pengikut Rasulullah

Tidak sepatutnya kita meragukan bahwa seorang pengikut biasa dari Rasul yang diridhoi tersebut bisa berbagi nama, sifat atau berkat beliau. Memang benar bahwa dalam kenyataannya tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai keagungan Yang Mulia Rasulullah saw. Bahkan para malaikat pun tidak, apalagi seorang manusia biasa. Namun wahai kalian pencari kebenaran, semoga Allah swt membimbing kalian dan simaklah dengan hati-hati hal ini. Dengan tujuan agar berkat dari Rasul yang diridhoi tersebut bisa diperlihatkan selama-lamanya dan agar Nur beliau yang sempurna dapat mengalahkan musuh-musuh beliau, maka Allah swt  Yang Maha Kuasa telah menyusun kebijakan berikut ini demi Keagungan dan Kasih-Nya. Beberapa orang terpilih dari umat Yang Mulia Nabi Muhammad saw yang patuh kepada beliau dengan kerendahan hati sepenuhnya dan yang menyungkurkan diri dengan menghilangkan segala egonya sendiri, akan ditemukan oleh Allah swt sebagai cermin yang bersih yang memantulkan berkat Rasul yang diridhoi tersebut dalam diri mereka masing-masing. Melalui diri mereka Tuhan akan menurunkan rahmat dan tanda-tanda yang semuanya bersumber pada Yang Mulia Rasulullah saw

“Dalam kenyataan dan dalam kesempurnaannya, semua puji-pujian hanya patut bagi diri beliau dan bahwa beliau itu adalah teladan yang sempurna. Namun sebagai penganut dari ajaran Yang Mulia Rasulullah saw yang karena kepatuhan yang sempurna telah menjadi refleksi daripada beliau, dimana Nur yang diperlihatkannya pun adalah juga pantulan dari Nur beliau, maka munculnya sosok yang merefleksikan sifat dan jasad beliau akan berwujud sebagai bayang-bayang dirinya. Bayang-bayang ini tidak tegak dengan sendirinya dan ia tidak memiliki kelebihan dalam kenyataannya. Yang terlihat adalah gambaran daripada yang aslinya sebagai pantulan refleksi.”

“Ada dua hal yang dimunculkan oleh refleksi dari Nur itu yang mirip dengan rahmat abadi, yang akan mewujud pada beberapa pengikut Rasulullah saw. Pertama adalah diperlihatkannya kesempurnaan hakiki dari Yang Mulia Rasulullah saw  berupa obor darimana obor-obor lain akan dinyalakan dan hal ini jauh lebih baik daripada sebuah obor yang tidak pernah menyalakan obor lainnya. Kedua, melalui rahmat abadi ini telah diteguhkan kelebihan umat Muslim di atas para pengikut agama lainnya, dan bukti nyata dari agama Islam telah disegarkan kembali sehingga manusia tidak selalu hanya bertumpu kepada masa lalu saja. Dengan cara demikian itulah Nur kebenaran Al-Quran akan memancar terang sebagai sinar matahari dan bukti kebenaran Islam telah diteguhkan terhadap para lawannya, sedangkan kerendahan dan kekalahan para musuh Islam akan menjadi nyata. Mereka akan bisa menyaksikan rahmat dan Nur di dalam Islam yang padanannya tidak akan mereka jumpai pada diri para pendeta atau pandit agama mereka masing-masing. Perhatikanlah semua hal ini wahai para pencari kebenaran, semoga Allah swt membantu kalian dalam pencaharian kalian.”

“Betapa agungnya derajat Khãtaman Nabiyyĩn dan betapa sempurnanya kecemerlangan matahari kebenaran ini sehingga menjadikan seseorang menjadi mu’minin yang sempurna, menjadikan yang lainnya sebagai orang yang mengenal Tuhan dan memberkati yang ketiga dengan tanda-tanda Keagungan dan Ketauhidan serta melimpahkan atasnya berkat Ilahi.” (Barahin Ahmadiyah, Rohani Khazain, vol. 1, hal. 268-271, London, 1984).

***

“SEJAK MUNCULNYA MATAHARI kebenaran di dunia ini dalam wujud yang beberkat Yang Mulia Rasulullah saw  sampai dengan hari ini, sudah beribu-ribu orang yang memiliki kapasitas dan kemampuan berkat dari mengikuti firman Ilahi dan patuh kepada beliau, yang telah berhasil mencapai derajat tinggi sebagaimana dikemukakan, dan proses ini masih berlanjut terus. Allah yang Maha Agung secara berkesinambungan mengaruniai mereka dengan berkat, rahmat serta pertolongan sehingga mereka yang memiliki penglihatan jernih bisa melihat bagaimana orang-orang ini telah menjadi kekasih Allah swt, berada di bawah naungan berkat Ilahi dan menjadi penerima rahmat yang akbar. Para pemerhati ini secara jelas bisa melihat bahwa orang-orang itu memperoleh karunia-karunia yang luar biasa dan dibedakan dari manusia lainnya dengan tanda-tanda samawi serta diharumkan oleh wewangian kasih dan keridhoan Ilahi.

Nur dari Yang Maha Agung menyinari persahabatan mereka, perhatian mereka, tekad hati mereka, akhlak mereka, cara hidup mereka, kegembiraan mereka, kemarahan mereka, keinginan mereka, ketidaksukaan mereka, gerakan mereka dan istirahat mereka, bicara dan diam mereka, batin dan jasmani mereka, sejelas dan setransparan wadah kaca yang berisi wewangian yang harum. Melalui berkat persahabatan dan hubungan serta kasih kepada mereka, semua ini bisa diperoleh dengan mudah. Dengan menciptakan silaturahim dengan mereka dan berpandangan baik tentang diri mereka maka keimanan seorang manusia akan mendapat aspek dan kekuatan baru bagi penampakan akhlak yang baik. Kecenderungan ego terhadap hura-hura dan dosa akan terkekang dan sebagai gantinya akan muncul rasa puas dan kelembutan. Sejalan dengan kapasitas setiap orang, hasrat keimanan seseorang akan marak dan mereka menunjukkan kasih dan pengabdian, serta mereka akan menjadi bertambah suka mengingat Allah swt.

Dalam jangka panjang, berteman dengan orang-orang yang berberkat demikian akan menimbulkan kesadaran bahwa kekuatan keimanan, akhlak yang mulia, tindakan memfanakan duniawi, perhatian dan kasihnya terhadap Tuhan, kelembutan terhadap para mahluk Tuhan, kesalehan, keteguhan dan ketakwaan menerima takdir Ilahi, sesungguhnya mereka itu tidak ada padanannya di dunia ini. Akal yang sehat segera melihat bahwa rantai yang selama ini menjadi belenggu bagi manusia, pada orang-orang itu telah tanggal terbuka, dan kesempitan pandangan yang menghimpit dada orang lain, telah diangkat dari dada mereka. Mereka memperoleh kehormatan bisa berbicara terus menerus dengan Tuhan mereka dan mereka itu diterima sebagai sarana perantara di antara Tuhan dengan hamba-hamba yang mencari-Nya yang menginginkan bimbingan dan petunjuk. Kecemerlangan mereka telah mencerahkan kalbu manusia lainnya. Sebagaimana dengan datangnya musim semi maka tetumbuhan bertunas semua, begitu pula dengan kemunculan mereka akan memunculkan Nur alamiah di hati manusia yang waras dan yang beruntung sehingga kemampuan batin mereka akan berkembang penuh dan mereka bisa menyingkapkan tirai kedalaman kelelapan mereka yang akan membersihkan dosa-dosa dan noda-noda kejahatan serta kegelapan dari kebodohan dan pikiran.

Zaman masa hidup mereka yang berberkat mempunyai karakteristik khusus dan Nur yang menebar ke dalam batin mereka yang beriman dan para pencari kebenaran akan mengembangkan hasrat batin yang bersangkutan kepada agama serta memperkuat keteguhan hati mereka. Setiap mereka yang tulus akan memperoleh berkat dari wewangian yang dilimpahkan kepada mereka karena kepatuhan mereka, sepadan dengan ketulusan hati mereka. Adapun mereka yang tidak beruntung, tidak akan memperolah apa-apa daripadanya, dan mereka ini akan terus saja dalam permusuhan, kecemburuan dan itikad buruk sampai akhirnya nanti mereka masuk neraka. Hal inilah yang dimaksud dalam ayat:

خَتَمَ اللَّهُ عَلىٰ قُلوبِهِم

‘Allah swt  telah memeterai hati mereka’ (QS.2 Al-Baqarah:8).

(Barahin Ahmadiyah, Rohani Khazain, vol. 1, hal. 529- 532, London, 1984).

***

“PERNYATAAN PENGAKUAN dari Nabi Suci kita Yang Mulia Rasulullah saw  berpendar seperti sinar matahari dan menjadi bukti dari berkat yang mengalir abadi dari wujud beliau. Bahkan dalam abad ini pun, barangsiapa mematuhi Yang Mulia Rasulullah saw  akan dibangkitkan dari kematian dan dikarunia dengan kehidupan rohaniah nyata yang dimanifestasikan oleh berkat dan pertolongan Ilahi serta dukungan dari rohul kudus. Ia akan menjadi manusia unik di antara umat manusia lainnya karena Allah swt  akan membukakan berbagai rahasia samawi serta menyampaikan kebenaran wujud-Nya kepadanya, Dia akan memperlihatkan tanda-tanda dari kasih dan perkenan-Nya dan menurunkan bantuan di atas dirinya serta menjadikan dirinya sebagai cermin dari sifat Rahmãniyat-Nya. Kebijakan akan mengalir dari mulutnya dan mutiara-mutiara hikmah akan menyemburat dari kalbunya. Rahasia-rahasia tersembunyi akan dibukakan baginya. Allah swt  Yang Maha Agung akan memperlihatkan tanda-tanda agung atas dirinya dan datang mendekati dirinya. Ia akan mencapai derajat tinggi karena pengabulan doa-doanya, terbukanya pintu pemahaman, terungkapnya rahasia-rahasia samawi serta karena turunnya berkat atas dirinya.”

“Setelah mendapat penugasan dari Allah swt, hamba yang lemah ini telah mengirimkan beberapa ribu lembar surat tercatat kepada para musuh Islam yang terkenal di Asia, Eropa dan Amerika mengenai hal-hal di atas agar mereka mengetahui. Aku telah mengundang mereka untuk memberikan tanggapan mereka bahwa kalau ada yang mengaku bisa memperoleh kehidupan rohaniah tanpa mengikuti Khãtamul Anbiyãs.a.w. agar mereka maju menghadapi aku, jika tidak maka sepatutnyalah ia datang kepadaku sebagai seorang pencari kebenaran guna menyaksikan berkat dan tanda-tanda yang telah dikaruniakan kepadaku. Ternyata tidak ada seorang pun yang menanggapi dengan tulus dan itikad baik, sedangkan dengan berlaku angkuh demikian terlihat bahwa sebenarnya mereka itu meraba-raba dalam kegelapan.” (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; Rohani Khazain, vol. 5, hal. 221-222, London, 1984).

***

“KAMI MEYAKINI SEPENUHNYA bahwa Nabi Allah swt  yang paling akbar dan yang paling dikasihi-Nya adalah Hadhrat Muhammad saw  Adapun para pengikut nabi-nabi lainnya berada dalam kegelapan karena yang tersisa bagi mereka hanyalah dongeng dan hikayat saja lagi, sedangkan umat Muslim selalu menerima tanda-tanda baru dari Allah swt  Yang Maha Kuasa. Karena itu di antara umat Muslim banyak ditemui orang-orang yang memiliki pemahaman yang mendalam, orang-orang yang beriman kepada Tuhan-nya dengan penuh kepastian seolah-olah bisa menampak Wujud-Nya. Umat agama lainnya tidak memiliki kepastian yang seperti itu menyangkut Allah swt  Karena itulah jiwa kami bersaksi bahwa agama yang benar dan lurus hanyalah Islam saja.”

“Mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan junjungan kita Yang Mulia Rasulullah saw  bukanlah hanya dongeng semata. Dengan mematuhi beliau s.a.w, kita sendiri bisa mengalami mukjizat-mukjizat tersebut dan dengan berkat renungan dan pengalaman, kita akan memperoleh kepastian yang sempurna. Betapa luhurnya derajat Nabi Suci s.a.w. yang sempurna itu yang Kenabiannya selalu memberikan bukti-bukti baru kepada para pencari kebenaran sehingga berkat pengamatan berbagai tanda-tanda berkesinambungan, kita dimungkinkan mencapai tahapan bisa melihat Allah swt  dengan mata kita sendiri. Karena itulah agama yang benar hanyalah Islam dan Nabi yang benar adalah beliaus.a.w. itu yang menjadi sumber mata air kebenaran.”

“Bersandar kepada dongeng-dongeng yang bisa disangkal dengan segala macam dalih bukanlah pilihan dari seorang yang bijak. Ratusan sudah manusia yang dipertuhan di bumi ini dan mereka bertumpu pada berbagai dongeng-dongeng kuno, padahal pencipta keajaiban yang sebenarnya adalah beliau yang menjadi sungai dengan mukjizat yang tidak pernah mengering. Sosok tersebut adalah junjungan dan penghulu kita, Yang Mulia Rasulullah saw  Pada setiap abad, Allah swt  Yang Maha Agung telah membangkitkan seseorang yang akan memperlihatkan tanda-tanda dari wujud yang sempurna dan suci tersebut. Dalam abad ini Dia telah mengutus aku dengan derajat sebagai Al-Masih yang Dijanjikan. Banyak tanda-tanda yang diperlihatkan di langit dan beraneka kejadian luar biasa sedang berlangsung sekarang ini. Setiap pencari kebenaran silakan datang dan berdiam bersamaku guna menyaksikan tanda-tanda tersebut, apakah kalian dari umat Kristiani, Yahudi atau pun Arya. Semua ini merupakan berkat dari Yang Mulia Rasulullah saw ” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; Rohani Khazain, vol. 13, hal. 155-157, London, 1984).

***

“Bukti dari kehidupan rohani hanya bisa ditemukan pada wujud berberkat Yang Mulia Rasulullah saw. Alangkah hampanya hidup yang tidak dirahmati dan alangkah tidak bergunanya hidup tidak berberkat. Sesungguhnya hanya ada dua kehidupan yang patut dihargai. Pertama adalah kehidupan dari Yang Maha Hidup dan Dzat Yang Tegak Dengan Sendirinya yang menjadi sumber dari segala kebaikan, sedangkan yang kedua adalah kehidupan yang baik yang menuju kepada Tuhan. Kami bisa membuktikan bahwa kehidupan demikian itu adalah kehidupan Yang Mulia Rasulullah saw bagi siapa langit telah memberikan kesaksian di setiap abad sebagaimana juga yang terdapat sekarang ini. Mereka yang tidak mengikuti kehidupan yang baik sama saja dengan orang yang sudah mati.”

“Aku bersaksi demi Allah swt bahwa Dia telah memberikan kepadaku bukti dari kehidupan abadi, keagungan penuh dan kesempurnaan dari junjungan kita Yang Mulia Nabi Muhammad saw kepada siapa kita patut patuh dimana dengan mengikuti dan mengasihi beliau saw, aku telah melihat tanda-tanda samawi yang turun atas diriku sehingga hatiku penuh dengan Nur kepastian. Aku telah menyaksikan demikian banyak tanda-tanda sehingga melalui Nur tanda-tanda itu aku telah menyaksikan Tuhanku.” (Tiryaqul Qulub, Rohani Khazain, vol. 15, hal. 139-140, London, 1984).

***

“PADA BEBERAPA TAHAPAN kehidupan Yang Mulia Rasulullah saw terlihat sebagai yang sedang amat direndahkan, tetapi pada saat bersamaan beliau terlihat sebagai dibantu dan dicerahkan oleh dukungan Nur rohul kudus sebagaimana terlihat dalam tindakan dan perilaku beliau. Lingkaran Nur dan berkat beliau itu demikian luas dan lebarnya sehingga bukti dan refleksinya menjadi nyata secara abadi. Rahmat dan karunia Ilahi yang turun di abad ini hanya bisa diperoleh dengan mengikuti dan mematuhi beliau. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa disebut sebagai muttaqi atau yang memperoleh keridhoan Allah swt, tidak juga yang bersangkutan bisa menjadi penerima berbagai berkat, rahmat, pemahaman, kebenaran dan kashaf yang hanya diberikan kepada mereka dengan tingkat kesucian batin tertinggi, kecuali ia itu sepenuhnya patuh kepada Yang Mulia Rasulullah saw. Hal ini ditegaskan oleh Allah swt  dalam ayat:

قُل إِن كُنتُم تُحِبّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعوني يُحبِبكُمُ اللَّهُ وَيَغفِر لَكُم ذُنوبَكُم ۗ

Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah swt , maka ikutilah aku, kemudian Allah swt  pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu”’ (QS.3 Ali Imran:32).

“Aku inilah bukti praktis yang hidup dari janji Ilahi tersebut. Kalian akan bisa mengenaliku melalui tanda-tanda dari mereka yang menjadi kekasih Allah swt  dan para sahabat-Nya sebagaimana dikemukakan dalam Al-Quran.” (Malfuzat, vol. I, hal. 203-204).

***

Hasil Menjadi Pengikut Rasulullah

“HASIL IKUTAN DARI mengikuti jejak langkah Yang Mulia Rasulullah saw  khususnya yang berkaitan dengan kasih, hormat dan kepatuhan kepada beliau, adalah yang bersangkutan akan menjadi kekasih Allah swt dimana dosa-dosanya akan diampuni. Jika ia telah menelan racun dosa maka racun itu akan dijadikan tidak berdaya karena vaksin kasih dan kepatuhan. Sebagaimana seseorang bisa disembuhkan dari suatu penyakit dengan menggunakan obat, begitu juga seorang pendosa dapat dibersihkan dari dosa-dosanya. Seperti sinar yang mengusir kegelapan dan sebuah vaksin antidotal bisa memusnahkan efek dari racun, begitu juga kasih dan kepatuhan yang murni akan menimbulkan efek yang sama. Serupa api yang membakar langsung maka perbuatan baik bagi manifestasi keagungan tindakan Tuhan akan menyerupai api yang membakar dosa. Jika seseorang beriman sepenuhnya kepada Yang Mulia Rasulullah saw  dan mengakui kebesaran beliau, mematuhinya dengan rajin, kasih dan kepatuhan, sedemikian rupa sehingga ia mencapai taraf fana, maka ia karena hubungannya yang dekat kepada Yang Mulia Rasulullah saw  akan ikut menikmati Nur Ilahi yang telah turun di atas beliau.

Sebagaimana Nur dan kegelapan saling berseberangan, kegelapan dalam batinnya akan pupus sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Ia akan dikuatkan oleh Nur, kebaikan yang terbaik akan memancar dari dirinya sedangkan Nur kecintaan Allah swt  akan mengalir keluar dari seluruh anggota tubuhnya. Kegelapan di dalam dirinya akan sirna sama sekali dan ia akan menikmati pencerahan dalam akal maupun dalam perilaku, sedemikian rupa sehingga seluruh kegelapan dosa akan meninggalkan batinnya. Jelas bahwa kegelapan dan cahaya tidak bisa eksis di satu tempat, seperti itu jugalah Nur keimanan dan kegelapan dosa tidak mungkin berada di satu tempat. Kalau seseorang memang belum pernah melakukan dosa maka kemampuannya mencipta dosa akan diredam sama sekali dan ia akan berhasrat melakukan segala hal yang baik sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran:

اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيكُمُ الإيمانَ وَزَيَّنَهُ في قُلوبِكُم وَكَرَّهَ إِلَيكُمُ الكُفرَ وَالفُسوقَ وَالعِصيانَ ۚ

 ‘Allah swt  telah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan telah menampakkannya indah dalam kalbumu dan Dia telah menjadikan kamu benci kepada kekafiran dan kejahatan dan kedurhakaan’ (QS.49 Al- Hujurat: 8).

(Review of Religions, Urdu, vol. I, no. 5, hal. 194-195).

***

“PENCAPAIAN DERAJAT sebagai orang yang dikasihi dan diridhoi Allah swt  dan menjadi salah seorang sahabat-Nya, tidak mungkin dicapai tanpa kepatuhan kepada Yang Mulia Rasulullah saw  Tidak mungkin bagi seorang Kristen, Arya atau Yahudi memperlihatkan tanda-tanda dan nur keridhoan Tuhan jika memusuhi pengikut  Rasulullah saw  yang benar.”

“Ada satu cara yang jelas untuk menentukan hal ini. Tidak ada lawan yang berasal dari umat lain seperti Kristen dan yang lainnya yang memusuhi seorang Muslim muttaqi pengikut setia Rasulullah saw  bisa berdiri tegak memaklumkan bahwa ia sanggup mempertunjukkan tanda-tanda yang sama dari langit yang mendukung Sang Muslim, atau mampu mengungkapkan rahasia-rahasia langit serta pertolongan samawi melalui pengabulan doa. Tidak juga ia akan mampu mempertunjukkan tanda-tanda alamiah yang dimunculkan bagi Sang Muslim, atau pun nubuatan tentang bantuan Allah swt  serta nubuatan peringatan tentang akhir yang buruk bagi para musuhnya. Tidak akan ada dari mereka itu yang akan berani menentang seorang pengikut setia Yang Mulia Rasulullah saw  dengan cara demikian karena dalam hati kecilnya mereka mengakui kedustaan mereka dan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan Allah swt  Yang Maha Benar yang menjadi penolong bagi para muttaqi dan sahabat dari para muminin.” (Tasdiqin Nabi, hal. 45-46 atau Maktubati Ahmadiyah, vol. 3,hal. 78-79).

***

“BERIMAN KEPADA seorang Rasul Allah swt  merupakan prasyarat untuk beriman kepada Ketauhidan Ilahi. Yang satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lainnya. Seseorang yang menyatakan beriman kepada Ke-Esaan Tuhan tanpa mengikuti Yang Mulia Rasulullah saw  adalah sama dengan tulang kering yang tidak berisi sumsum dan seolah memegang lentera gelap yang tidak memberikan cahaya. Seseorang yang meyakini bahwa Tuhan adalah wujud tanpa sekutu tetapi tidak beriman kepada Yang Mulia Rasulullah saw  sama saja dengan seorang yang hatinya dijangkiti kusta serta buta karena tidak memahami apa yang dimaksud dengan Ketauhidan Ilahi. Syaitan masih lebih baik dari dirinya dalam pengakuan mengenai Ketauhidan Ilahi karena syaitan meskipun mungkar namun ia meyakini eksistensi Tuhan, padahal orang demikian itu tidak meyakini Allah swt (Haqiqatul Wahyi, Qadian, Magazine Press, 1907; Rohani Khazain, vol. 22, hal. 122, London, 1984).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 219-229, ISBN 185372-765-2

 

(Visited 95 times, 1 visits today)