Tuhan Agama Islam Nyata di Alam dan Disadari Hati Manusia

Tuhan di dalam agama Islam adalah Tuhan yang sama dengan yang ada dalam cermin dari hukum alam dan sebagaimana diuraikan dalam kitab sejarah alam. Islam tidak mempersembahkan Tuhan yang baru, tetapi mengemukakan Tuhan yang sama sebagaimana dikemukakan oleh nur dari kalbu manusia, oleh hati nurani umat manusia serta oleh langit dan bumi.”

(Majmua Ishtiharat, vol. 2, hal. 310-311).

 ***

“RUH KAMI dan setiap partikel zarah dari wujud kami bersujud di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Benar dan Maha Sempurna yang dari Tangan siapa setiap ruh dan setiap partikel penciptaan lengkap berikut semua inderanya jadi mewujud, dan yang melalui Dukungan-Nya setiap mahluk dipelihara. Tidak ada yang berada di luar jangkauan Pengetahuan-Nya atau Pengendalian-Nya atau pun di luar Ciptaan-Nya. Kami memanjatkan ribuan berkat dan shalawat bagi Nabi Suci Yang Mulia Nabi Muhammad saw melalui siapa kami telah menemukan Tuhan yang hidup yang telah membuktikan kepada kami Eksistensi-Nya melalui Firman-Nya. Dia telah memperlihatkan kepada kami melalui tanda-tanda yang luar biasa, Wujud-Nya yang cemerlang dan memiliki kekuasaan yang sempurna dan abadi. Kami telah menemukan Rasul yang telah memanifestasikan Tuhan kepada kami dan karena itu menemukan Tuhan yang menciptakan segala sesuatu melalui kekuasaan-Nya yang sempurna. Betapa agung kekuasaan-Nya dimana tidak ada yang mewujud tanpa-Nya dan tidak ada yang bisa terus eksis tanpa bantuan-Nya. Tuhan kami yang Maha Benar itu memiliki berkat yang tidak terbilang, kekuasaan yang tidak terhitung, keindahan dan karunia yang tidak terkira. Tidak ada tuhan lain di sisi-Nya.”

(Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 363, London, 1984).

***

“WUJUD ALLAH SWT amatlah tersembunyi dan jauh dari jangkauan, teramat rahasia dan tidak akan bisa ditemukan melalui penalaran manusia semata dan tidak ada argumentasi yang dapat membuktikan eksistensi-Nya secara konklusif. Masalahnya karena logika hanya bisa mengantar manusia sampai kepada tahapan perasaan bahwa kemungkinan ada yang namanya sosok Pencipta. Hanya saja perasaan ‘mungkin’ tidak sama dengan kepastian bahwa memang ‘eksis.’ Mengingat jalannya logika manusia itu tidak sempurna, tidak lengkap dan diragukan maka seorang ahli filosofi tidak akan dapat menemukan Tuhan semata-mata hanya melalui penalaran. Kebanyakan manusia yang berusaha menemukan eksistensi Tuhan melalui logika pada akhirnya akan menjadi atheis. Perenungan atas penciptaan langit dan bumi saja tidak akan memberikan manfaat banyak sehingga pada akhirnya mereka kemudian mencemoohkan dan menertawakan orang-orang yang menyembah Tuhan. Salah satu argumentasi adalah karena mereka berpendapat ada beribu-ribu hal di dunia ini yang tidak ada gunanya dan adanya hal tersebut tidak menjadi indikasi adanya sesosok perancang. Hal-hal tersebut ada di dunia hanya semata-mata sebagai barang yang mubazir dan tidak berguna. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa kurangnya pengetahuan mereka mengenai sesuatu tidak harus menjadikan hal itu sebagai hal yang tidak berguna.”

“Ada berjuta-juta manusia di dunia ini yang merasa dirinya sebagai seorang filosof yang amat bijak dan menyangkal eksistensi Tuhan. Sebenarnya jika mereka memang bisa menemukan dasar pemikiran yang kuat yang mendasari eksistensi Tuhan, pasti mereka juga tidak akan menyangkal Wujud tersebut. Kalau saja mereka berhasil menemukan argumentasi yang konklusif yang mendukung keberadaan Tuhan, mereka juga pasti tidak akan menolaknya mentah-mentah. Dengan demikian jelas bahwa mereka yang mengikuti jejak langkah masuk dalam bahtera para filosof semata, tidak akan memperoleh pencerahan dari badai keraguan dengan akibat mereka akan tenggelam dan mereka tidak akan sempat menyaksikan mukjizat Ketauhidan.”

(Haqiqatul Wahyi, Qadian, Magazine Press, 1907; Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 120-121, London, 1984).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 41-43, ISBN 185372-765-2
(Visited 41 times, 1 visits today)