SYAIR-SYAIR KECINTAAN KEPADA ALLAH TAALA

oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad


 

Kecintaan

Kecintaan kepada-Mu laiknya penawar seribu derita
Demi Wajah-Mu, tertarik kepada-Mu adalah kemerdekaan sesungguhnya.
Mencari perlindungan dari-Mu bukanlah cara mereka yang gila,
Perlindungan-Mu sesungguhnya kebijaksanaan utama.

Tak ‘kan aku sembunyikan kekayaan kasih-Mu,
Menyembunyikan kasih-Mu sama dengan kekafiran bagiku.

Siap aku mengurbankan kehormatan dan jiwa bagi-Mu,
Sahabat sejati adalah yang siap serahkan nyawa kepada yang Terkasih.

(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 1, London, 1984).

Kecintaanku

Usah sebutkan raja apa pun kepadaku
Karena aku meletakkan harapanku di tahta yang lain.

Allah Yang mengaruniakan hidup kepada alam ini,
Dia-lah Awal, Pencipta dan Pemelihara.

Yang Maha Pengasih, Maha Kuasa, Penolong dalam kesulitan,
Maha Penyayang yang memenuhi semua kebutuhan.

Kurebahkan diriku di pintu-Nya, karena dikatakan:
‘Di  dunia  ini  segala  sesuatu  menuju  kepada  yang lainnya.’

Saat aku teringat Sahabat yang Setia itu,
Lupa sudah aku teman dan keluarga lainnya.

Bagaimana mungkin menambatkan hati kepada yang lainnya,
Karena aku gelisah tanpa Dia.
Usah mencari hatiku di dadaku yang luka pedih,
Karena telah kusematkan di ujung jubah Sang Kekasih.

Hatiku adalah Tahta bagi Sang Kekasih,
Kepalaku adalah sesembahan kepada Sang Sahabat.

Gimana mungkin menghitung luas berkat-Nya atas diriku,
Karena Rahmat-Nya demikian tak berbatas.

Sifat hubunganku dengan Sang Terkasih,
Tak mungkin dimengerti manusia lainnya.

Menangis aku di pintu-Nya,
Laiknya perempuan yang menangis saat melahirkan.

Segenap saatku dipenuhi dengan Kasih-Nya,
Betapa bahagianya waktu, betapa berberkatnya hari.

Wahai taman Kekasih-ku, kulantunkan pujian bagi-Mu,
Engkau telah membebaskan aku dari kecantikan kebun dan kegembiraan musim semi.
(Hujjat-Ullah, Qadian, Ruhani Khazain, vol. 12, hal.149, London, 1984).

 

Syair Urdu

Apa yang semula milik kami
Sekarang sepenuhnya milik Sang Terkasih,
Sejak saat ini, kami menjadi milik Sang Terkasih
Dan yang Terkasih menjadi milik kami.

Puji syukur kepada Tuhan, aku telah menemukan
Permata nan tanpa tara,
Pedulikah aku
Jika hati manusia telah membatu?

(Izalai Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 458, London, 1984).


Syair Urdu

Ibadah dan syukur hanya milik yang Maha Abadi
Dia tidak ada padanan atau yang menyerupai-Nya.

Hanya Dia yang bertahan, yang lainnya akan musnah
Mencintai yang lainnya adalah omong kosong semata.

Yang lainnya adalah yang lainnya Hanya Dia kekasih hatiku. Panggilan hatiku hanya satu:
‘Maha Suci Dia yang menjaga diriku.’

Maha Suci kekuatan samawi-Nya
Keagungan milik-Nya semata,
Gemetar mereka yang berdiri dekat-Nya
Dan para malaikat terpukau.

Rahmat-Nya demikian menyeluruh,
Bagaimana mungkin ‘kan cukup bersyukur?
Kita semua adalah ciptaan-Nya,
Mencintai-nya adalah keharusan.

Mencintai wujud yang lain
Sama dengan menentang Wujud-Nya. Terpujilah hari ini,
Maha Suci Dia yang menjaga diriku.

Semua kenyamanan yang kita nikmati
Adalah Karunia dan Rahmat-Nya.

Setiap hati berikrar kepada-Nya
Dan terisi Keagungan-Nya.

Kita wajib tunduk kepada-Nya semata
Di   dalamnya   terdapat   kebahagiaan   dan   saat   yang bertuah
Terpujilah hari ini,
Maha Suci Dia yang menjaga diriku.

Hanya Dia semata Penolong dan Penopang semua
Rahmat-Nya begitu nyata.
Hanya Dia yang kami sayangi
Hanya Dia yang kami cintai.

Hanya Dia yang amat diperlukan
Segala sesuatu lainnya adalah palsu.
Terpujilah hari ini,
Maha Suci Dia yang menjaga diriku.
Karunia ini milik-Mu ya Tuhan-ku
Aku hanyalah sesaji di kaki Arasy-Mu
Engkau telah mengaruniakan keimanan
Dan hanya Engkau pemeliharaku setiap waktu.

Berkat-Mu memayungi kami setiap waktu
Engkau adalah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Terpujilah hari ini,
Maha Suci Dia yang menjaga diriku.

Bagaimana mungkin cukup bersyukur kepada-Mu
Semua milikku adalah milik-Mu semata.
Engkau   telah   memenuhi   rumahku   dengan   segala karunia
Semua kegelapan t’lah sirna berkat Nur-Mu.

Terpujilah hari ini,
Maha Suci Dia yang menjaga diriku.
(Mahmud ki Amin; Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 319-320, London, 1984).


Syair Urdu

Dia yang selalu menjagamu
Namun hatimu berpaling kepada yang lain!
Apa yang tak ada pada-Nya, yang kalian cari pada para berhala?

Memandang Sang surya, tidak ada kemiripan dengan
Nur milik-Nya.
Kutengok bulan, tidak ada kemiripan rupa dengan Sang
Tercinta.

Dia itu satu, tak ada sekutu bagi-Nya,
Dia itu Maha Langgeng;
Segala   yang   lain   ‘kan   punah,   keabadian   milik-Nya semata.

Semua berkat ada pada kasih kepada-Nya,
Wahai sahabat, carilah hanya Dia saja,
Berhala tak ada yang demikian setia.

Mengapa kalian demikian mencintai hunian yang begini loya?

Tempat  ini  hanyalah  neraka  asli,  dan  bukan  suatu surga!

(Tashidul Adhan, Desember 1908).


Syair Urdu

Tuhanku, segala kuasa dan kekuatan milik-Mu
Menemukan Engkau, terpenuhi sudah segala dambaanku.

Setiap pecinta telah mengukir berhala bagi dirinya
Namun hanya Sang Terkasih yang merengkuh hati kita.

Hanya Dia semata keselesaan kalbu dan kekasih hati kami,
Dia pula Tuhan semua ciptaan di alam.
Dia telah mewujud bagiku melalui berkat-Nya
Maha  Suci  Dia  yang  telah  mempermalukan  musuh- musuhku.

Hidupku terkait kepada Sang Tercinta
Hanya Dia-lah Surga dan perlindungan terakhir.

Maha Agung Dia yang memberiku kekuatan
Sungai kecintaan mengalir di kalbuku.

Betapa besarnya karunia-Mu, wahai Pembimbing-ku
Maha  Suci  Dia  yang  telah  mempermalukan  musuh- musuhku.

Rahmat-Mu tidak mengenal batas,
Tak ada ketika yang sunyi daripadanya.

Rahmat dan kerahiman-Mu tak terbilang
Tak   cukup   tenagaku   untuk   bersyukur   sepenuhnya kepada-Mu.

Betapa agungnya Rahmat-Mu, wahai Pembimbing-ku
Maha  Suci  Dia  yang  telah  mempermalukan  musuh- musuhku.

Jejak mana yang harus kupilih ke arah jalan-Mu?
Apa  yang  harus  kulakukan  guna  mendapat  Engkau sebagai imbalan?

Hanya kasih yang telah menarik hatiku tak tertahankan,
Hanya kepada Ilahi melaluinya egoku sirna

Apakah kasih itu? Siapa yang harus kuberitakan?
Apa rahasia kesetiaan? Kepada siapa aku bertumpu?

Gimana mungkin lagi menyembunyikan badai ini,
Sebaiknya kutabur debuku di keempat mata angin.
Betapa jauhnya kami dari dunia yang fana ini,

Maha  Suci  Dia  yang  telah  mempermalukan  musuh- musuhku.

(Durr-e-Tsamin).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 189-194, ISBN 185372-765-2
(Visited 200 times, 3 visits today)