PENGETAHUAN TENTANG TUHAN


Baca juga: Perlunya Wahyu Mengetahui Keberadaan Tuhan

Bagaimanakah bentuk fitrat pengetahuan Allah swt yang  demikian sempurna sehingga Dia mengetahui segala hal yang terbuka maupun tersembunyi dari segenap partikel di alam semesta ini? Sesungguhnya kemampuan penalaran manusia tidak mampu memahami keseluruhan kondisi pengetahuan tersebut, hanya saja dibanding dengan pemahaman tentang sifat Tuhan yang lainnya, sekurang-kurangnya penalaran mengenai hal ini masih lebih penuh dan lengkap. Jika kita perhatikan bagaimana kita sendiri memperoleh pengetahuan dan memahami berbagai jenisnya maka dari segala bentuk pengetahuan yang paling lengkap kita kuasai adalah hal-hal yang berkaitan dengan eksistensi kita sendiri. Tidak ada orang yang dalam kondisi apa pun melupakan atau meragukan eksistensi dirinya. Menurut penalaran, kita memahami bahwa bentuk pengetahuan seperti inilah yang paling nyata dan lengkap. Kami berkeyakinan bahwa adalah suatu inkonsistensi terhadap kesempurnaan Allah Yang Maha Kuasa untuk menganggap bahwa pengetahuan-Nya tentang para mahluk-Nya dianggap kalah sempurna dibanding yang dimiliki manusia. Adalah suatu hal yang bertentangan dengan kesempurnaan sifat Allah swt untuk mengatakan bahwa pengetahuan Tuhan kalah canggih. Tidak ada dalam wujud Tuhan kemungkinan adanya cacat kekurangan dalam sifat-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Kuasa yang mencintai Kesempurnaan bisa mengizinkan adanya cacat dalam wujud-Nya sendiri?”

“Kalau ada yang mengatakan bahwa hal demikian itu karena keadaan terpaksa maka secara logika akan berarti bahwa yang memaksakan itu lebih berkuasa dibanding Allah Yang Maha Perkasa, baik dalam kekuasaan maupun kekuatan-Nya, sehingga si pemaksa tersebut bisa mengatur Tuhan dalam kinerja-Nya. Hal seperti itu jelas tidak mungkin sama sekali karena tidak ada wujud apa pun yang lebih tinggi daripada Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu bisa dipastikan bahwa pengetahuan Tuhan itu bersifat sempurna.”

“Kita telah mengemukakan di atas bahwa dari semua bentuk pengetahuan, yang paling sempurna adalah yang berkaitan dengan eksistensi diri sendiri. Karena itu kita harus mengakui bahwa pengetahuan Tuhan berkaitan dengan ciptaan-Nya sendiri adalah seperti itu juga meskipun kita tidak akan pernah bisa memahami secara penuh fitratnya tersebut. Penalaran kita mengemukakan bahwa yang jelas merupakan kepastian mutlak adalah tidak adanya halangan di antara wujud yang harus mengetahui dengan hal-hal yang perlu diketahui. Sebagaimana manusia tidak terlalu tergantung pada sumber pengetahuan lain untuk meyakini eksistensi dirinya sendiri, maka untuk hidup dan menganggap dirinya sebagai mahluk hidup, merupakan pengertian yang demikian saling berdekatan sehingga bisa dikatakan sama saja (identik). Begitu jugalah pengetahuan Allah swt mengenai keseluruhan alam semesta. Disini menjadi lebih jelas bahwa tidak ada perbedaan atau jarak di antara yang Maha Mengetahui dengan segala hal yang perlu diketahui. Semua ini merupakan pengetahuan tingkat tinggi dalam pemahaman mengenai Ke-Tuhanan dan sifat-sifat-Nya dimana kita menyadari betapa dekat dan akrabnya hubungan antara Wujud-Nya dengan subyek daripada pengetahuan-Nya. Hubungan sempurna dengan subyek pengetahuan-Nya tersebut hanya bisa ada jika semuanya itu bersumber dari Wujud-Nya dan merupakan hasil ciptaan-Nya. Perwujudan mereka itu harus tergantung kepada Wujud-Nya. Dengan kata lain, perwujudan yang sempurna hanyalah milik-Nya sedangkan yang lainnya bersumber dan bertumpu kepada bantuan-Nya. Bahkan setelah diciptakan pun, semua mahluk itu  tidak  bisa  merdeka  atau  terpisah  dari  Wujud-Nya karena eksistensi mereka sepenuhnya tergantung kepada perlindungan-Nya. Hanya Dia saja yang tidak mengenal batasan apa pun sedangkan yang lainnya, baik jasmani atau pun ruhani, terkurung dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh Wujud-Nya. Dia itu melingkupi keseluruhan dan semuanya tercakup dalam sifat Rabbubiyat-Nya. Tidak ada apa pun yang tidak berasal dari Tangan-Nya dan tidak termasuk dalam lingkupan sifat Rabbubiyat-Nya, dan tidak ada juga yang bisa eksis tanpa bantuan-Nya.”

“Hanya dalam keadaan seperti itulah Allah Yang Maha Kuasa akan memiliki hubungan yang sempurna dengan subyek dari pengetahuan-Nya. Hubungan ini dalam Kitab Suci Al-Quran dikemukakan sebagai:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ

‘Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS.50 Qaf: 17).

“Begitu pula di tempat lain dikemukakan bahwa:

هُوٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ

‘Dia, yang Maha Hidup, yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri danPenegak segala sesuatu’ (QS.2 Al-Baqarah:256)

atau, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hanya Dia saja yang menopang seluruh kehidupan dimana segala sesuatu bersumber daripada-Nya dan memiliki nyawa karena Dia. Sesungguhnya Dia itulah nyawa dari semua kehidupan dan inti kekuatan dari semua kekuatan yang ada.”

“Kalau kita tidak bisa menerimakan jiwa sebagai suatu yang diciptakan maka tidak ada alasan untuk mengasumsikan bahwa suatu wujud fiktif sebagai Permeshwar akan mempunyai pengetahuan tentang realitas jiwa atau ruh mahluk hidup. Seseorang yang memiliki pengetahuan lengkap tentang sesuatu bisa dikatakan bahwa ia juga bisa membuatnya sehingga kalau ternyata ia memang tidak mampu maka pasti ada kekurangan di dalam salah satu aspeknya. Tanpa adanya suatu pengetahuan yang lengkap maka akan sulit untuk membedakan di antara benda-benda yang sama, apalagi kemampuan untuk menciptakannya. Dalam hal Allah Yang Maha Kuasa bukan merupakan Sang Pencipta dari segalanya maka tidak saja Dia itu dikatakan mengalami defisiensi atau cacat dalam kelengkapan pengetahuan-Nya, tetapi juga dengan sendirinya akan muncul kerancuan karena Dia tidak akan mampu membedakan di antara berjuta jiwa atau ruh sehingga akan sering salah menganggap ruh X sebagai ruh Y. Pengetahuan partial akan selalu membawa kerancuan demikian.”

(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 221-226, London, 1984

***

“Mungkin  akan ada yang mempertanyakan bahwa pemahaman sepenuhnya tentang sesuatu akan mengimplikasikan adanya kekuasaan untuk menciptakannya. Karena pengetahuan Tuhan mengenai Wujud-Nya sendiri bersifat sempurna, lalu apakah Dia itu yang menciptakan Wujud-Nya sendiri atau apakah Dia mempunyai kekuasaan untuk menciptakan  padanan  Diri-Nya?  Jawaban  atas pertanyaan bagian pertama adalah jika Allah Yang Maha Kuasa itu adalah pencipta dari Wujud-Nya sendiri maka hal itu mengandung arti bahwa Dia sudah ada sebelum Dia itu eksis dimana hal ini merupakan suatu kemustahilan. Allah Yang Maha Perkasa karena memiliki pengetahuan yang lengkap atas Wujud-Nya sendiri jadinya mengandung arti bahwa dalam hal ini yang Maha Mengetahui dan Apa yang diketahui-Nya adalah sama dan tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian dalam hal ini tidak ada yang bisa dianggap sebagai hasil ciptaan. Pengetahuan Tuhan akan Wujud-Nya sendiri tidak bisa dibandingkan dengan apa pun lainnya. Dalam keadaan ini Yang Maha Mengetahui bukanlah sesuatu yang terpisah dari apa yang diketahui dan karena itu tidak ada yang dipilah- pilah sebagai Sang Pencipta dan yang lainnya sebagai yang diciptakan. Cara yang pantas untuk mengemukakannya adalah Wujud-Nya tersebut bukanlah hasil ciptaan tetapi secara abadi dan berkesinambungan Tegak dengan Dzat-Nya sendiri dan demikian itulah yang dimaksud dengan pengertian Tuhan.”

Bagian kedua dari bantahan di atas mengemukakan bahwa jika Tuhan memiliki pengetahuan sempurna atas Wujud-Nya sendiri, apakah berarti bahwa Dia mempunyai kekuasaan untuk menciptakan padanan Diri-Nya? Jawaban yang bisa diberikan mengenai hal ini adalah bahwa kekuasaan Tuhan selalu mengarah kepada hal-hal yang konsisten dengan sifat-sifat abadi-Nya. Memang benar bahwa Allah swt jika memang menginginkan bisa menciptakan apa pun dalam lingkup pengetahuan-Nya, namun tidak masuk akal bahwa Dia akan melakukan apa pun yang bertentangan dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Dalam semua pelaksanaan dari Kekuasaan-Nya itu, Dia selalu memperhatikan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan tidak akan melalukan sesuatu yang menyimpang. Sebagai contoh, Dia memiliki kekuasaan untuk membakar orang-orang yang saleh dan muttaqi di dalam api Neraka, namun sifat Ar-Rahmãn, Keadilan serta Pemberian Ganjaran akan menghalangi hal itu sehingga Dia tidak akan pernah melakukan-Nya. Begitu pula bahwa kekuasaan-Nya itu tidak akan pernah condong kepada penghancuran Wujud-Nya sendiri karena hal ini akan bertentangan dengan sifat keabadian Diri-Nya. Dia tidak akan pernah menciptakan padanan Wujud-Nya karena akan bertentangan dengan sifat Ketauhidan dan Ke-Esaan yang bersifat abadi. Yang harus dipahami adalah bahwa ketidakmampuan melakukan sesuatu adalah suatu hal tersendiri, sedangkan memiliki kemampuan tetapi tidak melakukan sesuatu karena tidak sejalan dengan sifat-sifat-Nya adalah hal yang lain lagi.”

(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 230-233, London, 1984).

***

“Adalah  karakteristik dari Allah Yang Maha Kuasa berdasarkan kekuasaan dan kondisi Wujud-Nya bahwa hanya Dia saja yang mengetahui segala hal yang tersembunyi. Dari sejak zaman purba, mereka yang berada di jalan kebenaran meyakini bahwa adalah sepatutnya bagi Allah swt untuk mengetahui segala yang tersembunyi. Hal ini merupakan kekhususan pribadi Wujud-Nya. Dia tidak mempunyai sekutu dalam sifat ini sebagaimana juga Dia tidak ada yang menyamai dalam sifat-sifat lainnya. Karena itu adalah mustahil bagi siapa pun untuk mengetahui dengan kemampuan dirinya sendiri mengenai hal-hal yang tersembunyi, walaupun ia itu seorang Nabi, Muhaddas atau pun Wali. Memang benar bahwa mereka yang menjadi kekasih-Nya diberikan pengetahuan tentang misteri-misteri yang tersembunyi tersebut melalui wahyu atau ilham. Keadaan ini sudah berlaku sejak zaman purba dan tetap berlaku sampai masa kini, hanya saja sekarang ini pengalaman tersebut terbatas bagi para pengikut Nabi Suci Yang Mulia Muhammad saw saja.

(Tasdiqin Nabi, hal. 26-27 atau Maktubati Ahmadiyya, vol. 3, hal. 57).

***

“Tuhan kita Yang Maha Hidup dan Tegak dengan Dzat-Nya sendiri telah bercakap-cakap dengan diriku sebagaimana dua orang berbicara satu dengan lainnya. Aku biasa bertanya kepada-Nya serta memohon kepada-Nya dan Dia akan menjawab dengan firman yang penuh kekuatan. Meskipun aku bertanya seribu kali namun Dia tidak pernah tidak menjawab. Dengan firman-Nya Dia telah membukakan hal-hal ajaib yang tersembunyi dan memperlihatkan penampakan kekuasaan yang luar biasa hingga jelas sekali bahwa hanya Dialah satu-satunya yang patut disebut Allah. Dia menerima doa-doa dan memberitahukan pengabulannya. Dia memecahkan masalah-masalah yang sulit dan melalui permohonan yang berulang-ulang telah menghidupkan kembali mereka yang sakit yang sudah hampir mati. Dia mengemukakan di muka rencana- Nya dalam kata-kata yang berkaitan dengan masa depan. Dia membuktikan bahwa hanya Dia itulah Tuhan seru sekalian alam. Dia berbicara kepadaku dan memberitahukan bahwa Dia akan menjaga diriku terhadap kematian karena wabah pes beserta mereka yang saleh dan muttaqi yang berdiam di dalam rumahku. Kecuali diriku, siapakah lagi dalam abad ini yang telah mempublikasikan wahyu seperti itu yang mengemukakan janji Tuhan berkenaan dengan anggota keluargaku dan orang-orang saleh lainnya yang tinggal di dalam rumah ini?”

(Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 448-449, London, 1984)

“Salah satu kondisi alamiah dari seseorang adalah ketertarikan untuk mencari suatu wujud yang lebih agung dari dirinya. Pencarian demikian sudah dimulai sejak seorang anak dilahirkan. Begitu lahir maka akan muncul kecenderungan dalam dirinya untuk mendekat kepada ibunya dan secara alamiah ia akan mencintai diri ibunya itu. Sejalan dengan perkembangan indera dan sifat-sifatnya maka rasa kecintaan tersebut akan menjadi suatu hal yang mantap tertanam di dalam batinnya. Ia tidak akan dapat menemukan kenyamanan lain selain di pangkuan ibunya. Jika ia dipisahkan dari ibunya maka hidup baginya menjadi terasa pahit. Tak perduli betapa banyak hadiah ditumpukkan di mukanya, ia hanya akan menemukan kedamaian di pangkuan ibunya. Lalu apa bentuk ketertarikan Sang anak itu terhadap ibunya?”

“Sesungguhnya bentuk ketertarikan yang sama juga yang ada dalam fitrat manusia dalam mencari Tuhan-Nya. Semua bentuk kecintaan yang diperlihatkan seseorang sebenarnya bersumber dari ketertarikan tersebut. Kegelisahan yang dialami seorang pencinta sebenarnya juga merupakan cerminan daripada bentuk kecintaan demikian. Dalam kegelisahannya itu ia memperhatikan segala hal dan mencari sesuatu yang telah hilang yang namanya telah hilang dari ingatan. Kecintaan seseorang kepada harta benda, anak, isteri atau suara merdu nyanyian seorang biduan, pada kenyataannya merupakan bentuk pencarian Kecintaan yang hilang. Karena manusia tidak bisa melihat Wujud yang Tidak Kelihatan dengan mata fisiknya atau pun menemukan Diri- Nya melalui penalarannya yang tidak sempurna, padahal keinginan tahu itu merupakan suatu yang tersembunyi di dalam diri tiap orang bagai api dalam sekam, maka manusia cenderung melakukan berbagai kesalahan dalam pemahaman mengenai Tuhan. Bahkan dalam kesalahan pandangannya itu manusia cenderung mengatributkan sifat-sifat-Nya kepada wujud lain.”

“Allah Yang Maha Kuasa telah memberikan tamsil yang indah di dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa dunia ini adalah sebagai suatu istana besar yang berlantaikan ubin kaca dengan bentangan air yang mengalir cepat di bawahnya. Seseorang yang melihat ubin kaca itu mengira bahwa ubin itu adalah air sehingga takut berjalan di atasnya, padahal nyatanya adalah kaca yang bening dan tembus pandang. Begitulah maka benda-benda langit seperti matahari dan bulan yang terlihat jelas maka kemudian menjadi sembahan. Di belakang semuanya itu ada Maha Kekuataan yang mengalir deras seperti air. Adalah kekeliruan dari mereka yang menyembah barang ciptaan tersebut dengan mengatribusikan kekuatan tersebut kepada kacanya. Inilah tafsir dari ayat:

قَالَ إِنَّهُۥ صَرْحٌۭ مُّمَرَّدٌۭ مِّن قَوَارِير

‘Ia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan ubin dari kaca’ (QS.27 An-Naml:45).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 135-143, ISBN 185372-765-2
(Visited 49 times, 1 visits today)