Kewafatan Nabi Isa ibnu Maryam as.


1. Beberapa Keterangan Dari Al-Quranul-Majid

Tag: Tuwuffiya dan Rafi’uka Ilayya

(1) Keterangan yang pertama, Allah berfirman:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_imron145“Tidaklah Muhammad itu melainkan seorang Rasul, semua Rasul sebelumnya telah wafat, apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu akan berpaling dari agama kamu (Islam ini)?” (Ali Imran, 3:145)

Pada hari peperangan Uhud tersiarlah kabar bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terbunuh, maka orang-orang munafiq berkata kepada orang-orang Islam: “Kembalilah kamu kepada agama kamu semula”. Jadi, karena itulah ayat tersebut diturunkan (Tafsir Al-Jalalain, Juz I, hal. 59) dan (Tafsir Al-Khazin, hal. 359)

Dari ayat ini sudah jelas bahwa semua Nabi itu telah berlalu, bukan berlalu dari satu negeri ke negeri lain, melainkan pergi dari dunia ini ke Akhirat.

Allah subhanahu wa Ta’ala hendak menyatakan kepada orang-orang Islam bahwa sebagaimana semua Rasul yang terdahulu (wafat), dengan jalan itu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan berlalu.

Kata” أَفَإِ مَّاتَ أَوْ قُتِلَ “ yang berarti “Apakah kalau dia mati atau terbunuh” itu menunjukkan bahwa jalan berlalu itu ada dua, yaitu: (1) wafat atau (2) terbunuh, bukan naik ke langit.

Para Ahli Tafsir memberikan keterangan berkenaan dengan ayat itu begini:

(a) Kalimat: 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Mazhhari584 (Tafsir Mazhhari, Jilid I, hal. 584). Artinya “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Mazhhari584 ” itu berarti “telah berlalu”, “telah wafat sebelumnya semua Rasul”, maka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam akan wafat pula seperti mereka itu.

(b) Kalimat: 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Tabshirur-Rahman771 (Tabshirur-Rahman, Jilid I, hal. 771) Artinya: “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Mazhhari584 ”, adalah telah berlalu, di antara mereka ada yang telah wafat dan ada yang telah dibunuh.

(c) Kalimat: 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Sirajum-Munir584 (Sirajum-Munir, Jilid I, hal. 584), artinya: “Nabi Muhammad pun akan berlalu seperti para Nabi yang terdahulu sudah berlalu dengan mati atau terbunuh”.

(d) Kalimat: 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Jamiul-Bayan59 (Jami’ul-Bayan, Jilid I, hal. 59), artinya: “Telah berlalu sebelumnya (Muhammad) semua Rasul dengan wafat atau terbunuh”. Jadi, sudah jelas bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam juga telah berlalu dengan wafat atau terbunuh, oleh karena tidak ada keterangan bahwa beliau sudah terbunuh, maka sudah tentu beliau sudah wafat dengan wafat biasa saja, dengan demikian semua Ahli Tafsir mengakui bahwa arti “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Jamiul-Bayan59 ” dalam ayat itu ialah “telah wafat”, bukan naik ke langit, walaupun arti itu jelas dan nyata, akan tetapi sebagian orang yang tidak suka menerima kebenaran itu berkata bahwa arti “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Jamiul-Bayan59 ” dalam ayat itu ialah “telah berlalu” sedang “lalu” itu sekurang-kurangnya ada dua macam pengertian, yaitu: (1) berlalu dengan wafat dan (2) berlalu dengan diangkat ke langit.

Kita jawab: Perkataan “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Jamiul-Bayan59 ” yang berarti juga “diangkat ke langit” itu tidak terdapat di dalam Al-Quranul-Majid, tidak pula terdapat di dalam Hadis dan tidak pula terdapat di dalam lughat Arab, arti ini hanya dikarang-karang saja. Adapun arti “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Jamiul-Bayan59 ” dan “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_khola ” itu “wafat” terdapat dalam Al-Quranul-Majid dan di dalam Hadis serta Lughat Arab. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_maidah76

“Tidaklah Al-Masih ibnu Maryam, melainkan seorang Rasul, semua Rasul yang sebelumnya sudah wafat” (Al-Maidah, 5:76)

Kata “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Jamiul-Bayan59 ” dalam ayat itu pun sudah diakui oleh Ulama, berarti: “telah wafat”. Sedang ayat ini sama bunyinya dengan ayat yang sudah saya kemukakan tadi terkecuali kata “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_maidah76 ” maka dalam ayat tadi terdapat kata “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_muhammad ” sebagai ganti kata “ 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_maidah76 ” dalam ayat ini.

Dalam lughat Arab pun telah disebutkan: 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_fulan. Yakni apabila dikatakan “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_fulan” maka artinya “Si Fulan itu sudah mati”.

Juga terdapat kalimat: 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Aqrabul-Mawarid (Aqrabul-Mawarid) yakni apabila dikatakan “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Aqrabul-Mawarid” maka artinya “Laki-laki itu sudah mati”. Demikian juga kalimat: 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_fulan (Tajul-Arus) yakni apabila disebutkan “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_fulan” maka artinya “Orang itu sudah mati”. Pendek kata ayat dari surat Ali Imran tersebut menyatakan bahwa semua Rasul yang diutus sebelum Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sudah wafat, tidak ada yang hidup lagi, maka Nabi Isa ‘alaihis salam pun tentu sudah wafat pula.

(2) Keterangan yang kedua.

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala lagi:

كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ

Adalah keduanya (Nabi Isa dan Ibunya) dahulunya memakan makanan (sekarang tidak lagi).(Al-Maidah, 5:76)

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala ini menyatakan bahwa Nabi Isa dan ibu beliau tidak memakan makanan lagi yakni sudah wafat, boleh jadi orang berkata bahwa Nabi Allah Isa hidup dengan tidak memakan apa-apa, kita jawab: Apakah ada keterangan bahwa Nabi Allah Isa masih hidup sampai sekarang dengan tidak memakan apa-apa? Bukan saja tidak ada keterangan apa-apa bahkan perkataan ini berlawanan dengan firman Allah yang menyatakan bahwa badan para Nabi itu dijadikan membutuhkan makanan dan minuman, tidak ada seorang Nabi yang hidup tanpa memakan makanan, bunyi firman itu begini:

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَداً لَّا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ

Kami (Allah) tidak menjadikan para Nabi itu mempunyai badan yang tidak memakan makanan (Al-Anbiya’, 21:9)

Jadi, orang yang berkata bahwa Nabi Allah Isa masih hidup dengan tidak makan makanan itu adalah perkataan yang bertentangan dengan firman Allah Ta’ala, maka tertolaklah dengan sendirinya.

Oleh karena beliau dan ibu beliau tidak memakan makanan lagi, maka sudah tentu kedua beliau itu sudah wafat, tidak hidup lagi.

Kalau dikatakan bahwa arti: “كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ” itu begini “keduanya adalah memakan makanan sekarang” maka sudah tentu akan diakui pula bahwa Hadhrat Maryam juga masih hidup bersama-sama dengan Nabi Allah Isa ‘alaihis salam, maukah tuan-tuan percaya begitu? Orang-orang Islam tentu tidak percaya begitu.

(3) Keterangan yang ketiga.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman lagi:

فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

Di bumi ini, kamu hidup dan di bumi ini pula kamu akan mati dan dari bumi ini kamu akan dikeluarkan. (Al-A’raf, 7:26).

Undang-undang ini berlaku untuk semua manusia, kalau Nabi Allah Isa hendak dikecualikan dari undang-undang itu perlu ada nash dari Al-Quranul-Majid untuk menyatakan pengecualian itu, bukan? Akan tetapi tidak ada dalam Al-Quranul-Majid satu pun ayat yang menyatakan bahwa Nabi Allah Isa sudah diangkat ke langit dengan tubuh kasarnya, bahkan tidak pula ada di dalam Hadis yang sahih yang menyatakan bahwa Nabi Isa sudah diangkat ke langit dengan tubuh kasarnya, maka tidak boleh dikatakan bahwa beliau dikecualikan dari undang-undang ini.

Jika sekiranya Nabi Isa ‘alaihis salam masih hidup tentu menurut firman Allah Ta’ala ini beliau berada di bumi, akan tetapi beliau tidak ada di atas muka bumi, maka tentu beliau telah wafat dan telah keluar dari golongan orang yang masih hidup di atas muka bumi ini. Keterangan itu pun nyata bagi orang-orang yang jujur dan yang suka memperhatikan firman-firman Allah subhanahu wa Ta’ala dengan tenang.

(4) Keterangan yang keempat

Firman Allah subhanu wa Ta’ala yang tersebut dalam (surat Ali Imran, 3:56):

إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

Tatkala orang-orang Yahudi hendak membunuh Nabi Allah Isa ‘alaihis salam, Allah subhanahu wa Ta’ala berkata kepada beliau: “إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ” artinya: “Aku (Allah) akan mewafatkan engkau (wahai Isa!) dan Aku akan mengangkat engkau kepada-Ku”.

Sepotong ayat ini mengandung dua perjanjian dari Allah Ta’ala kepada Nabi Isa‘alaihis salam:

Pertama: Beliau akan diwafatkankan oleh Allah subhanahu wa Ta’ala sendiri dengan kewafatan biasa (secara alami).

Kedua: Beliau akan diangkat kepada Allah subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena perjanjian yang kedua sudah genap (lihat surat An-Nisa’, 4:159), maka sudah tentu perjanjian yang pertama telah digenapi pula.

Kata Tuwuffiya

Kata “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_tuwuffiya” dibahas oleh para Ulama di masa sekarang, padahal apabila kata “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_tuwuffiya” itu (1) berasal dari bab “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_tafaala” (2) Failnya Allah Ta’ala atau malaikat dan (3) maf’ulnya seorang manusia (seperti yang tersebut dalam ayat “مُتَوَفِّيكَ”, maka artinya hanyalah “mengambil ruh dengan mematikan”, selain arti ini tidak dapat, kecuali kalau kata “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_tuwuffiya” itu disambung dengan tanda yang nyata (qarinah sharifah) seperti malam atau tidur, maka pada waktu itu kata “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_tuwuffiya” dipakai dengan arti menjadi (qiasan) yaitu “mengambil ruh waktu tidur” karena matinya manusia tidak tertentu dengan tidur atau malam saja.

Adapun dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan Isa ‘alaihis salam maka kata “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_tuwuffiya” itu tidak memakai tanda apa pun yang membolehkan memutar artinya kepada arti majazi, maka sudah tetaplah arti “مُتَوَفِّيكَ” itu dengan “1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_mumituka” yakni “akan mematikan engkau”. Begitulah ayat itu diartikan oleh Hadhrat Ibnu Abbas (lihat Al-Bukhari, Juz III, tafsir surat Al-Maidah akhir).

Menurut Bibel orang yang mati di atas salib itu terkutuk, jadi orang-orang Yahudi mencari jalan supaya Nabi Isa ‘alaihis salam dapat dimatikan di atas kayu salib, dengan demikian mereka hendak menyatakan bahwa beliau bukan Nabi yang benar, melainkan seorang Nabi yang palsu, terkutuk yang sangat rendah dalam pandangan Allah dan pandangan orang-orang yang mengikuti kitab Taurat. Allah Ta’ala Yang Maha-mengetahui tentu tidak membiarkan hamba-Nya bukan? Maka dari itu Allah subhanahu waTa’ala berfirman kepada Nabi Isa ‘alaihis salam bahwa orang-orang Yahudi bermaksud begitu terhadap engkau, akan tetapi maksud mereka tidak akan berhasil, karena Aku akan memelihara engkau dan Aku akan mematikan engkau dengan ajal dan Aku akan memuliakan engkau. Inilah arti “رَافِعُكَ”.

Kata Rafi’uka Ilayya

Ada sebagian orang mengatakan bahwa Rafi’uka ilayya (رَافِعُكَ إِلَيَّ) itu berarti “dan Aku akan mengangkat engkau (Isa) kepada-Ku” kata Allah, asal arti kata (رَفَعَ) ialah “mengangkat sesuatu dari bawah ke atas”.

Saya jawab: Di sini kata (1) Rafa’a (رَفَعَ) (2) Failnya Allah dan (3) maf’ulnya seorang manusia (Isa), maka artinya hanyalah meninggikan derajat atau mengangkat ruh, selain itu tidak benar! Telah disebutkan dalam Tafsir Al-Quranil-Hakim bahasa Melayu pangkal 6, dikarang oleh Mushthafa Abdur Rahman Mahmud keluaran pulau Pinang satu arti lagi berhubung dengan ayat lain, begini:

Adapun arti “Allah mengangkat Isa kepada-Nya” sebagaimana pada ayat 158 ialah mengangkat kepada tempat kemuliannya atau ke tempat yang disukainya, “bukan mengangkat ke atas langit, karena Allah itu tidak bertempat di atas langit”. Hal lain sama keadaannya dengan firman Allah pada surat Ash-Shaffat ayat 99 tentang riwayat perkataan Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam: “Saya pergi kepada Tuhan saya” artinya di tempat yang disukai Tuhan saya, yaitu di negeri Syam. Keterangan ini adalah diambil dari Tafsir Al-Ustadz Al-Imam Muhammad Abduh, seorang ahli Tafsir yang ternama di daerah Mesir.

Kebanyakan ahli Tafsir berkata bahwa arti “Allah mengangkat Isa kepada-Nya” ialah mengangkat Isa ke atas langit, badannya dan ruhnya sekali. Keterangan ini sebenarnya bukanlah diambil dari ayat yang tersebut karena ayat tersebut hanya menerangkan mengangkat kepada-Nya bukan ke atas langit, tetapi diambil dari Hadis-hadis Nabi yang menerangkan bahwa Isa akan turun dan turunnya itu memang dari tempat yang tinggi yaitu langit”.

Pembaca yang mulia, sudah jelas bahwa ayat tadi tidak dapat menunjukkan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam diangkat ke langit dengan tubuhnya.

Baiklah, saya kemukakan beberapa keterangan lagi untuk menjelaskan arti kata itu:

(1) Sudah disebutkan dalam lughat Arab:

 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Nihayah Ibnu Atsir Lisanul-Arab

“Di antara nama-nama Allah itu ada pula satu nama-Nya ‘Ar-Rafi’ yang mengangkat, maksudnya Yang mengangkat orang-orang mukmin dengan memberi berkah dan mengangkat wali-wali-Nya dengan meninggikan derajat. (An-Nihayah Ibnu Atsir dan Lisanul-Arab).

 Jadi, bukan tubuh mereka yang diangkat.

(2) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Kanzul- Ummal Juz III5720

“Apabila seorang hamba merendahkan dirinya, maka Allah mengangkatnya sampai di langit yang ke tujuh” (Al-Kharaithy dalam Makarimal-Akhlaq dari Ibnu Abbas ra dan Kanzul- Ummal, Juz III/5720).

Betulkah orang itu diangkat ke langit dengan tubuh kasarnya?

(3) Juga telah disebutkan dalam Kitab Tafsir:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_TafsirShafi143

“Sehingga tatkala Allah telah memanggil Nabi-Nya (Muhammad) dan mengangkatnya kepada-Nya”… (Maa Tsubita Bis-Sunnati dan Tafsir Shafi, hal. 143 dan Furu’ul-Kafi kitabur-Raudhah,. Hal. 14).

Benarkah Nabi kita itu telah diangkat pula ke langit dengan tubuh kasarnya?

(4) Hadhrat As-Sayyid Asy-Syekh Abdul Qadir Jailani bersabda:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Futuhul-GhaibMaqalah28“Apabila engkau membuang hawa nafsu engkau sebenar-benarnya, maka engkau akan diangkat kepada Maha-raja, Allah Ta’ala” (Futuhul-Ghaib Maqalah 28).

Apa arti Rafa’a (رَفَعَ) itu? Apakah mengangkat tubuh manusia? Kami minta ditunjukkan satu misal saja seperti:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_rafaa-misal

Yang berarti: Allah Ta’ala telah mengangkat tubuh kasarnya. Kami yakin bahwa tidak akan dapat menunjukkan satu misal pun seperti itu, insya Allah.

Kami heran melihat keadaan sebagian ulama, karena kalau berkenaan dengan Nabi Isa, mereka percaya benar-benar bahwa beliau telah pergi kepada Allah di langit, akan tetapi kalau orang lain mengakukan sudah naik kepada Allah di langit, mereka mengafirkannya. Telah disebutkan dalam suatu Tafsir:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Asy-SyifaQadhiIyadh

“Demikian itu kafirlah orang yang mengaku duduk bersama dengan Allah dan mengakukan naik kepada-Nya” (Asy-Syifa’ Qadhi ‘Iyadh)

Kalau Nabi Isa ‘alaihis salam boleh naik kepada Allah, apakah mustahil orang lain naik pula kepada-Nya? Kalau tidak mustahil, mengapa dikafirkan?

(5) Telah disebutkan dalam Al-Quranul-Majid berkenaan dengan Nabi Idris ‘alaihis salam, firman Allah:

وَرَفَعْنَاهُ مَكَاناً عَلِيّاً

“Kami telah mengangkat dia (Idris) ke tempat yang tinggi” (Q.S. Maryam, 19:58)

Makna ayat itu pun kata Pembela Islam di Bandung tidak berarti “Mengangkat tubuh”.

(6) Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Al-Muwaththa

“Orang yang sudah mati itu diangkat karena doa anaknya, Kemana? Beliau menunjuk tangannya kearah langit. Apakah betul tubuh orang itu diangkat ke langit?” (Al-Muwaththa’ Imam Malik bab Jami’ud-Dua’).

(7) Hadhrat Amer bin Ash berkata:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Nafais27

“Apabila nuthfah itu tinggal sampai 40 hari lamanya di dalam perut ibu, maka malaikat mengangkatnya kepada Allah. Apakah betul nuthfah-nuthfah itu diangkat ke langit?” (Nuzhatul-Majalis wa Muntahibun- Nafais, jilid II, hal. 27)

(8) Telah disebutkan dalam Al-Quranul-Majid, kata Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salam begini:

وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي

“Saya hendak pindah kepada Tuhan saya” (QS. Al-Ankabut, 29:27).

Benarkah beliau‘alaihis salam ke langit?

(9) Allah subhanuhu wa Ta’ala menyuruh manusia begini:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

Berlarilah kamu kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat, 51:51)

Apakah maksud ayat itu, kita berlari ke atas langit?

(10) Berkenaan dengan orang-orang mukmin dalam Al-Quranul-Majid:

إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

“Kami kepunyaan Allah dan kami akan kembali kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah, 2:157)

Apakah dengan tubuhnya, orang-orang mukmin kembali ke atas langit?

Saya rasa 10 misal tersebut sudah cukup untuk menyatakan bahwa: ‘Lari’ kepada Allah, ‘kembali’ kepada Allah, ‘pindah’ kepada Allah, ‘diangkat’ kepada Allah dan ‘diangkat’ oleh Allah kepada-Nya dan lain-lain seperti itu tidak berarti bahwa tubuh manusia sampai ke langit.

Kalau ada perkataan yang menyatakan bahwa “Diangkat kepada Allah” atau “Allah mengangkatnya kepada-Nya” itu berarti “Tubuh manusia sampai ke langit” diharap supaya ia menunjukkan (keterangan), akan tetapi kita yakin bahwa ulama tidak akan dapat mununjukkan satu kata pun yang searti itu dalam Al-Quranul-Majid dan Hadis maupun dalam Muhawarah dan bahasa Arab. Perlu diketahui bahwasanya bagi Allah subhanahu wa Ta’ala itu tidak ada tempat yang rendah dan tidak ada tempat yang tinggi, segala tempat sama saja bagi Allah subhanuhu wa Ta’ala. Imam Asy-Sya’rani bersabda:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Al-Yawaqitu

“Sesungguhnya tempat yang tinggi itu seperti yang rendah juga dekatnya kepada Allah” (Al-Yawaqitu wal-jawahir, jilid I, hal. 100)

Dengan semua keterangan tersebut jelas benar bahwa “Rafa’ahullahu ilaihi” itu berarti Allah subhanuhu wa Ta’ala telah meninggikan dan memuliakan dia (Isa ‘alaihis salam), bukan tubuhnya yang diangkat ke langit. Dan (رَافِعُكَ إِلَيَّ), itu berarti: Aku akan memulyakan engkau. Firman Allah tidak mengatakan tubuh Isa ‘alaihis salam yang hendak diangkat. Lagi pula ulama yang masyhur telah menerangkan berkenaan dengan kata “Wa Rafi’uka” itu begini:

 (1) Dalam Tafsir Kabir:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Tafsirul-KabirJII457

“Ketahuilah bahwa ayat ini menyatakan bahwa RAFA’A yang tersebut dalam WA RAFI’UKA ILAYYA itu ialah ketinggian derajat, bukan ketinggian tempat” (At-Tafsirul-Kabir, Jilid II hal. 457).

(2) Dalam Tafsirul-Quranil-Hakim:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Tafsirul-Quranul-HakimJilidIII316

“Tanpa berfikir panjang saja dapat kita mengerti dari ayat itu, firman Allah: Wahai Isa Aku akan mematikan engkau dan Aku akan menjadikan engkau sesudah mati itu pada tempat yang tinggi pada sisi-Ku” (Tafsirul-Quranul-Hakim, Jilid III, hal. 316).

 (3) Dalam Tafsir Jami’ul-Bayan:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Jamiul-Bayan

“Aku akan mengangkat engkau ke tempat kemuliaan-Ku” (Jami’ul-Bayan)

 (4) Dalam Tafsirul-Quranil-Hakim:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Tafsirul-Quranil-HakimJilidVIhal20

“Sudah diakui bahwa arti MUTAWAFFI itu mematikan, maka tidak nyata arti RAFA’A itu, selain dari mengangkat ruh” (Tafsirul-Quranil-Hakim, Jilid VI, hal. 20).

Yang menjadi soal penting ialah bahwa menurut ayat Al-Quran Isa ‘alaihis salam diangkat kepada Allah, dan menurut persangkaan kebanyakan orang perkataan itu menunjukkan bahwa beliau diangkat ke langit.

Baiklah, sekarang kita tanyakan: “Dimanakah Allah itu tinggal?”. Apakah ada di langit? Kalau dijawab Dia bertempat di sana, maka barulah dapat dikatakan bahwa menurut ayat tadi Nabi Isa ‘alaihis salam telah diangkat ke langit. Beranikah Ulama mendakwakan bahwa Allah bertempat di langit?

a) Kalau dikatakan bahwa Allah memang berada di langit saja, bagaimana pula firman Tuhan yang berbunyi:

وَهُوَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ

“Dialah Allah yang di langit dan di bumi” (Al-An’am, 6:4)

Maksud ayat itu adalah bahwa Allah subhanuhu wa Ta’ala itu tidak tinggal di suatu tempat yang tertentu.

b) Imam Ar-Razi menulis berkenaan dengan Tafsir satu ayat:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Tafsir KabirJilidVIIhal144

“Ayat ini salah satu keterangan yang utama bahwa Allah Ta’ala tidak bertempat di langit” (Tafsir Kabir, Jilid VII, hal. 144)

c) Kata beliau lagi:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Tafsir KabirJilidVIIhal113

“Maka sudah nyata bahwa pengakuan Allah Ta’ala berada di langit itu adalah pengakuan Firaun”(Tafsir Kabir, Jilid VII, hal. 113)

d) Kata beliau lagi:

1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Tafsir KabirJilidVhal176

“Seandainya Allah Ta’ala berada di satu tempat yang tertentu, maka sesungguhnya Dia baru (bukan Qadim), sedang perkara ini mustahil, maka nyatalah bahwa Dia sunyi dari tempat” (Tafsir Kabir, Jilid V, hal. 176).

Pendek kata “WARAFI’UKA” itu tidak dapat menunjukkan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam itu telah diangkat hidup-hidup ke langit.

Ada pula orang yang mengatakan bahwa di dalam ayat ini hanya perjanjian saja, yakni “Aku akan mewafatkan engkau” bukan “Aku telah mewafatkan engkau”.

Saya jawab: Kalau begitu tentu beliau belum juga diangkat, karena Allah berfirman: “Aku akan mewafatkan engkau dan Aku akan mengangkat engkau”, bukan telah mengangkat. Kalau dikatakan ayat “RAFA’AHULLAHU ILAIHI” sudah menyatakan bahwa beliau sudah diangkat, saya jawab: Kalau beliau sudah diangkat, maka sudah tentu beliau sudah wafat pula, karena perjanjian wafat itu lebih dahulu daripada perjanjian mengangkat.

 (5) Keterangan yang kelima ialah firman Allah Taala:

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ لاَ يَخْلُقُونَ شَيْئاً وَهُمْ يُخْلَقُونَ؛ أَمْواتٌ غَيْرُ أَحْيَاء وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Orang-orang yang dipanggil (dianggap) oleh mereka (yang kafir) sebagai tuhan selain Allah Ta’ala itu tidak dapat menjadikan apa-apa, bahkan mereka sendiri sudah dijadikan, mereka sudah mati, tidak hidup lagi dan mereka itu tidak mengetahui kapankah mereka itu akan dibangkitkan lagi” (An-Nahl, 16: 21-22)

Ayat ini menyatakan bahwa:

  1. Orang-orang musyrik itu menyembah kepada beberapa orang selain dari Allah Ta’ala.
  2. Orang-orang yang disembah itu tidak dapat menjadikan suatu apapun.
  3. Orang-orang yang disembah itu sudah mati, tidak hidup lagi.
  4. Orang-orang yang disembah tidak mengetahui kapankah mereka akan dibangkitkan kembali. Sudah nyata bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam sudah wafat (mati), tidak hidup lagi, karena beliau juga disembah oleh manusia pada firman Allah itu.

(6) Keterangan yang keenam yang menyatakan bahwa Nabi Allah Isa ‘alaihis salam sudah wafat, tidak hidup lagi.

 1. BEBERAPA KETERANGAN DARI AL-QURANUL-MAJID_Maidah117118

“Dan ingatlah wahai Muhammad! Ketika Allah akan berfirman: Wahai Isa ibnu Maryam! Apakah engkau katakan kepada manusia: Ambillah olehmu akan aku (Isa) dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah” Isa berkata: Maha suci Engkau! Tidak boleh aku berkata apa yang tiada aku berhak mengatakannya, jika aku telah mengatakannya, maka sesungguhnya Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan tiada aku mengetahui apa yang ada pada Engkau. Bahwasanya Engkau Tuhan Yang telah mengetahui yang gaib. Tiada aku berkata kepada mereka melainkan apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu sembahlah olehmu akan Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Dan adalah aku menjaga mereka selama aku berada di antara mereka “FALAMMA TAWAFFAITANI KUNTA ANTARRAQIBA ‘ALAIHIM”, maka tatkala Engkau telah mematikan aku, maka engkaulah yang menjaga (melihat) mereka dan memang Engkaulah yang menyaksikan segala sesuatu” (Al-Maidah, 5:117-118).

Dalam dua ayat ini telah disebutkan bahwa pada hari Qiamat Allah subhanuhu wa Ta’ala akan berkata kepada Nabi Isa ‘alaihis salam “Engkaukah yang menyuruh manusia Kristiani ini menyembah kepada engkau dan kepada ibu engkau sebagai dua tuhan?”.

Beliau akan menjawab: Sekali-kali tidak! Aku tidak menyuruh mereka begitu, bahkan selama aku berada di antara mereka aku telah menjaga mereka dan menjaga segala keadaan mereka, mereka tidak berbuat begitu, akan tetapi tatkala Engkau telah mematikan aku, maka aku tidak mengetahui keadaan mereka lagi, hanya Engkau saja Yang melihat segala keadaan mereka itu.

Kata-kata Nabi Isa ‘alaihis salam ini menyatakan tentang dua hal, yaitu:

  1. Selama beliau berada di antara orang-orang Kristiani, beliau menjaga mereka, mereka tidak bertuhan kepada beliau dan tidak pula kepada ibunya.
  2. Ketika beliau tidak berada di antara mereka lagi, karena sudah diwafatkan, maka beliau tidak mengetahui keadaan mereka lagi, hanya Allah saja Yang mengetahui keadaan mereka itu.

Menurut ayat-ayat ini, sebelum hari Qiamat beliau tidak mengetahui bahwa beliau ‘alaihis salam dan ibu beliau telah dianggap sebagai tuhan oleh orang-orang Kristiani – kalau beliau masih hidup dan akan turun lagi ke bumi untuk membinasakan salib tentu beliau ‘alaihis salam mengetahui kepercayaan Kristiani ini dan tentu beliau tidak boleh berkata di hadapan Allah pada hari Qiamat bahwa beliau tidak mengetahui apa yang telah diperbuat kaum Kristiani itu, hanya Allah saja yang mengetahuinya, bukan?

Maka, berdasarkan kedua ayat tersebut sudah pasti bahwa beliau telah diwafatkan, tidak hidup lagi dan tidak akan datang lagi ke dunia ini, karena beliau mengaku di hadapan Allah bahwa beliau tidak mengetahui orang-orang Kristiani telah mempertuhan beliau dan ibu beliau. Alangkah jelas dan nyata keterangan ayat Al-Quran ini!

[⇑]


(Visited 1,347 times, 1 visits today)