SIFAT ALLAH MAHA PENYAYANG


Baca Juga:
Penjelasan Tentang Sifat Allah
Sifat Umum Allah dalam Al-Quran
Empat Sifat Utama Allah taala

Hukum alam dari Allah dan norma-norma alamiah yang sudah ada sejak penciptaan manusia, mengajarkan kepada kita bahwa untuk menciptakan hubungan yang erat dengan Tuhan diperlukan pengalaman mengenai sifat Maha Penyayang dan Maha Indah dari Allah swt. Yang dimaksud dengan sifat Maha Penyayang adalah contoh-contoh dari sifat Allah Yang Maha Kuasa yang pernah dialami manusia dalam dirinya sendiri. Sebagai contoh, Allah swt telah menjadi Penjaga-nya ketika ia sedang tidak berdaya, lemah dan yatim. Atau Tuhan telah memenuhi kebutuhannya ketika sedang kekurangan, atau bisa jadi Allah swt telah melipurnya pada saat sedang dilanda kesedihan. Bisa jadi Tuhan telah membimbingnya tanpa perantara seorang guru atau pengajar dalam pencahariannya di jalan Allah swt.”

“Yang dimaksud dengan Keindahan-Nya adalah sifat- sifat yang muncul dalam kemasan kasih sayang, seperti sifat-Nya yang Maha Sempurna, Maha Lembut, Maha Pengasih atau Rahĩmiyat, atau sifat Rabbubiyat-Nya yang umum dan semua karunia yang bisa dinikmati manusia untuk kenyamanan mereka. Di samping itu adalah pengetahuan milik-Nya yang dikucurkan melalui para Rasul-Nya agar manusia bisa menyelamatkan dirinya dari kematian dan kemudharatan. Begitu juga dengan sifat-Nya yang Maha Mendengar permohonan doa mereka yang sedang gelisah dan lelah. Begitu pula kecenderungan-Nya kepada mereka yang cenderung kepada-Nya. Semua ini terangkum dalam Keindahan Tuhan. Berkat pengalamannya atas sifat-sifat Ilahi demikian, seseorang memperoleh peneguhan keimanan dimana jiwanya menjadi tertarik kepada Allah swt sebagaimana besi tertarik oleh magnet. Kecintaan manusia itu kepada Tuhan-nya menjadi berlipat ganda dan keimanannya menjadi jauh lebih kuat. Memperhatikan bahwa semua kemaslahatan dirinya adalah bersama Tuhan maka harapannya kepada Tuhan menjadi bertambah kuat dan ia akan menjadi lebih cenderung lagi kepada-Nya serta menggantungkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala hal dan setiap saat. Ia merasa pasti akan berhasil karena ia telah merasakan sendiri banyak contoh dari rahmat, berkat dan kemurahan hati Ilahi. Ibadahnya akan bersumber pada kekuasaan dan keyakinan sehingga keteguhan hatinya menjadi mantap.”

“Setelah menyadari karunia dan berkat Ilahi maka nur keyakinan secara gencar merasuki kalbunya dimana perasaan egonya lalu menjadi sirna. Berkat renungan berulangkali dari kebesaran dan kekuasaan Tuhan, hatinya telah menjadi Rumah Allah. Sebagaimana nyawa tidak meninggalkan diri manusia selama yang bersangkutan masih hidup, begitu juga keyakinan akan Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Agung, yang masuk ke dalam hatinya tidak akan pernah lagi meninggalkannya. Jiwanya yang suci bergolak sepanjang waktu di dalam dirinya dan ia berbicara hanya di bawah petunjuk jiwanya itu. Kebenaran dan wawasan mengalir dari dirinya sedangkan tenda Allah Yang Maha Agung dan Maha Luhur selalu tegak di dalam hatinya. Kegembiraan karena keyakinan, ketulusan dan kecintaan mengalir di seluruh tubuhnya seolah air yang menghidupi seluruh anggota tubuh. Sinar mata dan keningnya mencerminkan kecemerlangan nur Ilahi. Penampilannya gemilang seolah-olah baru dibasuh dengan hujan rahmat Ilahi sedangkan lidahnya menjadi ikut disegarkan. Semua anggota tubuhnya memancar terang seperti hujan musim semi yang menyegarkan cabang, daun dan bunga-bunga serta buah pepohonan. Tubuh mereka yang belum pernah didatangi ruh seperti ini sama saja seperti sebuah bangkai. Kesegaran dan kegembiraan yang ditimbulkan tidak dapat diuraikan dengan kata-kata dan tak akan pernah bisa dicapai oleh kalbu yang mati yang belum pernah disegarkan oleh sumber nur dan keyakinan. Bahkan kalbu demikian itu berbau busuk. Adapun mereka yang telah memperoleh karunia nur ini dan di dalam kalbunya telah mengalir sumber mata air nur, maka ia akan menerima kuasa Allah swt dalam segala kata dan perbuatannya setiap saat dan dalam semua keadaan. Semua itu menjadi kegembiraan serta kenyamanan baginya dan ia tidak bisa hidup tanpa hal itu.”

(Review of Religions-Urdu, vol. I, hal. 186-187).

“Pujian yang sempurna disampaikan bagi dua bentuk sifat keagungan yaitu Maha Indah dan Maha Penyayang. Jika manusia pernah mengalami kedua keagungan tersebut maka hatinya akan jatuh cinta kepada Wujud-Nya. Tugas utama dari Kitab Suci Al-Quran adalah memperlihatkan kedua bentuk keagungan Ilahi tersebut agar manusia tertarik kepada Wujud yang Tunggal dan tanpa sekutu tersebut serta menyembah- Nya dengan hati yang suka. Untuk tujuan itu maka di awal Surat dikemukakan keagungan Allah swt yang mengundang manusia yaitu dengan ungkapan Alhamdulillãh yang berarti bahwa semua puji-pujian adalah bagi Wujud yang bernama Allah. Dalam istilah Al-Quran, Allah adalah nama dari Wujud yang Keagungan-Nya telah mencapai kesempurnaan keindahan dan sifat penyayang serta tidak mempunyai cacat cela. Kitab Suci Al-Quran mengemukakan nama Allah beserta semua sifat-sifat-Nya dan hal ini merupakan indikasi bahwa Allah swt merangkum segala sifat sempurna dalam Wujud- Nya. Karena Dia mencakup seluruh keagungan maka sifat Maha Indah-Nya menjadi jelas dengan sendirinya. Karena keindahan-Nya itulah maka Dia diberi nama Nur di dalam Al-Quran sebagaimana dikatakan:

اللَّهُ نورُ السَّماواتِ وَالأَرضِ ۚ

‘Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi’ (QS.24 An-Nur:36).

Sinar lainnya merupakan refleksi dari Nur-Nya tersebut.

 Sifat Maha Penyayang Allah

“Allah Yang Maha Kuasa memiliki  berbagai  sifat keagungan  yang menggambarkan   kasih   sayang,   dimana yang  pokok  ada  empat.  Dalam  urutan  alamiahnya,  sifat yang pertama sebagaimana dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah adalah Rabbul Alamin. Yang dimaksud adalah sifat Rabbubiyat  Allah swt yang  berkaitan  dengan  penciptaan dan penyempurnaan alam dan sifat ini berfungsi sepanjang waktu. Dunia langit, dunia bumi, dunia jasmani, dunia ruhani, dunia flora dan fauna, dunia mineral dan berbagai dunia lainnya, dihidupkan oleh sifat Rabbubiyat tersebut. Dunia yang dilalui manusia sebelum ia berbentuk sperma, sampai dengan ajalnya nanti atau sampai ia tiba pada kehidupan kedua, semuanya itu dihidupkan oleh sumber mata air Rabbubiyat. Sifat Rabbubiyat Ilahi karena mencakup seluruh ruhani, jasmani, fauna, flora, mineral dan lain-lain itu maka disebut sebagai sifat yang berlaku umum karena semua hal menerima rahmat-Nya dan bisa berwujud karena sifat tersebut. Meskipun sifat Rabbubiyat Ilahi menjadi asal muasal dari segala hal yang mewujud serta menghidupi dan memeliharanya, namun yang paling menikmati manfaatnya adalah  manusia  karena  manusia  bisa  mengambil  manfaat dari seluruh ciptaan yang ada. Karena itu manusia diingatkan bahwa Tuhan-nya adalah Rabbul Alamin agar ia menyadari bahwa kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa itu amatlah luas dan bagi kepentingan manusia karena itu Dia mewujudkan segala hal yang diperlukan sebagai sumberdaya.”

“Keagungan yang kedua dari Allah Yang Maha Kuasa adalah sifat pengasih-Nya yang juga bersifat umum dan diberi nama Rahmaniyat , dan karena itu maka Allah disebut sebagai Ar-Rahmãn  dalam  Surah  Al-Fatihah.  Dalam  istilah  Kitab Suci Al-Quran, Tuhan Yang Maha Perkasa disebut sebagai Ar-Rahman karena Dia menganugrahi karunia berupa bentuk tubuh  dan  sifat-sifat  yang  sesuai  kepada  segala  mahluk hidup, termasuk manusia. Dengan kata lain, manusia telah dikaruniai semua kemampuan dan kekuatan serta bentuk dan anggota tubuh yang diperlukan untuk kehidupan yang akan ditempuhnya. Apa pun yang diperlukan bagi kelangsungan hidupnya telah disediakan. Burung, hewan dan manusia telah diberikan kekuasaan yang cocok bagi spesies masing-masing. Beribu tahun sebelum mereka itu mewujud[1]  di muka bumi, Allah swt   dengan  sifat  Rahmaniyat-Nya  telah  menciptakan benda-benda langit dan bumi agar nanti semua mahluk hidup bisa terpelihara. Tidak ada tindakan atau amalan siapa pun yang diperlukan atau dikaitkan dengan sifat Rahmaniyat Allah swt Semua itu semata-mata merupakan rahmat yang sudah ada sebelum mahluk hidup muncul di muka bumi. Manusia  merupakan  penerima  berkat  paling  utama  dari sifat Rahmãniyat  ini karena semuanya memang disediakan baginya. Karena itulah manusia selalu diingatkan bahwa Allah swt itu adalah Ar-Rahmãn.”

“Keagungan yang ketiga, dari Allah Yang Maha Perkasa adalah sifat Rahĩmiyat dan karena itu Allah swt  disebut sebagai Ar-Rahĩm dalam Surah Al-Fatihah. Dalam istilah Al-Quran, Tuhan disebut sebagai Ar-Rahĩm karena sifat-Nya yang mendengar permohonan doa dan sujud serta amal ibadah orang-orang muttaqi dimana Dia akan menjaga mereka dari bencana, petaka dan kesia-siaan usaha. Rahmat ini dianggap sebagai rahmat yang bersifat khusus dan hanya terbatas bagi umat manusia saja karena mahluk dan benda lainnya tidak mempunyai kemampuan ibadah dan berdoa serta melakukan amal saleh. Manusia adalah hewan yang bisa berartikulasi dan karena itu bisa menjadi penerima rahmat Ilahi melalui kemampuannya berbicara. Karena itu kelihatannya beribadah merupakan   kemampuan   khusus   manusia   yang   menjadi bagian yang inheren dalam sifat alamiah manusia.”

“Manusia memperoleh rahmat dari sifat-sifat Rahĩmiyat Ilahi sebagaimana juga ia mendapat rahmat dari sifat Rabbubiyat dan Rahmãniyat-Nya. Bedanya hanyalah karena untuk sifat Rabbubiyat dan Rahmãniyat, ia tidak perlu memohon secara khusus karena sifat-sifat tersebut tidak terbatas hanya bagi manusia. Sifat Rahmãniyat   bahkan mencakup semua mahluk hidup selain manusia, sedangkan sifat   Rabbubiyat   juga   mencakup   ciptaan   benda-benda tidak bernyawa tanpa ada yang dikecualikan. Adapun sifat Rahĩmiyat merupakan hal yang hanya berkaitan dengan manusia layaknya jubah kehormatan yang bersifat khusus. Kalau manusia tidak bisa memanfaatkan rahmat dari sifat ini maka sama seperti ia itu menurunkan harkat dirinya ke tingkat hewan atau bahkan benda mati.”

“Karena    fungsi    sifat    Rahĩmiyat    terbatas    hanya bagi manusia dan diperlukan ibadah persujudan untuk menggerakannya, disini menjadi jelas bahwa ada jenis rahmat Ilahi yang tergantung kepada ibadah dan tak mungkin tanpa ibadah. Inilah jalan Allah swt   dan merupakan kaidah yang  pasti  yang  tidak  bisa  ditawar.  Karena  itulah  semua Nabi berdoa bagi umatnya. Kitab Taurat menjelaskan betapa seringnya Bani Israil membuat murka Allah swt  sehingga mereka akan dihukum tetapi kemudian dihindarkan berkat doa  dan  persujudan  Nabi Musa as meskipun beberapa kali Tuhan sudah menyatakan akan menghancurkan bangsa itu.”

“Semua  itu  menunjukkan  bahwa  tidak  ada  doa  yang akan sia-sia dan ini adalah ibadah yang pasti menghasilkan berkat. Jika ada yang meragukan adalah karena mereka tidak bisa memahami Tuhan sebagaimana harusnya, karena tidak merenungi firman-firman Allah swt  dan juga karena mereka tidak  memahami  hukum  alam.  Sesungguhnya  rahmat  itu pasti turun untuk memenuhi permohonan manusia dan mengaruniakan keselamatan atas kita. Adalah berkat sifat Rahĩmiyat  maka  manusia  mengalami  kemajuan.  Melalui sifat inilah manusia mencapai tingkatan Wilayat dimana ia meyakini Allah Yang Maha Kuasa seolah bisa melihat Wujud-Nya secara langsung. Bantuan doa juga tergantung pada sifat Rahĩmiyat. Adalah sifat Rahĩmiyat Ilahi itulah yang menuntut orang-orang   yang   saleh   untuk   mendoakan   orang-orang jahat.”

“Sifat keempat dari Allah Yang Maha Perkasa yang sepatutnya dianggap sebagai sifat yang amat khusus yaitu Malikiyat Yaumiddin, sehingga karenanya Allah disebut juga di Surah Al-Fatihah sebagai Maliki Yaumiddin. Perbedaan sifat ini dengan sifat Rahĩmiyat ialah dengan sifat Rahĩmiyat manusia memperoleh harkat nilai sebagai hasil dari doa dan ibadahnya, sedangkan melalui sifat Mãlikiyat maka orang itu memperoleh ganjarannya. Melalui sifat Rahĩmiyat, seseorang bisa berhasil dalam suatu masalah seperti misalnya lulus ujian bagi seorang siswa, namun untuk mendapatkan tingkatan atau jabatan  menurut  materi ujian tersebut ditentukan melalui sifat Mãlikiyat. Kedua sifat ini mengindikasikan bahwa sifat Rahĩmiyat bisa dicapai karena kasih Allah swt  sedangkan karunia Mãlikiyat dicapai berkat keridhoan Allah Yang Maha Kuasa. Sifat Mãlikiyat akan mewujud secara sempurna dan dalam skala besar nanti di akhirat, walau pun di dunia ini keempat sifat Ilahi tersebut bisa mewujud juga.”

(Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 247-251, London, 1984).

 [1] Menurut para ahli, umur bumi diperkirakan 5 milyar tahun dan mahluk hidup yang berjalan di daratan baru muncul sekitar 500 juta tahun yang lalu sedangkan wujud manusia seperti sekarang ini baru muncul sekitar 1 (satu) juta tahun yang lalu. (Penterjemah)


 

Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 93-99, ISBN 185372-765-2
(Visited 277 times, 1 visits today)