Agar bisa mengenali apa yang dimaksud sebagai agama yang benar, kita perlu melihat tiga hal.

Pertama adalah melihat apa yang menjadi ajaran agama itu mengenai Tuhan. Yang dimaksud adalah bagaimana pandangan agama itu berkaitan dengan Ke-Esa-an, kekuatan, pengetahuan, kesempurnaan, keagungan, pengganjaran hukuman, pemberian rahmat dan sifat-sifat Ilahi lainnya.

Kedua, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk menanyakan apa yang diajarkan agama bersangkutan berkaitan dengan dirinya sendiri. Apakah ada dari antara ajaran agama itu yang akan mencederai hubungan antar manusia, atau menyebabkan manusia melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan kepatutan dan kehormatan, atau bertentangan dengan hukum alam, atau tidak mungkin dapat dipatuhi atau dilaksanakan, atau bahkan membahayakan jika dikerjakan. Juga perlu memperhatikan apakah ada ajaran-ajaran penting bagi pengendalian kesemrawutan, malah ditinggalkan. Begitu pula, perlu kiranya mengetahui bagaimana agama itu menghadirkan Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih, dengan Wujud mana hubungan harus dihidupkan dan apakah ada mengatur petunjuk-petunjuk yang akan menuntun seseorang dari kegelapan kepada pencerahan, dari keadaan acuh menjadi eling sadar.

Ketiga, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan yang dihadirkan oleh suatu agama bukanlah sosok yang didasarkan pada kisah dan dongeng atau menyerupai barang mati. Beriman kepada sosok tuhan yang menyerupai benda mati dimana keimanan kepadanya bukan karena adanya manifestasi dirinya tetapi karena rekayasa pikiran manusia, sepertinya menyudutkan Tuhan yang sebenarnya. Tidak ada gunanya beriman kepada Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak bisa dirasakan dan yang Dia sendiri tidak memanifestasikan tanda-tanda eksistensi-Nya.”

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 373-373, London, 1984).

“Agama yang mengaku berasal dari Tuhan harus mampu memperlihatkan tanda-tanda berasal dari Tuhan dan harus menunjukkan meterai Tuhan yang membuktikan kenyataan bahwa agama itu memang berasal dari Tuhan. Yang memenuhi syarat demikian adalah Islam. Allah s.w.t. yang tersembunyi bisa dikenali melalui agama ini dan memanifestasikan Wujud-Nya kepada para penganut tulus dari agama ini. Suatu agama yang benar akan didukung oleh tangan Allah s.w.t. dan melalui agama ini Allah s.w.t. memanifestasikan Wujud-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia itu eksis. Agama-agama yang sepenuhnya tergantung kepada kisah-kisah dan dongeng, tidak lebih dari merupakan bentuk penyembahan berhala. Agama seperti itu tidak ada memiliki ruh kebenaran. Jika Tuhan itu hidup sebagaimana ada- Nya, berbicara dan mendengar sebagaimana yang dilakukan-Nya, maka tidak ada alasan bagi-Nya untuk terus berdiam diri seolah-olah Dia tidak ada. Kalau Dia tidak berbicara di abad ini, maka sejalan dengan itu pasti juga Dia tidak mendengar. Dengan kata lain, Dia itu sekarang bukan apa-apa. Hanya agama yang benar yang dapat membuktikan bahwa Tuhan mendengar dan berbicara di masa sekarang ini juga. Dalam agama yang benar, Tuhan menunjukkan eksistensi-Nya melalui bicara-Nya. Mencari Tuhan bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa dilakukan oleh para filosof atau orang-orang bijak duniawi. Observasi langit dan bumi hanya memberikan kesimpulan bahwa meskipun dengan melihat keteraturannya mengindikasikan kemungkinan adanya sosok Pencipta, namun tidak menjadi bukti nyata bahwa Pencipta itu memang benar ada. Ada perbedaan besar di antara ‘kemungkinan ada’ dengan ‘ada’ itu sendiri. Al-Quran adalah satu-satunya kitab yang mengemukakan eksistensi-Nya sebagai suatu fakta, yang tidak saja mendorong manusia untuk mencari Tuhan tetapi juga menjadikan Diri-Nya mewujud. Tidak ada kitab lain yang memanifestasikan Wujud yang tersembunyi tersebut.”

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 351-352, London, 1984).

Agama tidak berarti pertengkaran, penghinaan dan kata-kata kasar yang dilontarkan atas nama agama. Dalam konteks demikian, tidak ada yang memperhatikan penekanan hawa nafsu batin atau penciptaan silaturrahĩm dengan Yang Maha Terkasih. Satu kelompok yang menyerang kelompok lain seperti perilaku hewan liar dan setiap bentuk kelakuan buruk dipertontonkan atas nama agama. Orang-orang demikian tidak menyadari apa tujuan kelahiran mereka di dunia dan apa yang menjadi tujuan pokok dari hidup mereka itu. Mereka tetap saja membutakan mata dan bersikap jahat serta menyumbar kefanatikan mereka atas nama agama. Mereka mempertontonkan kelakuan buruk mereka dan menggoyang lidah mereka yang lancang guna mendukung tuhan fiktif yang eksistensinya tidak bisa mereka buktikan. Apa gunanya agama yang tidak mengajarkan penyembahan sosok Tuhan yang Maha Hidup? Tuhan yang mereka kemukakan tidak lebih baik dari bangkai mati yang berjalan karena ditopang penyangga, dimana jika penyangganya diambil maka ia akan jatuh ke tanah. Satu-satunya yang mereka peroleh dari agama seperti itu adalah fanatik yang membuta. Mereka sama sekali tidak takut kepada Allah s.w.t. dan tidak memiliki rasa kasih kepada umat manusia yang sebenarnya merupakan semulia-mulianya akhlak.”

(Hahdrat Mirza Ghulam Ahmad, Barahin Ahmadiyah, bag. V, vol. 21, hal. 28, London, 1984).

(Visited 21 times, 1 visits today)