilah dalam Al-Quran, yang dimaksud adalah para malaikat.”

(Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 453-456, London, 1984).

***

Arasy adalah Derajat Ketinggian Allah

“Dalam Kitab Suci Al-Quran yang dimaksud dengan Arasy (singgasana) adalah suatu derajat atau posisi yang jauh berada di atas dan yang tidak bisa dipadankan dengan apa pun serta jauh lebih sempurna daripada alam dan yang menjadi makam kesucian dan transendental. Singgasana itu tidak dibuat daripada batu atau bahan bangunan lainnya dimana Tuhan duduk bertahta. Karena itulah dikatakan bahwa Arasy bukanlah sesuatu yang diciptakan. Sebagaimana dikatakan bahwa Allah swt bersemayam di hati para mukminin, begitu jugalah yang dimaksud dengan firman bahwa Dia bersemayam di Arasy.  Allah swt telah menegaskan bahwa Dia-lah yang telah menopang segalanya dan tidak pernah dikatakan bahwa ada sesuatu yang perlu untuk menopang Wujud-Nya. Arasy adalah suatu makam atau posisi yang mengatasi semua alam semesta dan mencerminkan sifat transendental-Nya. Kami telah menjelaskan beberapa kali bahwa dari sejak awal mula keabadian, Tuhan memiliki dua sifat yaitu sifat kemiripan dan sifat transendental. Guna menjelaskan kedua sifat itu dalam Kalam Ilahi maka mengenai sifat kemiripan, Dia dinyatakan seolah-olah memiliki tangan, mata, rasa kasih sayang dan perasaan amarah,  sedangkan untuk menjernihkan pengertian kemiripan tersebut Dia berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ

‘Tiada sesuatu apa pun seperti Dia’ (QS.42 Asy-Sura:12).

“Di tempat lain dinyatakan bahwa Dia bersemayam di Arasy seperti dikemukakan dalam ayat:

اللَّهُ الَّذي رَفَعَ السَّماواتِ بِغَيرِ عَمَدٍ تَرَونَها ۖ ثُمَّ استَوىٰ عَلَى العَرشِ ۖ

Allah, Dia-lah yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang dapat kamu lihat. Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy’ (QS.13 Ar-Rad:3).

“Dari pengertian ayat ini secara harfiah, terbayang seolah-olah Allah swt tidak berada di Arasy sebelum adanya penciptaan alam. Yang perlu dipahami adalah bahwa Arasy itu bukan sesuatu benda yang bersifat material, melainkan suatu keadaan yang kenyataannya jauh berada di atas segalanya sebagai bagian dari sifat Allah swt.  Tuhan menciptakan langit, bumi dan segala hal yang ada di antaranya serta mengaruniakan cahaya kepada matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai refleksi dari Nur-Nya sendiri. Lalu Dia menciptakan manusia yang secara  metaforika  dikatakan  dalam  citra-Nya  dan meniupkan ruh sifat-sifat-Nya ke dalam dirinya. Dengan cara demikian dikatakan bahwa Dia telah menciptakan sesuatu yang mirip dengan Diri-Nya. Adapun penjelasan mengenai sifat transendental dikemukakan dalam ungkapan bahwa Dia bersemayam di Arasy. Meskipun Dia-lah yang menjadi pencipta segalanya tetapi Dia bukanlah hasil ciptaan Diri-Nya sendiri, dan Dia terpisah dari segalanya serta berada di suatu makam yang berada jauh di atas segalanya.”

(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 276-277, London, 1984).

***

Pengertian Malaikat Pengusung Arasy

“Ada yang mungkin menyangkal dengan mengatakan bahwa dari Al-Quran dikatakan kalau nantinya pada Hari Penghisaban, akan ada delapan malaikat yang mengusung Arasy. Dari sana lalu disimpulkan bahwa di dunia ini sekarang ada empat malaikat yang mengusung Arasy tersebut. Dengan demikian lalu muncul penafsiran bahwa Allah Yang Maha Kuasa berada di atas karena singgasana-Nya ada yang mengusung.”

“Yang harus dipahami adalah Arasy itu bukan suatu benda  material  yang  bisa  atau  mungkin  diusung  atau diangkat ke atas. Arasy adalah posisi transendental dan kesucian, sehingga pengertiannya adalah bukan sesuatu yang diciptakan. Sebuah benda fisik atau material tidak mungkin berada di luar ruang lingkup hasil ciptaan Tuhan. Pokoknya segala hal yang diungkapkan mengenai Arasy agar diartikan secara metaforika. Karena itu para penyangkal di atas itu mestinya menyadari bahwa pandangan mereka itu tidak ada dasarnya. Yang jelas adalah ketika Allah Yang Maha Agung dikatakan bersemayam di Arasy maka sifat transendental-Nya lalu menutupi semua sifat-sifat-Nya yang lain dan menjadikan Dia sebagai wujud yang berada jauh di luar jangkauan serta tersembunyi, sedemikian rupa sehingga Dia juga berada di luar jangkauan penalaran manusia. Kemudian setelah itu, keempat sifat-Nya yang disebut sebagai empat malaikat yang dimanifestasikan di dunia akan mengungkapkan Wujud- Nya yang tersembunyi tersebut.”

“Sifat yang pertama adalah Rabbubiyat yaitu yang menyempurnakan fitrat manusia secara jasmani dan rohani. Manifestasi daripada jasmani dan rohani merupakan akibat dari berfungsinya sifat Rabbubiyat. Begitu pula wahyu samawi dan penampakan tanda-tanda yang luar biasa merupakan hasil dari penampakan sifat Rabbubiyat.

“Sifat yang kedua yang dimanifestasikan adalah Rahmaniyat-Nya, melalui mana Dia telah menyediakan karunia tak terbilang bagi manusia tanpa di mohon sebelumnya. Sifat ini pun mengungkapkan Wujud-Nya yang tersembunyi.”

“Sifat ketiga adalah Rahimiyat. Pada awalnya melalui sifat Rahmaniyat, Dia akan mengaruniakan kemampuan melakukan  amal  saleh  kepada  mereka  yang  bertakwa, lalu melalui sifat Rahimiyat-Nya Dia membantu mereka melakukan amal saleh tersebut dan memelihara mereka dari segala bencana. Sifat ini juga telah mengungkapkan Wujud- Nya yang tersembunyi.”

“Sifat keempat adalah Maliki Yaumiddin. Sifat ini juga telah mengungkapkan Wujud-Nya yang tersembunyi melalui tindakan pengganjaran mereka yang saleh dan penghukuman mereka yang berdosa.”

“Keempat sifat inilah yang mengusung Arasy Allah swt. Dengan kata lain dikemukakan bahwa pengenalan Wujud- Nya yang tersembunyi adalah melalui pengamatan keempat sifat tersebut. Pengamatan itu akan digandakan di akhirat sehingga dikatakan bahwa ada delapan malaikat yang akan mengusung Arasy-Nya nanti.”

(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 278-279, London, 1984).

***

Tauhid Ilahi

Ketauhidan  Ilahi merupakan Nur yang menerangi hati manusia setelah ia berhasil memupuskan sepenuhnya sesembahan atau pujaan internal atau eksternal dirinya, dimana Nur ini akan meresap ke seluruh partikel wujud dirinya. Kesadaran akan Ketauhidan Ilahi ini tidak bisa begitu saja diperoleh sendiri oleh seorang manusia karena hanya didapat  melalui  perkenan  Tuhan  dan  bimbingan  Rasul-Nya. Untuk itu manusia harus memfanakan egonya dan menanggalkan  kesombongan  syaitan  yang  menyatakan bahwa ia adalah seorang yang terpelajar. Ia harus menganggap dirinya sepenuhnya bodoh dan menyibukkan dirinya dengan bersujud. Barulah nanti Nur Ketauhidan akan turun dari Tuhan kepada dirinya dan Nur ini akan mengaruniakan suatu kehidupan baru baginya.”

(Haqiqatul Wahyi, Qadian, Magazine Press, 1907; Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 148, London, 1984).

***

“Sejak awal diciptakannya dunia, pengakuan akan keberadaan wujud Tuhan selalu dikaitkan dengan pengakuan kepada seorang Nabi. Adalah suatu hal yang mustahil bisa memperoleh  pemahaman  Ketauhidan  kecuali  melalui bimbingan seorang Nabi. Seorang Nabi merupakan cermin untuk pemahaman wujud Tuhan. Hanya melalui cermin ini saja wujud Tuhan bisa dilihat. Saat Allah Yang Maha Kuasa ingin memanifestasikan Diri-Nya kepada dunia maka Dia akan mengutus seorang Nabi sebagai manifestasi Kekuasaan-Nya serta kepada siapa Dia memperlihatkan sifat Rabbubiyat-Nya. Barulah dunia akan menyadari bahwa Tuhan itu ada. Adalah bagian dari Ketauhidan Ilahi untuk beriman kepada mereka yang telah ditunjuk sejalan dengan kaidah abadi Allah swt sebagai  sarana  untuk  mengenal  Tuhan.  Tanpa keimanan demikian maka keyakinan kepada Ketauhidan Ilahi tidak akan bisa disempurnakan. Tidak akan mungkin mencapai keimanan murni mengenai Ke-Esaan Tuhan jika tidak menyadari mukjizat dan tanda-tanda samawi yang diperlihatkan seorang Nabi dalam usahanya membimbing manusia ke arah pemahaman yang sempurna. Para Nabi ini merupakan kelompok manusia yang berorientasi kepada Tuhan dan melalui siapa kemudian Tuhan memanifestasikan Wujud-Nya yang tidak kelihatan dan tersembunyi tersebut. Khazanah yang tersembunyi yang bernama Tuhan selalu ditemukan hanya melalui para Nabi. Memperoleh keimanan pada Ketauhidan Ilahi tanpa melalui seorang Nabi merupakan hal yang bertentangan dengan logika dan berlawanan dengan pengalaman semua mereka yang mencari Tuhan.”

(Haqiqatul Wahyi, Qadian, Magazine Press, 1907; Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 115-116, London, 1984).

***

“Ketauhidan Ilahi yang hakiki merupakan pengakuan yang dituntut Tuhan berupa keimanan bahwa Tuhan dalam Wujud-Nya adalah bersih dari segala sekutu, apakah berbentuk berhala, seorang manusia, matahari, bulan, ego atau akal muslihat seseorang dan lain sebagainya, menganggap tiada siapa pun yang memiliki kekuasaan yang bisa menentang Diri-Nya, tidak juga seseorang yang diperlukan untuk menopang-Nya, tidak menganggap ada wujud lain yang bisa mengaruniakan berkat atau kenistaan, tidak juga sebagai pembantu atau asisten. Ia juga akan mengkhususkan kasihnya, ibadahnya, persujudannya, harapannya dan ketakutannya hanya kepada Dia saja.

Tidak ada Ketauhidan yang bisa sempurna tanpa mematuhi tiga persyaratan berikut. Pertama, adanya Ketunggalan Wujud yang bermakna bahwa keseluruhan alam semesta ini non-eksisten dibanding dengan-Nya karena bersifat fana dan tidak nyata. Kedua, adalah Ketunggalan sifat-sifat, dengan pengertian bahwa Rabbubiyat dan Ke-Ilahi-an hanya terbatas bagi Wujud-Nya saja, sedangkan yang lainnya yang muncul sebagai penopang atau penolong adalah bagian dari suatu sistem yang ditegakkan oleh Tangan-Nya sendiri. Ketiga, Ketunggalan dalam kasih, ketulusan dan pengabdian, dengan pengertian tidak akan pernah menganggap siapa pun sebagai sekutu-Nya untuk menerima kasih dan ibadah seseorang.”

(Answer to four questions of Sirajuddin, Christian, Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 349-350, London, 1984).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 169-176, ISBN 185372-765-2

 

(Visited 208 times, 1 visits today)