Revolusi Akbar Melalui Rasulullah saw

“SUDAH MENJADI BUKTI YANG NYATA akan kebenaran Kenabian dari Yang Mulia Rasulullah saw dan kesahihan dari Kitab Suci Al-Quran yang menyatakan bahwa Yang Mulia Rasulullah saw diutus ketika dunia ini sedang sangat membutuhkan seorang Pembaharu Akbar dan bahwa beliau tidak wafat dan tidak juga terbunuh sampai telah selesai menegakkan kebenaran di bumi. Ketika beliau muncul sebagai seorang Nabi, beliau langsung menunjukkan kalau memang wujudnya amat diharapkan oleh dunia dan beliau langsung menegur umat manusia yang telah tenggelam dalam paganisme, kefasikan dan perbuatan dosa. Dalam Kitab Suci Al-Quran banyak ditemui peringatan demikian seperti:

تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الفُرقانَ عَلىٰ عَبدِهِ لِيَكونَ لِلعالَمينَ نَذيرًا

‘Maha beberkat Dia yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba- Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam’ (QS.25 Al- Furqan: 2)

yang merupakan peringatan bagi umat manusia yang telah rusak akidahnya dan telah melenceng jauh cara hidupnya. Ayat ini menjadi bukti dari pernyataan Al-Quran bahwa Yang Mulia Rasulullah saw muncul ketika seluruh dunia dan semua umat manusia telah rusak akhlaknya, dimana mereka yang semula melawan akhirnya menerima pernyataan beliau, tidak dengan berdiam diri tetapi dengan pengakuan melalui baiat. Dari sini jelas kalau Yang Mulia Rasulullah saw datang ketika saatnya memang sudah harus muncul seorang Nabi yang sempurna dan benar.”

“Kalau kita lalu menelaah kapan saatnya beliau dipanggil pulang, Al-Quran secara eksplisit menjelaskan bahwa kepulangan beliau adalah setelah selesai menuntaskan tugasnya. Beliau dipanggil pulang oleh Allah swt setelah turunnya ayat yang menyatakan bahwa akidah pendidikan bagi umat Muslim telah sempurna dan semua wahyu yang berkaitan dengan itu telah diturunkan. Tidak hanya itu, juga dinyatakan bahwa pertolongan Allah swt sudah digenapkan dan beribu manusia telah menganut Islam. Juga diwahyukan bahwa hati mereka telah dipenuhi dengan keimanan dan ketakwaan sehingga mereka menjauhi kedurhakaan dan dosa. Akhlak mereka telah mengalami perubahan luar biasa yang mempengaruhi perilaku dan jiwa mereka. Kemudian dikemukakan dalam surah An-Nashr bahwa tujuan dari Kenabian beliau telah terpenuhi dan Islam telah mencapai kemenangan di hati manusia. Yang Mulia Rasulullah saw menyatakan bahwa surah ini mengindikasikan kewafatan beliau. Beliau kemudian melaksanakan ibadah Haji dan menyebutnya sebagai Haji Wada (perpisahan) dimana beliau menyampaikan khutbah panjang dari punggung seekor unta. Beliau meminta kesaksian mereka yang hadir bahwa beliau telah menyampaikan keseluruhan firman Tuhan yang ditugaskan kepada beliau untuk disampaikan kepada mereka. Setiap dari mereka yang hadir menyatakan dengan suara lantang bahwa benar beliau telah menyampaikan kepada mereka. Yang Mulia Rasulullah saw kemudian menunjuk ke langit dan mengatakan: ‘Engkau menjadi saksi, ya Allah.’ Beliau kemudian mengingatkan mereka secara panjang lebar karena beliau tidak akan ada lagi bersama mereka pada tahun yang akan datang. Beliau kemudian kembali ke kota Medinah dan wafat pada tahun berikutnya. Turunkanlah berkat dan salam Engkau, ya Allah, atas diri beliau. Semua indikasi ini ada dikemukakan dalam Al-Quran dan dibenarkan oleh sejarah agama Islam.”

“Adakah dari antara penganut agama Kristen, Yahudi atau Arya yang bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa Pembaharu mereka masing-masing memang datang pada saat dibutuhkan, dan pulang kembali ke Tuhan-nya setelah tugas mereka selesai, disamping para lawannya mau mengakui kekeliruan cara hidup serta ketidak-salehan mereka? Aku merasa yakin sekali bahwa tidak ada satu pun umat lain dari luar agama Islam yang akan mampu memberikan bukti demikian. Yang diketahui pasti, Nabi Musa as diutus untuk kehancuran Firaun dan menyelamatkan umat beliau dari penindasan serta membimbing mereka ke arah yang benar. Adalah benar bahwa beliau memang berhasil menyelamatkan umatnya dari penindasan Firaun namun tidak mampu menyelamatkan mereka dari godaan Syaitan, dan beliau juga tidak berhasil membawa mereka ke tanah yang dijanjikan. Keturunan Bani Israil ternyata tidak bisa memurnikan batin mereka di tangan beliau dan mereka berulangkali melakukan kedurhakaan sampai kemudian Nabi Musa as wafat ketika mereka masih dalam keadaan demikian. Sepanjang menyangkut pengikut Nabi Isaa.s. cukuplah Kitab Injil menjadi saksi atas kondisi mereka, tidak perlu lagi penjelasan tambahan. Bukanlah suatu hal yang tertutup adanya kenyataan bahwa betapa sedikitnya umat Yahudi yang menerima Nabi Isa as padahal beliau sengaja diutus kepada mereka. Jika harkat Kenabian Nabi Isa dinilai dari tolok ukur jumlah pengikut pada masanya maka Kenabian beliau tidak akan memenuhi syarat.”

(Noorul Quran, no. 1, Rohani Khazain, vol. 9, hal. 358-369, London, 1984).

***

“YANG MULIA RASULULLAH saw dibangkitkan ketika seluruh dunia sedang tenggelam dalam paganisme, kedurhakaan dan penyembahan mahluk, dimana semua orang telah meninggalkan akidah yang murni dan melupakan jalan yang lurus. Penyembahan berhala berkembang luas di tanah Arab, adapun bangsa Parsi menyembah api, sedangkan di India disamping penyembahan berhala ditambah lagi dengan penyembahan berbagai macam mahluk lainnya. Banyak sudah buku ditulis mengenai hal ini dimana berpuluh-puluh manusia yang telah dipertuhan sebagai bagian dari penyembahan Avatar[1].

“Berdasarkan pendapat dari Pendeta Mr. Bourt[2] dan beberapa penulis Inggris lainnya, tidak ada agama yang demikian rancunya sebagaimana agama Kristen dimana agama ini sudah jatuh kredibilitasnya akibat penyelewengan dan akidah salah para ulama atau pendetanya. Dalam akidah Kristen tidak hanya satu atau dua orang saja yang dipertuhan tetapi juga beberapa benda lainnya. Kedatangan Yang Mulia Rasulullah saw pada saat kegelapan demikian dimana situasi menuntut munculnya seorang Pembaharu agung guna memberikan petunjuk Ilahi yang akan mencerahkan dunia dengan Ketauhidan Ilahi serta menghapus paganisme dan penyembahan mahluk yang merupakan induk dari segala kemudharatan, merupakan bukti yang jelas bahwa beliau adalah Rasul Allah swt yang benar dan jauh mengungguli Rasul-rasul lainnya. Kebenaran beliau ditegaskan oleh kenyataan bahwa dalam zaman jahiliah demikian, norma hukum alam dan kebiasaan Allah swt mengharuskan adanya seorang Pembimbing yang sempurna.”

“Sudah menjadi norma abadi dari Tuhan semesta alam bahwa ketika penderitaan dunia telah mencapai puncaknya, rahmat Ilahi akan turun untuk menanggulanginya. Ketika bumi dilanda kekeringan berkepanjangan yang mengancam kelanjutan kehidupan manusia, maka Allah Yang Maha Pengasih akan menurunkan hujan. Saat beratus dan beribu-ribu manusia telah mati karena suatu wabah, maka akan turun pertolongan berupa udara atau iklim yang kemudian dibersihkan oleh unsur-unsur alam atau ditemukannya suatu jenis pengobatan baru. Ketika suatu bangsa terperangkap dalam penindasan tirani, akan muncul seorang penguasa yang adil dan pengasih. Begitu pula saat manusia melupakan jalan Allah swt dan meninggalkan Ketauhidan dan penyembahan Wujud-Nya, maka Allah Yang MahaLuhur akan mengaruniakan wawasan sempurna kepada salah seorang hamba-Nya dimana setelah memberkati yang bersangkutan dengan firman-Nya, lalu mengutusnya untuk membimbing manusia agar ia memperbaiki kebusukan yang telah merasuk. Sang Maha Pengasih yang memelihara serta mendukung eksistensi dunia ini tidak akan menahan atau membatalkan sifat Rahmat-Nya.”

“Setiap sifat-sifat Wujud-Nya akan memanifestasikan dirinya pada saatnya yang tepat. Logika sehat telah membuktikan bahwa untuk mengatasi setiap bentuk bencana maka sifat Allah swt yang relevan akan mewujud pada saat itu. Sejarah telah membuktikan dan juga dibenarkan oleh para penentang serta dipertegas oleh Al-Quran bahwa pada saat diutusnya Yang Mulia Rasulullah saw memang benar bencana telah mencapai puncaknya karena manusia di seluruh dunia telah meninggalkan jalan Ketauhidan dan ketulusan. Adapun mengenai ibadah kepada Tuhan, semua orang mengakui bahwa hanya Yang Mulia Rasulullah saw saja yang telah memperbaiki kerusakan akhlak dan menyelamatkan dunia dari kegelapan paganisme dan penyembahan mahluk, lalu menegakkan Ketauhidan Ilahi sehingga tidak bisa diragukan lagi bahwa beliau itu seorang Pembimbing yang benar dari Allah Yang MahaKuasa. Argumentasi ini dikemukakan Al-Quran dalam ayat:

تَٱللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍۢ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَعْمَـٰلَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ ٱلْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ ﴿٦٤﴾ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِى ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۙ وَهُدًۭى وَرَحْمَةًۭ لِّقَوْمٍۢ يُؤْمِنُونَ ﴿ ﴾ وَٱللَّهُ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآ ۚ إِنَّ فِى ذَ ٰلِكَ لَءَايَةًۭ لِّقَوْمٍۢ يَسْمَعُونَ

‘Demi Allah swt , sesungguhnya Kami telah mengirimkan rasul-rasul kepada semua umat yang sebelum engkau tetapi syaitan menampakkan perbuatan mereka indah bagi mereka. Maka ia menjadi pemimpin bagi mereka pada hari itu dan bagi merekalah azab yang pedih. Dan Kami tidak menurunkan kepada engkau kitab ini kecuali supaya engkau dapat menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang mereka telah menimbulkan perselisihan-perselisihan dan supaya menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Allah telah menurunkan air dari langit, lalu Dia menghidupkan dengan itu bumi setelah matinya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi kaum yang mau mendengarkan kebenaran’ (QS.16 An-Nahl:64-66).

Kami ingin mengingatkan kembali bahwa tiga unsur yang telah kami kemukakan yang menghasilkan kesimpulan bahwa Yang Mulia Rasulullah saw adalah seorang Pembimbing yang benar, ada dikemukakan secara indah dalam ayat di atas. Pertama adalah tentang kalbu manusia yang telah menyimpang dan terperangkap dalam kekeliruan selama berabad-abad, ditamsilkan sebagai tanah yang kering dan mati sedangkan firman Tuhan ditamsilkan sebagai hujan yang turun dari langit, karena memang merupakan kaidah abadi bahwa rahmat Ilahi akan selalu menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Kaidah ini tidak terbatas kepada air hujan phisik saja tetapi juga hujan rohani yang akan turun pada masa kesulitan yaitu ketika kefasikan telah merata. Dalam keadaan demikian rahmat Tuhan pasti akan berfungsi untuk mengatasi bencana yang mempengaruhi kalbu manusia. Ayat ini lalu menunjuk kepada unsur kedua yaitu bahwa seluruh dunia telah rusak sebelum kedatangan Yang Mulia Rasulullah saw. Unsur ketiga merujuk kepada kenyataan bahwa mereka yang mati rohaninya telah dihidupkan kembali oleh firman Tuhan.”

“Kesimpulan yang bisa ditarik dari sini ialah bahwa semua itu merupakan tanda kebenaran Kitab Suci Al-Quran dimana para pencari kebenaran digiring untuk menyimpulkan bahwa Kitab Suci Al-Quran memang benar dari Allah swt Karena argumentasi ini juga menegakkan kebenaran dari Yang Mulia Rasulullah saw maka disimpulkan juga bahwa beliau itu memang kenyataannya mengungguli semua Nabi-nabi lainnya karena Yang Mulia Rasulullah saw harus menangani seluruh dunia dimana tugas yang beliau emban sebenarnya setimpal dengan karya dari seribu atau dua ribu Nabi-nabi lainnya.”

(Barahin Ahmadiyah, Rohani Khazain, vol. 1, hal. 112-116, London, 1984).

***

“ZAMAN PADA SAAT KEDATANGAN YANG MULIA RASULULLAH saw memang membutuhkan seorang Pembaharu Samawi yang akbar yang membawa petunjuk Ilahi dimana ajaran yang beliau bawa nyatanya adalah hal yang benar dan amat dibutuhkan serta mencakup segala hal yang diperlukan manusia. Ajaran beliau demikian efektif sehingga berhasil menarik ratusan ribu hati manusia kepada kebenaran dan menanamkan dalam pikiran mereka bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah swt

“Beliau telah menyempurnakan tujuan paripurna dari Kenabian yaitu beliau telah mengajarkan prinsip-prinsip keselamatan rohani sedemikian sempurna sehingga tidak ada ajaran Nabi-nabi lain yang bisa menimbalinya. Semua kenyataan tersebut mendorong orang untuk yakin bersaksi bahwa sesungguhnya Yang Mulia Rasulullah saw adalah seorang pembimbing yang benar dari Allah swt

“Tidak ada keselamatan bagi seseorang yang karena kefanatikan dan kedegilannya lalu menyangkal semua tanda-tanda kebenaran dan ketakwaan yang mewujud begitu sempurna dalam diri Yang Mulia Rasulullah saw yang tidak akan ditemui pada Nabi-nabi lainnya. Orang-orang seperti itu bahkan akan menyangkal keberadaan Tuhan, jika pun misalnya hanya untuk menyangkal kebenaran dan ketakwaan Yang Mulia Rasulullah saw Biarlah mereka yang berani menyangkal, maju ke muka dan memperlihatkannya kepada kami.”

(Barahin Ahmadiyah, Rohani Khazain, vol. 1, hal. 112-114, London, 1984).

***

“NABI KITA YANG MULIA RASULULLAH saw adalah seorang Pembaharu akbar dalam penyampaian kebenaran dan telah mengembalikan kebenaran yang selama itu hilang kepada dunia. Tidak ada Nabi lain yang bisa menimpali keberhasilan beliau dalam mencerahkan dunia yang semula gelap gulita menjadi terang benderang akibat kehadiran beliau. Beliau tidak wafat sebelum bangsa kepada siapa beliau turun, telah menanggalkan jubah paganisme mereka dan mengenakan jubah Ketauhidan Ilahi. Tidak itu saja, nyatanya mereka telah berhasil mencapai tingkat kerohanian yang tinggi serta juga berlaku takwa dan saleh yang tidak ada padanannya di bagian lain dunia. Keberhasilan demikian belum pernah dicapai Nabi lainnya selain beliau. Adalah suatu kenyataan bahwa Yang Mulia Rasulullah saw dibangkitkan di masa saat dunia tenggelam dalam kegelapan yang membutuhkan seorang Pembaharu akbar. Beliau meninggalkan dunia ini di saat ketika ratusan ribu orang telah meninggalkan paganisme dan penyembahan berhala serta beralih kepada jalan yang lurus dan Ketauhidan Ilahi. Pembaharuan yang demikian sempurna itu adalah hasil karya beliau yang telah mengajar mereka yang tadinya berada di tingkatan hewaniah menjadi manusia seutuhnya. Dengan kata lain, beliau itu telah merubah binatang-binatang liar menjadi manusia untuk kemudian menjadikan mereka sebagai manusia terdidik, lalu merubah mereka menjadi hamba-hamba Allah swt serta meniupkan kerohanian ke dalam diri mereka guna menciptakan hubungan antara mereka dengan Tuhan yang Maha Benar. Mereka ada yang dijagal di jalan Allah swt seperti domba dan diinjak-injak di bawah kaki seperti semut, namun tidak ada dari mereka yang menanggalkan keimanannya dan siap maju terus menghadapi aral rintangan.”

“Tidak diragukan bahwa Yang Mulia Rasulullah saw adalah Adam yang kedua, bahkan Adam yang sesungguhnya di bidang penegakan kerohanian melalui mana nilai-nilai luhur manusia mencapai kesempurnaannya dimana semua kemampuan manusia diarahkan pada fungsi yang sepatutnya dan tidak ada fitrat manusia yang tersisa tidak terbina. Kenabian berakhir dengan beliau tidak saja karena beliau adalah Nabi terakhir dalam skala waktu, tetapi juga karena semua kesempurnaan Kenabian telah mencapai puncaknya pada wujud beliau. Mengingat beliau itu adalah manifestasi sempurna dari sifat-sifat Ilahi maka norma-norma beliau memiliki sifat keagungan dan keindahan. Karena itu beliau disebut sebagai Muhammad saw dan juga Ahmad, serta tidak ada kekikiran dalam Kenabian beliau karena merupakan kemaslahatan bagi seluruh dunia.” (Khutbah Sialkot berjudul ‘Islam,’ Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; Rohani Khazain, vol. 20, hal. 206-207 London, 1984).

***

[1] Avatar adalah inkarnasi dari bentuk manusia atau hewan yang katanya untuk melawan suatu jenis kejahatan tertentu di dunia. Dewa Wisnu dikatakan mempunyai sepuluh ben­tuk avatar seperti ikan, kura-kura, babi hutan dan lain-lain. Bintang film India yang pop­uler seperti Amitabh Bachan pun disembah dimana telah ada tiga buah kuil didirikan untuk memujanya. (Penterjemah)

[2] Kemungkinan yang dimaksud adalah L. Bourt yang mengarang Christianisme Dans L’Empire Perse Sous LA Dinastie Sassanide, Aristide D . Caratzas Pub., 1904. (Penterjemah)


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 300-308, ISBN 185372-765-2

 

(Visited 88 times, 1 visits today)