PERLU WAHYU UNTUK MENCAPAI KEPASTIAN MUTLAK (Mengetahui Keberadaan Tuhan)


mengetahui keberadaan tuhan

Mengingat  Wujud dari Allah Yang Maha Kuasa meskipun demikian cemerlang namun tersembunyi dari pandangan mata dan alam jasmani ini tidak cukup mampu mengenalinya, karena itulah maka mereka yang bertumpu pada sistem  fisika  yang  tertata  rapi  dalam  usahanya memahami  segala  keajaiban  melalui  ilmu  (astronomi), fisika maupun filosofi yang telah menembus ke langit dan bumi, tidak bisa menghilangkan keraguan dan kecurigaan mereka sehingga mereka menjadi hanyut dalam berbagai bentuk kesalahan tersesat jauh mengejar bayangan pikiran mereka sendiri. Kalau mereka memandang alam semesta ini dan memperhatikan keteraturan di dalamnya, mereka baru sampai pada kesimpulan bahwa mungkin memang ada sesosok Wujud Pencipta. Jelas bahwa pandangan demikian belum lengkap dan pemahaman seperti itu tidak sempurna karena mengatakan bahwa sistem ini memerlukan adanya Tuhan tidak sama dengan menyatakan bahwa Tuhan memang eksis. Ini hanyalah duga-dugaan mereka yang tidak bisa memberikan kepuasan dan keselesaan batin, serta juga tidak bisa menghilangkan keraguan. Semuanya itu belum merupakan cawan yang bisa menghilangkan dahaga manusia akan pemahaman seutuhnya yang sudah inheren dalam tabiat manusia. Bahkan pemahaman mentah seperti itu membawa bahaya karena setelah menimbulkan kegalauan sesaat lalu berakhir dengan kehampaan.”

“Sepanjang Allah Yang Maha Kuasa tidak mengukuhkan eksistensi-Nya melalui firman-Nya maka penelaahan atas hasil kinerja-Nya semata tidak akan memberikan kepuasan. Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah kamar yang terkunci dari dalam, reaksi pertama kita adalah mengatakan bahwa ada seseorang di dalam kamar yang telah menguncinya dari dalam karena mengunci dari luar jelas tidak mungkin. Namun jika setelah suatu jangka waktu panjang tidak juga ada yang menanggapi dari dalam kamar meskipun berulangkali telah diseru, maka  kita  harus menanggalkan asumsi yang menyatakan bahwa ada seseorang di dalam dan kita mulai membayangkan bahwa sebenarnya kamar itu kosong, sedangkan kuncinya terpasang melalui suatu cara yang canggih.

Hal seperti inilah yang terjadi pada diri para filosof yang pandangannya tidak melampaui batas semata hanya menelaah hasil kinerja Tuhan. Adalah suatu kekeliruan besar untuk membayangkan bahwa Tuhan itu seperti mayat yang harus dikeluarkan manusia dari kuburnya. Jika Tuhan harus ditemukan melalui upaya manusia maka semua harapan kita atas Tuhan tersebut menjadi tidak ada artinya. Sesungguhnya Tuhan adalah Wujud yang selalu memanggil manusia ke arah-Nya dengan menyatakan: ‘Aku ini ada.’ Merupakan suatu  kekonyolan  untuk membayangkan  bahwa  Tuhan harus sejalan dengan pemahaman manusia dan menganggap bahwa jika tidak karena para filosof maka Dia tidak akan dikenal. Juga merupakan kekurangajaran untuk menanyakan apakah Tuhan memiliki lidah untuk berbicara. Bukankah Dia telah menciptakan semua benda di langit dan di bumi tanpa bantuan tangan fisik? Bukankah Dia memandang ke seluruhan alam ini tanpa mata jasmani? Tidakkah Dia itu mendengar tanpa telinga fisik? Dengan sendirinya juga maka Dia bisa berbicara.

Adalah keliru mengatakan bahwa Tuhan hanya berbicara di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi yang tersisa di masa depan. Kita tidak akan pernah bisa mematok firman atau kata-kata-Nya hanya pada suatu periode tertentu saja. Tidak diragukan lagi bahwa Dia akan memperkaya para pencari-Nya dari sumber mata air wahyu sebagaimana yang telah dilakukan-Nya sejak dulu. Gerbang keridhaan-Nya tetap terbuka sekarang sebagaimana juga terbuka sejak sebelumnya. Yang benar adalah, setelah kebutuhan akan kaidah dan petunjuk telah dipenuhi, maka semua Kenabian dan Kerasulan mencapai kulminasi kesempurnaannya pada titik akhir dalam diri Junjungan dan Penghulu kita, Yang Mulia Rasulullah Muhammad saw.”

(Islami Usulki Philosophy, Ruhani Khazain, vol. 10, hal. 363-367, London, 1984).

***

Pengetahuan seutuhnya mengenai Tuhan tergantung pada upaya kita menggapai Tuhan Yang Maha Hidup yang berbicara jelas kepada para kekasih-Nya dimana Dia mengaruniakan kepuasan dan kesenangan atas mereka melalui wajah cakap-Nya yang agung dan nikmat di kalbu. Dia berbicara  kepada  mereka  sebagaimana  seseorang bercakap dengan orang lainnya dengan suatu kepastian yang bebas dari segala keraguan atau kecurigaan. Dia mendengar mereka serta menanggapi mereka dan ketika mendengar permohonan mereka, Dia akan memberitahukan mengenai pengabulan doa mereka. Dia membuktikan kepada mereka bahwa Dia itulah Tuhan karena firman-Nya yang agung dan karena mukjizat yang ditunjukkan-Nya serta melalui berbagai tandatanda-Nya yang agung dan perkasa. Melalui nubuatan, Dia menjanjikan pertolongan dan bantuan kepada mereka beserta bimbingan yang sempurna, tetapi pada sisi lain guna mengagungkan kebesaran dari janji-janji-Nya maka Dia akan menjadikan seluruh dunia ini memusuhi mereka. Manusia lalu menggunakan segala kemampuan, sarana dan tipu daya mereka untuk menggagalkan janji Tuhan akan bantuan dan pertolongan bagi para kekasih-Nya tersebut, namun usaha mereka akan sia-sia saja. Mereka menebarkan benih kejahilan dan Tuhan akan mencerabutnya. Mereka akan menyulut api untuk membakar dan Tuhan akan memadamkannya. Mereka mengeluarkan segala kemampuan mereka dan Tuhan akan membalikkan rencana mereka ke diri mereka sendiri.”

“Para muttaqi pengikut Allah swt adalah orang-orang sederhana serta lurus dan di hadapan Allah swt mereka itu seperti anak-anak kecil di pangkuan ibunya. Dunia memusuhi karena mereka itu jauh dari sifat duniawi. Semua bentuk rencana dan sarana digunakan manusia untuk menghancurkan mereka. Semua orang bergabung untuk menyusahkan mereka dan mereka yang berakhlak rendah akan menembakkan anak panah mereka dari busur permusuhan yang sama. Segala bentuk  fitnah  dan  tuduhan  ditimpakan  terhadap  para muttaqi tersebut agar mereka ini hancur dan tanda-tanda yang diperlihatkannya sirna, namun Allah Yang Maha Kuasa akan memenuhi firman-Nya sepanjang hidup mereka. Mereka mendapat kehormatan dengan menerima firman Tuhan yang sejati dan jernih serta bersifat konklusif. Begitu pula mereka diberikan pengetahuan akan hal-hal yang tersembunyi dari pengetahuan manusia umumnya melalui firman Tuhan yang jelas. Di sisi lain, melalui berbagai mukjizat yang meneguhkan kebenaran dari apa yang telah disampaikan, maka keimanan mereka malah menjadi lebih cerah dan bertambah kuat. Apa pun yang didambakan manusia demi pengenalan Tuhan-nya akan dipenuhi melalui manifestasi lisan maupun faktual agar tidak ada lagi kegelapan tersisa meski pun hanya sebesar zarah.”

“Inilah Tuhan yang melalui manifestasi verbal dan faktual dari beribu karunia yang menyejukkan hati sehingga manusia memperoleh keimanan yang hidup. Melalui keimanan demikian ia memperoleh hubungan suci dengan Tuhan-nya yang akan menghapus segala noda dalam dirinya, mengangkat kelemahan dirinya, menerangi kegelapan batin berkat Nur samawi serta menghasilkan perubahan yang luar biasa. Karena itu agama yang tidak mampu mempresentasikan Tuhan sebagai wujud yang memiliki sifat-sifat tersebut dan malah membekukan keimanan manusia dalam dongeng- dongeng kuno yang tidak masuk akal, jelaslah bukan agama yang benar. Menganut tuhan fiktif demikian sama saja dengan mengharapkan sebuah bangkai mati berkarya sebagaimana laiknya manusia hidup. Tuhan yang tidak bisa membuktikan eksistensi wujud-Nya setiap saat sama saja dengan tidak ada sama sekali. Dia lebih menyerupai berhala yang tidak berbicara, tidak mendengar dan tidak menjawab pertanyaan umat manusia. Tidak juga ia akan mampu memanifestasikan kekuatannya sedemikian rupa sehingga seorang atheis pun tidak akan meragukannya.”

(Barahin Ahmadiyah, bag. V, Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 31-32, London, 1984).

***

KEBERATAN/SANGKALAN: Merupakan suatu hal yang tidak patut untuk menyatakan bahwa Tuhan berbicara kepada manusia. Hubungan apa yang mungkin ada di antara manusia yang fana dengan Wujud Yang Maha Abadi dan Maha Hidup? Apakah mungkin ada kesetaraan di antara segenggam debu dengan Nur itu sendiri?

JAWABAN: Keberatan demikian tidak ada dasarnya sama sekali. Perlu dipahami bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyayang malah menanamkan hasrat di hati manusia yang saleh untuk mencari pemahaman akan Wujud-Nya dan menarik mereka dengan kuat ke arah kasih, sayang dan  pengabdian  kepada-Nya  sedemikian  rupa  sehingga mereka  kehilangan  dirinya  sendiri.  Mengatakan  dalam keadaan demikian bahwa Tuhan tidak mau berbicara dengan mereka,  sama  saja  dengan  mengatakan  bahwa  semua kecintaan dan ibadah mereka adalah suatu kesia-siaan dan kerinduan mereka hanya seperti orang bertepuk sebelah tangan. Pandangan seperti itu salah sekali. Mungkinkah seorang pencahari wujud Tuhan yang telah mengaruniakan kemampuan kepada manusia untuk mengakrabi Wujud-Nya dan  yang telah  menjadikannya  gelisah karena kecintaan kepada-Nya, lalu melemparkan ia itu dari rahmat berbicara kepada-Nya?  Benarkah  bahwa  seseorang  dimungkinkan untuk larut dalam kecintaan kepada Allah swt tetapi turunnya wahyu ke hati si pencinta Allah swt itu malah dikatakan tidak mungkin atau dianggap tidak patut dan akan mengurangi harkat-Nya? Manusia yang menenggelamkan dirinya dalam samudera kecintaan Allah swt yang tidak bertepi dan tidak pernah berhenti dalam pencariannya merupakan bukti konklusif bahwa batin manusia memang telah dirancang untuk mencoba memahami Tuhan. Jika kepada manusia itu lalu tidak diberikan pemahaman sempurna melalui wahyu, sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak bermaksud mencipta manusia untuk mengenali wujud-Nya. Bahkan kaum Brahmo Samaj (Kaum Brahmo Samaj merupakan aliran di dalam agama Hindu yang didirikan oleh Ram Mohun Roy di Kalkuta dalam tahun 1828. Terpengaruh oleh agama Islam dan Kristen, aliran ini menjauhi polytheisme, penyembahan berhala dan sistem kasta. Sekarang ini pengaruhnya hanya tinggal sebatas wacana saja. (Penterjemah) juga tidak menyangkal bahwa batin manusia yang sempurna selalu haus dan lapar akan pemahaman Tuhan. Kalau sudah sependapat bahwa seorang manusia yang sempurna secara alamiah akan mencari pemahaman mengenai Tuhan dan disepakati bahwa cara yang terbaik untuk memahami Ilahi adalah melalui wahyu Ilahi, lalu dikatakan bahwa cara pencapaian itu tidak mungkin atau dianggap tidak patut maka perlu dipertanyakan kebijakan Tuhan mengapa Dia menanamkan kecenderungan di hati manusia untuk mencari Tuhan tetapi tidak memberikan sarana guna mencapai pemahaman tersebut. Dengan kata lain, Dia telah menyebabkan timbulnya rasa lapar pada manusia tetapi tidak mau memberikan roti secukupnya guna memuaskan rasa lapar itu, atau Dia telah menimbulkan rasa haus dan tidak mau memberi air sebagai pemuas dahaga. Orang yang bijak akan memahami bahwa pandangan demikian akan menyebabkan manusia tidak mampu menghargai rahmat-rahmat akbar dari Tuhan-nya. Kaum Brahmo Samaj mempunyai pandangan aneh yang menyatakan bahwa Tuhan tidak menginginkan manusia untuk memperoleh karunia demikian, padahal Allah Yang Maha Bijaksana telah mengaruniakan rahmat kepada manusia agar mereka bisa menyaksikan Nur Ketuhanan dalam hidup ini juga agar mereka tertarik kepada-Nya.”

(Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 230-232, London, 1984).

***

“Berkaitan dengan apa pun yang diinginkan Tuhan dari manusia, sebelumnya Dia telah menanamkan dalam diri mereka semua kemampuan yang diperlukan untuk pencapaiannya. Sebagai contoh, batin manusia memiliki kemampuan untuk mencintai. Seseorang bisa saja karena kesalahan mencintai seorang lain atau memilih siapa yang akan menjadi obyek kecintaannya, namun penalaran yang waras akan menyadari bahwa kemampuan mencintai ini ditanamkan dalam batinnya agar ia hanya mencintai Wujud yang paling patut dicintai yaitu Allah swt dengan seluruh jiwa, raga dan hasratnya. Dapatkah kita mengatakan bahwa kemampuan mencintai yang ditanamkan dalam batin manusia itu dengan gejolaknya yang tanpa batas dan pada tingkat tertingginya menjadikan manusia bersedia mengorbankan nyawanya, apakah sudah inheren di dalam batin sejak awal mulanya? Bila Tuhan memang tidak menciptakan hubungan di antara manusia dengan diri-Nya melalui penanaman kemampuan mencintai di kalbu manusia, maka akan dikatakan bahwa kemampuan tersebut tergantung kepada masalah kebetulan. Jadinya jika karena nasib baik dari Permeshwar maka batin-batin ini dikaruniai kemampuan mencintai, sedangkan sebaliknya jika sial maka kemampuan demikian tidak ditemui dalam kalbu dengan akibat tidak ada seorang pun yang akan memperhatikan Sang Permeshwar. Tambah lagi jika Sang Permeshwar tidak mampu memperbaiki situasi. Hanya saja dengan memperhatikan tuntutan Sang Permeshwar agar manusia menyembah Diri-Nya dan agar manusia berlaku saleh, merupakan bukti bahwa Dia sendiri telah menanamkan kemampuan mencintai dan mengabdi dalam batin manusia. Karena itu Dia mengharapkan agar manusia yang telah dilengkapi dengan kemampuan mencintai demikian agar sepenuhnya mengabdikan diri bagi kecintaan dan kepatuhan terhadap Wujud-Nya. Kalau tidak bagaimana mungkin Permeshwar mengharapkan manusia mencintai dan patuh kepada Diri-Nya serta berlaku sesuai keinginan-Nya?”

(Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 385-386, London, 1984).

Perlunya Penyucian Jiwa Untuk Mengetahui Keberadaan Tuhan

 قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

‘Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya’ (QS.91 Asy- Syams:10).

Ia yang mencintai Yang Maha Suci, harus menyucikan dirinya sendiri agar dapat bertemu dengan wujud-Nya. Banyak sekali orang yang mengaku bahwa mereka mencintai Allah yang Maha Kuasa, namun yang perlu diketahui apakah Dia juga mencintai mereka. Bukti dari kecintaan Allah swt adalah sejak awal Dia akan membuang tabir yang menghalangi seseorang mengimani secara pasti keberadaan Tuhan. Tabir inilah  yang  terkadang  menimbulkan  pengakuan  secara samar-samar terhadap wujud-Nya dan bahkan pada saat ada cobaan,  menjadikan  manusia  menyangkal keberadaan-Nya sama sekali. Membuang tabir tersebut hanya bisa dilakukan melalui  percakapan  Tuhan  dengan  hamba-Nya.  Seorang manusia minum dari sumber mata air pemahaman hakiki pada saat Tuhan berbicara kepadanya dan menyampaikan kabar baik bahwa: ‘Aku ini ada.’ Pada saat itulah pemahaman manusia tidak lagi terkungkung oleh dugaan atau argumentasi semata. Ia menjadi demikian dekat kepada Tuhan seolah- olah ia bisa melihat-Nya. Sesungguhnyalah bahwa keimanan yang sempurna kepada Tuhan hanya bisa dicapai ketika Dia memberitahukan eksistensi-Nya kepada seseorang.”

“Tanda kedua dari kecintaan Allah swt ialah tidak saja Dia memberitahukan kepada manusia yang menjadi kekasih-Nya mengenai eksistensi Diri-Nya, tetapi juga memanifestasikan khusus bagi mereka tanda-tanda rahmat dan rahim-Nya dengan cara mengabulkan doa mereka menyangkut hal-hal yang tampaknya mustahil dan tidak mempunyai harapan serta memberitahukan hal itu kepada mereka melalui wahyu dan firman-Nya. Hal itu akan menenteramkan hati mereka karena mengetahui bahwa Allah Yang Maha Perkasa telah mendengar permohonan mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan. Dari sana mereka akan memahami misteri keselamatan dan menjadi yakin sepenuhnya akan keberadaan Tuhan.”

“Sebagai peringatan kadang-kadang orang lain juga bisa mendapat ru’ya atau mimpi yang benar, namun pengalaman dari  orang  yang  biasa  bercakap  dengan  Tuhan  adalah suatu hal yang berbeda sama sekali. Ru’ya demikian hanya diturunkan  kepada  mereka  yang  menjadi  kekasih-Nya. Ketika mereka ini memohon kepada Tuhan-nya maka Dia akan memanifestasikan Wujud-Nya kepada mereka dengan segenap keagungan serta mengirimkan Ruh kepada mereka untuk memberitahukan secara lemah lembut bahwa doa mereka telah dikabulkan. Seseorang yang mengalami kejadian seperti itu secara sangat sering disebut sebagai seorang Nabi atau Muhaddas.”

(Hujjatul Islam, Amritsar, Riyadh Hind Press; Ruhani Khazain, vol. 6, hal. 42-43, London, 1984)

***

“Seorang hamba memperlihatkan kecintaannya yang suci kepada Allah swt melalui perilakunya yang baik, tetapi tanggapan Allah swt sungguh luar biasa. Melihat kemajuan hambanya yang cepat maka Tuhan akan bergegas bergerak ke arahnya seperti kilat dan memperlihatkan tanda-tanda bagi dirinya baik di langit mau pun di bumi. Dia akan menjadi sahabat bagi para sahabat hamba tersebut dan menjadi musuh bagi para musuhnya. Misalnya pun berjuta manusia menentang hamba itu, Tuhan akan melumatkan mereka dan menjadikan mereka tidak berdaya sebagaimana laiknya serangga mati. Bisa saja Dia menghancurkan seluruh dunia demi hamba-Nya tersebut dan menjadikan bumi dan langit tunduk kepadanya. Dia akan memberkati kata kata yang diucapkannya dan menurunkan hujan nur di atas kediamannya. Dia akan memberkati pakaian yang dikenakan, pangan yang disantap dan bahkan debu yang diinjaknya. Dia tidak akan membiarkan hamba itu mati dalam keadaan gagal dan Dia sendiri yang akan menjawab mereka yang menentangnya. Dia menjadi mata dengan apa ia melihat, menjadi telinga dengan apa ia mendengar, menjadi lidah dengan apa ia berbicara, menjadi kaki dengan apa ia berjalan dan menjadi tangan dengan apa ia menangani musuh-musuhnya. Dia sendiri akan maju mengedepankan Wujud- Nya untuk menangani musuh-musuh hamba-Nya itu. Dia akan mencabut pedang terhadap para musuh yang jahat yang menganiayanya serta menjadikan yang bersangkutan berjaya di semua bidang. Dia akan membukakan rahasia-rahasia takdir-Nya kepada hamba-Nya itu. Yang pertama sekali yang akan menghargai keindahan keruhanian yang muncul setelah perilaku dan amalan saleh serta kecintaannya kepada Tuhan adalah Allah swt sendiri. Alangkah sialnya manusia yang hidup pada masa itu dimana ada matahari bersinar terang bagi mereka tetapi mereka memilih termangu di tempat kegelapan.”

(Zamimah Barahin Ahmadiyah, bag. V, Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 225, London, 1984).

***

“Setelah sempurnanya kerangka kerohanian maka nyala api kecintaan insan kepada Tuhan-nya akan turun di dalam batin manusia berupa ruh dan mengaruniakan kepadanya perasaan bahwa ia selalu berada di hadirat Allah swt. Dengan tercapainya tingkat kesempurnaan demikian maka keindahan ruhani yang bersangkutan pada saat itu akan mewujud sepenuhnya. Keindahan ruhaniah yang bisa disebut sebagai amal saleh tersebut, karena daya tariknya, akan jauh lebih cantik daripada keindahan penampakan lahiriah. Kecantikan lahiriah hanya bisa menarik hati satu atau dua orang dan segera akan pupus dimakan usia. Daya tariknya amat lemah. Sedangkan keindahan ruhaniah yang disebut amal saleh itu memiliki daya tarik yang kuat yang mampu menarik seluruh dunia berikut isinya kepada dirinya. Hal inilah yang menjadi landasan filosofi daripada pengabulan doa.”

“Jika seseorang yang memiliki kecantikan rohaniah yang dilambari oleh ruh dari kecintaan Ilahi kemudian mengajukan permohonan doa atas suatu hal yang tidak mungkin atau amat sulit dan ia memohonnya dengan amat khusyu, maka berkat dari keindahan ruhaniahnya itu, Allah swt akan memerintahkan semua partikel dari alam semesta ini menjadi tertarik kepadanya guna memberikan bantuan dan sarana bagi keberhasilan tujuannya. Baik pengalaman mau pun Kitab Allah swt menegaskan bahwa segenap partikel dari dunia ini mempunyai afinitas atau kecintaan alamiah kepada manusia seperti itu dimana doa-doanya menarik semua partikel ke arah dirinya sebagaimana magnit menarik besi. Dari keadaan daya tarik demikian akan muncul hal-hal luar biasa yang tidak ada disebut dalam buku-buku fisika atau filosofi. Dari sejak diciptakannya setiap benda dari kumpulan partikel oleh Sang Maha Pencipta, Dia telah menanamkan daya tarik tersebut di dalam setiap partikel sehingga partikel-partikel ini menjadi pencinta keindahan ruhaniah. Begitu juga dengan jiwa yang saleh karena keindahan merupakan manifestasi dari kebenaran. Adalah keindahan demikian itulah yang dimaksud ketika Allah swt memerintahkan para malaikat menyembah Adam dan mereka mematuhinya kecuali Sang Iblis.”

“Sekarang ini pun banyak manusia yang mirip Iblis karena tidak mau mengakui keindahan demikian padahal keindahan demikian telah mengemukakan berbagai hal yang akbar.”

“Keindahan yang sama terdapat pada diri Nabi Nuh as dimana berdasarkan hal itu maka Allah Yang Maha Agung telah  menghancurkan  semua musuhnya melalui siksaan air bah. Kemudian muncul Nabi Musa as  dengan keindahan keruhanian yang sama dan ia, setelah sebelumnya menderita beberapa hari, telah menjadi sebab kejatuhan Firaun. Yang terakhir adalah Penghulu para Nabi dan Insan Kamil, Penghulu dan Junjungan kita Yang Mulia Nabi Muhammad saw muncul dengan keindahan keruhanian yang akbar yang juga dipuji dalam ayat Al-Quran:

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ ﴿ ﴾ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ

‘Kemudian ia mendekati Allah, lalu turun mendekati umat manusia. Maka jadilah ia seakan-akan seutas tali dua busur atau lebih dekat lagi’ (QS.53 An-Najm:9-10).

“Berarti bahwa Yang Mulia Rasulullah saw telah mendekat rapat kepada Allah swt kemudian mendekati umat manusia dan dengan cara demikian beliau saw telah memenuhi kewajiban beliau kepada Tuhan dan kepada manusia. Dengan begitu melalui beliau saw telah diperlihatkan kedua jenis keindahan keruhanian.”

(Zamimah Barahin Ahmadiyah, bag. V, Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 219-221, London, 1984)

***

“Dalam artikel yang dibacakan dalam pertemuan tersebut dinyatakan bahwa yang  namanya Permeshwar adalah wujud yang bebas dari rasa amarah, benci, dendam dan kecemburuan. Mungkin yang dimaksud si pembicara ingin mengatakan bahwa  kata amarah dalam Al-Quran pernah digunakan berkaitan dengan wujud Allah swt. Sebagai perbandingan ia ingin mengemukakan bahwa dalam kitab Veda tidak ada istilah Tuhan menjadi marah. Jelas dalam hal ini yang bersangkutan melakukan kesalahan. Perlu dipahami bahwa dalam Al-Quran tidak ada dikatakan kalau Tuhan itu bisa angkara murka tanpa alasan. Yang dikemukakan dalam Al-Quran adalah karena sifat Suci-Nya maka Allah swt memiliki sifat yang mirip dengan amarah dan sifat itu menuntut agar mereka yang tidak patuh yang tetap saja melawan petunjuk Tuhan perlu dihukum. Tuhan juga memiliki sifat lain yang mirip dengan kecintaan yang menuntut bahwa mereka yang saleh dan patuh akan mendapat ganjaran yang baik. Sifat yang pertama diberi nama amarah hanya untuk tujuan ilustrasi, namun yang jelas baik sifat amarah mau pun kecintaan-Nya tersebut tidak sama dengan sifat yang ada pada manusia. Allah Yang Maha Kuasa telah berfirman dalam Al-Quran bahwa:

لَيسَ كَمِثلِهِ شَيءٌ ۖ

‘Tiada sesuatu apapun seperti Dia’ (QS.42 Asy-Syura:12)

yang berarti bahwa tiada apa pun yang menyamai wujud atau pun sifat Tuhan. Kami ingin bertanya kepada si pembicara, mengapa Permeshwar sebagaimana diuraikan dalam kitab Veda, menghukum para pendosa, bahkan sedemikian rupa menurunkan status kemanusiaan mereka sehingga menjadi hewan anjing, babi, kera dan lain-lain. Tentunya wujud itu mempunyai suatu sifat yang menuntut adanya penghukuman demikian. Sifat demikian dalam Al-Quran dikatakan sebagai amarah Tuhan.”

“Jika Permeshwar tidak mempunyai sifat yang menjadikan wujud tersebut menghukum para pendosa, lalu mengapa Dia cenderung kepada proses penghukuman? Dia pasti memiliki sifat yang menuntut imbalan dan sifat itu disebut amarah, hanya saja sifat amarah itu setara dengan amarah dari Tuhan dan tidak sama dengan sifat amarah pada manusia. Hal seperti itulah yang dimaksud dengan amarah dalam Al-Quran.”

“Ketika Allah swt mengaruniakan rahmat-Nya kepada mereka yang bertakwa, dikatakan bahwa Dia mencintai mereka. Saat Dia menghukum mereka yang berlaku keji, dikatakan bahwa Dia murka kepada mereka. Dengan demikian amarah yang dikemukakan dalam kitab Veda adalah juga sama dengan yang disampaikan oleh Al-Quran. Perbedaannya  hanyalah, bahwa berdasarkan kitab Veda, kemurkaan Tuhan atas para pendosa tak ada batasnya dan bisa mengutuk mereka menjadi hewan atau serangga, sedangkan Al-Quran tidak mengemukakan amarah Tuhan yang demikian ekstrim. Kitab Suci Al-Quran menyatakan bahwa walaupun manusia bisa saja dihukum tetapi Tuhan tidak akan merubah fitrat kemanusiaan yang bersangkutan untuk dirubah menjadi bentuk lain. Hal ini menggambarkan bahwa dalam Al-Quran digambarkan bahwa kasih dan rahmat Tuhan masih lebih besar daripada amarah-Nya, sedangkan menurut kitab Veda penghukuman para pendosa tidak ada batasnya dan Sang Permeshwar digambarkan sebagai pemarah yang tidak mempunyai rasa belas kasihan. Bahkan dalam Al-Quran dikatakan bahwa Allah swt pun akan mengasihi para penghuni neraka.”

(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 46-50, London, 1984).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 143-156, ISBN 185372-765-2
(Visited 158 times, 1 visits today)