FALSAFAH KEBANGKITAN ISLAM

Naskah Pidato yang disampaikan oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad,

di Sydney, Australia

kebangkitan islam

Pada hari ini saya akan menyampaikan falsafah Islam tentang kebangkitan agama-agama. Agama selalu dihidupkan kembali melalui campur tangan Tuhan. Seorang Pembaharu dikirim oleh Allah taala untuk mengembalikan orang-orang dari kehidupan materialisme kepada Pencipta mereka. Sosok Pembaharu tersebut selalu menyeru untuk melakukan berbagai pengorbanan besar semata-mata demi Tuhan. Ia mengajak orang-orang untuk bermujahadah, beristiqomah, bersabar dan bertawakal, dan memberitahukan mereka bahwa barangsiapa yang menginginkan ‘hidup’ harus siap berpisah dengan ‘kehidupan’ mereka. Ia mempersiapkan mereka untuk suatu perjuangan panjang dan penuh kepedihan menghadapi perlawanan dan penganiayaan yang membabi buta di tangan orang-orang yang mereka cintai dan ingin selamatkan. Inilah satu-satunya falsafah kebangkitan agama yang hakiki dan abadi; setiap falsafah yang bertentangan dengan ini hanyalah fantasi belaka. Namun harus saya sebutkan bahwa semua golongan Islam tidak sama mengenai hal ini. Sebagian besar umat Islam meyakini bahwa perubahan yang fundamental sudah terjadi dalam bentuk kebangkitan agama. Jamaah Ahmadiyah sebaliknya meyakini bahwa proses historis ini terus menerus terjadi dan tidak berubah. Agar perbedaan pendapat di antara umat Islam ini tidak menciptakan kesan yang salah, saya anggap perlu untuk menyebutkan keyakinan dasar bersama yang menyatukan seluruh umat Islam, apapun golongannya.

Setiap umat Islam, terlepas dari golongannya, mengimani Ketauhidan Ilahi dan kenabian Rasulullah saw. Setiap umat Islam percaya bahwa Islam adalah agama terakhir untuk keselamatan umat manusia. Seluruh umat Islam percaya bahwa Islam akan terus memenuhi kebutuhan rohani manusia sampai hari kiamat. Semua umat Islam percaya bahwa syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw tidak akan berubah dan Al-Qur’an tidak akan bisa dirusak dan diubah walaupun hanya satu titik. Umat Islam dari berbagai mazhab percaya bahwa fatwa Rasulullah saw itu sahih dan berlaku hingga akhir zaman. Setiap golongan Islam percaya bahwa hanya melalui ikatan dengan Rasulullah saw lah cahaya kebenaran abadi dapat dirasakan. Poin-poin dasar keyakinan ini semuanya dimiliki oleh semua umat Islam tanpa terkecuali.

Dengan begitu banyak kesamaan, tetapi tetap ada perbedaan mendasar yang menjadikan Jemaat Ahmadiyah berbeda dengan Islam lainnya – yaitu perbedaan pada isu kebangkitan Islam. Semua perbedaan lainnya berasal dari masalah utama ini.

Bagaimana kebangkitan Islam akan terwujud? Bagaimana suatu kehidupan dan semangat baru dapat ditanamkan ke dalamnya? Seperti halnya Jemaat Ahmadiyah, semua umat Islam lainnya juga mengakui bahwa jawabannya terletak pada turunnya Nabi Isa bin Maryam dan kedatangan Imam Mahdi yang dijanjikan. Titik persamaan yang tampak jelas ini, ketika ditafsirkan, benar-benar menghasilkan dua pandangan diametral.

Jemaat Ahmadiyah menganggap nubuatan tentang turunnya Isa bersifat kiasan. Begitu pula nubuatan mengenai Imam Mahdi juga alegoris. Kami percaya bahwa makna hakiki nubuatan agung ini tidak dapat dipahami jika diartikan secara harfiah. Kontras dengan ini, golongan-golongan Islam lainnya bersikeras menafsirkan penggenapan nubuatan ini secara harfiah. Inilah perbedaan mendasar yang membedakan Jemaat Ahmadiyah dari golongan lainnya.

Latar Belakang Nubuatan

Kemunduran dan perselisihan internal Islam adalah sesuatu yang telah dinubuatkan oleh Rasulullah saw. Melalui wahyu Ilahi, beliau menubuatkan 1400 tahun yang lalu bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 72 golongan. Beliau begitu rinci menggambarkan betapa buruk dan menyedihkannya kondisi umat Islam seolah-olah pemandangan zaman ini terpampang nyata di depan mata beliau. Hadis-hadis Nabi mengandung uraian yang jelas sekali tentang zaman sekarang ini. Beliau bersabda:

“Akan datang suatu zaman pada manusia, ketika itu tidak tinggal Islam kecuali namanya saja, dan tidak tinggal Al Qur’an kecuali tulisannya saja, masjid-masjid dibangun megah, namun kosong dari petunjuk, dan ulama mereka adalah makhluk terburuk yang berada di kolong langit, dari mulut-mulut mereka keluar fitnah dan (fitnah) itu akan kembali kepada mereka.” (HR. Al-Baihaqi dari Ali RA dalam Syu’abul Iman: 1763)

Namun demikian, bersamaan dengan nubuatan kelam itu beliau juga memberikan kabar suka yang agung. Beliau bersabda bahwa terlepas dari keadaan yang mengerikan ini, umat Islam tidak akan binasa:

“Bagaimana mungkin umatku akan binasa ketika aku berada di awalnya dan Isa ibnu Maryam di akhirnya.” (Musnad Ahmad, Kanzul Umal, Volume 7, h. 203)

Lalu beliau bersabda:

“Bagaimananakah sikap kalian jika Isa ibnu Maryam turun di antara kalian; dan ia akan menjadi imam dari antara kalian? (Hadist Bukhari dari Abu Hurairah, kitab Nabi, Jilid ll, hal 256)

Dan beliau mengulangi kabar itu dengan kata-kata:

“Aku bersumpah, demi Dia yang hidupku berada di tangan-Nya bahwa Isa ibnu Maryam sungguh akan turun di antara kalian, dan ia akan mengambil keputusan dengan adil” (Bukhari: Kitab Nabi-Nabi)

Rasulullah saw juga memberikan kabar suka tentang kedatangan Imam Mahdi yang akan muncul menyertai Isa ibnu Maryam.

Jadi Jemaat Ahmadiyah memiliki keyakinan yang sama dengan umat Islam lainnya bahwa kebangkitan Islam dan kemenangan global berkaitan dengan turunnya Isa dan munculnya Imam Mahdi. Namun perbedaannya terletak dalam hal penafsirannya. Jemaat Ahmadiyah menegaskan bahwa nubuatan itu akan tergenapi secara zahir sesuai dengan hukum-hukum Ilahi dan sejalan dengan sejarah para nabi sebelumnya. Golongan Islam lain sebaliknya menyatakan nubuatan ini tidak memiliki pesan tersirat dan lebih dalam, melainkan cukup mengikuti makna harfiahnya saja.

Konsep Golongan Islam Lainnya tentang Kebangkitan Islam

Dengan segala kejujuran, sekarang saya akan berusaha menguraikan sudut pandang para penentang kami yang menyamakan kebangkitan Islam dengan dominasi ekonomi dan politik. Barangkali ada penjelasan untuk itu. Sudah menjadi tradisi bahwa nafsu kekuasaan dan keserakahan merupakan penyebab utama terjadinya perselisihan manusia. Jadi yang dinamakan puncak kebangkitan nasional itu adalah pengaruh untuk menguasai politik dan ekonomi. Menurut mereka, Allah taala senantiasa memanifestasikan dukungan-Nya untuk menciptakan hasil ini. Lebih kurang, inilah pandangan yang diyakini oleh banyak orang tentang kebangkitan Islam. Menurut keyakinan ini, turunnya Nabi Isa Almasih akan mengumandangkan era penaklukan politik oleh agama Islam sedangkan kedatangan Imam Mahdi akan menciptakan dominasi ekonominya.

Pertama, saya akan jelaskan konsep mereka tentang turunnya Nabi Isa Almasih. Mereka percaya bahwa Nabi Isa ibnu Maryam, yang Al-Qur’an nyatakan sebagai seorang nabi untuk Bani Israel, akan turun dari langit dengan tubuh kasarnya. Ia akan segera datang dengan pedang di tangan dan membunuh semua musuh-musuh Islam! Ia memiliki tiga tujuan besar. Tujuan pertamanya yaitu mematahkan salib, bukan secara kiasan tapi dalam arti sebenarnya! Ia akan mulai menghancurkan simbol agama Kristen itu dengan begitu semangat sampai-sampai tidak ada yang tersisa. Tidak akan ada satupun salib yang akan terlihat di Gereja, di rumah-rumah atau di leher.

Menurut mereka, tugas penting Nabi Isa ibnu Maryam selanjutnya adalah membunuh berbagai jenis babi, baik yang jinak maupun yang liar! Jadi para pengikut ajaran salib ini nantinya tidak akan punya salib untuk ibadah dan juga tidak ada babi untuk santap malam. Dengan demikian, Isa ibnu Maryam ini akan menghilangkan benda-benda umat Kristen, tidak hanya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka namun juga jasmaninya.

Tugas ketiga Isa Almasih ini adalah membunuh Dajjal. Siapakah Dajjal itu? Menurut Hadits, jika diartikan secara harfiah, sebagaimana pandangan sebagian orang, Dajjal itu adalah sosok raksasa bermata satu yang mengendarai keledai yang besar. Tubuhnya begitu tinggi sehingga kepalanya akan berada di atas awan. Semua nabi telah memperingatkan umat mereka terhadap kejahatan Dajjal ini. Pada saat Dajjal sibuk menghancurkan bumi, Nabi Isa akan turun dari langit. Ia akan terlibat pertempuran dengan Dajjal di dekat Damaskus lalu membunuhnya. Ia kemudian akan menaklukkan seluruh dunia. Setelah melakukan itu semua, ia akan menyerahkan kekuasaannya kepada umat Islam.

Singkatnya, inilah falsafah mereka tentang kebangkitan dan kekuasaan politik Islam. Falsafah ini sama sekali membebaskan umat Islam dari upaya perjuangan politik apapun. Sekarang, mereka yang nyaman dengan jaminan akan mewarisi bumi tanpa susah payah, bisa melihat tidak adanya alasan yang tepat bagi mereka untuk menyibukkan diri dengan gagasan dan aksi politik. Mereka hidup dalam kealpaan yang membahagiakan menuju kehancuran dan kemunduran mereka. Karena, terlepas dari semua itu, mereka sangat yakin bahwa hari bahagia itu tidak akan lama lagi datang ketika suatu wujud samawi turun dari langit dan mengobarkan penaklukan. Ia akan membunuh babi, menghancurkan salib, menaklukkan semua Kekuatan Timur dan Barat. Barulah, ia akan isyaratkan kepada umat Islam yang menanti-nanti tadi dan berkata, “Kemarilah, wahai tentara Tuhan; datanglah kesini, wahai orang saleh! Datang dan ambillah tongkat kerajaan bumi ini.” Inilah pandangan umat Islam tentang kebangkitan Islam, yang tampak tidak masuk akal bagi Jamaah Ahmadiyah. Jamaah ini tidak dapat berpegang pada penafsiran yang sangat harfiah ini.

Selanjutnya tentang konsep kebangkitan ekonomi Islam menurut non-Ahmadi. Para ulama dari berbagai golongan lainnya berpandangan bahwa perbaikan kondisi ekonomi negara-negara Islam terletak bukan pada perjuangan dan pengorbanannya melainkan pada kedatangan sosok Imam Mahdi. Imam Mahdi ini akan datang pada masa Nabi Isa. Peran terpentingnya ketika datang nanti ialah membagi-bagikan harta yang tak terhingga jumlahnya kepada seluruh umat Islam di dunia. Rahmatnya sangat tak terbatas. Kemurahan hatinya sulit digambarkan. Kekayaan yang melimpah ini akan jauh melebihi kemampuan umat Islam untuk mengumpulkannya. Dengan demikian, nafsu keserakahan dan ketamakan pun akan berakhir. Inilah obat mujarab, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang, untuk mengobati penyakit ekonomi dunia Islam. Menurut keyakinan ini, kedatangan Imam Mahdi itu sendiri adalah jawaban atas kesengsaraan ekonomi umat Islam. Tidak memerlukan keringat, air mata dan kerja keras. Tidak perlu mengeksplorasi kekayaan bumi, menyelidiki inti atom, atau mencari rahasia ruang angkasa. Tidak lagi diperlukan adanya usaha dan industri, begitu pula keahlian dalam menemukan hal-hal baru dan juga aplikasinya. Yang diperlukan hanyalah kedatangan Imam Mahdi. Sekali lagi, Jamaah Ahmadiyah berbeda pandangan dan menganggap konsep ini kekanak-kanakan, mentah dan tidak dapat diterima.

Penafsiran yang Benar menurut Jamaah Ahmadiyah

Meskipun sama sekali tidak menolak nubuatan tentang turunnya Nabi Isa dan kedatangan Imam Mahdi, Jamaah Ahmadiyah ini menekankan bahwa memaknai nubuatan ini secara harfiah merupakan puncak kenaifan dan kebodohan. Kami yakin bahwa semua itu terjadi akibat tidak memahami sepenuhnya kedudukan agung Rasulullah saw sehingga kesalahan serius seperti itu muncul dalam memahami pesan mendalam dan filosofis ini. Orang yang arif dan berakal seringkali menggunakan perumpamaan dan permisalan untuk menguraikan suatu materi yang maknanya begitu dalam namun tidak bisa dipahami karena kemampuan melihat yang dangkal.

Jamaah Ahmadiyah percaya bahwa semua hal tentang Nabi Isa, Dajjal dan keledainya bersifat kiasan. Oleh karena itu, Nabi Isa Almasih tersebut bukanlah Isa yang dahulu diutus di tengah-tengah Bani Israel. Jamaah Ahmadiyah meyakini Nabi Isa terdahulu telah wafat secara wajar setelah selamat dari siksaan penyaliban. Isa Almasih yang dinubuatkan sebenarnya adalah sosok baru yang akan lahir dari kalangan umat Nabi Muhammad saw. Karena kesamaan beberapa karakteristik dan sifat dengan Isa terdahulu, ia diberi gelar Isa Almasih ibnu Maryam sebagaimana halnya seorang penulis yang sangat piawai juga diberi gelar Shakespeare. Mematahkan salib juga merupakan perumpamaan. Isa Almasih ini tidak benar-benar mematahkan kayu salib melainkan akan mematahkan keyakinan agama Kristen dengan hujjah dan argumen yang kuat.

Oleh karena itu, patahnya salib berarti kehancuran ideologi agama Kristen. Demikian pula, kata ‘babi’ tidak harus dimaknai secara harfiah. Kata itu berkonotasi dengan kotornya budaya barat yang mengubah manusia seperti binatang. Kata ‘babi’ merupakan simbol dari kejahatan seksual yang melanda seluruh Amerika dan Eropa. Ini adalah simbol pesta pora menjijikkan yang bahkan korbannya adalah anak-anak yang tak berdosa. Hadits secara pasti tidak menyebutkan Isa Almasih akan memburu kawanan babi, baik yang liar ataupun yang jinak. Ini akan memberikan kesan aneh terhadap seorang Nabiullah. Hal ini mengingatkan kita kepada salah seorang Ajax – seorang pahlawan dari mitologi Yunani – yang memotong-motong kawanan sapi dan domba dengan berkeyakinan secara tidak waras bahwa mereka adalah kepala suku tentara Yunani.

Dajjal pun merupakan simbol, sama seperti Isa Almasih, salib dan babi tadi. Ia melambangkan suatu bangsa yang besar dan kuat yang memerintah tidak hanya di bumi saja tetapi juga di langit. Kata ‘salib’ dan ‘babi’ pada dasarnya merupakan simbol yang berkaitan dengan bangsa ini. Hadits mengatakan bahwa mata kanan Dajjal itu buta sedangkan mati kirinya besar dan terang. Ini adalah gambaran simbolis bahwa meskipun bangsa ini luput dari cahaya rohani namun pengetahuan untuk memperoleh kekayaan materiilnya berkembang pesat.

Terakhir, Jamaah Ahmadiyah juga menganggap ‘keledai Dajjal’ merupakan simbol yang menggambarkan alat transportasi masa mendatang. Semua ciri-ciri yang menggambarkan keledai ini tanpa terkecuali bisa diidentifikasi sebagai kendaraan berbahan bakar yang diciptakan oleh bangsa Barat. Perhatikan ciri keledai Dajjal yang mencolok – seperti yang dijelaskan di dalam hadis – yakni ia akan memakan api, ia akan melakukan perjalanan di bumi, laut dan udara; kecepatannya akan sangat luar biasa sehingga perjalanan berbulan-bulan dapat ditempuh beberapa jam saja; penumpangnya tidak akan naik ke punggungnya, melainkan masuk ke dalam perutnya yang bercahaya; keberangkatannya akan diumumkan dan para penumpang akan diminta menempati tempat duduknya. Tergenapinya semua ciri khas ini dengan begitu tepat merupakan suatu kesaksian agung atas kebenaran Hadhrat Muhammad saw.

Menurut Jamaah Ahmadiyah, nubuatan yang berkaitan dengan kedatangan Imam Mahdi itu juga simbolis. Harta yang akan dibagikan kepada umat Islam adalah kekayaan makrifat kerohanian dan hikmah, bukan kekayaan duniawi. Penolakan sebagian orang terhadap harta itu lebih jauh menunjukkan apa jenis kekayaan itu; karena manusia tidak pernah puas dengan kekayaan materiil, maka hanya harta rohani lah yang biasanya manusia pandang rendah.

Jadi Jemaat Ahmadiyah menolak falsafah kebangkitan Islam seperti yang dijelaskan di atas dan disebarkan oleh golongan Islam lainnya. Jemaat Ahmadiyah berpandangan bahwa falsafah ini bertentangan dengan maksud hakiki ajaran Al-Qur’an, bertentangan dengan sejarah para nabi dan lebih dari itu bertentangan dengan semua yang telah dicontohkan oleh  Rasulullah saw. Jemaat Ahmadiyah menjauhkan diri dari pemahaman ideologis semacam ini yang akan membuat bangsa-bangsa tertidur tanpa berbuat apapun dan membawa mereka larut dalam dunia khayalan dan fantasi.

Falsafah Kebangkitan Agama menurut Jemaat Ahmadiyah

Falsafah ini tidak berbeda dari falsafah yang merupakan warisan dari semua agama. Ini adalah satu-satunya falsafah yang didukung sejarah. Meskipun kitab-kitab suci dan legenda-legenda kuno banyak menyebutkan tentang orang-orang yang naik ke langit, namun tidak ada satupun contoh atau catatan – sejak zaman Adam- tentang kembalinya mereka ke bumi ini dengan tubuh kasarnya.

Jadi, terlepas dari perbedaan cara naiknya ke langit oleh beberapa orang, tidak ada satupun yang diceritakan telah kembali ke bumi setelah lama menghilang. Para Pembaharu senantiasa datang dari kalangan manusia biasa dan selalu ditolak serta dihina oleh manusia. Tidak pernah ada gapura selamat datang dipasang untuk menyambut mereka. Tidak ada karangan bunga yang diberikan. Tidak ada gemerlap lampu dalam suasana kegembiraan. Sebaliknya, mereka yang datang atas nama Tuhan selalu dianiaya atas tuduhan melakukan ‘kejahatan’ ini. Jalan mereka penuh dengan onak berduri. Mereka ditumpuki debu di kepala dan dilempari batu. Mereka dikaruniai mahkota berduri. Segala bentuk penganiayaan ditimpakan kepada mereka. Kalian saksikan mereka sekarang, kembali dari kota Thaif bermandikan darah dari atas kepala hingga ujung kaki. Kalian saksikan mereka sekali lagi di medan peperangan Uhud, dalam keadaan setengah mati karena luka-luka, tertindih di bawah tubuh-tubuh mereka yang merelakan hidup untuknya.

Kalian akan mendapati umat mereka menderita nasib yang sama. Mereka disiksa dengan segala bentuk penyiksaan. Mereka diseret dengan kaki terikat di atas jalan yang kasar melewati lorong-lorong kecil. Mereka dibaringkan di atas panasnya pasir di bawah terik matahari. Mereka dilemparkan ke atas bara api dan ditahan hingga bara itu dingin.

Mereka diusir dari rumah mereka. Mereka dibawa ke pengasingan. Mereka terancam kelaparan. Mereka diserang dengan pedang. Suami dipisahkan dari istrinya dan istri dipisahkan dari suaminya. Orang tua kehilangan anak-anak mereka. Segala hak dalam kehidupan mereka terenggut. Mereka tidak diperbolehkan untuk beribadah maupun untuk membangun masjid. Mereka kehilangan hak untuk menyatakan keimanan mereka. Bahkan mereka tidak diizinkan untuk menamai keyakinan mereka sendiri.

Demikianlah seseorang yang dikaruniai suatu kehidupan rohani yang baru. Inilah jalan yang membawa kepada kebangkitan agama. Inilah fenomena yang kita saksikan dalam kehidupan Hadhrat Muhammad saw dan dalam kehidupan seluruh nabi sebelum beliau saw. Inilah jalan yang penuh bahaya tersebut yang pernah ditapaki oleh para nabi untuk membangkitkan bangsa mereka. Inilah falsafah kebangkitan agama sejak zaman Adam hingga Muhammad saw. Ketika yang terjadi adalah demikian, bagaimana kita bisa setuju kalau Allah taala telah memutuskan untuk mengubah Sunnah-Nya yang berlaku sepanjang masa dan tidak bisa diganggu-gugat ini? Bagaimana kita bisa setuju kalau umat Islam akan mewarisi bumi tanpa menumpahkan setetes pun darah mereka dan tanpa melalukan suatu usaha?  Bagaimana kita bisa yakin kalau mereka akan berhasil tanpa melewati jalan pengorbanan? Semua itu tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi. Hadhrat Masih Mau’ud, pendiri Jemaat Ahmadiyah, menegaskan kebenaran yang kekal dan abadi ini ketika beliau memperingatkan bangsanya:

“Belum ada seorang nabi pun yang tidak ditertawakan. Jadi demikianlah keadaannya dimana orang-orang menertawakan Masih Mau’ud.”

Allah taala berfirman:

“Ah, sayang bagi hamba-hamba-Ku! Tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya. (Yasin: 31)

Jadi itu adalah suatu tanda dari Tuhan bahwa setiap nabi selalu diolok-olok. Sekarang, siapa yang dapat mengejek seseorang yang turun dari langit dengan tubuh kasarnya, diiringi oleh para malaikat ke tengah-tengah kerumunan orang yang sedang menati-nantinya? Oleh karena itu, orang-orang yang berakal bisa melihat bahwa turunnya Nabi Isa dengan tubuh kasarnya dari langit adalah suatu keyakinan palsu. Ingat! Tidak seorang pun yang akan turun dari langit. Semua orang yang menentang saya dan yang sekarang masih hidup akan mati dan tidak seorang pun dari mereka akan melihat Isa ibnu Maryam turun dari langit. Kemudian anak-anak mereka dan cucu-cucu mereka juga akan mati dan Isa ibnu Maryam masih belum akan turun. Kemudian Allah akan mengisi hati mereka dengan kekhawatiran bahwa hari-hari berkuasanya ajaran Salib ini telah berlalu namun Isa ibnu Maryam belum juga turun dari langit. Kemudian, orang-orang yang berakal akan merasa letih dengan keyakinan ini. Dan sebelumnya tiga abad telah berlalu sejak hari ini. Umat Islam dan Kristen akan sama-sama membuang keyakinan palsu ini dengan rasa jijik dan putus asa. Lalu, hanya akan ada satu agama di seluruh dunia ini dan juga seorang Pembimbing rohani. Aku telah datang tidak lain untuk menabur benih. Benih ini telah ditaburkan melalui tangan saya. Sekarang, benih itu akan tumbuh dan berbuah dan tidak ada kekuatan di bumi yang dapat merusaknya. (Tadzkiratul Shahadatain. hal 64-65)

Setiap orang bijak dapat melihat dari perbandingan ini bahwa sudut pandang Jamaah Ahmadiyah didasarkan pada sejarah agama-agama sedangkan falsafah para penentangnya bersifat mitos dan bertentangan dengan sejarah kebangkitan agama-agama. Kita belajar dari sejarah bahwa setiap orang yang diutus oleh Allah taala dihadapkan pada badai penentangan. Semua nabi datang dengan pesan kebenaran dan kehidupan yang abadi, tetapi selalu ditentang oleh mereka yang lebih menyukai kepalsuan daripada kebenaran, serta kematian rohani dibandingkan kehidupan rohani. Sungguh, inilah proses kebangkitan agama. Ketika berbagai kekotoran dan kerusakan merayapi tubuh agama, kebangkitan agama juga akan mengambil cara yang sama. Para Pembaharu yang diutus Allah taala juga mengalami berbagai penderitaan seperti yang dialami oleh para nabi. Setiap kali Allah taala memutuskan untuk menghidupkan kembali kerohanian suatu bangsa, maka akan tercipta dua golongan, yakni mereka yang akan melihat kebenaran dan mereka akan yang menentangnya. Tidak satu kelompok pun pernah merubah sikapnya. Al-Qur’an menggambarkan siklus yang seringkali berulang ini dengan cara yang paling efektif dan menyentuh. Sebuah studi Al-Qur’an menunjukkan bahwa:

  1. Agama terlahir dan hidup kembali melalui para Pembaharu yang ditunjuk oleh Allah taala. Tidak pernah ada seorang ulama pernah mereformasi suatu agama melalui muktamar atau perundingan.
  2. Para Pembaharu yang ditunjuk oleh Allah selalu ditolak oleh bangsa mereka dan diperlakukan dengan arogansi dan pandangan hina.
  3. Para Pembaharu tersebut selalu ditentang melalui berbagai kekerasan. Mereka dituduh merusak agama nenek moyang mereka. Mereka dicap sesat dan dianggap murtad.
  4. Kredo yang dianut para penentang ini adalah kematian atau pengusiran sebagai hukuman bagi murtadin. Para Pembaharu ditawarkan pilihan untuk kembali ke ajaran semula atau akan diusir, yang jika tidak berhasil maka mereka akan terancam dibunuh.
  5. Para Pembaharu tidak pernah menganjurkan kekerasan. Umat mereka senantiasa menunjukan ketabahan yang sedemikin rupa sehingga mereka lebih suka diusir atau dibunuh daripada menuruti keinginan mereka.
  6. Para Pembaharu tidak menarik orang dengan janji-janji kekuasan atau jabatan tinggi. Mereka membuang jauh ambisi duniawi. Mereka tidak memberikan iming-iming kekayaan, melainkan menanamkan semangat pengorbanan. Seorang hartawan yang beriman akan menganggap ini sebagai nasib baik mereka karena bisa memberikan seluruh kekayaannya atas pengabdian kepada Allah taala, dan seorang yang berkuasa yang beriman tidak akan menghiraukan posisinya. Dan kemudian takdir Tuhan menetapkan mereka untuk mengambil alih kekuasaan duniawi.

Ini adalah proses kebangkitan agama di berbagai bangsa sebagaimana telah ungkapkan dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya. Semua nabi – dari Adam sampai Muhammad saw – melewati tahap ini. Mereka berikan bangsa mereka suatu kehidupan baru dengan membawa mereka melewati jalan penderitaan dan pengorbanan. Mereka ajarkan cinta. Mereka tanamkan kecintaan terhadap kerja keras dan upaya-upaya yang berkelanjutan dan terus menerus. Inilah semangat revolusioner yang memberikan nafas kehidupan bagi bangsa yang telah mati. Hukum Ilahi yang terus berulang dan abadi ini sejalan dengan sifat alami, hati nurani dan akal manusia. Inilah hukum yang diakui oleh Jemaat Ahmadiyah.

Seperti yang terlihat, konsep Jamaah Ahmadiyah tentang kebangkitan agama ini bukanlah falsafah model baru yang lahir dari kecerdasan manusia. Konsep ini berasal dari proses historis yang terus menerus dan tidak berubah, yang diabadikan dengan sangat akurat dan benar di dalam Al-Qur’an. Ini didasarkan pada prinsip dan kebenaran abadi yang merupakan dasar setiap agama yang benar. Misalnya, Al-Qur’an menyatakan:

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan; dan barang siapa menolak ajakan orang-orang sesat dan beriman kepada Allah taala, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada suatu pegangan yang kuat dan tak kenal putus. Dan Allah taala Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 257)

Ah, sayang bagi hamba-hamba-Ku! Tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya (Yasin: 31)

“Allah taala tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. (Ar-Ra’d: 21)

Ketika Nabi Syua’ib diancam oleh umatnya:

“Berkata pemuka-pemuka kaumnya yang sombong, “Pasti akan kami usir engkau, hai Syu’aib, dan juga orang-orang yang telah beriman beserta engkau dari kota kami; atau, kamu harus kembali ke dalam agama kami.” Berkata ia, “Walaupun kami tidak suka? (Al-A’raf: 89)

Kaum Nabi Nuh juga mengancam beliau dengan rajam jika beliau tidak berhenti:

“Mereka berkata, “Sekiranya engkau tidak berhenti, hai Nuh, niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (As-Syuara: 117)

Perlakuan ini tidak hanya menimpa beberapa nabi saja, Al-Qur’an merangkum sikap orang-orang terhadap para nabi dalam kalimat:

“Dan berkatalah orang-orang yang ingkar kepada rasul-rasul mereka, “Niscaya akan kami usir kamu dari bumi kami, atau kamu harus kembali kepada agama kami.” (Ibrahim: 14)

Nabi Ibrahim dihukum karena menyalahkan agama nenek moyang mereka dan telah menyebarkan kebenaran. Para kepala suku melampiaskan amarah mereka dengan menyatakan:

“Mereka berkata, “Bakarlah ia dan bantulah tuhan-tuhanmu, jika kamu mau melakukan sesuatu.” (Al-Anbiya: 69)

Nabi Isa dipaku di atas tiang salib karena tidak setuju dengan para ahli Taurat Yahudi atas penafsiran Alkitab meskipun beliau mengakui secara terbuka:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (Matius 5: 17-18)

Izinkan saya mengingatkan bahwa perbedaan utama antara Yesus dan ulama Yahudi adalah pada penafsiran ayat berikut:

“Lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. (2 raja-raja 2: 11)

Para ulama Yahudi terjebak dalam makna harfiah dan apa adanya dari ayat ini. Mereka percaya bahwa Elia akan turun dari langit dengan tubuh kasarnya sebelum munculnya Kristus. Yesus, di sisi lain, menegaskan bahwa ini adalah sebuah kiasan, bahasanya simbolis dan tidak harfiah. Beliau menyatakan bahwa putera Zakaria, Yohanes, adalah Elia yang turun dari langit. Yesus tahu benar bahwa Yohanes lahir di bumi ini dan sudah tentu tidak akan turun dari langit.

Dalam menjawab pertanyaan, ‘Lalu mengapa para ahli Taurat mengatakan bahwa Elia harus datang terlebih dahulu’, Yesus menjawab:

“Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Matius 17: 10-13)

Terakhir dan yang terpenting adalah penderitaan yang dialami Rasulullah saw. Beliau saw sendiri pernah bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang mengalami penderitaan sebanyak yang saya alami.”

Oleh karena itu, sejarah agama-agama menunjukkan kita bahwa seorang nabi selalu berasal dari kalangan manusia biasa. Mereka tidak turun dari langit bagaikan pahlawan seperti dalam dongeng-dongeng. Mereka selalu mengalami ujian dan cobaan. Umat mereka memperoleh kemuliaan bukan dari hasil kerja keras orang lain melainkan dari keringat dan darah mereka sendiri.


Judul Asli: Revival of Religion
Penerjemah: Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
Editor: Hafizurrahman
Sumber: Alislam.org

 

tag: kebangkitan agama, kebangkitan islam , nabi isa, imam mahdi

(Visited 129 times, 1 visits today)