Yang Mulia Rasulullah Sebagai Nabi Yang Hidup

SEMUA MUKJIZAT YANG DIPERLIHATKAN oleh semua Nabi-nabi terdahulu telah berakhir bersamaan dengan akhir hayat mereka namun mukjizat Nabi kita Yang Mulia Rasulullah saw tetap segar dan hidup pada setiap masa. Bahwa mukjizat-mukjizat itu tetap hidup dan tidak tunduk kepada maut merupakan bukti bahwa hanya Yang Mulia Rasulullah saw saja yang merupakan Nabi yang hidup dan bukti bahwa kepada beliau telah dikaruniakan kehidupan hakiki. Ajaran beliau merupakan ajaran yang hidup karena buah dan berkatnya tetap bisa dinikmati sekarang sebagaimana dinikmati umat pada masa 1300 tahun yang lalu. Kita memiliki ajaran yang jika dilaksanakan dengan sempurna maka seseorang bisa menyatakan bahwa ia telah diberkati dengan buah dan rahmat dari ajaran itu dan bahwa ia telah menjadi tanda Ilahi. Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa kita bisa menjumpai buah dan berkat dari Kitab Suci Al- Quran di sekitar kita dan kita tetap bisa menemukan rahmat dan tanda-tanda samawi yang diberikan berkat kesetiaan kepada Yang Mulia Rasulullah saw. Dengan cara demikian itulah Allah Yang Maha Agung telah menetapkan Jemaat ini sebagai saksi hidup bagi kebenaran Islam serta membuktikan bahwa rahmat dan tanda-tanda yang muncul 1300 tahun yang lalu juga muncul di masa kini berkat kepatuhan yang sempurna kepada Yang Mulia Rasulullah saw. Beratus-ratus tanda-tanda yang telah diberikan. Kami telah mengundang pemuka-pemuka dari berbagai bangsa dan semua agama lain agar mereka juga memperlihatkan tanda-tanda kebenaran mereka untuk melawan kami namun tidak ada satu pun yang mampu mengemukakan contoh kebenaran dari agama mereka.”

(Malfuzat, vol. III, hal. 38)

***

“JANJI KEMENANGAN yang diberikan Allah Yang Maha Perkasa melalui keagungan Ilahiat sebagai perlawanan terhadap semua musuh, semua penyangkal, mereka yang kaya raya, para penguasa yang berkuasa, segenap ahli filosofi, semua penganut dari agama-agama lainnya terhadap sosok yang bersahaja, lemah, miskin, tidak terpelajar dan tidak terlatih, yang telah dipenuhi pada masanya dan sampai sekarang pun tetap dipenuhi, jelaslah bukan hasil kerja seorang manusia biasa. Sosok manusia miskin, kesepian dan bersahaja itu memaklumkan ajarannya dan menegakkan agamanya pada saat ia tidak memiliki siapa pun bersamanya kecuali segelintir sahabat-sahabat miskin dimana seluruh umat Muslim yang ada bisa dimasukkan dalam satu kamar kecil dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari-jari dua tangan saja. Mereka harus menghadapi para penguasa dunia dan mereka harus menangani manusia berjuta-juta bilangannya yang bertekad menghancurkan mereka.”

“Tetapi sekarang perhatikanlah bagaimana Allah swt telah menyebarkan orang-orang lemah tersebut ke seluruh penjuru bumi dan bagaimana Dia telah menganugerahkan kekuasaan, kekayaan dan kerajaan atas mereka dan bagaimana buat lebih dari seribu tahun mereka dikaruniai tahta dan mahkota. Pernah jumlah mereka tidak lebih besar dari angota sebuah keluarga kecil sedangkan sekarang ini mereka berjumlah ratusan juta manusia. Allah swt menjanjikan Dia akan menjaga kemurnian Firman-Nya dan apakah tidak benar bahwa ajaran Yang Mulia Rasulullah saw yang datang berupa firman dari Allah Yang Maha Agung nyatanya masih tetap terjaga sedangkan manusia yang telah menghafalkannya berjumlah ratusan ribu orang? Allah swt menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang akan mampu menandingi Kitab-Nya dalam kebijakan dan pemahaman, keindahan komposisinya, penguasaan pengetahuan tentang Ilahi dan dalam mengemukakan argumentasi keagamaan, dan nyatanya memang demikian itulah yang terjadi. Jika ada yang mempertanyakan hal ini, silakan yang bersangkutan maju dan buatkan tandingannya, atau silakan ia mengambil dari kitab-kitab lain kebenaran, kehalusan telaah, mutiara hikmah dan keajaiban yang sama sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam buku ini yang bersumber dari Al-Quran, dan untuk itu kami sediakan hadiah sebesar sepuluh ribu rupee. Kalau dalam kenyataannya ia gagal melakukannya maka ia menjadi terhukum dalam pandangan Tuhan. Allah swt telah menjanjikan akan menarik negeri Syria dari kekuasaan umat Kristiani dan akan menyerahkannya kepada umat Muslim. Demikian itulah yang telah terjadi dan sekarang umat Muslim mewarisi tanah tersebut. Semua nubuatan demikian selalu diikuti oleh Kekuatan dan Kekuasaan Ilahi.”

“Nubuatan demikian tidak sama dengan ramalan astrologi yang menceritakan tentang akan datangnya gempa bumi, bencana kelaparan, wabah penyakit atau serangan suatu bangsa kepada bangsa lain. Dengan cara mengikuti firman Tuhan dan ikutannya maka mereka yang mematuhi Al-Quran serta beriman sepenuhnya kepada Yang Mulia Rasulullah saw serta mencintai beliau dan menganggap beliau itu lebih suci, lebih sempurna dan lebih luhur dibanding semua mahluk dan semua Nabi-nabi, Rasul dan para orang suci, maka mereka akan selalu menikmati segala karunia nubuatan tersebut dan ikut minum dari cawan yang diminumkan kepada Nabi Musa as atau Nabi Isa as. Mereka akan diterangi oleh Nur Israili dan menikmati karunia para Nabi-nabi turunan Yakub as. Maha Suci Allah, betapa luhurnya derajat Khãtaman Nabiyyĩn dan betapa agungnya Nur yang telah diperoleh seorang hamba beliau yang lemah ini. “Ya Allah, turunkanlah berkat-Mu atas Nabi-Mu dan kekasih-Mu, penghulu para Nabi, sebaik-baik Rasul dan Khataman Nabiyin, Muhammad saw dan para pengikut serta sahabat beliau dan karuniakan salam Engkau atas mereka.”

“Para ulama Kristen, para Pandit, umat Brahmo dan Arya serta para lawan kami lainnya tidak usah mempertanyakan dimana berkat-berkat tersebut dan mana Nur Ilahi yang dinikmati para pengikut Yang Mulia Yang Mulia Rasulullah saw bersama-sama dengan Nabi Musa as dan Nabi Isa as. Dimanakah pewarisan Nur tersebut yang katanya hanya untuk umat Muslim dan dihalangi bagi umat dan penganut agama lain? Agar keraguan mereka dapat ditenangkan, kami telah mengemukakannya beberapa kali dalam catatan kaki, bahwa kami inilah yang bertanggungjawab mengemukakan bukti-bukti mengenai hal ini kepada para pencari kebenaran yang sudah siap menjadi Muslim setelah menyaksikan keunggulan daripada agama Islam.”

“Dalam catatan kaki kedua[1], secara singkat telah kami kemukakan bagaimana Allah Yang Maha Kuasa memanifestasikan kekuatan Ilahi-Nya serta menganugerahkan berkat dan rahmat atas umat Muslim dan bagaimana Dia telah menjanjikan serta memberikan kabar gembira tentang kejadian-kejadian yang berada di luar kemampuan nalar manusia. Karena itu jika ada ulama Kristen, para Pandit atau Brahmo yang menyangkal hal-hal tersebut karena terpengaruh kekelaman batinnya, begitu pula dengan bangsa Arya serta para penganut agama lain, kalau memang benar-benar ingin mencari Tuhan maka menjadi kewajiban bagi mereka sebagaimana para pencari kebenaran lainnya untuk menanggalkan seluruh rasa kesombongan, kemunafikan, pengagungan dunia dan sifat keras kepala, dimana karena hanya ingin mencari kebenaran hakiki maka datanglah kepada kami sebagaimana laiknya seorang yang miskin dan bersahaja serta bersikap teguh, patuh, tulus dan sabar seperti seorang muttaqi agar dengan perkenan Allah swt ia mencapai tujuannya. Kalau kemudian ada yang berpaling maka ia menjadi saksi atas kefasikannya sendiri.”

(Barahin Ahmadiyah, Rohani Khazain, vol. 1, hal. 266- 275, London, 1984).

[1] Berkaitan dengan catatan kaki ke 2 dalam Barahin Ahmadiyah di halaman 293 Rohani Khazain vo l. 1. (Penerbit)


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 286-290, ISBN 185372-765-2

 

 

(Visited 40 times, 1 visits today)