Hal utama yang harus dipahami adalah apa yang dimaksud dengan realitas Islam, bagaimana cara-cara mencapai realitas tersebut dan apa hasil yang didapat dengan mengikuti realitas demikian karena pengetahuan mengenai hal ini merupakan inti guna memahami berbagai misteri. Alangkah baiknya jika para lawan kita mau mempelajari masalah ini dengan tekun karena berbagai keraguan yang menerpa pikiran mereka adalah akibat dari kegagalan mereka mencerna secara sempurna realitas Islam, sumber-sumbernya dan buahnya. Para lawan agama kita juga akan memperoleh manfaat dari telaah demikian. Mereka akan bisa memahami apa yang dimaksud dengan agama dan apa yang menjadi tanda-tanda kebenarannya. Dalam istilah bahasa Arab, kata Islam mengandung arti uang yang dibayarkan untuk menyelesaikan suatu perjanjian, atau menyerahkan urusan kepada seseorang, atau mencari kedamaian, atau menyerah mengenai suatu hal atau pandangan. Pengertian praktis tentang Islam dikemukakan dalam ayat:

بَلىٰ مَن أَسلَمَ وَجهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحسِنٌ فَلَهُ أَجرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلا خَوفٌ عَلَيهِم وَلا هُم يَحزَنونَ

‘Barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan juga ia berbuat kebajikan, maka bagi ia ada ganjarannya di sisi Tuhan- nya. Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka mengenai yang akan datang dan tidak pula mereka akan berdukacita mengenai apa yang sudah lampau’ (QS.2 Al-Baqarah:113).

“Dengan demikian Islam berarti seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya di jalan Allah Yang Maha Kuasa, yaitu orang yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Perkasa dalam mengikuti petunjuk- Nya dan berusaha mencari keridhoan-Nya, lalu bersiteguh melakukan amal baik demi Allah s.w.t. dan mengerahkan seluruh kemampuan dirinya untuk tujuan tersebut. Dengan kata lain ia menjadi milik Allah sepenuhnya, baik secara akidah mau pun pelaksanaannya.”

“Menjadi milik Allah s.w.t. secara akidah mengandung arti bahwa seseorang meyakini kalau dirinya diciptakan sebagai mahluk yang mengakui Allah Yang Maha Kuasa, kepatuhan kepada-Nya serta mencari kasih dan keridhoan-Nya. Menjadi milik Allah s.w.t. dalam pelaksanaan bermakna melakukan segala sesuatu yang baik dengan segala kemampuannya secara rajin dan penuh perhatian seolah-olah melihat wujud yang Maha Terkasih di dalam cermin keitaatannya.”

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; Ruhani Khazain , vol. 5, hal. 57-58, London, 1984).

Realitas dari Islam adalah seperti menyerahkan leher kita kepada Allah s.w.t. sebagaimana seekor domba kurban, meninggalkan semua keinginan diri sendiri dan mengabdi sepenuhnya kepada keinginan dan keridhoan Allah s.w.t., melenyapkan diri di dalam Tuhan dan seolah memfanakan dirinya sendiri, menjadi diwarnai dengan kasih Allah s.w.t. serta taat penuh kepada-Nya semata-mata karena mengharapkan Kasih-Nya, memperoleh mata yang bisa melihat melalui Dia dan mendapatkan telinga yang bisa mendengar semata-mata melalui Wujud-Nya, menyempurnakan hati yang sepenuhnya diabdikan kepada-Nya, dan mendapat lidah yang bicara semata-mata berdasar perintah- Nya. Ini adalah tingkatan dimana semua kegiatan berkelana telah berakhir, kemampuan manusia telah menyelesaikan semua fungsi-fungsinya dan ego manusia menjadi mati sama sekali. Pada saat itu barulah rahmat Ilahi akan memberikan kepada si pengelana itu hidup yang baru melalui kata-kata-Nya yang hidup dan Nur- Nya yang bercahaya. Ia itu akan memperoleh kehormatan berkomunikasi dengan Allah s.w.t. dan sebuah Nur yang indah yang tidak bisa dikenali melalui penalaran biasa serta tidak dikenal oleh mata manusia, akan masuk ke dalam hatinya sebagaimana firman Allah:

وَنَحنُ أَقرَبُ إِلَيهِ مِن حَبلِ الوَريدِ

‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS.50 Qaf:17).

“Melalui cara demikian, Allah s.w.t. mengaruniakan kedekatan Wujud-Nya kepada manusia.”

“Kemudian datang saatnya dimana kebutaan yang bersangkutan diangkat dan matanya diberi wawasan mendalam dimana manusia akan melihat Tuhan-nya dengan mata yang baru, mendengar suara-Nya serta merasa dirinya ditutup jubah Nur-Nya. Dengan cara demikian itulah tujuan dari agama tercapai dan setelah bertemu dengan Tuhan-nya maka manusia akan membuang baju kotor dari kehidupan rendahnya dan mengenakan jubah Nur serta menanti penampilan daripada Allah dan surga, tidak semata-mata sebagai janji yang akan dipenuhi di akhirat, tetapi dalam kehidupan sekarang pun ia sudah akan memperoleh karunia pemandangan, komunikasi dan surga itu sendiri. Sebagaimana dinyatakan Allah s.w.t. bahwa:

إِنَّ الَّذينَ قالوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ استَقاموا تَتَنَزَّلُ عَلَيهِمُ المَلائِكَةُ أَلّا تَخافوا وَلا تَحزَنوا وَأَبشِروا بِالجَنَّةِ الَّتي كُنتُم توعَدونَ

‘Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka bersiteguh, malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula berduka cita, dan bergembiralah atas khabar suka tentang surga yang telah dijanjikan kepadamu” (QS.41 Ha Mim As-Sajdah: 31)

“Hal ini berarti bahwa para malaikat akan turun kepada mereka yang menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah Yang Maha Esa yang memiliki semua sifat sempurna, yang tidak mempunyai sekutu dalam Wujud maupun Sifat-sifat- Nya, dimana setelah mengikrarkan demikian mereka lalu bersiteguh sehingga tidak ada yang namanya gempa bumi, bencana atau pun ancaman kematian bisa menggoyang keimanan mereka. Allah s.w.t. berbicara dengan mereka dan meyakinkan mereka agar tidak perlu merasa takut atas segala bencana atau musuh serta jangan merasa sedih atas segala kesialan mereka di masa lalu. Dia meyakinkan mereka bahwa Dia ada beserta mereka dan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka surga di dunia ini juga sebagaimana dijanjikan dimana mereka bisa bergembira di dalamnya.”

“Ini adalah janji yang sekarang ini pun telah dipenuhi. Banyak kesaksian dari ribuan orang dalam Islam yang rendah hati yang telah menikmati surga keruhanian sebagaimana dijanjikan dalam firman tersebut. Para penganut Islam yang benar oleh Allah Yang Maha Kuasa telah dijadikan pewaris dari para muttaqi terdahulu dan mereka memperoleh karunia sama seperti yang telah diterima para pendahulunya itu.”

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: Ruhani Khazain , vol. 20, hal. 160-161, London, 1984).


“Seseorang dikatakan muslim jika seluruh wujudnya beserta seluruh kemampuannya, baik jasmani maupun ruhani, diabdikan seluruhnya kepada Allah Yang Maha Agung dan amanah yang ditugaskan oleh Yang Maha Agung dilaksanakan olehnya demi Yang Maha Memberi. Ia itu harus memperlihatkan ke-Muslimannya tidak saja secara akidah tetapi juga dalam amal perbuatan. Dengan kata lain, seorang yang mengaku sebagai Muslim harus membuktikan bahwa tangan dan kaki, hati dan pikiran, penalaran dan pemahaman, kemarahan dan kasih, kelembutan dan pengetahuan, semua kemampuan jasmani dan ruhani, kehormatan dan harta bendanya, kesenangan dan kesukaan serta apa pun yang berkaitan dengan dirinya dari puncak kepala sampai ke alas kakinya, berikut dengan segala motivasi dirinya, segala ketakutan, segala nafsu, telah dibaktikan kepada Allah Yang Maha Perkasa sebagaimana anggota tubuhnya sendiri berbakti kepada dirinya.”

“Harus dibuktikan bahwa ketulusannya telah mencapai suatu tingkatan dimana apa pun yang menjadi miliknya bukan lagi haknya tetapi menjadi milik Allah Yang Maha Agung, dan bahwa semua anggota tubuh serta kemampuan dirinya telah demikian diabdikan kepada pelayanan Allah s.w.t. seolah-olah semuanya itu menjadi anggota tubuh Ilahi.”

“Renungan atas ayat-ayat tersebut (QS.2 Al-Baqarah:113) menunjukkan secara jelas bahwa mengabdikan hidup seseorang kepada pengkhidmatan Allah s.w.t. , yang merupakan inti dari agama Islam, mengandung dua aspek. Pertama, bahwa Allah Yang Maha Kuasa harus menjadi tumpuan kepercayaan dan sasaran yang haqiqi serta yang terkasih, dan bahwa tidak ada satu pun yang disekutukan dalam penyembahan Wujud-Nya, kecintaan kepada-Nya serta harapan kepada-Nya. Semua firman, batasan, larangan serta ketentuan-Nya harus diterima dengan kerendahan hati. Semua kebenaran dan pemahaman yang menjadi sarana untuk menghargai kekuasaan-Nya yang Maha Besar serta untuk meneliti keagungan luas kerajaan dan kekuasaan-Nya yang menjadi petunjuk untuk mengenali karunia dan rahmat-Nya, juga harus ditegakkan.”

“Aspek yang kedua dari pengabdian diri kepada Allah Yang Maha Kuasa adalah dengan mengabdikan dirinya kepada pengkhidmatan kepada mahluk ciptaan-Nya, mengasihi mereka, berbagi beban dan kesedihan mereka. Selayaknya ia bersusah payah untuk memberikan kesenangan kepada mereka dan mengalami kesedihan untuk bisa memberikan penghiburan.”

“Dari sini terlihat bahwa yang namanya realitas Islam itu adalah sesuatu yang amat luhur dimana tidak ada seorang pun bisa benar-benar mengaku Muslim sampai ia itu menyerahkan seluruh wujud dirinya kepada Allah s.w.t. berikut dengan segala kemampuan, nafsu, keinginan dan sampai ia mulai menapaki jalan itu sambil menarik diri sepenuhnya dari ego dan sifat- sifat ikutannya. Seseorang disebut Muslim sejati hanya jika kehidupannya yang semula tidak mengindahkan apa pun, telah mengalami revolusi total dan kecenderungan kepada dosa berikut semua nafsu ikutannya, telah dihapus sama sekali, dimana ia memperoleh kehidupan baru yang dicirikan oleh tindakannya yang hanya melaksanakan perintah Allah, dan terdiri semata-mata dari kepatuhan kepada Sang Maha Pencipta serta kasih kepada mahluk ciptaan-Nya.”

“Kepatuhan kepada Sang Maha Pencipta mengandung arti bahwa untuk memanifestasikan kehormatan-Nya, Keagungan dan Ke-Esaan-Nya, seseorang harus siap menghadapi segala bentuk perendahan dan penghinaan, dan ia harus siap mati beribu kali agar bisa menegakkan Ketauhidan Tuhan. Tangan yang satu harus siap memotong tangan yang lain dengan senang hati semata-mata demi ketaatan kepada-Nya dan kecintaan kepada keagungan Firman-Nya serta haus mencari keridhoan-Nya dimana hal itu menjadikan dosa sebagai suatu yang sangat dibenci seperti api yang menghanguskan atau racun yang mematikan atau petir yang menghancurkan, sehingga seseorang harus melarikan diri menjauhi dengan sekuat tenaganya. Demi memperoleh keridhoan-Nya, kita harus membawahkan semua ego kita. Untuk menciptakan hubungan dengan Wujud-Nya, kita harus siap memasuki semua bentuk mara bahaya dan untuk membuktikan hubungan demikian, selayaknya kita memutuskan hubungan dengan yang lainnya.”

“Berkhidmat kepada sesama mahluk mengandung arti bahwa kita harus berupaya demi kemaslahatan mereka dalam segala kebutuhan mereka semata-mata karena Allah s.w.t. dimana hubungan saling ketergantungan satu sama lain semata-mata didasarkan pada simpati tanpa pamrih. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan harus dibantu dengan segala kemampuan pemberian Tuhan yang dimilikinya dan harus berupaya untuk perbaikannya baik di dunia mau pun di akhirat.”

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; Ruhani Khazain , vol. 5, hal. 59-62, London, 1984).

(Visited 14 times, 1 visits today)