Menyingkapkan Tabir Keraguan Mengenai Orang-orang Ahmadi


Mengenal “Ahmadiyah” lebih jauh:
1. Kepercayaan Ahmadi tentang Khataman Nubuwat

Beberapa orang dari kelompok orang-orang yang belum mengenal Ahmadiyah seperti tersebut di atas mempunyai tanggapan demikian bahwa, “Orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada Khātaman Nubuwat dan tidak percaya kepada Rasulullah saw. sebagai Khātaman Nabiyyīn”. Hal ini merupakan suatu kepalsuan dan sebagai ekor daripada ketidaktahuan mereka juga. Apabila orang Ahmadi menyebut dirinya orang Islam dan beriman kepada Kalimah Syahadat maka atas dasar apakah ia harus ingkar kepada Khātaman Nubuwat dan tidak percaya kepada Rasulullah saw. sebagai Khātaman Nabiyyīn? Allah SWT. telah jelas berfirman di dalam Al-Qur’an Karim:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّنْ رِّجَا لِكُمْ وَلَكِنْ رَّسُولَ اللهِ وَ خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ

“Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu, melainkan ia adalah Rasulullah dan Khātaman Nabiyyīn”. (Al Ahzab: 40).

Bagaimanakah orang yang mempercayai Al-Qur’an Karim dapat mengingkari ayat ini? Tegasnya orang-orang Ahmadi tidak beritikad bahwa Rasulullah saw.-naudzubillāh- bukanlah Khātaman Nabiyyīn. Apa yang dikatakan oleh orang-orang Ahmadi hanyalah demikian bahwa makna tentang Khātaman Nabiyyīn yang dewasa ini populer di kalangan kaum Muslimin itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut; dan begitu pula makna itu tidak menampakkan kemuliaan dan keagungan beliau seperti kemuliaan dan keagungan yang diisyaratkan oleh ayat tesebut.

Jemaat Ahmadiyah mengartikan Khātaman Nabiyyīn sesuai dengan penggunaan umum bahasa Arab dan hal mana diperkuat oleh ucapan-ucapan Siti Aisyah r.a., Sayyidina Ali r.a., dan para sahabat-sahabat lainnya. Dengan artian itu (yang dikemukakan oleh Jemaat Ahmadiyah), keagungan Rasulullah saw. dan martabat beliau bertambah semarak lagi dan terbuktilah olehnya ketinggian beliau dari seluruh umat manusia. Jadi orang-orang Ahmadi tidak mengingkari gagasan dari Khātaman Nubuwat yang dewasa ini secara kesalahan telah tersebar di tengah-tengah kaum Muslimin. Sebab kalau orang mengingkari Khātaman Nubuwat berarti ia kufur. Sedangkan dengan karunia Allah orang Ahmadi itu adalah muslim dan beranggapan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah berjalan di atas rel Islam.

Dari orang-orang yang masih asing terhadap Ahmadiyah ini terdapat beberapa orang yang beranggapan bahwa, “Orang-orang Ahmadi tidak beriman kepada kitab suci Al-Qur’an dengan sepenuhnya, melainkan hanya percaya beberapa juz saja“. Hal ini terbukti ketika baru-baru ini di kota Quetta puluhan orang menemui saya dan menyatakan bahwa, “Kepada kami, ulama-ulama mengatakan bahwa orang Ahmadi tidak mempercayai seluruh isi Al-Qur’an“. Inipun satu tuduhan yang dilemparkan oleh orang-orang yang menaruh antipati terhadap Ahmadiyah. Ahmadiyah percaya bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang tidak akan mengalami perubahan-perubahan dan penghapusan-penghapusan. Ahmadiyah percaya dari huruf awal bismillāh sampai hurup terakhir wannās, bahwasannya tiap-tiap huruf dan perkataannya adalah dari Allah Taala dan menerimanya sebagai hal yang harus diamalkan. [⇑]


2. Tentang Malaikat

Dari antara orang-orang yang masih belum mengenal Ahmadiyah itu ada yang menuduh bahwa orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada adanya malaikat-malaikat dan syaitan. Tuduhan ini pun hanya bikin-bikinan belaka. Sebutan mengenai malaikat terdapat di dalam Al-Qur’an demikian juga tentang syaitan. Bagaimanakah orang-orang Ahmadi dalam keadaan mengaku beriman kepada Al-Qur’an Karim, dapat mengingkari hal-hal yang disebut-sebut oleh Al-Qur’an Karim? Dengan karunia Allah kami beriman sepenuh-penuhnya atas adanya malaikat-malaikat, bahkan oleh sebab merekalah kami menerima berkat dari wujudnya Jemaat Ahmadiyah; dan tidaklah kami ini beriman saja, bahkan kami juga berkeyakinan teguh bahwa berkat pertolongan Al-Qur’an Karim kami dapat mengadakan hubungan dengan para malaikat dan dengan perantaraan mereka ini kami dapat mempelajari ilmu-ilmu kerohanian.

Penulis sendiri telah banyak mendapat berbagai-bagai ilmu kerohanian melalui para malaikat. Sekali peristiwa satu malaikat telah mengajarkan kepada saya tafsir dari Surah Al-Fatihah. Semenjak saat itu hingga sekarang, demikian rupa terbukanya rahasia arti dan makna dari Surah Al-Fatihah itu sehingga tidak ada taranya. Saya mendakwakan bahwa seandainya ada seseorang dari sesuatu agama atau aliran yang dapat menguraikan masalah dari salah satu cabang ilmu kerohanian berdasarkan isi dari seluruh kitabnya, maka saya dengan karunia Allah dapat mengupasnya hanya dengan isi Surah Al-Fatihah saja. Sejak lama saya mengajukan tantangan ini kepada dunia tetapi tidak ada muncul seorang pun yang menerima tantangan ini. Tentang bukti adanya Tuhan, bukti keesaan Tuhan (Tauhid Ilahi), pentingnya kenabian, ciri-ciri syariat yang sempurna dan apa kepentingannya bagi umat manusia, doa, takdir, kebangkitan sesudah mati, neraka dan surga – kesemuanya masalah ini sedemikian rupa terangnya dapat diuraikan berdasarkan isi dari Surah Al-Fatihah, sehingga ribuan halaman keterangan yang diambil dari kitab-kitab lainpun tidak menjelaskan sejelas itu kepada manusia. Pendeknya tentang keingkaran kepada wujud malaikat hendaknya tidak perlu dipersoalkan lagi; tinggal lagi sekarang mengenai masalah syaitan. Syaitan adalah satu makhluk yang kotor. Untuk beriman kepadanya tidak perlu dipersoalkan. Ya, kita mengetahui tentang wujudnya ialah dari Al-Qur’an Karim dan kami mengakui adanya, bahkan Allah Taala telah meletakan kewajiban untuk mematahkan kekuatan syaitan dan menghapuskan kekuasaannya. Dalam mimpipun saya melihat bahwa saya beradu gulat dengan syaitan dan dengan pertolongan Allah Taala serta berkat kalimat ta’awudz (A`ūdzu billāhi minas-syaitānir-rajīmi) saya pun dapat mengalahkannya. Sekali peristiwa Allah Taala pernah mengatakan kepada saya bahwa di dalam tugas yang dipikulkan Allah kepada saya, syaitan dan anak-anaknya akan mengadakan bermacam-macam rintangan dan engkau jangan menghiraukan rintangan-rintangan itu, maka melangkahlah maju terus sambil mengucapkan “Dengan karunia Allah dan Rahim-Nya”. Kemudian saya menuju arah ke jurusan mana Allah Taala mengisyaratkan kepada saya, lalu terlihat oleh syaitan dan anak-anaknya mulai berusaha dengan bermacam-macam cara untuk mengancam dan menakut-nakuti. Di beberapa tempat nampak makhluk-makhluk dengan hanya kepala-kepalanya saja menghampiri dan mencoba menakut-nakuti saya. Beberapa tempat nampak pemandangan yang menyeramkan. Di beberapa tempat syaitan-syaitan itu berganti rupa seperti singa, seperti gajah, akan tetapi sesuai dengan perintah Ilahi, saya tidak mengacuhkan godaan-godaan mereka dan seraya menyebut “Dengan karunia Allah dan Rahim-Nya” saya melangkah terus. Manakala saya mengucapkan kalimah itupun nampak kosong. Tetapi sebentar kemudian datang lagi mereka dengan rupa dan bentuk yang baru dan dalam pergumulan kali ini saya berhasil mengalahkan mereka hingga akhirnya mereka pontang-panting lari meninggalkan gelanggang. Maka berdasarkan ru’ya (mimpi) inilah saya senantiasa menulis di atas tulisan-tulisan saya yang penting-penting. “Dengan karunia Allah dan Rahim-Nya”. Tegasnya kami beriman kepada malaikat dan kami mengakui adanya wujud syaitan.

Adapula beberapa orang yang mengatakan bahwa orang-orang Ahmadi tidak percaya kapada “mu’jizat”. Hal ini pun bertentangan dengan kenyataan. Jangankan lagi terhadap mu’jizat Nabi Muhammad saw., bahkan kami juga percaya bahwa Allah Taala menganugerahkan mu’jizat kepada pengikut Nabi Muhammad saw. yang sejati. Al-Qur’an Karim itu penuh berisi mu’jizat-mu’jizat dari Nabi Muhammad saw. dan hanyalah orang-orang yang mata-rohaninya buta sebuta-butanya dapat mengingkari kenyataan itu. [⇑]


3. Masalah Keselamatan (Najat)

Ada kekeliruan paham terdapat pada beberapa orang mengenai Ahmadiyah yang mengatakan bahwa menurut pendirian orang-orang Ahmadi semua orang kecuali orang-orang Ahmadi akan masuk neraka. Hal ini pun merupakan akibat dari pada ketidaktahuan atau perasaan antipati belaka. Kami sekali-kali tidak mempunyai itikad bahwa selain daripada orang Ahmadi, semua orang akan masuk neraka. Pada hemat kami ialah bahwa dapat terjadi bahwa orang Ahmadi masuk neraka seperti halnya orang yang bukan Ahmadi akan masuk surga, sebab surga bukan hanya sekedar ucapan mulut belaka melainkan surga itu dicapainya sebagai hasil penunaian dari pada berbagai pertanggungjawaban. Begitu pula tentang neraka, ia bukanlah merupakan akibat dari pada keingkaran di mulut saja, melainkan untuk menjadi umpan neraka itu menghendaki banyak syarat-syaratnya. Seseorang tidak akan masuk neraka sebelum kepadanya disampaikan petunjuk-petujuk selengkapnya, kendatipun ia adalah seorang pengingkar kebenaran yang sebesar-besarnya. Nabi Muhammad saw sendiri bersabda, bahwa yang meninggal di waktu masih kanak-kanak atau orang-orang yang hidup di pegunungan-pegunungan tinggi atau di hutan belantara yang akal pikirannya tidak berkembang atau orang gila yang akalnya rusak, mereka ini tidak akan ditindaki pemeriksaan, malahan Allah Taala pada hari kiamat kelak, akan mengutus lagi nabi ke tengah-tengah mereka agar memberikan peluang kepada mereka untuk mengenal perbedaan antara yang benar dan yang palsu. Kemudian dia yang sudah cukup diberikan petunjuk-petunjuk namun ia memilih hal yang palsu, barulah ia akan dimasukkan neraka. Kebalikannya dia yang menerima petunjuk akan masuk surga.

Jadi keliru sekali kalau mengatakan, bahwa menurut pendirian orang-orang Ahmadi, tiap-tiap orang yang tidak masuk Ahmadiyah akan masuk neraka.

Berkenaan dengan “keselamatan (najat)” kami beritikad, bahwa orang-orang yang menghindarkan diri dari kebenaran dan ia berdaya-upaya, agar kebenaran itu jangan sampai didengar oleh telinganya, yang karenanya ia terpaksa harus menerima, atau terhadapnya telah disampaikan penerangan dan petunjuk dengan sempurna, tetapi kendatipun demikian ia juga tidak mau beriman, maka menurut Allah SWT. orang semacam itu akan ditindak. Meskipun demikian orang semacam itu pun jikalau Allah Taala menghendaki akan dapat diampuni, sebab bukan di tangan kita terletak wewenang untuk membagikan rahmat-Nya.

Seorang budak-sahaya tidak dapat merintangi maksud majikannya untuk bermurah hati. Allah Taala adalah Tuhan kita, Raja kita, Pencipta kita dan Penguasa kita. Apabila ia berkehendak menganugerahkan Hikmat-Nya, Ilmu-Nya, dan Rahmat-Nya kepada seorang manusia, yang menurut keadaan normal nampaknya tidak mungkin memperoleh anugerah, apakah kita berkuasa untuk menahan tangan-Nya dan merintangi anugerah-Nya?

Kepercayaan Ahmadiyah mengenai keselamatan demikian luasnya, sehingga konsekuensinya ialah beberapa ulama dan kyai menjatuhkan fatwa kepada orang-orang Ahmadiyah sebagai kufur atau keluar dari agama Islam. Kami berkeyakinan, bahwa tidak ada seorangpun yang mengalami siksaan secara abadi, baik ia mukmin ataupun kafir. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :

رَحْمَتِىْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

Yakni, “Rahmatku meliputi segala sesuatu” (Q.S Al ‘Araf: 157)

Dan berfirman lagi “Ummuhu hãwiyah”, yakni bandingan seorang kafir dan neraka ialah seibarat seorang ibu dengan anaknya. Kemudian Allah Taala berfirman lagi:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Q.S Azzariyat : 57)

Banyak lagi ayat-ayat yang semacam itu. Betapa kami dapat menerima gagasan, bahwa rahmat Ilahi itu tidak akan melingkupi penghuni-penghuni neraka dan mereka tidak akan pernah dikeluarkan dari kancah api jahanam dan orang-orang itu yang Allah Taala ciptakan untuk menjadi hamba-hamba-Nya akan tetap selama-selamanya menjadi hamba-hamba syaitan, dengan demikian tidak akan menjadi hamba-hamba Allah Taala, dan Dia dengan suara-Nya yang penuh mengandung rasa kasih sayang tidak akan menyapa mereka dengan kata-kata “Fadkhulī fī ‘ibādī wadkhulī  jannatī “– “kemarilah datang memasuki golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku”. [⇑]


4. Tentang Hadits

Beberapa orang meragukan Ahmadiyah dengan sangkaan, bahwa orang-orang Ahmadi tidak mempercayai hadits dan yang lainnya menuduh, bahwa orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada para Ahli-ahli fuqaha. Kedua anggapan itu sungguh keliru.

Dalam hal yang menyangkut perkara taqlid dan tidak taqlid, Ahmadiyah memilih jalan tengah. Pelajaran Ahmadiyah demikian, bahwa sesuatu perkara yang telah diputuskan oleh sabda Rasulullah SAW., tetapi kemudian mendengarkan kata-kata orang lain, maka hal itu merupakan suatu penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Dihadapan seorang majikan tidaklah layak untuk mendengarkan kata rekannya seorang anak buah. Dengan hadirnya seorang guru, tidak pada tempatnya belajar dari seorang murid. Para ahli fuqaha yang bagaimanapun besarnya adalah murid-murid dari Nabi Muhammad Rasulullah saw. dan segala kehormatan yang diperoleh mereka adalah berkat mengikuti titah beliau dan segala kemuliaan yang dinikmatinya adalah berkat pengabdian terhadap beliau.

Jadi apabila sesuatu hal terbukti berasal dari Rasulullah saw. Dan ciri-cirinya ialah bahwa keterangan yang sumbernya dialamatkan kepada Rasulullah saw itu sesuai dengan Al-Qur’an Karim, maka hal itu merupakan suatu keputusan akhir, suatu perintah yang tidak boleh diabaikan. Dalam hal ini tidak ada seorang pun yang berhak untuk menolak atau menyatakan penentangan. Akan tetapi oleh karena pewarta-pewarta hadis (perawi) itu diantaranya ada yang baik ada pula yang buruk akhlaknya, ada yang panjang ingatannya dan ada pula yang tidak, ada yang cerdas otaknya dan ada pula yang tidak, maka apabila ada sesuatu hadits yang maksudnya bertentangan dengan Al-Qur’an Karim, hadits itu tidak akan diterima, sebab tidak semua Hadits itu qoth’i (tidak diragukan). Bahkan para Ahli Hadits semuanya sependapat, bahwa ada beberapa hadits yang qoth’i ada yang tingkatnya menengah, ada yang diragu, ada yang mendekati keyakinan benarnya dzhan, dan ada juga yang beberapa yang dibuat-buat orang.

Akan tetapi manakala Al-Qur’an Karim dalam sesuatu masalah tidak memberikan petunjuk yang jelas dan Hadits pun tidak menunjukkan jalan tegas dan meyakinkan, atau dari kalimahnya kita dapat mengambil beberapa macam tafsiran, maka dalam hal serupa ini, tentu saja para Ahli Fuqaha, yang seumur hidupnya tekun mempelajari dan merenungkan arti-arti Al-Qur’an dan Hadits, mempunyai hak untuk berijtihad (membuat kesimpulan dan mengambil keputusan). Seorang awam yang tidak pernah mempelajari Al-Qur’an dan Hadits atau kemampuan ilmu pengetahuannya tidak memungkinkan dia dalam mendalami Al-Qur’an dan Hadits, ia tidak berhak untuk mengatakan, bahwa “mengapa pendapat-pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Imam Syafi’i, Imam Malik atau pendapat Imam-Imam lainnya harus lebih di utamakan dari pada pendapatku sendiri, padahal aku pun seorang muslim dan mereka pun orang-orang Muslim”. Jikalau ada selisih pendapat antara seorang dokter dan seorang biasa mengenai suatu penyakit, maka pendapat dokter itulah yang akan diterima. Begitu pula didalam perselisihan pendapat mengenai perkara hukum, maka pendapat seorang sarjana hukum akan lebih diterima daripada pendapat seorang yang bukan sarjana. Maka tidak ada sebab bagi kita untuk tidak memperhatikan pendapat-pendapat para Imam itu, yang telah menghabiskan umur mereka untuk mempelajari rahasia-rahasia Al-Qur’an dan Hadits dan yang kekuatan otaknya lebih baik daripada ribuan manusia, sedang ketakwaan dan kesucian mereka tidak diragukan lagi.

Pendeknya, Ahmadiyah tidak mutlak dan sepenuhnya membenarkan pendapat para Ahli Hadits, begitu pula tidak mutlak dan sepenuhnya mendukung pendirian orang-orang yang bertaqlid. Pendirian Ahmadiyah di dalam hal ini moderat, yakni sama seperti pendirian Imam Abu Hanifah, yang menyatakan bahwa Al-Qur’an Karim menempati kedudukan paling tinggi di atas segala hal, menyusul berikutnya Hadits sahih, kemudian barulah pendapat-pendapat dan ijtihad dari pada cendekiawaan-cendekiawan Muslim. Dengan pendirian demikian ini, orang Ahmadi sering kali mengatakan dirinya pengikut Hanifah. Artinya ialah, kami benar mengikuti ajaran Abu Hanifah. Kadang-kadang juga menyebut dirinya Ahli Hadist, oleh karena menurut pendapat Ahmadiyah, sesuatu ucapan dari Nabi Muhammad SAW. yang dapat dipertanggungjawabkan buktinya, memperoleh prioritas dari pada segala ucapan manusia-manusia lain, bahkan pula lebih daripada seluruh ucapan dari para Imam. [⇑]


5. Tentang Takdir

Diantara kesalahpahaman dari orang-orang yang belum mengenal Ahmadiyah ialah berhubungan dengan masalah takdir. Dikatakan oleh mereka, bahwa orang-orang Ahmadi menyangkal tentang takdir. Orang-orang Ahmadi sekali-kali tidak mengingkari ajaran tentang takdir ini. Dalam masalah ini kami memegang kepercayaan, bahwa Takdir Ilahi berlaku di dunia ini seterusnya hingga hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah Takdir-Nya. Kami hanya menentang hal ini, bahwa kesalahan si pencuri karena mencurinya; kesalahannya yang lalai bersembahyang karena kelalaiannya; kesalahan pembohong karena kebohongannya; kesalahan penipu karena penipuannya; dan kesalahan penjahat karena kejahatannya; dilemparkan ke alamat Tuhan, seolah-olah orang yang tercoreng di mukanya, di usahakan hendak dipindahkan ke wajah Tuhan.

Kami berpendapat bahwa di dunia ini berlaku dua hukum, seibarat dua sungai yang mengalir sejajar berdampingan, yaitu Hukum Takdir dan Hukum Tadbir. Diantara kedua daerah itu telah ditentukan perbatasan. yang tidak memungkinkan keduanya bertemu, sesuai dengan firman Ilahi (Ar-Rahman : 21):

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ

Hukum Tadbīr mempunyai daerah tersendiri dan Hukum Takdir pun demikian juga. Terhadap hal-hal dimana Allah swt. melancarkan takdir disana tadbir tidak akan berdaya sedangkan dimana Dia membuka tadbir, lalu kita mengharap-harap takdir saja tanpa berbuat apa-apa, hal itu akan merusak masa depan kita sendiri.

Pendek kata, apa yang kami tentang ialah usaha orang yang menyembunyikan kelakuan buruknya di balik tabir takdir dan meletakkan istilah takdir kepada ekor dari pada kemalasannya dan kelengahannya, juga dimana Allah Taala memerintahkan untuk mempergunakan tadbir, di waktu itu ia duduk menantikan takdir. Kami menentang hal-hal itu, oleh sebab akibatnya senantiasa membahayakan.

Kaum Muslimin hanya duduk menantikan datangnya Takdir Ilahi, sambil meninggalkan aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang justru diperlukan bagi satu kaum yang berjuang untuk mencapai kemajuan, hingga akibatnya nampak nyata sekali, bahwa di dalam perkara agama mereka mengalami kemunduran, begitu juga di dalam sepak terjang soal keduniaan pun mereka jauh ketinggalan. Jika sekiranya mereka memperhatikan, bahwa manakala Allah SWT. membukakan pintu tadbir di dalam sesuatu pekerjaan lalu mereka mengesampingkan takdir dan mempergunakan hukum tadbir itu sebaik-baiknya, niscaya keadaan mereka tidak akan sedemikian jatuhnya dan tidak begitu menyedihkan seperti keadaan mereka dewasa ini. [⇑]


6. Tentang Jihad

Pengertian-pengertian salah yang lain mengenai Ahmadiyah diantaranya adapula, bahwa Ahmadiyah mengingkari Jihad. Hal ini sama sekali tidak benar. Hanya saja pendirian Ahmadiyah ialah, bahwa peperangan itu ada dua macam coraknya; yaitu yang pertama apa yang dinamakan Perang Jihad, dan yang kedua hanya perang yang lumrah.

Apa yang dinamakan Perang Jihad adalah peperangan yang hanya sengketanya terletak pada soal mempertahankan agama, dan musuh yang dihadapi ialah orang-orang yang bermaksud hendak membinasakan agama dengan jalan kekerasan dan hendak merubah kepercayaan dengan kekuatan senjata. Jika kejadian semacam itu timbul di salah satu bagian di dunia ini, maka wajiblah bagi tiap-tiap Muslim untuk berjihad. Akan tetapi di dalam Jihad semacam itu ada pula syaratnya itu pengumuman untuk melancarkan Perang Jihad hendaknya dinyatakan oleh seorang Imam, agar supaya dapat diketahui, siapa-siapa diantara kaum Muslimin yang harus maju ke medan Jihad itu dan siapa-siapa yang harus menunggu gilirannya. Jika tidak demikian, maka pada waktu tibanya kesempatan untuk berjihad semacam itu, orang-orang Mukmin, yamg tidak turut mengambil bagian akan berdosa. Akan tetapi jika ada Imam, maka yang berdosa itu ialah mereka (orang-orang Mukmin), yang dipanggil untuk maju ke medan laga tetapi tidak memenuhi panggilan.

Jika ada orang-orang Ahmadi yang tinggal di salah satu negeri menolak untuk melakukan Jihad, maka penolakanya ialah karena anggapan mereka, bahwa orang-orang Inggris tidak memaksakan dengan kekuatan senjata untuk menukar agama. Jika pikiran orang-orang Ahmadi ini keliru dan memang sesungguhnya orang-orang Inggris itu berusaha untuk menukar agama dengan jalan kekerasan, maka Jihad pada waktu itu pasti dinyatakan wajib. Tetapi soalnya sekarang, apakah sesudah dinyatakan wajib jihad itu tiap-tiap Muslim mengangkat senjata melawan Inggris? Jika tidak, maka orang-orang Ahmadi akan menjawab di hadapan Allah Taala, bahwa menurut hemat kami, belum tiba waktunya Jihad di saat itu. Jika kami berada dalam kedudukan yang salah, maka hal itu tidak lain disebabkan oleh karena kekeliruan ijtihad (sikap pikiran). Akan tetapi apakah yang akan dikatakan para kiyai? Apakah mereka akan berkata, bahwa: “Ya Tuhan, memang pada waktu itu sudah tiba saatnya Jihad itu, dan kami berpendapat bahwa sudah wajiblah untuk berjihad. Akan tetapi, wahai Tuhan kami, kami tidak melakukan Jihad, oleh karena hati kami takut dan begitu pula kami tidak mengirimkan orang orang yang hatinya tidak ada ketakutan ke medan jurit, sebabnya ialah jika kami berbuat demikian, kami cemas kalau-kalau orang Inggris menangkap kami.”

Saya serahkan kepada orang-orang yang berwatak adil untuk menilai kedua bentuk jawaban di atas. Manakah diantaranya yang lebih beralasan dan layak diterima oleh Allah SWT?

Apa yang sudah saya terangkan diatas itu semuanya adalah untuk menghilangkan keragu-raguan orang yang sama sekali tidak mempelajari asal-usul Ahmadiyah dan yang sekedar mendengar tentang tugas dan pelajaran Ahmadiyah dari kalangan lawan atau tanpa menyelidikinya, lalu hendak membuat-buat sendiri gagasan tentang kepercayaan dan ajaran dari Ahmadiyah.

Sekarang saya hendak mengarahkan pembicaraan saya kepada orang-orang yang telah mempelajari Ahmadiyah sampai batas tertentu dan yang mengetahui bahwa orang-orang Ahmadi pun percaya kepada ketauhidan Allah Taala, begitu juga kepada kerasulan dari Muhammad SAW., mempercayai Al-Qur’an dan Hadits, melakukan sembahyang, puasa dan haji, membayar zakat, beriman kepada Hari Kebangkitan dan balasan di Hari Kemudian, tetapi mereka merasa heran bahwa apabila orang-orang Ahmadi benar-benar orang Muslim seperti orang-orang Muslim lainnya, maka apakah gunanya untuk membentuk firkah (sekte) baru? Pada pemandangan mereka, kepercayaan dari orang-orang Ahmadi tidak dapat disalahkan; akan tetapi mereka berpendapat, bahwa untuk mendirikan satu jema’at baru itu, adalah satu hal yang tidak dapat dibenarkan, sebab apabila tidak terdapat perbedaan, mengapakah harus memencilkan diri dan apabila tidak terdapat pertentangan, maka apakah maksudnya dengan mendirikan masjid-masjid baru? [⇑]


(Visited 24 times, 1 visits today)